Doa Ibu-Bapak
Rassulullah SAW pernah bersabda :
" Setiap pagi sedekahkan al-fatihah kepada kedua ibu bapakmu ( apakah masih hidup @ telah tiada )".......... niscaya pintu rezekimu akan terbuka buat kamu...
Berdasarkan Hadis Nabi SAW :
" Tidak akan terputus rezeki seseorang ANAK selagi dia tidak meninggalkan doa kepada kedua orang tua nya dalam sehari"
Uraian hadis:
- Jangan sesekali meninggalkan doa kepada kedua ibu bapak (baik yang hidup maupun yang sudah tiada )
- Allah akan memurahkan rezeki kepada mereka yang tidak putus2 berdoa kepada kedua ibu bapak (hidup atau mati)
- Ingatlah bahwa keridhaan ibu bapak adalah keridhaan Allah SWT
- Sewaktu berdoa, berdoalah dengan bersungguh-sungguh. ....tadahkan tangan dan bayangkan wajah kedua orang tua kita , termasuk guru-guru kita dan mereka-mereka yang banyak menolong kita (berdoa harus dengan bersungguh-sungguh)
- Mereka yang lupa berdoa kepada kedua orang tua, akan disempitkan rezeki oleh Allah SWT.
Kesimpulannya:
- Bagi yang berniaga, tak perlu ada ilmu pelaris..... .. . Cuma jangan lupa Doakan ibu bapak kita setiap hari
- Rezeki bukan saja berupa uang, tetapi segala nikmat yang kita dapat dari Allah (seperti makan, kesehatan, kasih sayang, ilmu dan sebagainya..)
Insya Allah
Berusaha dan bertawakal.. ...insya Allah ,
rezeki itu bukan karena ada sertifikat,
, IJAZAH dsb nya.....tapi dengan hati yang tulus ikhlas dan doa kita untuk ibu dan bapak kita.....Mari kita coba . Allahhu akhbar. .
Kapan saja kita dapat menadahkan tangan dan berdoa untuk kedua orang tua kita, waktu bangun pagi, di kantor, waktu makan siang, pagi, petang, siang atau malam, di mana saja, (tidak termasuk di waktu solat lima waktu)
Caranya : 'YA ALLAH YA TUHANKU, ampunkan lah dosa-dosa kedua orang tua ku, berkatilah kedua mereka itu, sehatkan lah mereka, murahkan lah rezeki mereka, panjangkan lah usia mereka, jauhilah sebarang bahaya, Dan lindungi lah mereka, Amin ya rabbal alamin. ..." (Doa ini untuk orang tua kamu yang masih hidup)
Untuk yang sudah meninggal : "YA ALLAH YA TUHANKU, ampuni lah segala dosa-dosa orang tuaku, tempatkanlah bapakku / Ibuku di tempat orang-orang yang beriman.
Sebarkanlah ilmu walaupun sebesar zarah.......
Senin, 21 Desember 2009
Doa untuk Ibu Bapak
Rabu, 16 Desember 2009
Flu Kambing
Flu Kambing Serang Belanda, Enam Tewas
AMSTERDAM – Belum reda soal flu babi, kini muncul wabah baru, namanya Flu Kambing. Nama kerennya: Q-Fever. Wabah ini sudah sejak pekan lalu menghantam Belanda. Sebanyak 2.300 orang terserang di sana, enam di antaranya tewas.
Seperti diberitakan Xinhuanet Rabu (16/12), para ahli Belanda menyebutkan Q-Fever disebabkan oleh bakteri yang muncul ketika kambing bunting atau pada domba yang mendadak keguguran.
Sebuah studi relatif menunjukkan bahwa banyak hewan dapat membawa bakteri semacam ini, tapi kontak dengan kambing terinfeksi diyakini merupakan sumber utama infeksi bagi manusia.
Pemerintah Belanda menyatakan pada Kamis (17/12) bakal membantai semua kambing hamil yang terinfeksi, yang membawa bakteri dalam konsentrasi tinggi. Itupun tidak dijelaskan seberapa banyak kambing yang bakal dimusnahkan.

