Rabu, 21 September 2011

Kartini Itu, Lahir dari Negeri Tetangga

Nessa Kartika, TKW Singapura yang juga Penulis Buku

Laporan Sultan Yohana, Batam

HARI MINGGU, bagi sebagian pembantu wanita di Singapura adalah hari kebebasan. Pergilah ke tempat-tempat kongkow seperti Marina, Orchird Park, City Hall, atau Bugis, di sana ribuan buruh migran, terutama dari Indonesia, menghibur diri, bercengkrama bersama rekan-rekan sedaerah sembari berekreasi. Tapi tidak bagi Nessa Kartika. SMS saya untuk mengajaknya bertemu dalam sebuah wawancara, awalnya dibalas dengan sebuah penolakan kecil. "Saya hanya punya waktu satu jam kalau hari ini (Minggu, 17 April). Saya baru libur tanggal 24 minggu depan," tulis Nessa dalam pesan singkatnya kepada saya.

Tapi, satu jam, bagi saya sudah cukup untuk sebuah wawancara awal kepada pembantu rumahtangga asal Wonosobo, Jawa Tengah tersebut. Saya berpikir, pertanyaan-pertanyaan yang belum sempat terjawab dalam pertemuan nanti, bisa dilanjutkan lewat pesan di Facebook atau e-mail. Nessa pun kemudian setuju. Janji bertemu pada Minggu (17/4) siang di Tech Whye Avenue Blok 8, Choa Chu Kang, tempat tinggal majikan Nessa, berlangsung dengan sangat tergesa. "Kita bertemu di blok antara 10-12 ya, di playground," jawab Nessa membalas pesan saya. 'Bukankah tempat tinggal dia di blok 8?' pikir saya ketika itu.

Pertanyaan itu baru bisa saya jawab sendiri - tentunya dengan sejumlah kira-kira - ketika saya harus menunggu sekitar 15 menit dari perjanjian awal. Ia datang, bert-shirt warna pink yang sudah pudar plus span berbahan jeans yang tak bermerek. Sendal jepitnya tipis sedikit kusam, tapi kuku-kuku kakinya bersih terawat dengan cat kuku sewarna dengan t-shirt yang ia kenakan siang itu. Mendorong kereta bayi yang ada balita berusia dua tahun di atasnya, Nessa sepertinya belum bisa melepaskan "statusnya" sebagai pembantu rumahtangga: tidak percaya diri menghadapi orang baru dikenal.

Padahal Nessa adalah pembantu yang spesial. 22 Februari lalu, pertama kali informasi tentag spesialnya Nessa saya baca lewat feature yang diterbitkan hampir setengah halaman oleh The Strait Times, suratkabar terbesar terbitan Singapura. "Maid Pens Stories with Drama, Spice, and Real Life", begitulah Straits Times memberi judul feature yang mengisahkan kehidupan wanita kelahiran 27 Mei 1983 itu. Nessa seorang pembantu rumahtangga. Namun dari tangannya, sudah berbuah kisah-kisah yang kini telah dibukukan dan diedarkan. Tulisan-tulisannya menghadir dalam buku Luka Tanah Priok, 30 hari Dalam Cinta-Nya, Karenina Singa Bauhinia, Tiga Biru Segi, Lamunan Bidadari, Bicaralah Perempuan, Be Strong Indonesia, Ibuku Adalah..., Kisah Kasih di Masa Lampau, dan Kisah Pelangi.

Buku Karenina Singa Bauhinia dilaunching pada 20 Februari lalu di Chinese Garden, Singapura. Peluncuran berlangsung meriah, atas prakarsa Indonesia Family Network (IFN) dan Buruh Migran Indonesia (BMI) di Singapura. "Launching itu sekaligus dibarengi dengan ulangtahun IFN kelima," tambah Nessa.

Dihadiri oleh rekan-rekan sesama pembantu rumahtangga di Singapura, Nessa mengaku, sebagian besar cerita-cerita yang dibukukan adalah persoalan para buruh migran. "Kadang-kadang datang dari curhat teman-teman, Kalau ndak ada, saya justru minta pada teman-teman ide, 'ayo ceritakan apa idenya," jawab Nessa ketika saya tanya dari mana ide menulis datang.

Lahir dengan nama Anisa Hanifa, Nessa remaja menyelesaikan sekolah terakhirnya di SMK Negeri 1 Wonosobo pada tahun 2002. Kesulitan ekonomi karena kedua orangtuanya, Siti Maria dan Moch Hatru bercerai, memaksa Nessa untuk memilih menjadi buruh pabrik di Bandung seusai lulus sekolah. Maklum, ia adalah putri sulung dari sembilan bersaudara (lima sekandung). Jadi, tanggungjawab besar untuk membantu perekonomian keluarga ada di pundaknya.

