Minggu, 25 September 2011

Sepuluh dari Tiga Belas Anak Jamal Lahir di Perahu

Menengok Kampung "Pendaratan" Suku Laut (1)
Poster Harry Azhar Azis di Rumah Jamal

Oleh Ahmadi Sultan, Batam Pos

PENYU sebesar bentangan dua halaman koran itu sesekali masih mendenguskan napasnya. Di punggungnya ada dua luka bekas tombakan. Darah yang mulai menghitam membekas dari luka itu. Dua tungkai depannya terikat jadi satu. Penyu itu teronggok tak berdaya di perahu Melo, nelayan Suku Laut, di Pulau Gara.

"Tolong muat!" kata Melo, lelaki berusia 31 tahun, dalam aksen Suku Laut. Kulit legam yang membalut tubuh dan celana pendek hitam yang dikenakannya, membuat ia nyaris tak kelihatan di remang malam itu. Lelaki berambut ikal kusam bertelanjang dada itu dengan sisa-sisa tenaga menambatkan perahunya.

Mesin tempel sudah dimatikan. Melo yang berdiri tepat di tengah perahunya berteriak kepada dua pemuda tetangganya yang berdiri di pelantar. Melo sudah terlalu lelah mengangkat penyu beratnya lebih dari seratus kilogram. Selasa (21/12) pukul 19.00 malam itu, Pulau Gara sudah senyap. Melo pulang dari melaut sendirian.

Tanpa menjawab, mereka bertiga langsung mengangkat penyu itu ke pelantar rumah panggung, perkampungan di atas laut, di tepi Pulau Gara. Hanya seekor penyu itu yang berhasil ditangkap oleh Melo sejak ia pergi melaut pukul satu siang. Berbekal keterampilannya menggunakan tombak. Tombak bermata seperti busur panah dari besi itu tampak diletakkan membujur di cadik perahu. Panjangnya dua meter.

"Ini saya tangkap dekat Pulau Lima," kata Melo. Pulau yang disebutnya itu terletak di antara Pulau Gara dan Tanjunguncang, kawasan di Pulau Batam yang disesaki industri maritim, di sana banyak galangan kapal.

***

Malam lekas jadi sepi di Pulau Gara. Pulau yang secara administratif termasuk di wilayah Kelurahan Kasu, Kecamatan Belakangpadang, Kota Batam. Malam itu, saat Melo pulang melaut, seluruh penduduk sudah berada di dalam rumah masing-masing. Perkampungan itu lengang. Empasan ombak angin utara kalah keras oleh suara genset.

Ikan di perairan sekitar Pulau Gara sudah sulit ditemui. Maka penyu tangkapan Melo itu adalah kabar gembira. Penyu itu menghasilkan sekitar 80 kilogram daging yang ia jual ke warga sekitar. Daging sebanyak itu cukup untuk dikonsumsi penghuni satu pulau.

''Dagingnya dijual di sini saja. Satu ekor ini habis untuk semua orang sini. Biasanya dimasak asam manis,'' ungkap Melo. Sedangkan kulit penyu yang punya nilai ekonomi dibuang begitu saja ke laut. "Tak tahu mau dibuat apa," ujar Melo.

Melo tampak lelah. "Dipotongnya besok saja," katanya. Ia lalu masuk rumah beristirahat.

*

Pulau Gara adalah satu di antara dua pulau di Kota Batam yang paling banyak dihuni Suku Laut selain Pulau Bertam. Di Kampung Suku Laut di Pulau Gara terdiri atas 49 rumah.

Dari Pulau Batam, Pulau Gara bisa dicapai dari Pelabuhan Pandan Bahari, Tanjunguncang, 15 menit dengan perahu bermesin. Dari kejauhan rumah warga Suku Laut terlihat berderet seperti deretan gerbong kereta api. Semuanya menghadap ke laut, membelakangi daratan.

Semua rumah modelnya seragam, persegi empat dengan atap asbes. Dindingnya kayu. Ukurannya bujur sangkar dengan sisi-sisi lima meter. Pintu rumah mereka itu tepat di tengah. Di samping kiri pintu ada jendela kaca. Ruang dalam rumah dibagi dua. Satu bagian jadi ruang tamu, ruang keluarga sekaligus tempat makan. Bagian lainnya disekat jadi dua kamar, tanpa pintu.

Bagian belakang rumah dijadikan dapur. Di situ berdiri bangunan kecil berbentuk kotak. Ukurannya kecil, hanya satu meter persegi. Ini adalah kamar mandi sekaligus tempat buang air. Kalau buang air, kotoran mereka langsung jatuh ke laut.

"Rumah kami ini dibangun dan kami tempati tahun 1992. Waktu itu Batam masih masuk wilayah Provinsi Riau," kata Jamaludin. Ketua RT tak tergantikan itu, di dinding rumahnya, masih memajang foto Soeripto dan istrinya, Gubernur Riau 1988-1998. "Kenang-kenangan saja, karena di jaman beliaulah kampung kami ini dibangun," katanya.

Sejak dibangun sebagian besar warga tidak pernah mengganti atap, dinding, maupun lantai rumah pemberian pemerintah itu. Padahal ada yang dinding dan lantai rumah sudah lapuk dan berlubang.

Jumlah rumah di pulau ini 49 unit dengan 57 kepala keluarga. Awalnya hanya 20 unit rumah yang dihuni 20 kepala keluarga. Pada tahun yang sama, rumah bertambah karena penduduknya berkembang dan masuknya warga di luar Suku Laut ke pulau itu.

Jarak satu rumah dengan rumah lainnya satu setengah meter, dihubungkan pelantar. Dari ujung barat hingga timur, panjang pelantar mencapai 900 meter.

Di ujung barat pelantar, ada satu rumah yang berbeda. Rumah itu milik warga pendatang, Ahi namanya. Ia lelaki Tionghoa dari Batam yang menikah dengan perempuan Suku Laut bernama Ida dan kini sudah beranak dua orang. Rumah itu sekaligus kedai. Di belakangnya ada tempat mengumpulkan ikan hasil tangkapan nelayan setempat dan nelayan sekitar Pulau Gara. Tempat itu sekaligus tempat menjemur ikan asin.

Selain di ujung barat itu, di bagian tengah perkampungan ada dua kedai lainnya. Semuanya milik pendatang yang membaur dan hidup bersama Suku Laut. Di kedai-kedai itu Suku Laut berbelanja sehari-hari. Harganya lebih mahal sedikit dibanding di Batam karena barang-barangnya dibawa dari Batam dengan transportasi laut. Mie instan Indomie misalnya Rp1500 per bungkus sementara di Batam Rp1300.

Di belakang rumah, tepatnya di daratan, ada satu masjid yang baru saja dibangun. Namanya Masjid An-Nur. Di plang nama masjid kecil itu tertulis Program Bedah Rumah Al-Azhar Peduli Ummat. Halaman masjid dijadikan lapangan sepak takraw. Lelaki Suku Laut, gemar sekali dengan olahraga ini.

Tak jauh dari masjid ada sumur bor bantuan PT Epson Batam. "Itu bantuan tahun lalu," kata Jamal. Sumur umum itu mengalirkan air ke bak besar di samping masjid. Airnya hanya bisa untuk mandi, cuci, dan wudhu, tidak layak dipakai untuk masak.

Untuk keperluan masak, warga menampung air hujan atau pergi ke perigi yang berada di Pulau Bertam dan Pulau Kasu. Mereka membawa jeriken banyak-banyak dalam perahu untuk mengambil air. Untuk minum, sebagian warga yang terbilang mampu membeli air galon yang dijual di kedai.

***

Rumah Jamaluddin bin Tawo (67) termasuk yang sudah sedikit berubah. Rumahnya diberi beranda beratap. Kemudian satu bangunan di belakang rumah utama. Bangunan yang hampir sama ukurannya dengan rumah itu adalah dapur.

''Sebelum ada rumah ini kami ditempatkan di rumah terapung tahun 1991. Karena berbahaya jadi pemerintah membangunkan rumah ini,'' kata pria yang biasa disapa Jamal ini.

Jamal adalah Ketua RT 22 RW 06. Pulau Gara. Genset yang malam itu terdengar bisingnya, ada di rumah Jamal. Ia menjadi ketua RT sejak 1991 hingga sekarang. Tidak ada warganya yang bersedia menggantikannya karena hanya Jamal yang paling berani meski ia juga buta huruf. Sama seperti warga lainnya.

''Sudah berkali-kali saya usulkan untuk diganti, tapi tidak ada yang mau menggantikan,'' ungkap Jamal, Selasa (21/12) lalu.

Rumah Jamal terdiri dari dua kamar dan satu ruang tamu sekaligus ruang keluarga. Satu kamar untuk ia bersama istrinya, Gaya (49). Satu kamar lagi untuk anaknya, bungsu dari tiga belas anak Jamal. Anak-anak Jamal yang sudah berkeluarga punya rumah sendiri. Di kamar tidur rumah Jamal tidak ada tempat tidur. Mereka biasa tidur beralas tikar plastik.

Di sudut kanan ruang tamu, ada lemari pendek tanpa penutup. Pakaian yang terlipat di dalamnya terlihat jelas. Di atas lemari diletakkan televisi ukuran 14 inci yang sudah kusam. Tidak jelas lagi apa mereknya. Ketika Batam Pos berada di rumah itu, televisi tak dinyalakan.

Di atasnya, foto Jamal dan anak-anaknya terpajang di dinding. Di dinding kiri ada gambar Gubernur Riau Soeripto bersama istrinya tadi. Di atasnya ada gambar Garuda Pancasila yang sudah kusam dan berdebu.