‘’Sejauh ini belum ada tempat yang tepat untuk meminta pendapat para ahli tentang kasus ini, sebab ini termasuk kasus yang unik,’’kata juru bicara pemerintah Thijs van Son
Infeksi Q-Fever biasanya terjadi dalam sebuah kluster dalam satu tahun dan kemudian berangsur-angsur hilang pada tahap berikutnya. Tetapi wabah di Belanda ini telah berkembang dan menyebar ke seluruh daerah-daerah pertanian selama tiga tahun meski langkah-langkah untuk mencegahnya sudah diupayakan maksimal.
"Itu belum pernah terjadi sebelumnya," Van Son berkata, "tidak di Eropa atau di tempat lain."
Dia mengatakan, sejauh ini wabah flu kambing belum diketahui telah menyebar ke Negara tetangganya, Jerman atau Belgia.
Van Son mengatakan satu teori mengapa wabah telah begitu parah di Belanda adalah sejumlah besar binatang pada tiap peternakan, dikombinasikan dengan kepadatan populasi manusia Belanda, yang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.
Pemerintah Belanda sedang meneliti apakah human vaksin dari Australia yang belum disetujui di Eropa, dapat digunakan di negeri kincir angina itu.(xinhua).
Senin, 14 Desember 2009
Ponsel Google
Google Segera Luncurkan Smartphone
BEIJING(14/12/2009)- Google Inc telah merancang sendiri smartphone dan berencana untuk menjual langsung ke konsumen secepatnya awal 2010, menurut laporan media.
Telepon, yang disebut Nexus One dan dibuat oleh pembuat smartphone HTC, dijalankan dengan sistem operasi raksasa mesin pencari Android dan akan dijual secara online, melalui operator nirkabel dalam langkah strategis yang langka.
Google pertama kali mengumumkan ponsel ini telah menjalani pengujian oleh para karyawan dalam posting blog akhir pekan lalu, dan Wall Street Journal mengonfirmasikan perangkat dan namanya beberapa jam kemudian.
Raksasa internet ini, kata para ahli, termasuk yang pertama melakukan pernjualan perangkat dengan pendekatan berisiko seperti. Tanpa mitra operator mobile, Google akan meminta para konsumen untuk membeli telepon online dan layanan seluler untuk membeli perangkat secara terpisah, yang di Amerika sendiri hampir tidak pernah melakukan ini sebelumnya.
Ini merupakan langkah penting bagi raksasa internet ini di bidang industri ponsel dan mengajak para mitra untuk mengambil bagian dalam proses bisnis industri mobile yang menantang ini
Google sendiri selama ini tidak bergerak dalam hal menjual hardware dan apa yang bakal dilakukan ini mungkin merupakan langkah besar bagi perusahaan dalam penjualan langsung.(xinhua)
Jumat, 04 Desember 2009
Robot Mobil
Robot Mobil Reli di Pegunungan
Foto : Motoring.Co.Za
COLORADO - Mobil pintar buatan Jerman sukses menjalani uji coba di trek berbukit Pikes Peak dekat Colorado Springs, Amerika Serikat, Rabu (2/12). Kendaraan canggih tanpa kendali sopir tersebut bisa melewati medan dengan mulus layaknya para pereli.
Mobil dua pintu produksi Audi itu menggunakan sistem Autonomous TTS. Proyek ini langsung di bawah pengawasan Volkswagen Group Automotive Innovation and Laboratory.
Dengan sistem baru itu, ke depannya teknologi yang dikembangkan akan membantu pengendara untuk merespons dengan cepat perubahan kondisi lalu-lintas guna menghindari kemacetan dan bereaksi lebih baik terhadap risiko kecelakaan. Mobil tersebut juga akan membantu pekerjaan rutin pengendara seperti parkir secara otomotis.
Dr Burkhard Huhnke, direktur eksekutif laboratorium dan riset elektronik serta VW mengatakan, mobil yang mampu bermanuver dan merespons secepat pengendara profesional, seperti pembalap ataupun pereli itu, nantinya mampu bergerak sendiri lebih hebat daripada sopir-sopir kebanyakan.