Setahun bekerja di Bandung, pada Mei 2003 Nessa memutuskan untuk menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di Hongkong. Di Desa Lipursari, Wonosobo, tempat di mana Nessa lahir dan besar, profesi TKW memang menjadi pilihan utama warganya selain bertani. Ibu Nessa sendiri, Siti Maria, adalah TKI. "Di desa saya banyak yang jadi TKI. Laki-lakinya banyak juga yang jadi TKI di Taiwan," imbuh Nessa. "Sekarang banyak (TKI) yang sudah pulang sukses ngajar di SD, jadi PNS, buka rumah makan. Ibuku buka Rumah Baca."

Pekerjaan pertama Nessa sebagai TKW di Hongkong adalah menjaga anak balita. Tapi ketika itu, belum terbersit sedikitpun di benak Nessa keinginan untuk menulis. Genap 15 bulan bekerja di Hongkong, ibu satu anak ini kemudian memutuskan pulang kampung. Di tahun itu juga, Nessa menikah dengan pria sekampung pilihannya, Wahidin. Setahun kemudian, ia dikarunia seorang putra yang diberi nama Axl Satriaji yang kini berusia 6 tahun.

Wahidin, menurut Nessa, adalah petani seumumnya lelaki di desanya. Selama menikah mereka menumpang di rumah orangtua mereka. Hingga akhirnya, keinginan untuk membuat rumah sendiri datang namun kondisi ekonomi kembali tak memungkinkan untuk membuat rumah. Nessa kemudian berunding dengan suaminya, dan memutuskan untuk kembali menjadi tenaga kerja wanita. Kali ini, negeri Singapura menjadi tujuan berikutnya. "Ini (bekerja di Singapura) adalah pilihan saya sendiri. Saya pingin membikin rumah," tegas Nessa.

Tahun 2007, Nessa berangkat ke Singapura. Di sana, tepatnya di majikannya yang tinggal di daerah Sengkang, Nessa dibebani tugas menjaga orangtua lanjut usia. Di sela-sela waktu kosong menjaga orang lansia itulah Nessa gemar berselancar di internet, terutama membuka situs-situs penulisan. Lewat mailing list (milis) "Kosokata" di Yahoo.com, Nessa kemudian mengenal dunia tulis menulis. "Di milis itu, ada penyair-penyair Jawa Timur seperti Pak Bonari," ungkap Nessa.

Di milis Kosokata itu juga, Nessa kerap memamerkan tulisan-tulisannya, terutama puisi yang ketika itu dibuat sebagai bentuk dari curahan hatinya sendiri bekerja di negeri orang. Respon kemudian muncul. Ada diskusi menarik antaranggota milis untuk membahas satu per satu tulisan yang dipamerkan. Di situlah Nessa mengaku belajar bagiamana menulis yang baik. "Saya juga publish di Facebook. Datang banyak kritik untuk tulisan saya, 'eh ini salah, ini harusnya begitu'. Saya jadi mulai tertarik dan tahu bagaimana menulis yang betul," tambahnya.

Sejak perkenalannya dengan milis Kosokata, karya-karya Nessa bak air bah yang deras mengucur kapan saja. Dari semula menulis hanya untuk mencurahkan emosinya saja, sejak saat itu menulis sudah menjadi kewajiban tersendiri bagi wanita berambut lurus tersebut. "Beruntung majikan saya mengizinkan aktivitas menulis. Mereka mengizinkan saya pakai komputer mereka. Tapi mereka berpesan, 'menulis boleh, asal anaku harus diperhatikan ya'," kata Nessa sembari terkekeh.

Majikan yang sekarang, menurut Nessa adalah majikan keduanya di Singapura. Kontrak pertama ia ditugaskan menjaga lansia. Setelah dua tahun kontrak selesai, Nessa pulang namun kembali ke Singapura pada 2009 untuk menjaga balita hingga sekarang. "Majikan lama dengan majikan yang sekarang sebetulnya bersaudara. Target saya pulang setelah bisa buat rumah dan beli motor," ungkap Nessa.

Proyek Buku I
Ketrampilan menulis Nessa kian lama kian terasah. Hingga kemudian, kesempatan membuat buku muncul saat diajak proyek membuat buku puisi oleh seorang rekan sesama TKW yang dikenalnya di Hongkong, Mega Vristian. Mereka kemudian sama-sama menerbitkan buku kumpulan puisi berjudul Luka Tanah Priok (2010). Kelar dengan buku pertama, bersama rekan-rekannya sesama TKI di Singapura, Nessa kemudian membuat buku tentang pengalaman mereka berpuasa Ramadan di Singapura. Buku 30 hari Dalam Cinta-Nya, serta menerbitkan Karenina Singa Bauhinia yang Februari lalu dilauncing. "Sebetulnya Karenina Singa Bauhinia sudah dilaunching tahun lalu (2010) di Hongkong. Di Singapura adalah launching ulang buku versi Indonesia," ungkap Nessa.