Di dinding penyekat kamar terpasang poster-poster calon DPR RI Pemilihan Umum 2009 lalu. Ada poster Harry Azhar Azis, sekarang Wakil Ketua Komisi XI DPR RI. Di sebelahnya poster Insyah Fauzi yang mencalonkan diri jadi anggota DPD RI, tapi gagal, dan baru saja mencalokan diri sebagai Wali Kota Batam lewat jalur independen, dan gagal juga. Poster itu didapat Jamal dari tim sukses para calon itu.

''Orangnya tidak pernah datang ke sini. Kami hanya disuruh memilih, tapi tidak tahu orangnya yang mana. Janjinya kalau kami pilih, rumah kami akan diperbaiki. Nasib kami diperhatikan,'' ujarnya.

Jamal lalu mengambil kantong yang berisi spanduk. Setelah dibentangkan, tampak gambar salah satu kandidat Wali Kota Batam Periode 2011-2016. Spanduk itu diperoleh Jamal dari tim sukses kandidat tersebut. Ia disuruh memasang spanduk itu di Pulau Gara. ''Kami hanya disuruh, tapi tak tahu Wali Kota orangnya yang mana karena tak pernah ke sini,'' kata Jamal sembari menatap gambar si kandidat tepat di bawah lampu.

Rumah Jamal diterangi lampu 25 watt. Lampu itu hanya terpasang di ruang tamu yang sekaligus ruang keluarga. Sinarnya menerangi sebagian kamar yang tak berpintu. Lampu juga menyala di bangunan belakang yang menjadi dapur. Rumah Jamal termasuk yang paling mewah dan paling besar. Ada televisi dan radio. Diterangi lampu dari genset milik sendiri. Genset itu digunakan mulai pukul 18.00 atau saat mulai malam hingga pukul 22.00.

Genset itu hanya mampu untuk menerangi sedikit rumah. Itupun hanya rumah anak-anak Jamal. Sementara rumah warga lainnya hanya diterangi lampu petromak.

''Yang ada lampu hanya lima rumah di sini. Kemudian rumah orang Cina di ujung itu. Di tengah ada juga yang punya genset,'' ungkap ayah 13 anak dan 16 cucu ini.

Depan rumah Jamal tak dipasangi lampu karena cahaya lampu dari galangan kapal di Tanjunguncang, cukup terang. Dari pelantar depan rumah Jamal, galangan kapal yang bertebaran di sisi selatan terlihat jelas. Kapal-kapal besar yang sedang dibuat maupun dirawat bersandar di sekitar galangan. Tonggak-tonggak dan crane galangan berdiri menjulang tinggi.

Lampu-lampu galangan yang menyala berpendar di air laut. Cahaya lampu yang sangat terang terlihat gemerlap. Seperti melihat gemerlap Singapura dari Batam. Sangat kontras dengan keadaan Suku laut yang hampir gelap gulita.

Malam itu, seperti warga lainnya, Jamal hanya berdiam di dalam rumah. Pukul 20.00 istrinya sudah masuk kamar dan tidur. Enal (18) anak bungsunya pergi ke rumah saudaranya, tepat di sebelah kiri rumah Jamal.

Pukul 22.30, genset di rumah Jamal dimatikan. Pemadaman itu agak telat satu jam karena kami banyak mengobrol dengan Jamal. Jamal tidur di depan pintu kamarnya. Pintu rumahnya dibiarkan terbuka hingga embusan angin laut yang kencang menyerbu masuk. Bias sinar lampu galangan kapal di Tanjunguncang yang memantul dari laut menorobos ke dalam rumah yang sudah gelap.

Memasuki waktu subuh, terdengar sayup-sayup suara azan dari masjid. Jamal dan istrinya terbangun. Keduanya menyibukkan diri di belakang rumah. Dari depan rumah Jamal gemerlap lampu galangan kapal masih terlihat. Sinarnya mulai redup saat matahari muncul. Pagi itu, Jamal berangkat ke Batam mengurus bantuan untuk rukun nelayan yang diketuainya.

Di pelantar, anak-anak bersiap berangkat ke sekolah. Mereka berdiri di pelantar menunggu perahu yang akan membawa ke SD 06 Kasu di Pulau Bertam. Sekolah itu satu-satunya yang terdekat. Itu pun kelas jauh SD 06 Kasu, jadi yang ada hanya ruang kelas dengan bangku, meja, dan papan tulis. Anak Suku Laut di Pulau Gara yang bersekolah bisa dihitung jari. Hanya 15 orang. Mereka pintar-pintar. Cucu Jamal, Mirna (11) kelas tiga SD rangking tiga di sekolahnya. Ninin (11), juga cucu Jamal yang kelas dua SD rangking tiga.

''Yang rangking satu teman saya, anak Pulau Gara juga,'' ungkap Mirna yang berambut mirip ayah dan ibunya, Melo dan Suriah.

Pukul 06.30, anak-anak SD itu berangkat. Enal yang membawa anak-anak itu dengan perahu mesin. Itu tak makan waktu lama, sekitar lima menit saja. Di belakang perahu mesin yang melaju, tiga anak perempuan berangkat ke sekolah dengan perahu dayung. Satu berdiri mendayung dan dua lainnya duduk tenang.

Belasan ibu-ibu duduk bergerombol bersama anak-anaknya di dekat rumah Melo. Melo yang sudah melaut lagi subuh itu, baru saja pulang lagi mendapat tujuh ekor ikan hiu kecil. Pagi itu, Melo menyembelih penyu yang didapat semalam di depan rumahnya. Ibu-ibu itu duduk menunggu sembari mengobrol dan menyaksikan Melo memotong penyu. Mereka berbincang dengan bahasa Suku Laut. Bahasanya sangat berbeda dengan bahasa Melayu. Ada yang menyebutnya bahasa Mapur. Ada juga yang menyebut bahasa Tambus.

Bahasa tiap kelompok Suku Laut di satu tempat berbeda dengan Suku Laut di tempat lain. Bahasa Suku Laut di Pulau Gara, misalnya, tidak sama dengan bahasa Suku Laut di Pulau Bertam. Padahal jarak kedua pulau itu hanya lima menit perjalanan dengan perahu bermesin. Interaksi antara mereka pun masih intens. Bahasa Suku Laut ini tetap dipertahankan dan juga digunakan anak-anak Suku Laut.

Itu terdengar ketika anak-anak Suku Laut berbicara sambil bermain-main di depan rumah Melo. Kebanyakan anak-anak itu sudah masuk usia sekolah. Jumlahnya puluhan anak. Lebih banyak dari anak-anak yang bersekolah. Anak-anak yang sekolah pun belum tentu melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang yang tinggi. Paling tinggi hingga sekolah menengah pertama. SMP hanya ada di Pulau Kasu dan di Belakangpadang yang ditempuh 30 menit dengan menggunakan perahu mesin.

''Banyak anak-anak yang tidak bersekolah dan putus sekolah karena letak sekolahnya yang di pulau seberang dan tidak mampu. Ada juga yang orang tuanya belum punya kesadaran menyekolahkan anaknya. Malah diajak melaut,'' ungkap Jamal.

Seperti Jamal dan Melo, semua Suku Laut di Pulau Gara bekerja sebagai nelayan. Tidak ada pekerjaan lain. Ketika musim utara seperti saat Batam Pos datang ke pulau itu, nelayan hanya melaut sekitar perairan Pulau Gara. Angin kencang membuat mereka takut melaut jauh-jauh. ''Hanya laut ini lahan kami (mencari makan),'' kata Melo.

Biasanya saat laut bersahabat atau pada musim timur, mereka bisa melaut hingga ke Moro, Kabupaten Karimun dan Kabupaten Lingga, Kepri. Mereka menyebutnya bertandang. Mereka bisa bertandang sebulan atau seminggu. Hasil tangkapan mereka untuk konsumsi sendiri. Jika tangkapan ikan banyak barulah mereka jual. Hasil penjualan ikan kemudian mereka bawa pulang. ''Tapi tidak banyak yang biasa dibawa pulang karena boros. Kalau dapat uang hari ini, langsung mau dihabiskan,'' kata Jamal.

Karena melaut, tidak banyak laki-laki yang terlihat pagi itu. Hanya Melo yang sudah pulang melaut dan memotong penyu. Daging penyu yang sudah dipisahkan dari batoknya kemudian dipotong kecil-kecil oleh Suriah, istri Melo, lalu dibersihkan. Ibu-ibu yang sudah menunggu sejak penyu itu dipotong, berkumpul di dekat tumpukan daging penyu yang sudah bersih. Istri Melo menimbangnya sesuai permintaan. Satu kilogram, Melo menjualnya Rp6 ribu.

''Suku Laut sudah biasa makan penyu. Rasanya seperti daging. Kalau mau tau rasanya, coba sendiri,'' ujar seorang perempuan Suku Laut sembari tersenyum kepada Batam Pos.

Ketika tengah membeli daging penyu, penjual kue dari Pulau Kasu muncul. Penjual kue yang suami istri itu datang dengan perahu bermesin. Sebagian ibu-ibu membeli kue khas Melayu itu. Setelah membeli daging penyu dan kue untuk sarapan, ibu-ibu Suku Laut berangsur pulang ke rumah masing-masing untuk memasak. Pelantarpun kembali sepi.

Tidak banyak aktivitas yang mereka lakukan, karena tidak ada pekerjaan lain. Ibu-ibu hanya menunggu suami pulang melaut, mengurus anak, dan memasak. Sementara pria yang tinggal di rumah banyak berdiam diri dalam rumah, memperbaiki alat-alat tangkap.

Sebenarnya, upaya memukimkan Suku Laut, memberi pilihan lain bagi mereka untuk bertani. Tapi, lahan yang disediakan belum banyak mereka manfaatkan. Saat didaratkan, pemerintah membagikan lahan ukuran 30 meter x 60 meter di belakang perkampungan mereka. Selain belum pintar berkebun, hama babi juga jadi penghalang. ''Padahal kalau di darat kami bisa berkebun dan beternak ayam, tapi tak pandai berkebun. Babi juga banyak. Sementara rumah kami di sini (di atas laut), tak bisa jaga di sana.'' kata Jamal.

