Selasa, 17 November 2009
Menyusuri Padang pada Hari Ke-40 Pascagempa (1)
Bangun Sekolah Tahan Gempa Sekaligus Rescue Center
Pada hari ke-40 pascagempa, wartawan Jawa Pos Nany Wijaya kembali ke Gunung Tigo, Kabupaten Padang Pariaman. Sebelumnya, sepekan pascagempa pun dia sudah ke sana. Catatan tentang kehancuran akibat guncangan 7,9 skala Richter yang mencabik-cabik dan rencana-rencana ke depan akan diturunkan secara bersambung.
---
DI sela-sela mengurus dan mempersiapkan lokasi sekolah yang akan dibangun dengan dana bantuan para pembaca Jawa Pos, saya menyempatkan berkunjung ke daerah perbukitan Gunung Tigo (baca: Gunuang Tigo) di Kabupaten Padang Pariaman beberapa hari lalu.
Dari sisa bantuan pembaca yang belum tersalurkan, kami merencanakan untuk membangun dua sekolah -masing-masing di Padang dan Padang Pariaman- dengan konsep seperti sekolah-sekolah di Jepang. Tak hanya tahan gempa, tapi juga sebagai rescue center ketika terjadi bencana.
Untuk itu, Jawa Pos bekerja sama dengan konsultan JICA, Joshie ''Arenco'' Halim, Institut Teknologi 10 Nopember (ITS) Surabaya, Universitas Andalas (Unand) Padang, dan harian Padang Ekspres Group (Jawa Pos Group).
Ini bukan kali pertama saya ke Gunung Tigo yang hancur di beberapa titik karena gempa tektonik. Sebagaimana diketahui, ketika terjadi gempa tektonik berkekuatan 7,9 skala Richter pada 30 September lalu, beberapa titik di kawasan perbukitan yang penduduknya lumayan padat itu mengalami longsor berat. Ratusan orang tewas terkubur hidup-hidup oleh bukit yang longsor.
Tak seperti di Padang, tak banyak korban di Gunung Tigo dan sekitarnya yang bisa diselamatkan. Bahkan, yang di Tandikek, tak seorang pun bisa diselamatkan, sehingga daerah itu pun dinyatakan sebagai kuburan masal dengan jumlah korban tewas sekitar 300 orang.
Kali pertama saya ke Gunung Tigo justru bersama Bupati Padang Pariaman Drs H Muslim Kasim Ak MM dan tim medis RS Petrokimia Gresik yang dipimpin langsung oleh dr Singgih pada hari ketujuh pascagempa.
Baru kali itu saya mengunjungi daerah bencana bersama pejabat pemerintah. Jujur, saya terkesan oleh cara bupati yang pernah bertugas di Dolog Jatim selama 10 tahun (1984-1994) dengan jabatan terakhir Waka Dolog Jatim itu mendatangi para korban.
Dia datang ke lokasi tanpa protokoler. Juga, tak ada tim pendahulu yang ''mengamankan'' lokasi. Dia menemui langsung para korban yang selamat. Kepada mereka, sarjana akuntansi lulusan Unpad Bandung tersebut tak hanya bertanya. Tapi, memberikan langsung apa yang dibutuhkan para korban. Sebab, dia membawa serta sebuah mobil boks berisi bantuan bagi para korban. Mulai natura sampai susu bayi, pakaian layak pakai, dan tenda darurat yang sederhana.
Pada saat yang sama, dia juga memberikan sendiri uang lauk-pauk kepada para korban. Cara memberikannya pun unik. Yakni, meminta mereka yang belum mendapatkan bantuan pemerintah itu untuk berkumpul, kemudian menyerahkan layaknya seorang bapak yang memberikan uang saku kepada anak-anaknya yang akan berangkat sekolah.
Sementara Pak Bupati sibuk dengan urusannya, saya memisahkan diri bersama dr Singgih dan tim medisnya. Di lokasi yang sama, yakni di Korong (semacam dusun) Patamuan, kami bertemu seorang ibu yang bayinya sudah berhari-hari demam. Karena kebetulan sedang bersama tim medis, bayi itu pun langsung ditangani. Tapi, karena ketika itu mereka belum punya posko, penanganan dilakukan secara darurat di teras sebuah rumah yang kebetulan masih utuh.
Untuk gempa di Sumatera Barat ini, Petrokimia Gresik tidak hanya mengirimkan tim medis yang berjumlah 10 orang, tapi juga puluhan dus besar obat-obatan, belasan ton beras, bahan makanan lain, selimut, serta tenda. Bantuan itu diangkut KRI Teluk Mandar bersama sumbangan pembaca Jawa Pos lainnya. Di antaranya, 50 tabung (isi) elpiji 12 kg dari PT Pertamina dan 100 kompor gas PT Energi Multitech Indonesia.