"Ketika seorang sopir dengan pengalaman kurang tidak mampu melakukan koreksi dengan baik, teknologi Autonomous TTS akan mengambil alih atau memberi petunjuk pada pengendara untuk keluar dari kondisi kritis. Mobil ini juga bisa membantu sopir yang sedang kebingungan atau kurang memperhatikan kondisi jalan. Tapi tentu saja teknologi ini tak menjamin nihil kecelakaan," ujarnya. (cak/ami/jpnn.com)
Rabu, 18 November 2009
Pascagempa Sumbar (1)
Selasa, 17 November 2009
Menyusuri Padang pada Hari Ke-40 Pascagempa (1)
Bangun Sekolah Tahan Gempa Sekaligus Rescue Center
Pada hari ke-40 pascagempa, wartawan Jawa Pos Nany Wijaya kembali ke Gunung Tigo, Kabupaten Padang Pariaman. Sebelumnya, sepekan pascagempa pun dia sudah ke sana. Catatan tentang kehancuran akibat guncangan 7,9 skala Richter yang mencabik-cabik dan rencana-rencana ke depan akan diturunkan secara bersambung.
---
DI sela-sela mengurus dan mempersiapkan lokasi sekolah yang akan dibangun dengan dana bantuan para pembaca Jawa Pos, saya menyempatkan berkunjung ke daerah perbukitan Gunung Tigo (baca: Gunuang Tigo) di Kabupaten Padang Pariaman beberapa hari lalu.
Dari sisa bantuan pembaca yang belum tersalurkan, kami merencanakan untuk membangun dua sekolah -masing-masing di Padang dan Padang Pariaman- dengan konsep seperti sekolah-sekolah di Jepang. Tak hanya tahan gempa, tapi juga sebagai rescue center ketika terjadi bencana.
Untuk itu, Jawa Pos bekerja sama dengan konsultan JICA, Joshie ''Arenco'' Halim, Institut Teknologi 10 Nopember (ITS) Surabaya, Universitas Andalas (Unand) Padang, dan harian Padang Ekspres Group (Jawa Pos Group).
Ini bukan kali pertama saya ke Gunung Tigo yang hancur di beberapa titik karena gempa tektonik. Sebagaimana diketahui, ketika terjadi gempa tektonik berkekuatan 7,9 skala Richter pada 30 September lalu, beberapa titik di kawasan perbukitan yang penduduknya lumayan padat itu mengalami longsor berat. Ratusan orang tewas terkubur hidup-hidup oleh bukit yang longsor.
Tak seperti di Padang, tak banyak korban di Gunung Tigo dan sekitarnya yang bisa diselamatkan. Bahkan, yang di Tandikek, tak seorang pun bisa diselamatkan, sehingga daerah itu pun dinyatakan sebagai kuburan masal dengan jumlah korban tewas sekitar 300 orang.
Kali pertama saya ke Gunung Tigo justru bersama Bupati Padang Pariaman Drs H Muslim Kasim Ak MM dan tim medis RS Petrokimia Gresik yang dipimpin langsung oleh dr Singgih pada hari ketujuh pascagempa.
Baru kali itu saya mengunjungi daerah bencana bersama pejabat pemerintah. Jujur, saya terkesan oleh cara bupati yang pernah bertugas di Dolog Jatim selama 10 tahun (1984-1994) dengan jabatan terakhir Waka Dolog Jatim itu mendatangi para korban.
Dia datang ke lokasi tanpa protokoler. Juga, tak ada tim pendahulu yang ''mengamankan'' lokasi. Dia menemui langsung para korban yang selamat. Kepada mereka, sarjana akuntansi lulusan Unpad Bandung tersebut tak hanya bertanya. Tapi, memberikan langsung apa yang dibutuhkan para korban. Sebab, dia membawa serta sebuah mobil boks berisi bantuan bagi para korban. Mulai natura sampai susu bayi, pakaian layak pakai, dan tenda darurat yang sederhana.
Pada saat yang sama, dia juga memberikan sendiri uang lauk-pauk kepada para korban. Cara memberikannya pun unik. Yakni, meminta mereka yang belum mendapatkan bantuan pemerintah itu untuk berkumpul, kemudian menyerahkan layaknya seorang bapak yang memberikan uang saku kepada anak-anaknya yang akan berangkat sekolah.
Sementara Pak Bupati sibuk dengan urusannya, saya memisahkan diri bersama dr Singgih dan tim medisnya. Di lokasi yang sama, yakni di Korong (semacam dusun) Patamuan, kami bertemu seorang ibu yang bayinya sudah berhari-hari demam. Karena kebetulan sedang bersama tim medis, bayi itu pun langsung ditangani. Tapi, karena ketika itu mereka belum punya posko, penanganan dilakukan secara darurat di teras sebuah rumah yang kebetulan masih utuh.