***

PULAU Bertam adalah pulau pertama yang dijadikan tempat pendaratan Suku Laut oleh Koordinator Kegiatan Kesejahteraan Sosial (KKKS) Batam tahun 1988. Di pulau kecil ini berdiri 37 rumah dan dihuni 40 KK. Rumah mereka berdiri di atas laut dan berhadap-hadapan. Bentuknya tidak seragam lagi seperti di Pulau Gara.

''Kami lebih dulu dari Suku Laut yang ada di Pulau Gara. Sejak dibangun, rumah kami ini tidak banyak diperbaiki. Hasil melaut tidak cukup untuk perbaiki rumah,'' kata Nur (47), yang tinggal bersama dua anaknya yang juga sudah berkeluarga.

Kondisi rumah Suku Laut di Pulau Bertam lebih parah lagi. Banyak yang sudah reyot karena tiang penyangganya sudah lapuk. Dinding-dindingnya ada yang lapuk. Tidak layak ditempati lagi sehingga ada yang ditinggalkan penghuninya. Pelantar yang menghubungkan antara satu rumah dengan rumah lainnya sudah keropos dan banyak yang copot papannya. Kalau tak hati-hati melangkah bisa terperosok. Pelantar ini berujung di daratan tempat sekolah, masjid, dan posyandu berdiri. Sejumlah fasilitas umum itu rusak.

Seluruh penduduk Pulau Bertam adalah Suku Laut. Tidak ada warga pendatang. Melaut adalah satu-satunya pekerjaan warga. Sekarang, mereka kesulitan dapat ikan baik untuk dimakan sendiri maupun dijual kembali. Aktivitas galangan kapal di perairan sekitar tempat tinggal mereka membuat ikan sulit dicari.

''Cari ikan belum tentu dapat dalam satu hari. Kalaupun dapat paling hanya Rp20 ribu. Susah cari ikan sekarang kalau tak jauh-jauh,'' kata Mukhtar (55), Ketua RT 20 RW 06, Kelurahan Kasu.

Ketika tak melaut, mereka hanya memperbaiki alat tangkap dan merawat mesin perahu. Saat Batam Pos berkunjung ke Pulau Bertam, Rabu (22/12), Mukhtar merawat mesin perahunya. Dua anaknya sedang memotong rambut di samping rumah. Istrinya hanya duduk-duduk di dalam rumah.

Lahan di daratan di belakang perkampungan Suku Laut tidak bisa dimanfaatkan lagi. Tanahnya tidak cocok untuk menanam sayuran atau palawija. Mereka juga tidak banyak ilmu cara bercocok tanam. ''Jadi ya tergantung laut saja,'' ujar Mukhtar lagi.

Pendidikan yang tidak tinggi bahkan banyak yang tidak sekolah membuat mereka hanya bisa menjadi nelayan. Suku Laut sangat banyak yang buta huruf. Hanya anak-anak sekolah dan remaja yang sudah bisa membaca. Kebanyakan hanya bersekolah hingga sekolah dasar karena hanya ada SD di pulau ini. Seperti Suku Laut di Pulau Gara, Suku Laut di Bertam juga harus menyeberang laut untuk sekolah lebih tinggi. Ke Pulau Kasu, Belakangpadang, atau ke Batam.

''Tak banyak yang sekolah. Ada yang mau sekolah, tapi uang susah,'' ucap Mukhtar.

Tidak hanya fasilitas pendidikan yang kurang, fasilitas kesehatan juga sangat minim. Hanya ada posyandu yang tak terawat. Atapnya sudah rusak. Untuk berobat kala sakit mereka harus berlayar ke Belakangpadang atau ke Pulau Kasu. Kalau parah mereka ke Batam. Mereka berobat di Rumah Sakit Budi Kemuliaan (RSBK). Di rumah sakit swasta itu mereka berobat gratis.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Batam, drg Chandra Rizal, posyandu di Pulau Bertam tetap aktif. Petugasnya masih datang secara berkala. Untuk berobat, lanjutnya, memang warga di Pulau Bertam maupun Pulau Gara harus ke puskesmas pembantu di Pulau Kasu atau ke puskesmas induk di Belakangpadang.

"Petugas kesehatan datang sesuai jadwal. Petugas yang di sana Pak Sadri,'' jelas drg Chandra Rizal kepada Batam Pos, Senin (27/12).

***

Pada tahun 1988 Pulau Bertam ini dirintis sebagai perkampungan Suku Laut. Awalnya hanya 14 rumah dan 14 KK. Suku Laut di pulau ini dibina Koordinator Kegiatan Kesejahteraan Sosial (KKKS) Batam yang diketuai Sri Soedarsono. Adik kandung mantan Presiden BJ Habibie.

''Sebelumnya mereka ditempatkan di Pulau Paku. Tapi makin lama pulau itu makin kecil jadi direlokasi ke Pulau Bertam,'' ujar Sri Soedarsono di Kantor KKKS di Sekupang, Senin (27/12).

Di pulau itu dibangun posyandu, klinik kesehatan, sekolah, dan masjid. Warganya diberi lahan dan diajarkan cara bercocok tanam, mengolah hasil kebun dan cara memasak.

Dulu, setiap bulan Sri Soedarsono selalu memasok sembako untuk semua Suku Laut. Ia selalu berkunjung bersama tamu–tamunya. Bahkan ada yang dari Belanda. Suku Laut menganggap Sri Soedarsono sebagai Ibu Suku Laut karena perhatiannya yang lebih.

Tahun 2000, Pemerintah Kota Batam mengambil alih pembinaan Suku Laut. Tapi pembinaan itu tidak berjalan. Tidak ada lagi yang mengajari mereka cara bertanam, mengolah hasil kebun dan memasak. Mereka pun tidak mau berkebun lagi.

''Kami tidak mendapat perhatian. Kami hanya didatangi saat pemilihan dan banyak janji. Janji-janji itu tidak pernah dipenuhi,'' ujar Nur, warga Suku Laut Pulau Bertam, dengan wajah merengut.

Janjinya, lanjut Nur, rumah mereka akan diperbaiki, diberikan bantuan perahu dan alat tangkap. Tapi itu tidak pernah terwujud. Setelah pemilihan, tidak ada lagi yang pernah datang. Wali Kota Batam pun tidak pernah mengunjungi mereka.

''Dulu Wali Kota (Nyat Kadir), sering berkunjung. Tapi Wali Kota sekarang (Ahmad Dahlan) tidak pernah datang. Kami tak tahu yang mana,'' kata Nur.

Sri Soedarsono menyebutkan pemerintah sama sekali tidak ada perhatiannya padahal pembinaan sudah diambilalih. ''Tidak ada perhatian sama sekali dari pemerintah. Sebal saya. Wali Kota tidak pernah bantu, tidak pernah ke sana,'' ujar Sri Soedarsono yang saat ini meskipun secara resmi tak lagi mengurusi program bantuan untuk Suku Laut, ia masih sering mengunjungi Suku Laut Pulau Bertam.

''Kami hanya bisa mengeluh ke lurah, ke camat, tapi jarang ada tanggapan,'' ucap Mukhtar, Ketua RT di Pulau Bertam.

Kepala Dinas Sosial Kota Batam M Sahir mengatakan, Pemko Batam melalui Dinas Sosial tetap punya program pembinaan terhadap masyarakat terpencil termasuk Suku Laut. Program pembinaan tersebut berupa pelatihan, penyuluhan kebersihan lingkungan, peningkatan kesehatan, dan pemahaman tentang kesatuan bangsa.

''Petugas kita turun ke lapangan secara berkala bersama KKKS yang dipimpin Ibu Sri Soedarsono,'' jelasnya M Sahir, Selasa (28/12),

Sahir mengakui program fisik untuk masyarakat di Pulau Gara dan Pulau Bertam belum ada hingga akhir tahun ini. Padahal itu yang diharapkan Suku Laut di kedua pulau itu. Tahun ini, ungkap Sahir, program bedah rumah hanya daerah pesisir Pulau Batam, misalnya di Tanjungriau.

''Program itu tidak khusus untuk masyarakat Suku Laut, tapi semua masyarakat terpencil seperti suku darat yang di hutan dan orang-orang tempatan di hinterland. Tahun ini memang belum ada di pulau itu,'' katanya.

Namun tahun 2011, kata Sahir lagi, program bedah rumah akan menyentuh masyarakat di Pulau Gara dan Pulau Bertam. Program itu dari Pemerintah Kota Batam dan Provinsi Kepulauan Riau. Masing-masing 100 rumah akan dibantu Pemko Batam dan 200 rumah oleh Provinsi Kepri.

Berdasarkan data Dinas Sosial dan Permakaman, jumlah masyarakat Suku Laut kurang lebih 300 KK. Mereka menyebar di Pulau Gara, Pulau Bertam, Pulau Lingka, Pulau Todak, dan Pulau Ngenang. (bersambung)

Menengok Kampung "Pendaratan" Suku Laut (2)

Sepuluh dari Tiga Belas
Anak Jamal Lahir di Perahu


Gaya, 49, istri Jamal bin Tawo, 67, sudah bangun sejak subuh. Ia menjerang air di dapur sambil memasak mi goreng instan. Setelah air mendidih, Gaya bergegas ke dekat kompor dan mengangkat panci berisi air panas. Air itu dituangkan ke dalam tiga gelas yang berisi bubuk Milo. Ia dibantu, Enal, anak bungsunya. Sisa air panas ditaruh dalam teko untuk air minum.