Ketika pagi itu rombongan kami tiba, warga di kawasan tersebut belum mendapat bantuan apa pun. Baru siangnya bantuan dan relawan lain yang membawa bantuan medis, tenda, serta keperluan lain datang berduyun-duyun.
Kalaupun sebelumnya banyak relawan yang datang, konsentrasi mereka bukan membantu yang hidup, tapi berusaha menyelamatkan yang tertimbun longsoran bukit Gunung Tigo. Sayang, yang berhasil dievakuasi umumnya para korban yang sudah menjadi jenazah. Memang rada mustahil untuk bisa bertahan hidup di bawah timbunan tanah bukit yang longsor seperti itu.
Beberapa hari lalu, saya kembali ke Kampung Patamuan. Bukit Padang Alai yang longsor tersebut masih belum banyak berubah. Kalaupun ada yang berbeda, lokasi itu sudah bersih. Tak ada lagi tanah longsoran dan batang-batang pohon kelapa yang berserakan. Jalan di situ juga sudah cukup lebar dan cukup keras untuk dilalui mobil.
Ketika saya ke sana pada hari ke tujuh itu, jalan tersebut cuma jalan setapak yang hanya cukup untuk dua orang. Jika tidak hati-hati jalannya, akan tergelincir masuk ke jurang yang menganga lebar di sampingnya.
Ketika saya kembali ke situ akhir pekan lalu, jurang tersebut masih menganga selebar dan sedalam yang dulu. Rumah bercat tembok pink yang terasnya pernah digunakan dr Irfan dari tim medis RS Petrokimia Gresik mengobati bayi yang demam tersebut masih di sana. Tegak berdiri seperti sebelumnya dan bersih.
Ketika saya tiba di situ, di ruang tamunya hanya ada dua pria muda yang sedang bersantai. Saya yang ketika itu didampingi Iyut, reporter cantik dari Padangtv (Grup JTV-Jawa Pos), tak sempat bertanya banyak. Sebab, kami berdua ingin segera sampai ke Koto Tinggi sebelum hari gelap.
Kami berdua juga tak sempat bertanya kepada pemilik warung di sebelah rumah itu, ke mana gerangan orang-orang yang pernah kami temui pada hari ketujuh pasca gempa yang lalu.
Misalnya, Aroni, 50, yang anak lelakinya, 11 tahun, tewas terkubur longsoran Gunung Padang Alai ketika sedang asyik menonton TV bersama lima temannya. Apriadi baru ditemukan pada hari keenam pascagempa, oleh Aroni yang dibantu tetangga-tetangganya.
Saya juga tak sempat bertanya di mana gerangan ibu Umay sekarang tinggal. Wanita berumur 65 tahun tersebut, pada hari ketujuh itu, juga saya temui di teras rumah tersebut. Dia kehilangan 12 anggota keluarganya. Sepuluh orang di antaranya baru ditemukan pada hari keenam itu, bersamaan dengan jasad Apriadi. Mereka juga sudah tak bernyawa saat ditemukan.
Yang saya agak heran ketika datang kembali ke situ, rumah di samping rumah pink itu. Di situ dulu saya bertemu Kamal. Seorang lelaki berumur 47 tahun yang sebelum gempa tinggal di Jakarta.
Kamal juga kehilangan 12 anggota keluarganya. Delapan orang berhasil ditemukan dalam keadaan hidup. Tapi, karena tak ada akses untuk mendapatkan pertolongan, ''Mereka hanya bertahan hidup selama dua hari,'' tuturnya dengan wajah sedih.
Ketika saya datang dulu, rumah tersebut tinggal separo. Tapi, gorden kamar, lemari hias (orang biasa menyebutnya bufet) di ruang tamu berikut isinya, dan televisinya masih utuh. Namun, lemari pintu hias itu sudah tak bisa lagi dibuka karena bagian depannya tertutup reruntuhan tembok dan atap rumah. Di halamannya juga masih berserakan beberapa kantong mayat bantuan Departemen Kesehatan yang berwarna kuning.
Saat saya kembali ke situ pekan lalu, sisa rumah itu sudah tak ada. Diganti dengan rumah kayu semipermanen yang dihuni kelapa-kelapa. Di halamannya, seorang bapak setengah baya yang saya lupa namanya sedang sibuk membangun tungku untuk membakar kelapa-kelapa yang sudah kering tersebut.
''Kami belum bisa bekerja seperti dulu. Tapi, kalau kelapa yang hanya sedikit ini bisa kami bakar jadi kopra, kan lumayan untuk menyambung hidup,'' tuturnya dengan wajah penuh optimisme.
Dengan berjalan kaki, seperti hari ke tujuh dulu, saya melintasi bukit Padang Alai. Beberapa remaja pria yang berpapasan dengan kami menawarkan mengantar kami dengan sepeda motornya. Saya pikir mereka itu pengemudi ojek, ternyata bukan. Mereka hanya kasihan melihat kami berdua berjalan kaki.