Kepada saya, Nessa mengaku tengah berusaha merampungkan novel karyanya sendiri yang ia rahasiakan judulnya. Wanita yang membentuk Komunitas Buruh Migran Indonesia di Singapura ini, mengaku belum bisa "tidur" sebelum menyelesaikan buku karyanya sendiri. "Saya belum punya buku sendiri. Semua rombongan," tegasnya sembari mengambil HP dari saku spannya yang bergetar.

Nessa kemudian lekat-lekat mengamati HP tersebut, dan raut mukanya tiba-tiba berubah setelah memastikan nomor siapa yang menghubunginya. "Majikan saya sudah minta saya pulang," katanya sembari meletakkan Kelwin, balita yang diasuhnya ke atas kereta bayi. Secepat yang ia bisa, Nessa kemudian buru-buru meninggalkan saya untuk kemudian tubuhnya menghilang di antara gedung-gedung tinggi flat di daerah Tech Whye Avenue Blok 8. Berikutnya, lewat pesan di SMS dia pesan untuk dibawakan novel-novel religius karya Habiburrahman El Shirazy, Helvy Tiana Rosa, atau Asma Nadia. "Saya ingin menulis novel-novel religi," begitu isi pesan berikutnya.

Sembari melepas pandang ke sosok Nessa yang kemudian menghilang, saya kemudian membathin, wanita-wanita seperti Nessa, yang perkasa dengan segenap kekurangan dan situasi yang tidak bersahabat, adalah Kartini-kartini Indonesia masa kini yang mampu memberi kontribusi besar pada Indonesia, terutama kaumnya. Ironis sekaligus membanggakan. Kartini itu, lahir dari negeri jiran.***


400 Dolar yang Begitu Berharga
Menjadi buruh migran tentu saja bukan pilihan yang bagus bagi Annisa Hanifa setelah lulus dari SMKN 1 Wonosobo, Jawa Tengah. Keadaan ekonomi lah yang kemudian memaksa wanita yang punya nama beken Nessa Kartika ini bekerja sebagai pembantu rumahtangga di Hongkong pada 2003. Begitu juga ketika ia terpaksa harus kembali menjadi TKW pada 2007, meski statusnya ketika itu adalah istri dan ibu satu anak. "Suami saya petani. Mas tahulah keadaan petani kecil di desa. Jika saya tak seperti ini (jadi TKI) saya tak bisa buat rumah," bebernya.

Nessa mengaku, dari pekerjaannya sebagai pengasuh anak balita, sebulan ia memperoleh penghasilan sebesar 400 dolar Singapura. Atau jika dirupiahkan dengan kurs Rp7 ribu, kira-kira Nessa mengantongi uang sekitar Rp2,8 juta. Dari jumlah itu, 300 dolar langsung dikirimkannya ke kampung halaman. Pembaca pasti tahu, uang dari keringat pembantu seperti Nessa ini adalah devisa atau penerimaan terbesar Indonesia. Tahun 2010 lalu, Bank Dunia menaksir, para buruh migran seperti Nessa, telah menyumbang devisa negara sekitar 7,1 miliar dolar Amerika Serikat. Jumlah yang hanya bisa dikalahkan oleh pendapatan dari sektor minyak dan gas alam.

Nessa menambahkan, sisa penghasilan 100 dolar sebulan ia anggap cukup untuk hidup di Singapura. Itu mengingat segala kebutuhan akan makan, tempat tinggal, dll, sudah dipenuhi oleh majikannya. "Saya jarang libur, jadi tak sering keluarkan uang untuk belanja," ungkapnya.

Nessa memang mengaku tidak punya waktu libur yang pasti. Kadang sebulan bisa sekali, atau bahkan tidak ada sama sekali. Jika ia memaksa off, Nessa harus rela gajinya dipotong 20 dolar setiap kali libur. Ini berbeda dengan pembantu-pembantu rumahtangga dari negara lain seperti Filipina maupun Thailand. Di Filipina misalnya, pemerintah mereka berani "memaksakan" aturan kepada pemerintah Singapura, agar pembantu mereka diberi hak libur minimal satu hari dalam seminggu. Pemerintah Indonesia sebetulnya sudah menerapkan demikian. Tapi dalam kenyataannya, praktiknya tidak jalan. Agen penyalur TKW lebih berkuasa, hingga kemudian si pembantu dibebani aturan yang berat, seperti ketiadaan hak libur setiap minggu.

Namun Nessa mengaku tidak mempermasalahkan soal libur tersebut. Justru dengan beban berat yang membelit para TKW, mereka bisa jauh lebih perkasa. "Saya berpendapat, di sini mereka semua hebat-hebat. Perkasa semua. Kalau mereka punya masalah dengan majikan, mereka bisa sabar. Mereka bahkan biasa menasihati aku. Padahal nasib mereka tak lebih baik dari aku. 'Jangan menyerah jadi TKI, jangan malu-maluin,'" tegas Nessa.