Enal kemudian membawa tiga piring mi goreng dan tiga gelas Milo dengan nampan ke ruang tamu. Ia meletakkanya begitu saja di hadapan kami tanpa bicara, lalu kembali ke dapur. Setelah membuat sarapan itu, Gaya mencuci pakaian. Ia mencuci di pelantar yang menghubungkan dapur dan rumah utama.

''Hanya itu kerje di rumah. Habis itu tak ade kerje lagi,'' kata Gaya dengan aksen Suku Laut, Rabu (22/12) lalu.

Setelah memasak dan mencuci, wanita bertubuh agak gempal dan berkulit legam ini seperti kebingungan. Ia tak tahu harus mengerjakan apalagi. Gaya pun akhinya tidur-tiduran saja. '' Kalau tak ada kerje, ya membersihkan pancung (perahu mesin) saje, menimba air (menguras air yang masuk ke perahu,'' ungkapnya.

Tinggal menetap di rumah sudah dinikmati Gaya dan Suku Laut lainnya. Ada listrik dan bisa menonton televisi. Pukul 11.30 WIB, Rabu (29/12), Gaya menonton tayangan sinetron di salah satu televisi swasta. Gaya bisa menonton setelah memasak dan mencuci. Ia ditemani cucunya, Mirna (11).

''Suka nonton sinetron. Biasanya nonton Indosiar atau SCTV. Nonton Cinta Fitri, tapi tadi malam saya tak nonton,'' kata Mirna, Rabu (29/12) siang lalu.

Tengah hari, Gaya meninggalkan tayangan di televisi itu. Ia keluar rumah dan menuruni tangga pelantar menuju perahu yang ditambatkan di depan rumah. Ia menguras air yang masuk ke perahu. Kata Gaya, ia lebih senang tinggal di perahu dari pada di rumah. Meski sudah menikmati tayangan di televisi dan penerangan dari listrik. Ia merasa tak sebebas ketika masih tinggal di atas perahu.

''Lebih senang di perahu karena bisa dapat ikan terus. Kalau tak ada ikan, udang, kepiting, bisa pindah ke tempat lain. Sekarang sudah susah dapat ikan, udang dan kepiting pun susah,'' ujarnya.

***

Gaya dan Jamal lahir di perahu yang mereka sebut kajang. Perahu yang di atasnya diberi sirap atau atap dari daun kelapa. Jamal menikahi Gaya tahun 1955. Proses lamarannya, keluarga Jamal dan Gaya bermusyawarah. Setelah sepakat mas kawinnya ditentukan. Mas kawinnya harus emas. Ada ketentuannya.

''Emas harus harganya 44 dolar (Singapura) kalau yang gadis. Janda satu kali 22 dolar, kalau janda dua kali 88 dolar. Tidak tahu kenapa lebih banyak yang janda dua kali,'' ungkap Jamal.

Emasnya dibeli dengan dolar karena Suku Laut dulu masih bebas masuk Singapura. Saat pesta seluruh kerabat Jamal dan Gaya diundang. Mereka berdatangan dengan perahu masing-masing. Jamal dan Gaya menikah menurut kepercayaan mereka saat itu. Mereka menyebutnya agama keturunan. Tidak ada pencatatan di kantor urusan agama atau di pengadilan.

''Menikahnya ada semacam ijab kabul juga. Mirip ijab kabul dalam agama Islam,'' ungkap Jamal yang sempat memeluk agama Kristen sebelum masuk Islam.

Sesudah menikah Jamal dan Gaya dibuatkan kajang baru. Gaya masih ingat betul ketika masih tinggal di perahu. Ia beraktivitas seperti layaknya manusia di daratan. Memasak, makan, mencuci, dan tidur. Dalam satu kajang, mereka menyisakan satu bagian tempat di ujung untuk memasak. Api mereka dapatkan dengan menggunakan gesekan batu atau kayu.

Malam hari, mereka tidur di satu bagian kajang yang diberi atap sirap. Di atas perahu ini, mereka juga melakukan hubungan suami istri. Setelah hamil, seorang dukun beranak terus mengikuti ke mana mereka berkelana dengan perahu kajang sampai melahirkan. Anak-anak Jamal sebagian besar lahir di atas perahu. Sepuluh dari 13 anaknya lahir di perahu. Setelah anak-anaknya mulai beranjak remaja, anak-anak perempuan dibuatkan kajang tersendiri.

''Anak perempuan yang sudah besar dibuatkan perahu sendiri, supaya tak silap mata (tidak menggauli anak sendiri),'' kata Jamal.

Kajang untuk anak perempuan itu tetap diikat pada perahu induk. Anak-anak perempuan itu tak boleh banyak bergaul dengan laki-laki. Anak-anak perempuan tidak boleh berdua-duan dengan laki-laki. Kalau ada, keduanya dihukum. Dicambuk dengan ranting. Sampai sekarang, anak laki-laki dan perempuan tidak boleh banyak bergaul.

''Tak boleh berbual-bual lelaki dan perempuan meski tak melakukan apa-apa. Tak boleh memalukan keluarga. Kalau jodoh, tanya langsung ke orang tua,'' bebernya.

***

Kehidupan di atas perahu kini sangat jarang ditemui di Batam. Sejak didaratkan, kehidupan suku laut mulai berubah. Namun masih banyak tradisi-tradisi yang masih tetap dijaga. Anak-anak, laki-laki maupun perempuan sejak kecil sudah pintar mendayung perahu, menangkap ikan, dan bermain dalam laut. Lihatlah Ninin (11), cucu Jamal.

Ninin, putri Ahad dan Farah turun dari perahu mesin kakeknya, Jamal, yang baru saja tiba dari Batam, Rabu sore. Perahu yang membawa dua penumpang lainnya itu kandas karena air laut belum pasang. Siswa kelas dua sekolah dasar ini, mengangkat sedikit bajunya setelah masuk ke dalam air. Air laut setinggi paha Ninin saat itu.

Ninin bergegas lincah menuju pelantar yang berjarak sekitar 20 meter. Di depan rumahnya ada perahu dayung. Ia naik ke atas perahu itu lantas mendayungnya mendekati perahu mesin kakeknya. Satu penumpang di perahu mesin itu berpindah ke perahu dayung. Ninin lantas mendayung perahu membawa penumpang yang sudah dewasa.

Penumpangnya naik ke pelantar, Ninin mendayung perahu lagi mendekati perahu kakeknya. Menjemput penumpang lainnya. ''Sejak kecil sudah bisa mendayung sendiri. Kadang ke sekolah mendayung perahu juga,'' kata anak tertua Ahad dan Farah ini.

Tidak hanya Ninin yang pintar mendayung, sepupunya, Mirna (11) juga lincah mendayung. Bahkan Mirna biasa pergi melaut. Ia memancing ikan tak jauh dari rumahnya. ''Biasanya memancing ikan kalau hari Minggu. Dapatnya ikan sembilang,'' ungkap Mirna.

Tapi Ninin dan Mirna tak ingin seperti kakek-neneknya atau kedua orang tuanya. Ninin dan Mirna ingin sekolah setinggi-tingginya. Ninin yang ramah, pintar di sekolahnya. Ia rangking tiga. Begitu juga Mirna yang lebih kalem masuk tiga besar di sekolahnya. Cita-citanya? ''Tak tahu,'' katanya.

Menurut Kepala Dinas Kota Batam, Muslim Bidin, Pemko Batam menganggarkan dana untuk biaya transportasi laut siswa di hinterland, termasuk anak-anak yang di pulau-pulau. Biaya transportasi laut ini diberikan kepada pelajar di Kecamatan Belakang Padang, Kecamatan Galang dan Kecamatan Bulang. Pulau Gara dan Pulau Bertam masuk wilayah Kecamatan Belakangpadang.

''Dengan begitu anak-anak di pulau bisa sekolah tanpa harus memikirkan biaya transportasi lagi,'' katanya.

Anak-anak hinterland itu mendapatkan bantuan transportasi Rp3 ribu per hari atau Rp78 ribu per bulan dari pemerintah. Bantuan itu diserahkan ke sekolah dan kemudian diberikan kepada masing-masing siswa. Di Kecamatan Belakang Padang, jumlah pelajar yang menerima biaya transportasi dari SD hingga SMA berjumlah 392 orang. Di Kecamatan Bulang berjumlah 512 anak dan di Kecamatan Galang berjumlah 316 anak. Dengan demikian total keseluruhan pelajar hinterland yang menerima biaya transportasi laut berjumlah 1.220 anak.

Adanya bantuan ini banyak orang tua di pulau-pulau kembali bersemangat untuk menyekolahkan anak-anaknya agar tidak melaut seperti mereka. Namun Ninin dan Mirna tidak tahu ada biaya transportasi dari pemerintah. Kedua cucu Jamal ini berangkat ke sekolah dengan perahu mesin milik kakeknya itu.

''Tak tahu om (ada bantuan biaya transportasi dari Pemko Batam). Dari sekolah tak ada, tak tahu juga,'' kata Mirna.

Selain biaya transportasi, anak-anak hinterland juga diberikan beasiswa oleh Pemko Batam, tiap tahun. Misalnya, pada tahun 2008, jumlah 58 orang dengan jumlah peserta yang ikut seleksi 118 orang. Tahun 2009, sebanyak 80 orang anak hinterland diberi beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat perguruan tinggi.

Mirna yang masih sekolah dasar belum pernah mendapat beasiswa. Padahal prestasinya membanggakan. Saat kelas satu dan kelas dua ia rangking satu dan saat kelas tiga ia rangking tiga.''Tak dapat om,'' katanya.(habis).

* Nomine Rida Award 2011

Selengkapnya..

Pengungsi Letusan Sinabung


Karya: Andri Ginting (Sumut Pos)

* Nomine Kategori Foto Jurnalistik Rida Award 2011

Selengkapnya..