Untuk gempa di Sumatera Barat ini, Petrokimia Gresik tidak hanya mengirimkan tim medis yang berjumlah 10 orang, tapi juga puluhan dus besar obat-obatan, belasan ton beras, bahan makanan lain, selimut, serta tenda. Bantuan itu diangkut KRI Teluk Mandar bersama sumbangan pembaca Jawa Pos lainnya. Di antaranya, 50 tabung (isi) elpiji 12 kg dari PT Pertamina dan 100 kompor gas PT Energi Multitech Indonesia.
Ketika pagi itu rombongan kami tiba, warga di kawasan tersebut belum mendapat bantuan apa pun. Baru siangnya bantuan dan relawan lain yang membawa bantuan medis, tenda, serta keperluan lain datang berduyun-duyun.
Kalaupun sebelumnya banyak relawan yang datang, konsentrasi mereka bukan membantu yang hidup, tapi berusaha menyelamatkan yang tertimbun longsoran bukit Gunung Tigo. Sayang, yang berhasil dievakuasi umumnya para korban yang sudah menjadi jenazah. Memang rada mustahil untuk bisa bertahan hidup di bawah timbunan tanah bukit yang longsor seperti itu.
Beberapa hari lalu, saya kembali ke Kampung Patamuan. Bukit Padang Alai yang longsor tersebut masih belum banyak berubah. Kalaupun ada yang berbeda, lokasi itu sudah bersih. Tak ada lagi tanah longsoran dan batang-batang pohon kelapa yang berserakan. Jalan di situ juga sudah cukup lebar dan cukup keras untuk dilalui mobil.
Ketika saya ke sana pada hari ke tujuh itu, jalan tersebut cuma jalan setapak yang hanya cukup untuk dua orang. Jika tidak hati-hati jalannya, akan tergelincir masuk ke jurang yang menganga lebar di sampingnya.
Ketika saya kembali ke situ akhir pekan lalu, jurang tersebut masih menganga selebar dan sedalam yang dulu. Rumah bercat tembok pink yang terasnya pernah digunakan dr Irfan dari tim medis RS Petrokimia Gresik mengobati bayi yang demam tersebut masih di sana. Tegak berdiri seperti sebelumnya dan bersih.
Ketika saya tiba di situ, di ruang tamunya hanya ada dua pria muda yang sedang bersantai. Saya yang ketika itu didampingi Iyut, reporter cantik dari Padangtv (Grup JTV-Jawa Pos), tak sempat bertanya banyak. Sebab, kami berdua ingin segera sampai ke Koto Tinggi sebelum hari gelap.
Kami berdua juga tak sempat bertanya kepada pemilik warung di sebelah rumah itu, ke mana gerangan orang-orang yang pernah kami temui pada hari ketujuh pasca gempa yang lalu.
Misalnya, Aroni, 50, yang anak lelakinya, 11 tahun, tewas terkubur longsoran Gunung Padang Alai ketika sedang asyik menonton TV bersama lima temannya. Apriadi baru ditemukan pada hari keenam pascagempa, oleh Aroni yang dibantu tetangga-tetangganya.
Saya juga tak sempat bertanya di mana gerangan ibu Umay sekarang tinggal. Wanita berumur 65 tahun tersebut, pada hari ketujuh itu, juga saya temui di teras rumah tersebut. Dia kehilangan 12 anggota keluarganya. Sepuluh orang di antaranya baru ditemukan pada hari keenam itu, bersamaan dengan jasad Apriadi. Mereka juga sudah tak bernyawa saat ditemukan.
Yang saya agak heran ketika datang kembali ke situ, rumah di samping rumah pink itu. Di situ dulu saya bertemu Kamal. Seorang lelaki berumur 47 tahun yang sebelum gempa tinggal di Jakarta.
Kamal juga kehilangan 12 anggota keluarganya. Delapan orang berhasil ditemukan dalam keadaan hidup. Tapi, karena tak ada akses untuk mendapatkan pertolongan, ''Mereka hanya bertahan hidup selama dua hari,'' tuturnya dengan wajah sedih.
Ketika saya datang dulu, rumah tersebut tinggal separo. Tapi, gorden kamar, lemari hias (orang biasa menyebutnya bufet) di ruang tamu berikut isinya, dan televisinya masih utuh. Namun, lemari pintu hias itu sudah tak bisa lagi dibuka karena bagian depannya tertutup reruntuhan tembok dan atap rumah. Di halamannya juga masih berserakan beberapa kantong mayat bantuan Departemen Kesehatan yang berwarna kuning.