Yang kemudian menjadi ironis adalah dukungan pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) terhadap wanita-wanita kreatif seperti Nessa. Dalam launching buku Karenina Singa Bauhinia misalnya, bantuan yang diharapkan KBRI tak kunjung datang hingga akhirnya rekan-rekan Nessa di Indonesia Family Network dan Migran Voice yang membantu melaunching buku tersebut. "Sekali saya pernah berurusan dengan KBRI, waktu pemilu kemarin. Sudah datang ke sana, tapi nama saya justru tak ada. Akhirnya tak jadi milih. Sekarang kalau ke sana cuma untuk urusan paspor saja," ungkap Nessa.(sultan yohana)

Posmetro Batam, 25 April 2011

* Nomine Rida Award 2011

Selengkapnya..

Kami Laskar Pendayung dari Melebung

Seperti manusia perahu dalam film perang Vietnam, begitulah lima pelajar Melebung menembus kabut pagi. Tangan mungil mereka tak henti merengkuh dayung di perahu kecil, sesekali menerabas rawa rumbai.

Laporan SAIDUL TOMBANG, Melebung

RABU, 15 Juni 2011, pukul 05.20 WIB. Kampung tua ini masih mati. Pagi masih terlalu buta di sini. Purnama me¬rah saga baru saja tenggelam. Kampung Melayu ini masih diam dalam temaram. Deretan puluhan rumah di kiri-kanan jalan berbatu maupun yang berjuntai di bibir Sungai Siak kini tampak muram. Tak ada pendar cahaya yang berarti, sebab listrik tak hidup di sini. Satu-satunya sumber energi listrik hanyalah mesin diesel milik masjid. Itupun hanya dihidupkan bila hari mulai kelam dan dimatikan menjelang tengah malam.

Ketika cahaya masih terang-terang tanah, satu-dua penduduk Melebung mulai turun ke sungai. Meniti pelantar yang basah, berlumut, dan dibungkus kabut. Di sungai inilah mereka menyandarkan kehidupannya. Selain tempat mandi, cuci, dan kakus, Sungai Siak selama ini juga menjadi tempat mencari penghidupan. Ikan hasil tangkapan warga Melebung memang cukup dikenal. Mulai baung, pantau, selais, hingga patin. Sayangnya, penghasilan dari mencari ikan saat ini sudah tidak menggiurkan. Mendapatkan satu kilogram ikan saja dalam satu hari sudah sangat sulit. Abrasi, gelombang kapal, dan pencemaran Sungai Siak yang tidak terkendali dianggap sebagai penyebab mimpi buruk itu.

Kampung Melebung adalah sisi lain kepingan potret miris Kota Pekanbaru. Secara administratif, Melebung berada di RW 13 Kelurahan Sail Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru. Namun secara geografis mereka terasa sangat jauh dari keramaian kota. Pekanbaru Pos yang hunting ke Melebung, harus berangkat pukul 03.15 WIB dari Pekanbaru. Sebenarnya, untuk mencapai Melebung bisa melalui dua ruas jalur darat; lewat Simpang Badak Hangtuah atau lewat Simpang Beringin arah Maredan. Namun bagi yang tak pernah ke Melebung, apalagi kalau perjalanan dilakukan malam hari, biasanya akan tersesat karena harus melalui bentangan perkebunan kelapa sawit.

Melebung adalah kampung tua. Umur kampung ini sebenarnya hanya beda telur itik dengan Senapelan, muasal Kota Pekanbaru. Menurut Ketua RW 13 Kelurahan Sail Muhammad Nasir, Melebung sudah berumur lebih dari 200 tahun. Kalau Pekanbaru merayakan Hari UlangTahun (HUT) Ke-227 pada 23 Juni 2011, itu artinya umur Melebung dan Senapelan masih beradik-kakak.

’’Tapi Senapelan dan Melebung adalah dua kawasan yang nasibnya bertolak belakang. Senapelan sudah jadi kota metropolis, sedangkan kami adalah anak angkat yang kurang perhatian. Selama kampung ini ada, baru dua kali wali kota datang ke sini,’’ kata Nasir.
***

Pagi itu, di saat sebagian penduduk Melebung turun mandi, sesosok perempuan kecil nampak menunggu di bibir sungai. Namanya Yuli. Dia memakai seragam pramuka dengan tas hitam bercorak batik di pangkuannya. Di atas tumpukan kayu bakar yang akan dijual ke pengusaha batu bata di kawasan Badak, Tenayan Raya, dia sempatkan juga membuka buku. Entah dia bisa membaca di tengah temaram ini atau tidak, tapi yang jelas, Yuli sedang berusaha mengulang pelajaran karena pagi itu dia akan mengikuti ujian semester dua untuk kenaikan kelas. Yuli saat ini duduk di kelas 2 SMPN 28 Okura Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Rumbai Pesisir.