Beda dengan hari ketujuh dulu. Beberapa anak muda yang berani mengemudikan motornya di jalan-jalan darurat memanfaatkan kesempatan untuk jadi ojek. Lumayan juga penghasilan mereka karena bisa mencapai Rp 100 ribu per hari.
Saya dan Iyut memang sengaja berjalan kaki. Untuk mengenang kembali perjalanan kami pada hari ketujuh dulu, di mana kami harus sangat berhati-hati. Kalau tidak, kaki akan tersandung pohon kelapa atau tiang listrik yang tumbang. Saat itu, yang terancam bukan hanya kaki, tapi juga leher yang bisa tersangkut kabel listrik yang tiangnya telah setengah tumbang. Atau, bisa juga dahi kita terantuk tiangnya yang melintang di tengah jalan.
Saat itu, ketika jalan masih sangat darurat, saya dan Iyut sempat juga naik ojek. Namun, tidak jauh karena takut terjungkal. Begitu juga tim dokter dari Petrokimia Gresik. Setelah lelah memikul obat-obatan yang satu dus besar, mereka terpaksa menggunakan ojek.
Ketika kami berdua menapak tilas jejak kami sendiri di Padang Alai, langit sedang terik. Tapi, jika dibanding hari ketujuh dulu, teriknya matahari pekan lalu jauh lebih bersahabat. Apalagi, di sepanjang perjalanan sudah banyak warga yang kembali menempati rumahnya yang masih dalam kondisi berantakan. Yang rumahnya tak bisa lagi ditinggali ya tinggal di tenda-tenda yang didirikan di depan atau samping puing-puing rumah mereka.
Berbeda dengan dulu, kali ini kami banyak mendapat tawaran mampir dan minum dari warga. Pada hari ketujuh dulu, kami harus berjalan sejauh 18 kilometer (PP) tanpa ada yang menawari minum. Beli pun tak bisa karena juga belum ada yang berjualan.
Sebaliknya, ketika itu, kami juga tak bisa memberikan apa-apa kepada warga dan anak-anak yang jadi korban. Namun, pekan lalu, kami berdua dan Pemimpin Redaksi Pos Metro Padang (Jawa Pos Group) Sukri bisa berbagi roti, makanan kecil, bahkan permen dan permainan puzzle (gambar yang bisa dibongkar pasang).
Permen dan puzzle-puzzle itu saya dapat dari Dian, pramugari Garuda rute Jakarta-Padang. Pramugari cantik tersebut juga pernah memberi saya dua bungkus permen saat saya dan dr Singgih dalam penerbangan Surabaya-Jakarta untuk kemudian ke Padang dengan membawa satu tas besar berisi obat bius dan obat-obat injeksi (antibiotik dan anti nyeri).
Permen-permen dan mainan-mainan itu sangat menghibur anak-anak korban gempa di Padang Alai dan Gunung Tigo. (*/iro/jawa pos.com)
Rabu, 18 November 2009
Pascagempa Sumbar (1)
Kamis, 05 November 2009
Samudera di Gurun

Samudra Baru Akan Muncul
di Padang Pasir Afrika
Kamis, 5 November 2009
New York-- Jumlah lautan di bumi bakal bertambah. Itu prediksi sejumlah ilmuwan dari Amerika Serikat, seperti dikupas dalam jurnal Geophysical Research Letters. Tim peneliti internasional memperkirakan samudra baru itu muncul di wilayah Ethiophia.
Hasil penelitian menyebutkan bahwa akibat gempa pada 2005 terbentuk retakan di wilayah padang pasir Ethiopia. Retakan tersebut sepanjang 56 kilometer dengan lebar hingga 6 meter. Laporan tersebut juga menyampaikan bahwa kemunculan celah raksasa itu begitu cepat, hanya dalam beberapa hari.
''Kami tahu bahwa dasar laut dibentuk oleh campuran magma yang masuk ke celah retakan. Tapi, kami belum pernah melihat bahwa jarak sebesar itu bisa terbentuk dalam sekali (retak) seperti ini,'' papar Cindy Ebinger, profesor ilmu bumi dan lingkungan dari University of Rochester.
Berdasar pengamatan ahli, proses bermula ketika gunung berapi Debbanu yang berada di ujung utara retakan meletus. Ebinger memaparkan aktivitas gunung yang tinggi di sepanjang lempengan laut tektonik dapat menimbulkan retakan pada permukaan bumi. Kemudian, magma mengalir mengisi retakan tersebut. Proses itu identik dengan proses terjadinya samudera. Keyakinan itu menguat karena aktivitas retakan serupa juga menjadi bagian dari proses terbentuknya Laut Merah.