Cukup Kami yang Menikmati Takdir Ini

”Orang-orang Albino” di Nagari Singgalang (1)

Sanny Ardhy • Tanah Datar
(Padang Ekspres, Rabu, 22 Juni 2011)

Enam dari delapan jorong di Nagari Singgalang, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, terdapat urang bulai. Oleh penduduk setempat, sebutan urang bulai, berarti kulit dan rambut serta bulu pada tubuh mereka, seperti orang bule. Sebagian, ada pula yang menyebutnya urang putiah. Dalam bahasa kerennya, dikenal dengan Albino—orang Albus dalam bahasa Yunani, yang artinya, juga (orang) putih. Tapi, orang-orang zaman dulu di nagari tersebut, menamakan si albino dengan umbuik.

MEMANDANG mereka, ada yang khas pada bola matanya. Pergerakan bola mata mereka seperti tidak beraturan, selalu tampak bergerak. Ketika berhadapan dengan cahaya atau matahari, mereka berusaha menghindar. Karena, mata mereka memang peka terhadap cahaya atau matahari. Tersebab itu pulalah, si urang putiah ini, selalu seperti terlihat menjaga agar kelopak matanya setengah tertutup dengan selalu berkedip.

Ketika Padang Ekspres mengarahkan kamera kepada ”si albino” Maris, 26, warga Sikabu, ia langsung berkata, ”Jangan Uda, pedih mata saya nanti kena cahaya kamera. Saya mau bekerja Uda!” Sehari-hari, Maris bekerja sebagai buruh angkut di Pasar Sayur, Bukik Surungan, Padangpanjang.

Di pasar tersebut, Maris dikenal sebagai Dennis Bergkamp, karena sepintas terlihat mirip mantan bintang sepakbola Timnas Belanda itu. Sebutan Dennis Bergkamp, tentulah bukan cemooh untuk diri Maris, yang albinisme. Melainkan, bagi orang pasar, sebagai keakraban. Karena sejak tahun 2005, Maris sudah membaur di pasar, dan menjadi bagian khas di Bukik Sarungan. Karena itu, sebagaimana diakui Barokah, 43, pedagang Lobak, jika Maris tak tampak di pasar, banyak teman pedagang yang bertanya. ”Ke mana si bule Dennis Bergkamp tak tampak…?” Maris, salah seorang, dari sejumlah urang bulai, di Kanagarian Singgalang.

Berjarak Pandang Semeter

Bagi pendatang atau orang luar, di Nagari Singgalang atau pada enam jorong tersebut, dikenal juga sebagai kampungnya para umbuik atau negeri para Albino. Betapa tidak. Di nagari berpenduduk 8.032 jiwa ini, terdapat 34 orang bule seperti Maris. Mereka menyebar di enam jorong. Yang paling banyak, di jorongnya Dennis ”Maris” Bergkamp, yaitu Jorong Sikabu, sebanyak 13 orang. Disusul Jorong Subarang (5 orang), Luhuang (5 orang), Solok (3 orang), Koto (4 orang), Gantiang (4 orang). Pekerjaan mereka kebanyakan petani dan peternak. Beberapa berdagang, menjadi buruh pasar dan tukang ojek

Padang Ekspres yang sengaja menginap dan membaur selama dua hari satu malam di nagari itu, bertemu beberapa urang bulai dan tokoh masyarakat, serta warga biasa. Terhadap pendatang baru, orang bulai ini, cenderung ingin menjauh. Mereka sensitif sekali dengan orang asing. Perlu waktu bisa menyatu dengan orang bukan kampung setempat. Terasa sekali, warna rambut, mata dan kulit mereka, penyebab betapa tak nyamannya didatangi dan dilihat orang karena memiliki perbedaan yang menyolok dibanding manusia normal lainnya.

”Berpandai-pandailah pada mereka. Mereka tak suka ditanya-tanya,” kata Wali Nagari Singgalang, Syaharudin Dt Penghulu Basa, Kamis (9/6) siang. Memang, orang-orang putih di Nagari Singgalang ini, cenderung merasa tidak nyaman hati ketika menjadi pembicaraan atau perhatian orang lain. ”Kalau ditanya-tanya, mereka merasa dihina,” tambah tokoh pemuda, Erizal Sidi Sailan.

Rasa tak nyaman atau malu jika diperhatikan, apalagi ditanya-tanyai orang, membuat sebagian mereka tak betah ke sekolah, atau berkumpul dengan masyarakat lain, terutama di luar jorong atau nagari mereka. Sehingga, umumnya, orang putih, hanya tamat sekolah dasar (SD). Cuma ada satu orang dari ”jenis” mereka, yang bisa meraih gelar sarjana, kemudian menjadi guru di SMAN 3 Padangpanjang. Nita namanya, warga satu jorong dengan Maris, yaitu di Sikabu. Tentu, keberhasilan Nita ini, karena ia mampu menundukkan rasa yang bagi saudara-saudaranya yang lain, tidak mampu dienyahkan.

Hidup sebagai orang putih, tentulah tidak mudah. Sebagaimana diakui Rini, 24, dan Yayat, 14, dua keponakan Erizal. Rini yang baru menikah dua bulan lalu, kandas di kelas II SMP 3 Singgalang. Ketika ia mulai bisa menghilangkan rasa minder di antara teman-temannya, Rini justru tak bisa menolak takdir sebagaimana juga dialami oleh orang-orang albino di dunia. Matanya hanya mampu melihat dalam jarak satu meter. Sehingga, ketika guru menulis di papan tulis, ia tidak bisa membaca dan mencatat. Ia justru menjadi repot, karena harus menyalin atau meminjam catatan teman sebangkunya. ”Padahal, saya sudah duduk di depan, tapi tetap juga tidak nampak,” tukas Rini.

Yayat, sang adik, setelah penuturan Rini menimpali, ”Saya juga mungkin hanya sampai SMP saja nantinya!” Ada kegetiran lain dari getar suara Yayat. Ia seakan telah memastikan, akan sama dengan kakaknya Rini. Sepertinya, ada cita-cita sebagimana anak-anak lain yang normal yang harus dikubur Yayat.

Sebagaimana sang kakak, Yayat pun mengeluhkan penglihatannya. ”Saya tak sanggup terus-terusan menyalin catatan teman,” kata Yayat. Hal itu selain melelahkannya, juga terasa merepotkan teman. Matanya tak bisa melihat sesuatu yang jaraknya melebih satu meter. Ayah Yayat, Syawaludin Indo Sutan, 51, menceritakan kalau Yayat sudah dua kali tinggal kelas. Selain disebabkan keterbatasan penglihatan dan tekanan psikologis, ia juga sering sakit-sakitan. Kulit Yayat terasa tipis, mudah terluka. Sehingga, jika sudah luka, sulit sembuhnya. Sedangkan Rini, rambutnya kalau keramas dan sisiran, selalu rontok.

Syawaludin memiliki enam orang anak. Empat dari enam anaknya, albino. Selain Rini dan Yayat, yang terlahir sebagai urang putiah adalah Budianto, 25, dan Rina, 24. Tiga lainnya, Eva, 28, dan Rio Fernandes, 17, terlahir normal. Sementara, Syawaludin Indo Sutan dan istrinya Nuraida, 49, normal. Syawaludin sendiri, warga Subarang. Istrinya, Nuraida, berasal dari Jorong Sikabu. Syawaludin mengaku, keturunan Albino didapat dari keluarga istrinya. ”Kami syukuri saja, karena sudah keturunan dari kakek buyutnya,” kata Syawaluddin.

Ia, sebagimana juga istrinya, sangat menyayangi anak-anak mereka. Karena, buah hati, sebagaimana dipahami Syawaludin, adalah darah daging dirinya yang harus disayangi. Syukurnya, di Nagari Singgalang, tak ada orang yang mencemooh dan menyakiti hati anak-anaknya. ”Karena itu, kami merasa damai di Singgalang ini,” tutur Syawaluddin.

Apa yang dirasakan empat anak Syawaluddin, terutama problem penglihatan, juga dialami puluhan warga lain yang masuk kategori umbuik. Pergulatan hidup mereka terasa begitu keras, namun harus disikapi dengan ikhlas. Belum lagi olok-olok kawan sekolah dan tatapan aneh yang mereka terima.

Ketika rata-rata dari mereka ini hanya berpendidikan SD, pokok masalahnya adalah pada mata. Karena itu, ketika ada orang berkunjung ingin meneliti keberadaan orang-orang Albino di nagari ini, mereka cenderung menyambut sinis. Sebab, banyak yang berkata akan membantu menyampaikan kepada pemerintah, agar orang-orang seperti mereka yang bermasalah dalam penglihatan dan kehidupan sosial, nantinya akan mendapat perhatian khusus. Bahwa, mereka adalah rakyat, yang akses untuk memperingan beban mereka melalui uluran tangan pemerintah atau para dermawan maupun ahli, hampir tidak punya.

Kepada orang yang datang untuk ”tanya-tanya” tentang orang bulai, Wali Jorong Luhuang, Eman Hadi, agak kurang sreg. ”Cukup kami saja yang menikmati takdir ini. Semua sudah kehendak Tuhan,” tukasnya. Eman punya adik, Aldi, juga terlahir sebagai urang bulai. Ketidaksukaan kedatangan orang untuk meneliti maupun mewawancarai terkait orang-orang bulai di nagari ini, juga diperlihatkan oleh Andria Rajo Endah, tetangga Eman Hadi.

Andria menilai, sudah banyak yang datang dan bertanya. Semua tidak ada memberi manfaat bagi mereka. ”Kami sudah bosan ditanya-tanya soal semua ini,” kata Andria Rajo Endah, 28, yang lebih akrab disapa Pakiah. Pakiah dan adiknya Syafrizal, 21, juga terlahir sebagai Albino.