Gadis kecil itu sedang menunggu temannya, Siti Rapiah, yang tinggal di kampung seberang. Saat itu sang teman masih terlihat di tengah sungai; di atas sampan kecil, mengayuh dayung kembar. Yuli dan Siti adalah dwi srikandi dari total 8 pelajar Melebung yang sekolah di Okura. Selain dwi srikandi ini, juga ada Rio, Ridho, dan Rizaldi yang hari itu akan mengikuti ujian kenaikan kelas. Sedangkan tiga pelajar lainnya, M Syafii, M Syahdan, dan M Fikri, baru saja menyelesaikan Ujian Nasional (UN). Trio M ini dinyatakan lulus.

Sambil duduk di bangku sampan, Yuli masih membuka buku. Sedangkan Siti aktif mendayung di belakang. Mereka menembus Sungai Siak yang berkabut lebih duluan dari tiga rekannya. Rizaldi sendiri menyusul kemudian. Karena dia sendirian, seorang fotografer Pekanbaru Pos menumpang di sampannya. Sedangkan Ridho dan Rio menggunakan sampan lain. Dua wartawan Pekanbaru Pos lainnya, menyewa sebuah sampan milik penduduk. Pak Basri (52), sang pemilik sampan, kebetulan pula bersedia menjadi juru kemudi.

Pagi itu, empat sampan kecil dikayuh membelah sungai, menyusuri tebing su¬ngai terdalam di Indonesia ini. Parade ini harus melawan arus sungai. Jadi tenaga pendayung harus berlipat. Inilah sisi lain pertarungan pelajar berperahu dari Melebung. Bila pagi, mereka harus melawan arus karena faktor pasang surut yang menyebabkan arus air Sungai Siak ke hilir. Sedangkan kalau pulang, mereka juga harus melawan arus karena proses pasang naik yang menyebabkan arus Sungai Siak ke hulu.

Sungai Siak memang mengalami proses pasang sebagaimana yang terjadi pada laut.
Bagi Pekanbaru Pos, sungai yang dalam, pepohonan di bibir tebing, serta kabut tipis di permukaan air, cukup sudah memberi kesan horor. Apalagi kiambang, potongan kayu, dan batang tenggelam bisa berfungsi sebagai ranjau yang bisa menenggelamkan perahu. Tapi, rasa horor ini tentunya tidak berlaku bagi lima pelajar SMP ini. Karena mereka memang sangat akrab dengan medan ini.

’’Untuk apa takut? Sudah dua tahun seperti ini. Kami ini laskar pendayung dari Melebung. Kami tak boleh putus sekolah,’’ kata Rizaldi dengan nafas terengah-engah sambil berhenti mendayung sejenak untuk menghela nafas.

Ya, untuk apa takut? Toh sungai ini adalah sungai mereka. Seperti kata Rizaldi, sudah belasan tahun mereka dihidupi sungai ini. Lagi pula, selama dua tahun terakhir, aktivitas melayari Sungai Siak adalah kegiatan rutin. Berangkat sangat pagi, pulang jelang petang. Tak ada jalan lain untuk mencapai sekolah mereka tanpa melalui sungai ini.

’’Kalau orang yang tak biasa memang takut lewat sungai ini. Apalagi kalau hanya menggunakan sampan kecil. Kedalamannya ada yang mencapai 50 meter. Kapal tangker saja tidak kandas,’’ kata Pak Basri, sang juru kemudi Pekanbaru Pos.

Perjalanan dari dermaga Melebung ke destinasi di Okura ditempuh dalam waktu sekitar satu jam. Pagi itu, karena arus cukup deras, perjalanan memakan waktu 1 jam 15 menit. Ketika berangkat, matahari masih belum muncul. Namun baru setengah perjalanan, matahari sudah mulai menyengat. Karena perjalanan ini panjang, beragam aktivitas pun bisa dilakukan pelajar berperahu ini. Selain bercanda, tentu saja aktivitas wajib mereka pagi ini adalah mengulang pelajaran. Maklum, ini adalah hari kedua ujian kenaikan kelas mereka.

Di tengah perjalanan, terjadi pergantian shift. Mereka berganti juru dayung. Ini memang harus dilakukan untuk menjaga tenaga dan sportivitas. Biasanya, kalau tiga orang dalam satu sampan, panjang perjalanan akan dibagi tiga pula. Tapi kadang kala, bagi yang berbadan besar mengambil jatah mendayung lebih jauh. Pelajar berperahu ini, walau berbadan mungil tapi pangkal lengannya keras dan kekar.