Laut Merah terjadi ketika retakan antara lempengan Afrika dan Arab bertemu di Gurun Afar, utara Ethiopia. Celah retakan itu terus meluas hingga 30 juta tahun. Selama itu, setiap tahun kecepatan retakan bisa mencapai kurang dari 1 inci hingga meluas menjadi 297,6 kilometer yang akhirnya menciptakan Laut Merah. Nah, samudra baru ini akan terhubung dengan Laut Merah dan Teluk Aden. (war/ami/jpnn)
Sabtu, 17 Oktober 2009
Gempa Sumbar
Seharian Antarkan Langsung Bantuan untuk Korban Gempa di Sumbar
‘’Kami Makin Termotivasi untuk Bangkit Lagi…’’
Laporan AMZAR
amzar@riaupos.com
AZAN Zuhur bergema syahdu ketika rombongan Riau Pos Grup yang membawa bantuan sumbangan pembaca dan para donatur baru saja membongkar sebagian paket bantuan di posko Kampung Paneh, Kecamatan Patamuan, Padang Pariaman, Sumbar.
Pada bagian depan pondokan posko berbentuk saung itu, tertempel selembar karton putih, memuat daftar nama 72 orang warga Desa Paraman Cumanak yang hilang pasca-tertimbunnya desa mereka oleh longsoran berjuta kubik tanah seiring gempa berkekuatan 7,9 skala Richter 30 September lalu.
‘’Yang dikasi ceklis itu, mereka yang jasadnya sudah ditemukan, ada 29 orang. Selebihnya, tak dijumpai lagi. Ada ratusan jumlahnya karena beberapa desa lain juga mengalami nasib yang sama seperti Cumanak ini,’’kata Iyon, ketua pemuda setempat.
Siang itu, memasuki awal pekan kedua pascabencana gempa, akses ke desa-desa pelosok memang semakin terbuka. Bermacam jenis kendaraan silih berganti melintas, baik yang membawa bantuan pangan, tenaga relawan maupun yang hanya sekadar lihat-lihat.
Wajah-wajah warga korban gempa sebagiannya sudah tidak lagi terlihat tegang. Masing-masing sibuk membenahi apa yang bisa dibenahi dari reruntuhan bangunan tempat mereka bernaung selama ini. Yang terbanyak nampak adalah membangun tempat penampungan sementara, tak jauh dari puing rumah mereka, seadanya berupa bangunan berdinding kayu atau seng. Sebagian lagi bernaung di bawah tenda bantuan dari sini-sana.
Ya, geliat warga sudah terasa, tak ingin berlama-lama larut dalam duka. ‘’Umumnya tiga hari pertama setelah gempa, kami sudah membenahi apa-apa saja yang bisa. Yang penting bisa berlindung dulu, terutama untuk orangtua dan anak-anak, seperti yang itu tu’’ kata Iyon, sambil menunjuk bedeng dekat puing rumah orangtuanya, yang didominasi bentangan triplek.
‘’Apalagi dengan adanya bantuan dari rantau yang diantar langsung Riau Pos Grup ini, kami jadi makin termotivasi untuk bangkit lagi,’’ sambung Iyon.
Mushala Al-Muqaramah tempat kumandang azan tadi, contoh lainnya. Dinding bagian depan dan mihrabnya yang runtuh, sudah dibersihkan. Atap bagonjong yang masih utuh tetap berdiri ditopang beberapa batang kayu. Di depan mihrab, ditutup sementara sebagiannya dengan bentangan plastik hitam. Corong pengeras suara, dibiarkan tergeletak di sudut kanan bagian depan mushala, di antara tiang-tiang penyangga atap. Kening terasa sejuk saat sujud di atas lantai mushala yang kini beralas perlak itu.
Desa Kampung Paneh yang tak jauh dari Paraman Cumanak ini adalah lokasi ketiga dari belasan titik lokasi yang didatangi tim Riau Pos Grup yang mengantarkan langsung bantuan yang disumbangkan para pembaca media grup ini.
‘’Memang, harus kami akui, sejauh ini bantuan yang langsung diantarkan ke desa kami, paling banyak datang dari daerah Riau.Alhamdulillah, ini sangat berarti bagi kami. Sampaikan salam dan terima kasih kami untuk dunsanak yang ada di Riau, ya Pak!’’ kata M Ali, pemuda Lareh Nan Panjang.
***
Mengantarkan langsung bantuan ke tangan warga, itulah yang dilakukan tim Riau Pos Grup yang menghimpun dana dan bantuan dari masyarakat untuk korban gempa bumi di Sumbar ini.
Pendistribusian bantuan Selasa (13/10) itu adalah untuk keempatkalinya. Kali ini yang dibawa adalah sembilan ton beras, gula, susu, ikan kering, ikan kaleng, minyak goreng, teh dan pakaian, serta 30 tenda ukuran 10x10 meter untuk perlindungan anak-anak di malam hari. Ditambah yang sudah disalurkan sehari sebelumnya, total 15 ton beras yang disalurkan RPG dari Batam yang dihimpun melalui Dompet Peduli Batam Pos, grup Riau Pos di Kepulauan Riau.