Saat saya kembali ke situ pekan lalu, sisa rumah itu sudah tak ada. Diganti dengan rumah kayu semipermanen yang dihuni kelapa-kelapa. Di halamannya, seorang bapak setengah baya yang saya lupa namanya sedang sibuk membangun tungku untuk membakar kelapa-kelapa yang sudah kering tersebut.
''Kami belum bisa bekerja seperti dulu. Tapi, kalau kelapa yang hanya sedikit ini bisa kami bakar jadi kopra, kan lumayan untuk menyambung hidup,'' tuturnya dengan wajah penuh optimisme.
Dengan berjalan kaki, seperti hari ke tujuh dulu, saya melintasi bukit Padang Alai. Beberapa remaja pria yang berpapasan dengan kami menawarkan mengantar kami dengan sepeda motornya. Saya pikir mereka itu pengemudi ojek, ternyata bukan. Mereka hanya kasihan melihat kami berdua berjalan kaki.
Beda dengan hari ketujuh dulu. Beberapa anak muda yang berani mengemudikan motornya di jalan-jalan darurat memanfaatkan kesempatan untuk jadi ojek. Lumayan juga penghasilan mereka karena bisa mencapai Rp 100 ribu per hari.
Saya dan Iyut memang sengaja berjalan kaki. Untuk mengenang kembali perjalanan kami pada hari ketujuh dulu, di mana kami harus sangat berhati-hati. Kalau tidak, kaki akan tersandung pohon kelapa atau tiang listrik yang tumbang. Saat itu, yang terancam bukan hanya kaki, tapi juga leher yang bisa tersangkut kabel listrik yang tiangnya telah setengah tumbang. Atau, bisa juga dahi kita terantuk tiangnya yang melintang di tengah jalan.
Saat itu, ketika jalan masih sangat darurat, saya dan Iyut sempat juga naik ojek. Namun, tidak jauh karena takut terjungkal. Begitu juga tim dokter dari Petrokimia Gresik. Setelah lelah memikul obat-obatan yang satu dus besar, mereka terpaksa menggunakan ojek.
Ketika kami berdua menapak tilas jejak kami sendiri di Padang Alai, langit sedang terik. Tapi, jika dibanding hari ketujuh dulu, teriknya matahari pekan lalu jauh lebih bersahabat. Apalagi, di sepanjang perjalanan sudah banyak warga yang kembali menempati rumahnya yang masih dalam kondisi berantakan. Yang rumahnya tak bisa lagi ditinggali ya tinggal di tenda-tenda yang didirikan di depan atau samping puing-puing rumah mereka.
Berbeda dengan dulu, kali ini kami banyak mendapat tawaran mampir dan minum dari warga. Pada hari ketujuh dulu, kami harus berjalan sejauh 18 kilometer (PP) tanpa ada yang menawari minum. Beli pun tak bisa karena juga belum ada yang berjualan.
Sebaliknya, ketika itu, kami juga tak bisa memberikan apa-apa kepada warga dan anak-anak yang jadi korban. Namun, pekan lalu, kami berdua dan Pemimpin Redaksi Pos Metro Padang (Jawa Pos Group) Sukri bisa berbagi roti, makanan kecil, bahkan permen dan permainan puzzle (gambar yang bisa dibongkar pasang).
Permen dan puzzle-puzzle itu saya dapat dari Dian, pramugari Garuda rute Jakarta-Padang. Pramugari cantik tersebut juga pernah memberi saya dua bungkus permen saat saya dan dr Singgih dalam penerbangan Surabaya-Jakarta untuk kemudian ke Padang dengan membawa satu tas besar berisi obat bius dan obat-obat injeksi (antibiotik dan anti nyeri).
Permen-permen dan mainan-mainan itu sangat menghibur anak-anak korban gempa di Padang Alai dan Gunung Tigo. (*/iro/jawa pos.com)
Kamis, 05 November 2009
Samudera di Gurun

Samudra Baru Akan Muncul
di Padang Pasir Afrika
Kamis, 5 November 2009
New York-- Jumlah lautan di bumi bakal bertambah. Itu prediksi sejumlah ilmuwan dari Amerika Serikat, seperti dikupas dalam jurnal Geophysical Research Letters. Tim peneliti internasional memperkirakan samudra baru itu muncul di wilayah Ethiophia.