Suasana mencekam sebenarnya lebih terasa saat menyeberang sungai. Kampung Okura memang berada di seberang. Saat menyeberang, apapun bisa terjadi. Risiko juga lebih besar. Apalagi bila banjir, arusnya sangat deras. Pagi itu, sampan yang ditumpangi Pekanbaru Pos sempat oleng. Seperti menabrak sesuatu. Kata sang juru mudi, ternyata sampan baru saja melanggar potongan kayu yang hanyut. Hmmm… untung tidak tenggelam.

Suasana Vietnam kembali terasa begitu memasuki muara Sungai Ukai. Empat perahu satu persatu memasuki sungai yang diyakini berbuaya itu. Rerimbunan daun pohon bakau menutup hampir setengah bagian sungai. Di tepi sungai terdapat rawa rumbai. Banyak biawak di sini. Bahkan, sebagian orang percaya di sana juga ada buaya muara.

Pelajar berperahu ini memang harus memasuki Sungai Ukai untuk bisa sampai pada shelter pertama, tempat penyimpanan sepeda. Di sana, memang ada sepeda yang ditinggalkan di belakang rumah penduduk. Begitu menambatkan perahu di pelantar sungai milik penduduk, mereka harus bertukar kendaraan dari perahu menjadi sepeda. Dari dermaga ini, perjalanan masih sejauh tiga kilometer lagi.

Untungnya, jalan yang mereka lalui sudah beraspal hotmix. Jadi perjalanan jadi sedikit lebih mudah.

Pelajar berperahu dari Melebung sebenarnya adalah cerita lama. Potret ini sudah berlangsung sejak tahun 1980-an lalu. Bagi anak-anak Melebung yang ingin melanjutkan sekolah ke Okura, pastilah akan menaiki perahu bertahun-tahun sampai tamat. Di tahun 1985, pemerintah sudah mendirikan SD kelas jauh di Melebung. Tapi selama bertahun-tahun, SD di Melebung hanya menjalani proses pendidikan hingga kelas 4. Begitu naik kelas 5, harus sudah pindah ke Okura. Pada tahun 2011, SDN 045 Melebung baru menamatkan lima angkatan kelas enam. Itu artinya, lebih dari 15 tahun SD Melebung hanya menjalani proses belajar-mengajar hingga kelas 4.

Setelah tamat SD di Melebung, memang tidak semuanya yang menyambung pendidikan SMPN 28 Okura. Ada juga yang pindah ke Kampung Tengah di Maredan, Kabupaten Siak, yang berjarak sekitar 45 menit bersepeda motor. Beberapa keluarga yang memiliki rumah atau sanak keluarga di Pekanbaru, akan me¬nyekolahkan anaknya di kota. Tapi yang jelas, dari tujuh orang yang tamat SDN 045 Melebung tahun 2010, lima orang di antaranya memilih SMP di Okura.

SMP Okura sudah menamatkan puluhan anak dari Melebung. Salah satunya adalah Jondri. Pria lajang ini adalah warga asli Melebung yang kini mengabdikan diri sebagai guru di SDN 045. Jondri mengaku sangat senang bisa mengajar di SD tempatnya belajar dari kelas 1 sampai kelas 4. Walau sudah tujuh tahun sebagai guru honor dan belum diangkat jadi pegawai negeri sipil (PNS), Jondri tidak terlalu mengeluh. Bahkan menurut rekan gurunya, Nur Aisyah, Jondri dianggap guru paling rajin dan tak banyak tingkah.

Jondri adalah pelaku manusia berperahu di tahun 1990-an. Ketika tubuhnya masih ringkih di tahun 1994, dia harus menjadi pelajar berperahu. Dia adalah salah satu murid SD Melebung yang harus melanjutkan kelas 5 hingga tamat di SD Okura. Selanjutnya SMP juga di Okura. Selama lima tahun dia mendayung, bersepeda, dan mendayung lagi. Begitulah saban hari masa lalu Jondri.
’’Waktu itu jalan di Okura belum di aspal. Jalan sungai dan jalan darat sama buruknya,’’ kenang Jondri.
***

Jauhnya rentang kendali Melebung-Okura dan Melebung-kota memang sudah menjadi cerita miris sejak lama. Mereka sangat ingin terlepas dari ma¬salah itu. Berbagai upaya sudah mereka lakukan. Salah satu upaya terakhir yang mereka lakukan adalah menganggarkan pengadaan perahu bermesin tempel kepada pemerintah melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri tahun 2011. Namun sayangnya, sampai hari ini perahu bermesin tempel yang ditunggu tak kunjung tiba.

’’Waktu kami tanya kepada konsultan PNPM mereka bilang perahunya sudah selesai, tapi mesin tempelnya belum. Entah kapan barang tu sampai ke kampung kami,’’ kata Nasir, sang Ketua RW.

Perahu bermesin tempel ini, kata Nasir, adalah obat sementara yang bisa mengobati duka warga Melebung, terutama pelajarnya. Karena, perahu ini nantinya akan bisa mengantar-jemput pelajar setiap hari. Selain itu, juga bisa digunakan untuk keperluan masyarakat, terutama yang terkait dengan kejadian mendadak.