Karenanya, tim yang turun kali ini juga datang dari Batam Pos, yang dipimpin langsung Pimpinan Perusahaan Batam Pos Usep Rahmat Saefulloh, Manajer Pemasaran Herman Mangundap, dan Wakil Pemimpin Redaksi Arham. Tentu saja, yang menjadi ujung tombak pengantaran adalah tim Riau Pos sendiri, dan saya sendiri dipercaya sebagai koordinatornya.
Rombongan besar sudah bergerak dari kantor Riau Pos Pekanbaru menjelang tengah malam, Senin (12/10). Konvoi diikuti tiga mobil membawa kru dan dua truk yang sarat muatan bantuan. Tim terjun langsung ke titik-titik terparah yang terkena gempa Sumbar untuk menyalurkan bantuan dari pembaca. Dari pagi hingga malam, pada belasan titik.
Hari masih pagi ketika tim bergerak dari Kecamatan 2X11 Kayu Tanam. Titik pertama yang dikunjungi adalah Dusun Tanah Taban dan Anduring, Korong (Desa, red) Rimbo Kalam, Padang Pariaman. Sekilas dari jalan besar, desa tak tampak terkena gempa. Namun kalau ditelusuri ke dalam, sebagian besar rumah warga rata dengan tanah. Di sini bantuan diserahkan sebanyak 1,5 ton yang terdiri dari beras, minyak goreng, gula pasir, ikan asin, ikan sarden, teh, susu, roti, pakaian serta tenda.
Dari sini tim bergerak ke Kecamatan Patamuan, melalui Sicincin melintasi Kampung Durian, melintasi Padangsago, Tandikek, Lareh Nan Panjang, serta lokasi terparah yang terkena gempa di dekat Gunung Tigo, yaitu di Kampuang Paneh dan Paraman Cumanak. Di sepanjang perjalanan, di kiri-kanan jalan terhampar pemandangan miris karena nyaris 90 persen rumah warga rata dengan tanah. 
Jalan di Kampuang Paneh dan Cumanak ini terputus akibat parahnya gempa. Tanah retak dan menganga. ”Di Cumanak ini tanahnya goyang dan tak bisa ditinggali lagi,’’ ujar Ketua Pemuda Kampuang Paneh, Iyon.
Warga sangat bersyukur karena bantuan selain beras dan lauk-pauk juga disertai tenda yang ukurannya lebih besar, 10 meter X 10 meter sehingga cocok untuk berkumpul warga dan aman bagi anak-anak. ”Kami sangat membutuhkan tenda apalagi anak-anak,’’ tambah Iyon.
Dari Tandikek tim bergerak ke Ampalu Tinggi VII Koto Lareh Nan Panjang. Sama seperti sebelumnya, dari pinggir jalan kerusakan rumah warga tampak hanya retak dan sebagian. Tetapi setelah tim masuk ke dalam dusun, beberapa rumah warga tampak rata dengan tanah. Di sini tim menyerahkan langsung bantuan sebanyak satu ton dan tenda.
Seorang warga Ampalu ini, Upiak Gapuak, terlihat tertatih-tatih mengumpulkan batu-bata dari puing rumahnya, yang berserakan. Dibantu anak gadis kecilnya, ia mengumpulkan satu-satu batu bata, yang kemudian disusun rapi oleh anaknya. Tak jauh darinya, suami dan seorang lagi anak lelakinya, juga melakukan hal yang sama.
‘’Ba’a lai Pak, indak ado lai nan ka mambantu. Tiok urang sibuak jo parasaiannyo. Indak mungkin dipadia kan lamo-lamo doh (Bagaimana lagi Pak, tak ada lagi yang akan membantu, semua sibuk karena mereka juga jadi korban. Tak mungkin dibiarkan lama-lama),’’ kata Upiak Gapuak, yang sedikit menceritakan peristiwa dahsyat, yang meluluhlantakkan rumahnya itu. Untuk sementara, ia membangun bedeng ala kadarnya dari susunan seng, untuk sekadar meletakkan kasur sebatang. Matanya berkaca-kaca ketika ada anggota rombongan yang merogoh saku untuk langsung memberinya uang. ‘’Iko saketek ni, sakadar pambali lado..’’ kata yang menyerahkan sembari menyelipkan uang ke tangan Upiak Gapuak yang bergetar.
Lalu tim ke Dusun Sampan, Desa Pungguang Ladiang, Pariaman Selatan. Di sini tim juga menyerahkan bantuan sebanyak setengah ton. Daerah terparah lain yang dikunjungi adalah Kampung Ladang, Kampung Talang Cokok dan Kampung Tanjung, semuanya di Kecamatan V Koto Padang Pariaman. Sebagian besar rumah warga di sini rata dengan tanah. Dari beberapa titik lokasi gempa yang dikunjungi di sini, total bantuan yang didrop sebanyak 1,5 ton.