Hasil penelitian menyebutkan bahwa akibat gempa pada 2005 terbentuk retakan di wilayah padang pasir Ethiopia. Retakan tersebut sepanjang 56 kilometer dengan lebar hingga 6 meter. Laporan tersebut juga menyampaikan bahwa kemunculan celah raksasa itu begitu cepat, hanya dalam beberapa hari.
''Kami tahu bahwa dasar laut dibentuk oleh campuran magma yang masuk ke celah retakan. Tapi, kami belum pernah melihat bahwa jarak sebesar itu bisa terbentuk dalam sekali (retak) seperti ini,'' papar Cindy Ebinger, profesor ilmu bumi dan lingkungan dari University of Rochester.
Berdasar pengamatan ahli, proses bermula ketika gunung berapi Debbanu yang berada di ujung utara retakan meletus. Ebinger memaparkan aktivitas gunung yang tinggi di sepanjang lempengan laut tektonik dapat menimbulkan retakan pada permukaan bumi. Kemudian, magma mengalir mengisi retakan tersebut. Proses itu identik dengan proses terjadinya samudera. Keyakinan itu menguat karena aktivitas retakan serupa juga menjadi bagian dari proses terbentuknya Laut Merah.
Laut Merah terjadi ketika retakan antara lempengan Afrika dan Arab bertemu di Gurun Afar, utara Ethiopia. Celah retakan itu terus meluas hingga 30 juta tahun. Selama itu, setiap tahun kecepatan retakan bisa mencapai kurang dari 1 inci hingga meluas menjadi 297,6 kilometer yang akhirnya menciptakan Laut Merah. Nah, samudra baru ini akan terhubung dengan Laut Merah dan Teluk Aden. (war/ami/jpnn)
Sabtu, 17 Oktober 2009
Gempa Sumbar
Seharian Antarkan Langsung Bantuan untuk Korban Gempa di Sumbar
‘’Kami Makin Termotivasi untuk Bangkit Lagi…’’
Laporan AMZAR
amzar@riaupos.com
AZAN Zuhur bergema syahdu ketika rombongan Riau Pos Grup yang membawa bantuan sumbangan pembaca dan para donatur baru saja membongkar sebagian paket bantuan di posko Kampung Paneh, Kecamatan Patamuan, Padang Pariaman, Sumbar.
Pada bagian depan pondokan posko berbentuk saung itu, tertempel selembar karton putih, memuat daftar nama 72 orang warga Desa Paraman Cumanak yang hilang pasca-tertimbunnya desa mereka oleh longsoran berjuta kubik tanah seiring gempa berkekuatan 7,9 skala Richter 30 September lalu.
‘’Yang dikasi ceklis itu, mereka yang jasadnya sudah ditemukan, ada 29 orang. Selebihnya, tak dijumpai lagi. Ada ratusan jumlahnya karena beberapa desa lain juga mengalami nasib yang sama seperti Cumanak ini,’’kata Iyon, ketua pemuda setempat.
Siang itu, memasuki awal pekan kedua pascabencana gempa, akses ke desa-desa pelosok memang semakin terbuka. Bermacam jenis kendaraan silih berganti melintas, baik yang membawa bantuan pangan, tenaga relawan maupun yang hanya sekadar lihat-lihat.
Wajah-wajah warga korban gempa sebagiannya sudah tidak lagi terlihat tegang. Masing-masing sibuk membenahi apa yang bisa dibenahi dari reruntuhan bangunan tempat mereka bernaung selama ini. Yang terbanyak nampak adalah membangun tempat penampungan sementara, tak jauh dari puing rumah mereka, seadanya berupa bangunan berdinding kayu atau seng. Sebagian lagi bernaung di bawah tenda bantuan dari sini-sana.
Ya, geliat warga sudah terasa, tak ingin berlama-lama larut dalam duka. ‘’Umumnya tiga hari pertama setelah gempa, kami sudah membenahi apa-apa saja yang bisa. Yang penting bisa berlindung dulu, terutama untuk orangtua dan anak-anak, seperti yang itu tu’’ kata Iyon, sambil menunjuk bedeng dekat puing rumah orangtuanya, yang didominasi bentangan triplek.