’’Kalau ada orang yang sakit, meninggal, atau ada keperluan mendadak, bisa menggunakan perahu bermesin tempel ini. Kalau ke Pekanbaru, Rumbai atau Tanjung Rhu sebenarnya tak sampai setengah jam dari Melebung,’’ kata Nasir lagi.

Sampai hari ini, Wali Kota Pekanbaru memang baru dua kali datang ke Melebung. Kedua-duanya dilakukan Wako Pekanbaru Drs H Herman Abdullah MM pada tahun 2009. Pertama saat Safari Ramadan, yang kedua bersama Tentara Manunggal Masuk Desa (TMMD). Perhatian Herman ternyata sangat berarti bagi masyarakat Melebung. Saat itu, Herman membangun banyak fasilitas. Ada masjid permanen yang dulunya hanya berfungsi sebagai musalla, ada puskesmas pembantu berikut rumah dokternya, pembangunan SDN 045 permanen berikut rumah gurunya, serta pembuatan badan dan pengerasan jalan sepanjang 3,5 kilometer. Selain itu ada juga proyek air bersih, meskipun sampai hari ini air bersih itu tidak bisa dinikmati masyarakat.

’’Kita sangat peduli dengan Melebung ini. Makanya, miliaran rupiah kita guyurkan untuk melepas Melebung dari ketertinggalannya,’’ kata Herman Abdullah.
Sementara soal perahu bermesin tempel, Lurah Sail Abdul Rahman mengaku akan terealisasi pada tahun 2011 ini juga. Saat ini perahu atau pompong yang berkapasitas 40 orang itu sedang dalam tahap penyelesaian.

’’Insya Allah pompong untuk warga Melebung itu akan selesai tahun ini juga. Pengadaannya sudah dianggarkan pada PNPM Mandiri tahun 2011,’’ kata Abdul Rahman.
***

Beginilah Melebung, negeri duka yang masih berkutat dengan segala nasib tragisnya. Di tengah kepungan kebun kelapa sawit milik investor yang jadi ’’orang lain’’, warga Kampung Melebung tetap menggantungkan hidupnya kepada Sungai Siak, tempat para pelajar berperahu mengejar cita-citanya. Semoga saja bisa cepat berubah.***

* Nomine/Karya Tulis Jurnalistik Pilihan Rida Award 2011

Selengkapnya..

Jumat, 11 Maret 2011

Selasa, 01 Februari 2011

Doa Tolak Musibah


Doa Tolak Musibah
yang Datang Tiba-Tiba


Suatu ketika putera sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ’anhu bernama Aban bin Ustman rahimahullah meriwayatkan sebuah hadits Nabi Muhammad shallallahu ’alaih wa sallam yang di dalamnya terdapat doa untuk memohon perlindungan Allah Ta’ala agar tidak tertimpa musibah yang datang secara mengejutkan. Doa tersebut berbunyi sebagai berikut:

'BISMILLAAHIL LADZII LAA YADLURRU MA'AS MIHI SYAI'UN FIL ARDLI WALA FIS SAMAA'WAHUWAS SAMII'UL 'ALIIM'

(dengan nama Allah, dengan nama-Nya tidak akan berbahaya sesuatu yang ada di bumi maupun yang ada di langit, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui)

Nabi shallallahu ’alaih wa sallam menganjurkan agar doa tersebut dibaca sebanyak tiga kali di waktu pagi dan tiga kali di waktu sore. Barangsiapa membacanya dengan rajin seperti itu, Nabi shallallahu ’alaih wa sallam menjanjikan bahwa orang itu tidak akan terkena musibah yang datang secara tiba-tiba. Bacaan di waktu pagi akan melindunginya hingga sore tiba, sedangkan bacaan di waktu sore akan melindunginya hingga pagi tiba.

Lengkap haditsnya berbunyi sebagai berikut:

(AHMAD - 497) : Dari Aban Bin Utsman dari Utsman bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa membaca 'BISMILLAAHIL LADZII LAA YADLURRU MA'AS MIHI SYAI'UN FIL ARDLI WALA FIS SAMAA'WAHUWAS SAMII'UL 'ALIIM' (dengan nama Allah, dengan nama-Nya tidak akan berbahaya sesuatu yang ada di bumi maupun yang ada di langit, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui) sebanyak tiga kali, maka tidak akan ditimpa musibah mengejutkan hingga malam hari, dan barangsiapa membacanya di waktu sore maka tidak akan ditimpa musibah mengejutkan hingga pagi hari jika Allah menghendaki."