Kebanyakan rumah warga di sini juga rata dengan tanah. Karenanya mereka paling membutuhkan tenda untuk perlindungan di malam hari. Sebagian besar tenda bantuan pembaca RPG juga diturunkan di sini. Menjelang malam, tim memasuki Dusun Kemumuan, Kecamatan Sungai Limau, Padang Pariaman. Di sini juga kondisinya parah seperti di Tandikek dan V Koto. Bantuan yang diserahkan sebanyak 1,5 ton.
Di sepanjang perjalanan mulai dari Kayu Tanam hingga Sungai Limau yang jalannya sebagian rengkah-rengkah, secara insidentil tim juga menyerahkan bantuan jika ada yang posko dan warga yang memerlukan bantuan. Total bantuan yang disebar di jalan sebanyak 400 Kg.
Karena sudah malam, sesampai di Lubuk Basung, Agam, Sumbar, tim menyerahkan bantuan sebanyak 2,1 ton melalui perwakilan Padang Ekspres, (Grup Riau Pos) yang akan menyalurkan langsung bantuan ini ke . ”Sehari sebelumnya Batam Pos melalui tim Peduli Riau Pos telah menyalurkan bantuan sebanyak enam ton, sehingga total bantuan yang telah disalurkan sebanyak 15 ton. Atau nilai uangnya Rp160 juta,’’ jelas Usep RS.
Sebagai pertanggungjawaban, Usep berjanji akan melaporkannya ke pembaca dan para donatur secara lebih rinci lagi. Ia mengaku sangat terharu dapat menyerahkan dan melihat langsung kondisi korban di lokasi gempa. ‘’Walau capek, bahagia dan puas rasanya,’’ ujar Usep.(***)
Minggu, 09 Agustus 2009
Bismillah

Mukjizat di balik BISMILLAH
BISMILLAH adalah sebutan/nama singkat dari lafaz "BISMILLAHIR ROHMAANIR ROHIIM" yang bermaksud: "Dengan nama ALLAH Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."
KELEBIHAN-KELEBIHAN BISMILLAH
(1) Yang pertama ditulis Qalam adalah BISMILLAH. Maka apabila kamu menulis sesuatu, maka tulislah BISMILLAH pada awalnya karena BISMILLAH tertulis pada setiap wahyu yang Allah turunkan kepada Jibril.
(2) "BISMILLAH untukmu dan umatmu, suruhlah mereka apabila memohon sesuatu dengan BISMILLAH. Aku tidak akan meninggalkannya sekejap mata pun sejak BISMILLAH diturunkan kepada Adam." (Hadith Qudsi)
(3) Tatkala BISMILLAH diturunkan ke dunia, maka semua awan berlari ke arah barat, angin terdiam, air laut bergelora, mendengarkan seluruh binatang dan terlempar semua setan.
(4) Demi Allah dan keagunganNya, tidaklah BISMILLAH itu dibacakan pada orang sakit melainkan menjadi obat untuknya dan tidaklah BISMILLAH dibacakan di atas sesuatu melainkan Allah beri berkat ke atasnya.
(5) Barangsiapa yang ingin hidup bahagia dan mati syahid, maka bacalah BISMILLAH setiap kali memulakan sesuatu perkara yang baik.
(6) Jumlah huruf dalam BISMILLAH ada 19 huruf dan malaikat penjaga neraka ada 19. Ibnu Mas'ud berkata: "Sesiapa yang ingin Allah selamatkan dari 19 malaikat neraka maka bacalah BISMILLAH 19 kali setiap hari."
(7) Tiap huruf BISMILLAH ada JUNNAH (penjaga/khadam) hingga tiap huruf berkata, "Siapa yang membaca BISMILLAH maka kamilah kekuatannya dan kamilah kehebatannya. "
(8) Barangsiapa yang memuliakan tulisan BISMILLAH niscaya Allah akan mengangkat namanya di surga yang sangat tinggi dan diampunkan segala dosa kedua orang tuanya.
(9) Barangsiapa yang membaca BISMILLAH maka akan bertasbihlah segala gunung kepadanya.
(10) Barangsiapa yang membaca BISMILLAH sebanyak 21 kali ketika hendak tidur, maka akan terpelihara dari gangguan setan, kecurian dan kebakaran, maut mendadak dan bala.
(11) Barangsiapa yang membaca BISMILLAH sebanyak 50 kali di hadapan orang yang zalim, hinalah dan masuk ketakutan dalam hati si zalim serta naiklah keberanian dan kehebatan kepada si pembaca.
Sabda Rasulullah, "siapa yang menyampaikan satu ilmu dan orang mengamalkannya maka dia akan beroleh pahala walaupun sudah tiada...