Baik Pakiah maupun Syafrizal, cukup dikenal di Nagari Luhuang. Pakiah pintar mengaji, dan sering diundang membacakan doa oleh penduduk. Sedangkan Syafrizal, pandai bershalawat. Setidaknya, dengan kepandaian yang dimilikinya, Pakiah dan Syafrizal, tidak minder dan merasa memiliki nilai lebih. (***)

”Orang-orang Albino” di Nagari Singgalang (2/Habis)
Rasa Asing Ditanya soal Keturunan

Puluhan orang memendam asa di Nagari Singgalang, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanahdatar. Mereka terlahir sebagai Albino: bulai, putiah, atau umbuik—sebutan oleh warga sekitar. Mengapa begitu banyak (34 orang) Albino di nagari yang indah pemasok sayur ke Riau itu? Ada yang menyebut, Albino ini berhubungan dengan kompeni Belanda. Atau, akibat faktor keturunan kawin sedarah?

Andria Rajo Endah, 28, satu dari sedikit orang Albino yang mau bicara soal asal-muasal Albino. Di Singgalang, dia biasa dipanggil Pakiah—orang yang tahu banyak tentang ilmu Agama Islam. Tak mudah untuk meyakinkan Pakiah menggali informasi.

Padang Ekspres yang bertamu ke rumah semi permanen Pakiah, ”harus” membawa Wali Jorong Luhuang, Eman Hadi.

Melalui pendekatan wali jorong, barulah Pakiah bersedia menjawab koran ini. Sore awal bulan lalu, saat Padang Ekspres bertamu, Pakiah ditemani adiknya Syafrizal, 21, dan mamaknya (paman, red), Syafril Sidi Rangkai Tigo, 50.

Pakiah dan Syafrizal terlahir dari pasangan Majudin, 55, dan Kamina, 50, yang sehari-hari bekerja sebagai petani. Pakiah beradik kakak, berempat orang. Kakak pertamanya, bernama Murniati. Kakak keduanya, Effendi.

Dua orang kakaknya, terlahir normal, dan kini tinggal di Padangpanjang bersama anak-anaknya. Pakiah sendiri adalah anak ketiga. Adiknya yang bungsu bernama Syafrizal, juga terlahir sebagai albino. Padahal kedua orangtua mereka, normal. ”Sewaktu kecil, pernah kami tanyakan kepada ayah, di garis keturunannya, tak ada yang putiah. Begitu pula di garis keturunan ibu, juga tak ada yang putiah. Kami pun heran, kenapa kami terlahir putiah,” tutur Pakiah dalam bahasa Minang.

Namun Pakiah sendiri tak menampik, dari garis keturunan keluarganya, ada yang kawin sepersukuan (sedarah, red). Istilah Minangnya, pulang ka bako atau ganti lapiak. ”Ada di garis keturunan ayah dulu, yang kawin dengan etek (bibi, red). Sesuai ranji, hal itu sudah jauh di atas saya,” terang bujang yang hanya tamat SD itu. ”Sebenarnya sudah sering orang datang ke sini nanya-nanya soal kami, tapi ndak pernah ada tindak lanjutnya. Bahkan, ada yang ngaku dari Kedokteran Unand,” imbuh Pakiah.

Sesaat terdiam, Pakiah diperhatikan adiknya Syafrizal. Kemudian terdengar suara berat Pakiah. ”Saya sebenarnya malas membahas silsilah keturunan ini. Hidup ini (kondisi albino) tak juga berubah!” Syafrizal pun serta-merta mengajak mengalihkan pembicaraan ke soal shalawat dulang. Ia lalu meneguk teh manis di hadapannya.

Mungkin, dengan bercerita selain silsilah diri mereka kenapa terlahir Albino, ada hal yang akan membuat beban hidup ini terkurangi bagi Pakiah, juga Syafrizal. Jujur, bertahun-tahun, orang seperti mereka, memiliki perasaan yang asing, karena terlahir sebagai umbuik atau bulai. Makanya, Syafrizal lebih semangat bercerita tentang kemampuannya memainkan beberapa alat musik seperti gitar, keyboard (orgen) dan saluang.

”Semuanya tak ada yang saya pelajari khusus di sekolah. Sedari kecil, saya sudah bisa memainkannya. Saya pun juga heran. Sepertinya seluruh alat musik ini, patuh kepada saya. Saya bersyukur,” tukas remaja yang juga hanya tamat SD itu.

Dengan menceritakan kepandaiannya ini, terlihat binar mata khas Syafrizal. Ia seakan bisa melupakan warna rambut, mata dan kulitnya yang putih. Dengan begitu, ia terlihat betapa hidup ini, adalah bentuk rasa syukur yang bisa dipetik dari sisi lain.

Syafril Sidi Rangkai Tigo, mengakui kehebatan keponakannya ini. Syafrizal terlihat sumringah ketika disebut kalau ada acara nagari, ia sering berduet dengan artis dari Padang dan Padangpanjang. Mendengar itu, ia membuktikan kemampuannya memainkan gitar, sembari menyanyikan lagu ”Merindukanmu” dari D’Massiv.

Namun, apa pun adanya, kehidupan para albino di antara Merapi-Singgalang ini, tetap sebuah realita. Walau mereka enggan dan bosan serta muak ditanya berkali-kali oleh pendatang yang berbeda, namun selalu saja memerlukan jawaban, kemungkinan tentang silsilah, asal mula menjadi demikian. ”Kebanyakan keluarga kami, kawin sedarah. Itu juo inyiaknyo. Sudah sejak dulu hal ini terjadi,” kata Syawaludin ketika kembali ditanya padanya, kenapa empat dari tujuh anaknya, bulai.

”Saya ingin memiliki keturunan yang normal, karena itu saya ingin menikah dengan orang yang tidak bulai,” kata Pakiah. Ada kegelisahan terpendam dari getar suaranya. ”Dan, ketika kemudian kami malah tetap diberikan keturunan urang putiah, itu artinya kehendak Allah yang menitipkan kepada kami. Kami akan tetap bersyukur,” timpalnya lagi.

Ada harapan, di masa depan, orang seperti dirinya, di Nagari Singgalang, makin berkurang. Sehingga, silsilah mencatat, ada perbaikan keturunan setiap masa.

Asal-Muasal
Konon, menurut Wali Nagari Singgalang, Syaharudin Dt Penghulu Basa, asal-muasal orang putiah di Nagari Singgalang, berasal dari perkawinan tentara Belanda dengan warga Singgalang, saat zaman penjajahan, sekitar tahun 1928. Saat itu, kompeni Belanda sebagai penjajah, seenak perutnya saja membawa gadis-gadis Singgalang untuk dijadikan pemuas syahwat.

Asal warga Nagari Singgalang ini dahulunya, kata Syaharudin, dari daerah Batuang Datar (daerah perbukitan, dekat objek wisata Air Terjun Lembah Anai, Jorong Aia Mancua sekarang, red). ”Hingga kini, masih ada benteng-benteng tentara Belanda di perbukitan tersebut. Kondisinya kini sudah lapuk, tak terawat, ditimbun semak-semak belukar,” ulasnya.

Sejarah versi wali nagari itu, dibantah tokoh masyarakat lainnya, Datuak Kayo Nan Kuniang, warga Subarang, Singgalang. Ditemui di kedai kopi Jorong Subarang, Datuak Kayo menyebutkan orang Albino di Nagari Singgalang bukan keturunan Belanda. Sebab, kata dia, mata urang bulai yang tinggal di enam jorong, Nagari Singgalang tersebut, tidak sama dengan orang bule.

”Orang Belanda saja berjemur di tepi pantai, seperti yang kita lihat di televisi. Matanya tak sakit dan kulitnya tahan menghadapi terpaan sinar matahari. Beda dengan warga albino di sini,” tegas Datuak Kayo.

Mamak Pakiah, Syafril Sidi Rangkai Tigo, lebih meyakini, banyaknya orang putiah di Nagari Singgalang, disebabkan karena kawin sedarah. ”Banyak warga di sini, yang kawin antarjorong. Kebetulan, ada warga dulunya di sini, yang membawa gen albino. Makanya, besar kemungkinan keturunan yang dilahirkan, juga Albino,” ulas Syafril.

Bermula dari Angku Saliah

Bicara asal orang putiah di Nagari Singgalang, memang tidak terdapat data yang akurat. Catatan sejarah dan silsilah berawalnya albino di situ, hanya dari mulut ke mulut, dan itu pun penuh dugaan atau perkiraan.

Namun, ada cerita lain juga terterakan. Bahwa, konon kabarnya, sekitar tahun 1940, terbetik cerita telah ada orang putih di Singgalang. Para tetua di situ mengatakan, orang putiah pertama di Singgalang bernama Angku Saliah, warga Sikabu. Angku Saliah telah meninggal sekitar 12 tahun lalu, karena sakit diabetes. Hingga kini, istri Angku Saliah, Ani bersama lima orang anaknya masih tinggal di daerah Sikabu.

Angku Saliah memiliki lima orang anak. Tiga di antaranya, Albino. Termasuk Maris (diceritakan pada bagian pertama tulisan ini), buruh angkut di Pasar Sayur. Maris adalah anak keempat Angku Saliah. Dua lainnya yang Albino, anak kedua, Amal dan anak bungsu, Jaminar. Dua anaknya yang terlahir normal, Nasir (anak pertama) dan Ramai (anak ketiga). Sementara istri Angku Saliah, Ani, normal.

Selain Angku Saliah, ada seorang lagi orang putiah warga Sikabu, yang telah berpulang. Namanya Nurainun. Ia meninggal kena setrum saat memperbaiki trafo listrik di depan rumahnya.

Gen Albino

Dokter spesialis kulit lulusan Universitas Indonesia (UI), dr Widya Sp KK, menjelaskan kawin sedarah memang rentan menyebabkan penyakit kelainan genetik. Salah satunya, bisa Albino. ”Kawin sedarah juga rentan menyebabkan penyakit syndrom down, cebol, kulit bersisik dan penyakit aneh lainnya,” Widya mengingatkan.