‘’Apalagi dengan adanya bantuan dari rantau yang diantar langsung Riau Pos Grup ini, kami jadi makin termotivasi untuk bangkit lagi,’’ sambung Iyon.
Mushala Al-Muqaramah tempat kumandang azan tadi, contoh lainnya. Dinding bagian depan dan mihrabnya yang runtuh, sudah dibersihkan. Atap bagonjong yang masih utuh tetap berdiri ditopang beberapa batang kayu. Di depan mihrab, ditutup sementara sebagiannya dengan bentangan plastik hitam. Corong pengeras suara, dibiarkan tergeletak di sudut kanan bagian depan mushala, di antara tiang-tiang penyangga atap. Kening terasa sejuk saat sujud di atas lantai mushala yang kini beralas perlak itu.
Desa Kampung Paneh yang tak jauh dari Paraman Cumanak ini adalah lokasi ketiga dari belasan titik lokasi yang didatangi tim Riau Pos Grup yang mengantarkan langsung bantuan yang disumbangkan para pembaca media grup ini.
‘’Memang, harus kami akui, sejauh ini bantuan yang langsung diantarkan ke desa kami, paling banyak datang dari daerah Riau.Alhamdulillah, ini sangat berarti bagi kami. Sampaikan salam dan terima kasih kami untuk dunsanak yang ada di Riau, ya Pak!’’ kata M Ali, pemuda Lareh Nan Panjang.
***
Mengantarkan langsung bantuan ke tangan warga, itulah yang dilakukan tim Riau Pos Grup yang menghimpun dana dan bantuan dari masyarakat untuk korban gempa bumi di Sumbar ini.
Pendistribusian bantuan Selasa (13/10) itu adalah untuk keempatkalinya. Kali ini yang dibawa adalah sembilan ton beras, gula, susu, ikan kering, ikan kaleng, minyak goreng, teh dan pakaian, serta 30 tenda ukuran 10x10 meter untuk perlindungan anak-anak di malam hari. Ditambah yang sudah disalurkan sehari sebelumnya, total 15 ton beras yang disalurkan RPG dari Batam yang dihimpun melalui Dompet Peduli Batam Pos, grup Riau Pos di Kepulauan Riau.
Karenanya, tim yang turun kali ini juga datang dari Batam Pos, yang dipimpin langsung Pimpinan Perusahaan Batam Pos Usep Rahmat Saefulloh, Manajer Pemasaran Herman Mangundap, dan Wakil Pemimpin Redaksi Arham. Tentu saja, yang menjadi ujung tombak pengantaran adalah tim Riau Pos sendiri, dan saya sendiri dipercaya sebagai koordinatornya.
Rombongan besar sudah bergerak dari kantor Riau Pos Pekanbaru menjelang tengah malam, Senin (12/10). Konvoi diikuti tiga mobil membawa kru dan dua truk yang sarat muatan bantuan. Tim terjun langsung ke titik-titik terparah yang terkena gempa Sumbar untuk menyalurkan bantuan dari pembaca. Dari pagi hingga malam, pada belasan titik.
Hari masih pagi ketika tim bergerak dari Kecamatan 2X11 Kayu Tanam. Titik pertama yang dikunjungi adalah Dusun Tanah Taban dan Anduring, Korong (Desa, red) Rimbo Kalam, Padang Pariaman. Sekilas dari jalan besar, desa tak tampak terkena gempa. Namun kalau ditelusuri ke dalam, sebagian besar rumah warga rata dengan tanah. Di sini bantuan diserahkan sebanyak 1,5 ton yang terdiri dari beras, minyak goreng, gula pasir, ikan asin, ikan sarden, teh, susu, roti, pakaian serta tenda.
Dari sini tim bergerak ke Kecamatan Patamuan, melalui Sicincin melintasi Kampung Durian, melintasi Padangsago, Tandikek, Lareh Nan Panjang, serta lokasi terparah yang terkena gempa di dekat Gunung Tigo, yaitu di Kampuang Paneh dan Paraman Cumanak. Di sepanjang perjalanan, di kiri-kanan jalan terhampar pemandangan miris karena nyaris 90 persen rumah warga rata dengan tanah. 
Jalan di Kampuang Paneh dan Cumanak ini terputus akibat parahnya gempa. Tanah retak dan menganga. ”Di Cumanak ini tanahnya goyang dan tak bisa ditinggali lagi,’’ ujar Ketua Pemuda Kampuang Paneh, Iyon.