Kamis, 09 Juli 2009
Uang Baru
Uang Kertas Pecahan Rp2.000 Diluncurkan
Foto: Dok Bank Indonesia
JAKARTA - Bank Indonesia secara resmi meluncurkan uang kertas baru pecahan Rp2.000 tahun emisi 2009 sebagai alat pembayaran yang sah. Peluncuran dilakukan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Kamis (9/7/2009).
"Penerbitan uang kertas emisi baru tersebut merupakan implementasi kebijakan Bank Indonesia di bidang pengedaran uang, yaitu untuk memenuhi kebutuhan uang rupiah di masyarakat dalam jumlah nominal yang cukup, jenis pecahan yang sesuai, tepat waktu, dan dalam kondisi yang layak edar," demikian ungkap Pjs Gubernur Bank Indonesia Miranda S Goeltom, dalam keterangan resminya, Kamis (9/7/2009).
Peluncuran uang kertas baru tersebut juga dihadiri Deputi Gubernur Bank Indonesia bidang pengedaran uang S Budi Rochadi, Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Ariffin, dan Gubernur Kalimantan Tengah Agustin Teras Narang.
Uang pecahan baru tersebut bergambar Pangeran Antasari (pahlawan nasional asal Banjarmasin) dengan gambar bagian belakang tarian adat Suku Dayak. Uang tersebut akan berlaku sebagai alat pembayaran yang sah mulai 10 Juli 2009. Pemilihan gambar pada uang tersebut mengacu kepada desain uang kertas sebelumnya yang bertemakan pahlawan nasional. Hal ini sebagai bentuk apresiasi kepada para pahlawan dan untuk turut serta melestarikan budaya bangsa.
Uang kertas baru pecahan Rp2.000 berwarna dominan abu-abu dengan unsur pengaman berupa tanda air bergambar Pangeran Antasari dengan benang pengaman yang tertanam di kertas uang dan bertuliskan BI2000 berulang-ulang, yang akan memendar merah di bawah sinar ultraviolet. Uang kertas pecahan baru ini juga mengakomodasi kebutuhan para tunanetra dengan menyediakan kode tertentu (blind code) di samping kanan bagian muka uang, yaitu berupa kotak persegi panjang yang dicetak secara intaglio.
Selain itu, seperti pada saat mengeluarkan uang kertas baru pecahan Rp100.000 dan Rp20.000 tahun emisi 2004, serta Rp50.000 dan Rp10.000 tahun emisi 2005, Bank Indonesia juga mengeluarkan Uncut Banknotes Rp2.000 (uang khusus yang belum dipotong/uang bersambung) sebanyak 4.700 lembaran dengan jenis uang bersambung masing-masing berisi 2 bilyet, 4 bilyet dan 50 bilyet. Sebagai benda koleksi, Uncut Banknotes ini lazim dikeluarkan di berbagai negara sebagai penerbitan uang khusus.
(Candra Setya Santoso - Okezone)
Minggu, 05 Juli 2009
Jacko di Arab
Dikenang Warga Bahrain
Masyarakat Arab ikut juga merasa kehilangan Michael Jackson. Harian Al-Watan edisi selasa, 30 Juni kemarin melaporkan bahwa seorang wanita muda Tunisia melakukan bunuh diri karena kematian Jackson yang diyakininya sebagai pemeluk Islam. Di Arab Saudi, juga di negara-negara Teluk, kematian Jacko --nama akrabnya-- sangat membekas di hati mereka.
Kunjungan Jacko ke beberapa negara Arab tak sepenting pilihannya untuk tinggal di Manama, Bahrain. "Sang mitos beranjak dari sini." Itulah kata-kata yang diulang-ulang warga Bahrain saat mendengar kematian Jacko. Jacko memang memilih untuk tempat tinggal sementara di Bahrain sejak tahun 2006.
Tariq Al-Bihar, wartawan musik yang ditemui Al-Watan menyatakan bahwa Manama dipilih Jacko untuk tinggal karena ia suka negeri ini. Tariq Al-Bihar sempat wawancara dengan manajer Jacko, raja pop itu memilih Bahrain karena saran kakaknya Jermain Friday Jackson. "Michael tidak tinggal di pengasingan, seperti dilaporkan banyak media. Menurut informasi dari manajer Jackson, Bahrain adalah sebuah pulau kecil yang memungkinkan dia bebas bergerak tak seperti di Amerika," katanya.
Jacko memang tak selamanya terasing di negeri ini. Tapi, ia kemudian tidak bebas berbelanja atau jalan-jalan dengan anaknya di sejumlah mal di Bahrain, karena kemudian orang mengenalnya sebagai sang raja pop. Itulah mengapa kemudian Jacko kadangkala terpaksa mengenakan abaya (baju tertutup serba hitam) untuk menyamarkan dirinya. Di sini ia benar-benar ingin melepas nama besarnya. Menurut Bihar, Jacko bahkan ingin mati di Bahrain. Kesultanan Oman juga pernah menjadi pilihan tinggal Jacko bersama anak-anaknya pada tahun 2006. Namun, ia hanya tinggal selama 45 hari.