Sebaiknya, saran Widya, masyarakat menghindari kawin sedarah. Khusus Albino tidak dapat diobati atau disembuhkan. ”Yang bisa, hanya memperbaiki kualitas hidupnya,” ulas dokter satu anak itu.

Diterangkan Widya, albino adalah penyakit kelainan genetik. Gen albino menyebabkan tubuh tidak dapat membuat pigmen melanin. Sebagian besar bentuk albino adalah hasil dari kelainan biologi dari gen-gen resesif yang diturunkan dari orangtua. Ciri-ciri seorang albino, mempunyai kulit dan rambut secara abnormal putih susu atau putih pucat, dan pada mata memiliki iris merah muda atau biru dengan pupil merah (tidak semua).

Jumlah manusia penderita Albino di seluruh dunia beragam. Albino di Tanzania, Afrika Timur, adalah negara yang memiliki penderita albino terbanyak di dunia, yakni sekitar 200.000 jiwa. Di sebagian besar negara, penderita albino hanya sekitar 1 orang per 20.000 penduduk. ”Karena penderita albino tidak mempunyai pigmen melanin, makanya kulit mereka sangat sensitif. Mereka tak tahan dengan cahaya, khususnya sengatan sinar matahari,” ujar Widya.

Ia mengharapkan pemerintah dan masyarakat, khususnya orang sekitar, membantu memperbaiki kualitas hidup penderita albino. Maksudnya, bagaimana mereka bisa memperbaiki daya lihat, melindungi mata dari sinar terang, dan menghindari kerusakan kulit dari cahaya matahari.

Biasanya, pengobatan untuk kondisi mata melalui rehabilitasi visual. Pembedahan dimungkinkan untuk otot mata, guna menurunkan kesalahan refraksi dan mengurangi perputaran bola mata yang berlebihan. ”Penderita albino juga diharuskan menggunakan sunscreen ketika terkena cahaya matahari untuk melindungi kulit prematur atau kanker kulit,” jelas Widya.

Mereka, urang putiah, penderita albino di Nagari Singgalang, berharap apa yang diungkapkan Widya, bisa menjadi perhatian pemerintah atau para dermawan. Setidaknya, bisa memperbaiki kualitas hidup mereka, juga mata anak-anak mereka, yang ingin sekolah, tapi tak bisa melihat jelas dari jarak lebih dari satu meter. (***)

• Nomine Rida Award 2011





Selengkapnya..

Jelang Ajal, Ibu Renta Rindukan Anak Kembarnya

Hamdani cs, Sumut Pos

32 Tahun yang Lalu Diadopsi Mantan Rektor USU

BINJAI-Setiap insan atau manusia, tentunya terlahir ke dunia ini berkat adanya kedua orang tua, dan ibu adalah sosok perempuan yang tentunya sangat disayangi oleh setiap anak. Sebab, perjuangan seorang ibu terhadap anaknya tak akan bisa dihitung dengan jari-jemari. Mulai dari mengandung sampai sembilan bulan, hingga mengurusi anaknya sampai tumbuh besar dan deawasa. Namun, bagai mana kalau seorang anak tidak pernah berjumpa dengan kedua orang tuanya selama 35 tahun lamanya, bagai mana perasaan ibu terhadap anaknya itu.

Di Kota Binjai, tepatnya di KM 19, Kelurahan Tunggorono, Kecamatan Binjai Timur, hidup sebuah keluarga yakni Sugiyem (76) dan Gimin yang sudah almarhum sejak tahun 1996 lalu. Pasangan suami istri (Pasturi) ini, dahulunya tinggal dilahan perkebunan tembakau yang saat ini PTPN II, Sei semayang. Semuanya dikisahkan oleh Tomino (50), anak kedua pasutri itu, Senin (14/2).

Selama tinggal di lahan perkubunan itu, Pasturi ini bekerja sebagai buruh kebun yang dahulunya ditanami tambakau dan saat ini sudah ditanami oleh tebu. Tinggal dengan kehidupan yang sederhana, Pasturi ini tetap hidup rukun.

Menjadi buruh kebun, tampaknya tak membuat Pasturi ini takut akan hidup dengan kesusahan. Pasalnya, sang pencipta mengkarunia 10 orang anak untuk diasuh sampai dewasa. Pasturi ini ternyata diberikan rezeki berlebih oleh sang pencipta. Sebab, saat mengandung anaknya yang ke-sembilan, istri dari Gimin ini tak menyangka kalau ia mengandung anak laki-laki kembar di dalam rahimnya.

Selama sembilan bulan, Sugiyem istri dari Gimin tak ada merasa curiga dan merasa aneh dengan kandungannya itu. Tepat pada tanggal 28 Desemer 1976, bayi yang dikandungnya akhirnya dilahirkan di RS Bangkatan, Jalan Sultan Hasanuddin, Binjai Selatan dan timbul rasa senang bercampur kaget saat anak laki-laki itu dilahirkan. Pasalnya, tanpa disangka, Sugiyem melahirkan dua orang anak laki-laki dari rahimnya. Sehingga, anak Pasturi ini yang seharunya sembilan menjadi sepuluh orang.

Setelah melahirkan kedua anak laki-laki kembar itu, akhirnya Pasturi ini memberikan sebuah nama kepada kedua buah hatinya tersebut. Nama yang diberikan Pasturi itu yakni Supriadi dan Supriono.

Namun, setelah melahirkan kedua anak kembar itu, Sugiyem merasakan ada yang aneh dengan rahimnya. Dimana, ada rasa sakit yang tak tertahankan. Sehingga, Sugiyem dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Tembakau Deli, Jalan Putri Hijau, guna menjalani operasi rahim dan dirawat selama tiga bulan di RS tersebut.

Kebetulan, yang melakukan operasi rahim saat itu ditangani oleh dr Chairuddin P Lubis (mantan Rektor USU, Red). Dikarenakan Chairuddin tidak memiliki anak, akhirnya Charuddin mencoba meminta kedua anak kembar dari pasturi tersebut. Awalnya, Pasturi itu tidak memberikan, karena Charuddin mengaku tidak memiliki anak, akhirnya Gimin merasa ibah dan memberikan kedua buah hatinya itu.

Tepat pada tanggal 13 Januari 1977, Charuddin membuat surat pernyataan dengan Pasturi ini, yang disahkan oleh Kepala Kampung, dan ditanda tangani oleh saksi Chairuddin. Dalam surat tersebut, menyatakan, bahwa telah gugur hak pihak pertama atas kedua anak tersebut setelah diberikan kepada pihak kedua.

Setelah diberikannya kedua bayi kembar itu, lama berselang akhirnya Gimin, ayah kandung kedua bayi kembar itu meninggal dunia dengan usia 76 tahun. Untuk selanjutnya, Sugiyem tinggal bersama delapan orang anaknya. Namun, anaknya semakin lama semakin dewasa dan akhirnya semua anaknya menikah.

Dikarenakan Sugiyem tinggal seorang diri, akhirnya seorang anaknya membawanya ke Aceh, Simpang Kiri, Seumedoem. Selama tinggal di rumah anaknya itu sekitar 7 tahun yang lalu, Sugiyem sudah mulai sakit-sakitan disebabkan umur yang semakin tua.
Akibat sakit yang tak kunjung sembuh, akhirnya Sugiyem teringat kepada kedua bayi laki-laki kembar yang pernah dilahirkannya pada tahun 1976 silam. Untuk itu, Sugiyem meminta kepada kedelapan anaknya, untuk mencari dimana keberadaan anaknya tersebut, guna melepas rasa rindu setelah 35 tahun tak berjumpa.

Sejak tahun 2004, kedelapan anaknya sudah mencari keberadaan adik laki-laki kembar tersebut. Selama mencari, Tomino (50), anak kedua dari Pasturi ini, sempat berhubungan dengan seorang bidan di RS Tembakau Deli yang juga anggota keluarga terdekat dr Chairuddin. Bahkan, saling kontak sudah terjalin.

Namun, meski sudah sering berhubungan via telepon seluler selama empat kali, bidan tersebut enggan meberitahukan dimana alamat dr Chairuddin. “Tahun 2004 seorang bidan, kerabat dokter Charuddin datang ke rumah kami. Namun, selama berhubungan, bidan itu enggan memberi tahukan kepada saya dimana alamat Dr Charuddin itu. Sampai akhirnya, nomor HP Bidan itu sudah tidak aktif lagi,” ungkap Tomino dengan wajah sedih.

Demi memenuhi tanggung jawab sebagai seorang anak, akhirnya Tomino melupakan bidan itu dan mencoba mencari cara lain, yakni dengan mendatangi sejumlah alamat dr Chairuddin yang pernah diketahuinya. “Rumah dr Charuddin ini jumlahnya cukup banyak, jadi saya mencoba menjumpai di rumahnya yang ada di Jalan Kapten Sumarsono, Perumahan Putri Hijau, dan di Perumahan USU di Jalan Dr Mansur. Namun, saya tetap tidak menemukan adik kembar kami itu,” terang Tomino sambil tertunduk.

Dikarenakan belum lepas dari tanggung jawab sebagai seorang anak, Tomino yang belum menemukan adiknya, terus berusaha mencari. Bahkan, setiap harinya Tomino tidak bisa tenang dan terus berpikir dimana sekarang adiknya itu. “Kalau saya bertemu, apakah saya kenal dengan wajahnya. Sebab, sewaktu diambil umurnya masih tiga bulan, itulah yang saya pikirkan setiap harinya,” ujarnya.

Meskipun begitu, Tomino tetap percaya diri, kalau berjumpa dengan adiknya itu, ia yakin akan mengenalinya. “Kami satu keluarga, postur badan dan wajah tak jauh berbeda. Badannya lumayan besar dan kulit sawo matang seperti badan saya ini. Saya rasa adik saya ini tak jauh beda dengan saya,”kata Tomino.