Tentunya tidak seorangpun ingin dirinya tertimpa musibah. Dan umumnya musibah datang secara tiba-tiba. Oleh karenanya doa ini menjadi sangat relevan dan penting bagi kehidupan kita. Maka sudah sepatutnya kita menjalankan nasihat mulia Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam ini. Karena ia tidak saja kita butuhkan, tetapi dengan mengamalkannya berarti kita turut menegakkan salah satu sunnah Nabi shallallahu ’alaih wa sallam yang banyak ditinggalkan kaum muslimin dewasa ini.

Uniknya hadits ini dikuatkan oleh hadits lainnya yang menjelaskan bahwa suatu ketika Aban bin Ustman sendiri pernah terkena suatu musibah mendadak dalam perjalanan hidupnya. Sehingga ketika ia dikunjungi oleh muslim lainnya mereka terheran—heran mengapa ia sampai bisa mengalami musibah mendadak padahal ia pula yang meriwayatkan hadits tentang doa menolak musibah mendadak. Maka Aban bin Ustman dengan jujur mengakui bahwa pada hari itu ia terlupa membaca doa tersebut. Subhanallah.

(ABUDAUD - 4425) : Aban bin Utsman berkata: Aku mendengar Utsman -maksudnya Utsman bin Affan- berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa mengucapkan: BISMILLAHILLADZI LAA YADLURRU MA'ASMIHI SYAI`UN FIL ARDLI WA LAA FIS SAMAA`I WA HUWAS SAMII'UL 'ALIIMU (dengan nama Allah yang tidak ada sesuatu pun di bumi dan di langit yang bisa memberikan bahaya. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui) sebanyak tiga kali, maka ia tidak akan tertimpa musibah yang datang dengan tiba-tiba hingga pagi hari. Dan barangsiapa membacanya pada pagi hari sebanyak tiga kali, maka ia tidak akan tertimpa musibah yang datang dengan tiba-tiba hingga sore hari."

Perawi berkata, "Lalu Aban tertimpa penyakit lumpuh, hingga orang yang mendengar hadits darinya melihat kepadanya (Aban), maka Aban pun berkata, "Kenapa kamu melihat aku? Demi Allah, aku tidak berbohong atas nama Utsman, dan Utsman tidak berbohong atas nama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Tetapi pada hari ketika aku tertimpa penyakit ini, aku sedang marah hingga aku lupa membacanya." (eramuslim.com)

Selengkapnya..

Windows Cacat

Windows cacat, kata Microsoft

Microsoft mengeluarkan peringatan "genting" mengenai cacat yang baru saja ditemukan dalam sistem operasi Windows.

Dalam nasehatnya mengenai keamanan, perusahaan itu memperingatkan adanya celah yang bisa digunakan oleh hackers untuk mencuri informasi pribadi atau untuk membajak komputer.

Gangguan itu kemungkinan akan mempengaruhi setiap pengguna browser Internet Explprer, yang berarti sekitar 900 juta orang di seluruh dunia.

Microsoft mengeluarkan piranti penambal untuk melindungi dari serangan dan mengatakan sedang bekerja untuk mencari penyelesaian jangka panjang.

Dalam sarannya mengenai keamanan yang diterbitkan hari Jum'at, Microsoft merinci bagaimana kerentanan browsernya bisa digunakan untuk memanipulasi para pengguna komputer dan mengambil alih komputer mereka.

Berdasarkan riset
Meskipun cacatnya di Windows, tampaknya hanya akan mempengaruhi cara Internet Explorer menangani beberapa situs internet dan dokumen.

Microsoft mengakui dengan adanya gangguan itu para pengguna komputer bisa dengan mudah ditipu untuk mengunduh arsip berbahaya dengan hanya melakukan sesuatu yang sederhana seperti mengklik sambungan atau link ke situs lain.

"Ketika pengguna mengklik link itu, naskah berbahaya akan mengambil alih komputernya selama sesi Internet Explorer tersebut," tulis wakil Microsoft, Angela Gunn, dalam pengunumannya di situs bersama dengan nasehat keamanan tersebut.

Begitu komputer dibajak, para hackers akan menggunakannya untuk mencuri data pribadi atau mengirim situs internet palsu, tambahnya.

"Naskah seperti itu mungkin akan mengumpulkan informasi, seperti e-mail, halaman palsu dipasang di browser atau mengganggu kegiatan si pengguna komputer."

Meskipun Microsoft mengatakan belum melihat bukti bahwa cacat itu telah dieksploitir oleh para hackers, pihaknya memperingatkan bahwa hal tersebut didasarkan pada risetnya dan merupakan ancaman serius.

Meskipun belum bisa menghilangkan gangguan itu sendiri, Microsoft mengeluarkan piranti untuk menghalangi usaha memanfaatkan cacat tersebut.

Semua pengguna Windows -khususnya yang menggunakan Internet Explorer- didesak untuk mengunduh piranti sementara tim keamanan Microsoft mengembangkan cara untuk menambal lobang tersebut secara permanen.(bbc)

Selengkapnya..