Warga sangat bersyukur karena bantuan selain beras dan lauk-pauk juga disertai tenda yang ukurannya lebih besar, 10 meter X 10 meter sehingga cocok untuk berkumpul warga dan aman bagi anak-anak. ”Kami sangat membutuhkan tenda apalagi anak-anak,’’ tambah Iyon.
Dari Tandikek tim bergerak ke Ampalu Tinggi VII Koto Lareh Nan Panjang. Sama seperti sebelumnya, dari pinggir jalan kerusakan rumah warga tampak hanya retak dan sebagian. Tetapi setelah tim masuk ke dalam dusun, beberapa rumah warga tampak rata dengan tanah. Di sini tim menyerahkan langsung bantuan sebanyak satu ton dan tenda.
Seorang warga Ampalu ini, Upiak Gapuak, terlihat tertatih-tatih mengumpulkan batu-bata dari puing rumahnya, yang berserakan. Dibantu anak gadis kecilnya, ia mengumpulkan satu-satu batu bata, yang kemudian disusun rapi oleh anaknya. Tak jauh darinya, suami dan seorang lagi anak lelakinya, juga melakukan hal yang sama.
‘’Ba’a lai Pak, indak ado lai nan ka mambantu. Tiok urang sibuak jo parasaiannyo. Indak mungkin dipadia kan lamo-lamo doh (Bagaimana lagi Pak, tak ada lagi yang akan membantu, semua sibuk karena mereka juga jadi korban. Tak mungkin dibiarkan lama-lama),’’ kata Upiak Gapuak, yang sedikit menceritakan peristiwa dahsyat, yang meluluhlantakkan rumahnya itu. Untuk sementara, ia membangun bedeng ala kadarnya dari susunan seng, untuk sekadar meletakkan kasur sebatang. Matanya berkaca-kaca ketika ada anggota rombongan yang merogoh saku untuk langsung memberinya uang. ‘’Iko saketek ni, sakadar pambali lado..’’ kata yang menyerahkan sembari menyelipkan uang ke tangan Upiak Gapuak yang bergetar.
Lalu tim ke Dusun Sampan, Desa Pungguang Ladiang, Pariaman Selatan. Di sini tim juga menyerahkan bantuan sebanyak setengah ton. Daerah terparah lain yang dikunjungi adalah Kampung Ladang, Kampung Talang Cokok dan Kampung Tanjung, semuanya di Kecamatan V Koto Padang Pariaman. Sebagian besar rumah warga di sini rata dengan tanah. Dari beberapa titik lokasi gempa yang dikunjungi di sini, total bantuan yang didrop sebanyak 1,5 ton.
Kebanyakan rumah warga di sini juga rata dengan tanah. Karenanya mereka paling membutuhkan tenda untuk perlindungan di malam hari. Sebagian besar tenda bantuan pembaca RPG juga diturunkan di sini. Menjelang malam, tim memasuki Dusun Kemumuan, Kecamatan Sungai Limau, Padang Pariaman. Di sini juga kondisinya parah seperti di Tandikek dan V Koto. Bantuan yang diserahkan sebanyak 1,5 ton.
Di sepanjang perjalanan mulai dari Kayu Tanam hingga Sungai Limau yang jalannya sebagian rengkah-rengkah, secara insidentil tim juga menyerahkan bantuan jika ada yang posko dan warga yang memerlukan bantuan. Total bantuan yang disebar di jalan sebanyak 400 Kg.
Karena sudah malam, sesampai di Lubuk Basung, Agam, Sumbar, tim menyerahkan bantuan sebanyak 2,1 ton melalui perwakilan Padang Ekspres, (Grup Riau Pos) yang akan menyalurkan langsung bantuan ini ke . ”Sehari sebelumnya Batam Pos melalui tim Peduli Riau Pos telah menyalurkan bantuan sebanyak enam ton, sehingga total bantuan yang telah disalurkan sebanyak 15 ton. Atau nilai uangnya Rp160 juta,’’ jelas Usep RS.
Sebagai pertanggungjawaban, Usep berjanji akan melaporkannya ke pembaca dan para donatur secara lebih rinci lagi. Ia mengaku sangat terharu dapat menyerahkan dan melihat langsung kondisi korban di lokasi gempa. ‘’Walau capek, bahagia dan puas rasanya,’’ ujar Usep.(***)