Hal yang menjadi keyakinan warga Arab adalah keislaman Jacko. Kini ramai beredar beberapa pesan Jacko sebelum meninggal yang memperkuat keislamannya. Bahkan, sebuah televisi Arab menyebut Jacko telah mengubah namanya menjadi Mustafa.
Walaupun tidak ada penjelasan kuat tentang keislaman Jacko, namun tak mengubah keyakinan warga Timur tengah tentang keislaman Jacko. Luicunya, lagu 'Give Thank to Allah' yang sebenarnya dinyanyikan penyanyi Asia yang memiliki suara mirip Jackson, kini diyakini sebagai lagu Jackson. Beberapa situs di Turki menyebut lagu ini sebagai lagu Jackson.
Pada lagu gabungan bahasa Arab dan Inggris itu, peniru Michael Jackson begitu fasih melafalkan kalimat: "Allahu Ghafur, Allahur Rahim, Allahu yuhibbul muhsinin, huwa khaliquna wa raziquna, wahuwa 'ala kulli syain qadir." (Musthafa Helmy/informasihaji.com)
Sabtu, 04 Juli 2009
Staples Center
Tempat penghormatan Jacko
Lokasi yang dipilih untuk memberi penghormatan terakhir kepada Michael Jackson pada Hari Selasa 7 Juli 2009 telah dipilih, yaitu Staples Center.
Tempat pertunjukan di pusat kota Los Angeles itu menjadi tempat bintang pop tersebut melakukan latihan sebagai persiapan rangkaian turnya ke Inggris.
Pihak penyelenggara mengatakan upacara penghormatan pada hari Selasa depan itu merupakan perayaan kehidupan raja pop dunia.
Dan sebanyak 11.000 tiket gratis rencananya akan dibagikan kepada para penggemar Jackson.
Keputusan tentang tempat ini mengakhiri spekulasi selama ini yang menyebut kalau bekas rumah Jackson, Neverland di Los Angeles, yang akan menjadi tempat upacara penghormatan.
Bisa jadi film
Sementara itu rekaman video dari latihan yang dilakukan Jackson untuk persiapan tur ke Inggris diterbitkan oleh promotor guna memperlihatkan dia dalam keadaan sehat walafiat sebelum kematiannya.
Video itu direkam tanggal 23 Juni dan memperlihatkan Michael Jackson bernyanyi dan berdansa saat membawa hit They Don't Really Care About Us, dengam memasukkan elemen dari nomor History dan She Drives Me Wild.
Randy Phillips, President AEG Live --yang menjadi promotor tur Michael Jackson di Inggris-- mengatakan terdapat 100 jam rekaman video latihan yang bisa diproduksi menjadi sebuah film maupun beberapa album.
"Kami memiliki audio yang cukup untuk membuat 2 album live dan dia belum pernah memiliki album live," tambahnya.
"Ini merupakan karya terakhir dari jenius abad 21."
Michael Jackson rencananya akan menggelar 50 konser di Arena O2 London, yang tadinya akan dimulai pertengahan Juli.
Dia dilaporkan mengeluh karena merasa 50 konser terlalu banyak. "Saya menyepakati 10 konser keliling dunia, namun bangun dengan 50 konser di satu tempat," tuturnya kepada para penggemarnya.
Sidang ditunda
Sementara jurubicara mantan istri Michael Jackson, Debbie Rowe, mengatakan belum memutuskan apakah akan memperjuangkan hak perwalian anak-anak Jackson atau tidak.
Hari Kamis, permintaan Rowe untuk menunda sidang dalam membesarkan kedua anak mereka, Michael Joseph Jackson Jr --atau yang dikenal sebagai Prince Michael-- yang berusia 12 tahun dan Paris Michael Katherine Jackson, 11 tahun.
Adapun putra bungsu Michael Jakcson, Prince Michael II yang berusia 7 tahun, lahir melalui kandungan seorang ibu yang tidak pernah diungkapkan jati dirinya.
Surat wasiat Jackson meminta agar ibunya, Katherine Jackson --yang berusia 79 tahun-- mendapat hak untuk membesarkan ketiga anaknya.
Hakim sudah menunda sidang hingga Senin 13 Juli, sesuai dengan permintaan Rowe dan Katherine Jackson, yang saat ini mendapat hak perwalian sementara.
Rowe menikah dengan Michael Jackson Tahun 1996 namun bercerai pada Tahun 1999. Dia melepaskan hak perwalian atas kedua anaknya namun kemudian memperjuangkannya kembali Tahun 2003.
-BBC-