Keperluan mencari adik kembarnya ini kata Tomino, tidak ada kaitannya dengan materil. Pencarian ini dilakukan semata-mata menjalankan perintah ibunya yang saat ini sakit dan meminta untuk dijumpakan kepada adik kembarnya itu, sebelum ibunya menghembuskan napas terakhir. “Kalau lah adik kami menjadi orang yang sukses, kami juga merasa senang. Tetapi kesenangan kami bukan karena kesuksesannya itu, kami lebih senang jika dapat bertemu dengannya,”ucap Tomino.

Selama belum ditemukan adik kembarnya itu, ibunya yang sedang sakit dan saat berada di Aceh, terus mengingat dan menyebut-nyebut anaknya tersebut. “Kami sampai kasihan melihatnya, hampir setiap hari ibu kami menyebut-nyebut nama anaknya, nak.. dimana kamu sekarang? Ibu mau ketemu,”ungkap Tomino menirukan kata-kata ibunya.

Untuk itu, Tomino dan seluruh keluarganya, sangat berharap kesediaan dr Charuddin untuk membawakan adik kembarnya itu kembali ke pangkuan ibunya untuk sesaat, guna melepaskan rasa rindu. “Kami tak perduli adik kami itu menjadi apa, mau jadi TNI, dokter, pegawai atau apa saja. Saat ini kami hanya ingin adik kami itu kembali sesaat untuk dijumpakan dengan ibunya yang sedang sakit. Setelah itu, kami akan serahkan kembali kepada dr Chairuddin,”terangnya.

Meski diasuh oleh seorang dokter, Tomino juga memiliki kekhwatiran yang mendalam. Pasalnya, dr Chairuddin tak ingin diketahui dimana alamat rumahnya dan selama 35 tahun, dr Chairuddin tak pernah menjenguk kedua orang tua anak kembar itu. “Kalau tidak ada masalah, kenapa bidan yang menjadi kepercayaan Dr Chairuddin enggan memberikan alamatnya. Apakah benar adik kami itu diasuh oleh Dr Chairuddin atau diberikannya lagi kepada orang lain,” ujar Tomino resah, seraya menambahkan, semoga tidak ada terjadi apa-apa dengan adiknya, dan dapat pulang sesaat untuk melihat ibunya yang sedang sakit.

Ada apa sebenarnya sehingga anak kembar Sugiyem tak dipertemukan dengan ibunya? Wartawan koran inipun kesulitan menemukan jawabannya. Wartawan koran ini kemarin petang mendatangi tempat praktik Prof Dr Chairuddin Dtm & SpA(K) di Jalan Abdullah Lubis No 8/2B sekira pukul 18.00 WIB, karena baru pada waktu tersebut yang bersangkutan datang ke tempat praktiknya.

Wartawan koran ini kemudian ditemui petugas yang mengaku sebagai ajudan Pak Dokter, begitu dia biasa dipanggil. "Panggil saja Nasution," ujar petugas itu tak mau menyebutkan nama, hanya marganya saja.

Setelah menjelaskan maksud kedatangan, wartawan koran ini diminta menunggu. Alasannya masih banyak pasien, dan Pak Dokter lagi sibuk. Wartawan koran inipun menunggu hingga 15 menit. Kemudian pasien habis, kondisi tempat praktik pun sepi. Namun wartawan koran ini tetap tak diperkenankan ketemu. "Tunggu aja, masih sibuk," ujar Nasution lagi.

Setengah jam kemudian saat suasana semakin sepi dan malam semakin pekat, dr Chairuddin pun tetap menolak ditemui, meski telah menjelaskan identitas dan maksud kedatangan. Kepada wartawan koran ini, Nasution menjelaskan, dia telah menyampaikan maksud kedatangan wartawan koran ini, namun yang bersangkutan tidak bersedia ditemui. Tak kehilangan akal, wartawan koran ini kemudian menitipkan sejumlah pertanyaan kepada ajudan tersebut, terkait anak kembar Sugiyem yang diminta dr Chairuddin pada tahun 1977 silam.

“Sudah saya bilang ke Pak Dokter (Chairuddin, Red) mengenai kisah orang tua yang melahirkan anak kembar tahun 1977 silam seperti yang abang ceritakan tadi. Namun Pak Dokter bilang, dia bilang dia tidak ingin dijumpai karena repot dan mengenai hal tersebut, bukan urusannya lagi,” kata Nasution. Lalu kenapa Pak Dokter tak mau menemui wartawan dan menjelaskannya secara langsung? Nasution masuk ke dalam kamar dr Chairuddin, tak lama kemudian dia keluar sambil menirukan ucapan bosnya. “Aku dah gak jabat apapun (sekarang ini memang tak ada jabatan formal yang dijabat Chairuddin, Red), jadi aku gak berhak menjawab,” ujar pria berbadan tegap tersebut menirukan pernyataan Chairuddin.

Meski telah mendapat jawaban tersebut, wartawan koran ini tetap bertahan. Berharap Chairuddin keluar kamar dan memberikan penjelasan. Setelah ditunggu beberapa menit, tanda-tanda itu tak ada. "Jangan ditunggu, Pak Dokter masih lama, jam sembilan (21.00 WIB) belum tentu keluar, dan pasti tak mau memberikan keterangan," kata Nasution kepada wartawan koran ini. (dan/uma)

Anak Hilang Diduga
Sudah Jadi Dokter

* Mantan Rektor USU Sebut nama Prof Harun Al Rasyid

MEDAN-Upaya pencarian anak kembar Supardi dan Supriono yang terpisah dari orangtuanya Sugiyem dan Gimin sejak 1976 lalu, memasuki babak baru. Prof Dr dr Chairuddin P Lubis membantah pernah mengadopsi dua bayi kembar berusia 3 bulan. Tetapi mantan rektor Universitas Sumatera Utara itu mengaku pernah mengingat dr Harun Al Rasyid (Prof Dr Harun Al Rasyid) mengadopsi satu dari dua anak kembar laki-laki yang ditinggal orangtuanya di Rumah Sakit Tembakau Deli, Jalan Putri Hijau, tahun 1976 lalu.

Di sisi lain, Tumino (50), kembali menegaskan cerita orangtuanya. Adik kembarnya diserahkan kepada dr Chairuddin P Lubis tertanggal 28 Desember 1976. Ketika kedua anak kembar itu berusia SD, Tumino mengaku pernah bertemu supir dr Chairuddin dan diberitahu, satu dari dua adiknya diasuh dokter tersebut dan disekolahkan di sebuah SD di Jalan Gajah Mada.

Sedangkan saudara kembarnya satu lagi, dia tidak tahu keberadaannya. Dan bila dr Chairuddin tidak bersedia memberi penjelasan, apalagi sampai menyerahkan satu adiknya ke orang lain, pihaknya akan mengadukan permasalahan ini ke polisi dan akan menggunakan jasa pengacara.

Satu hari setelah Sumut Pos memberitakan pengakuan Sugiyem (76) yang sedang sakit karena tua dan ingin bertemu anak kembarnya yang diserahkan kepada dr Chairuddin P Lubis, 34 tahun lalu, mantan Rektor USU itu akhirnya mau dikonfirmasi melalui telepon selular, kemarin (15/2) siang. Dokter spesialis anak itu membantah pernah mengadopsi dua bayi kembar berusia 3 bulan pada 1976 silam.

Menurut Chairuddin, pada tahun itu dia masih menjalani pendidikan dokter spesialis di Rumah Sakit Tembakau Deli, Jalan Putri Hijau Medan dan masih berstatus lajang. ”Saya menikah pada Oktober 1980. Sementara anak kembar itu lahir 1976. Bagaimana saya mengadopsi anak tersebut,” ujar suami Ir Dewi Herawati itu.

Dari pernikahannya, Chairuddin memiliki seorang putra dan dua Putri. ”Anak pertama saya lahir tahun 1981 bernama Anggiah Chairuddin, anak saya yang kedua lahir 1983 bernama Ineke Nadia Demiyanti Lubis dan Ketiga lahir Pada 1987, Dian Aminitia Lubis,” terangnya.

Chairuddin menegaskan, dia tidak pernah mengadopsi anak kembar Sugiyem yang bernama Supardi dan Supriono. Namun seingat Chairuddin, ada dokter yang mengadopsi satu dari dua anak kembar laki-laki yang ditinggal orangtuanya di RS Tembakau Deli pada 1976. Rekannya sesama dokter itu bernama dr Harun Al-Rasyid, yang sekarang dikenal dengan nama Prof Dr Harun Al-Rasyid.

”Ada anak kembar yang pernah dilahirkan seorang perempuan perkebunan yang ditinggalkan di rumah sakit. Dan saat itu yang mengadopsi adalah Prof Dr Harun (nama Prof Dr Harun Al-Rasyid). Bahkan dua tahun lalu Prof Harun pernah bertanya mengenai keberadaan orangtua salah seorang anak kembar yang dirawatnya untuk dipertemukan,” ungkap Chairuddin.

Mengenai keberadaan orangtua yang sakit-sakitan untuk bisa bertemu dengan kedua anaknya, adalah kabar bagus jika memang benar itu adalah anak yang dirawat oleh Prof Harun. ”Sehingga keduanya mungkin bisa ditemukan jika memang salah seorang anak yang dirawat Prof Harun adalah benar anaknya Sugiyem,” ungkap Chairuddin.

Selanjutnya, ketika beberapa kali dihubungi ulang guna konfirmasi terkait rencana keluarga kedua anak kembar membawa permasalahan ini ke jalur hukum, Chairuddin tidak lagi mengangkat teleponnya.

Sedangkan Prof Harun yang dikonfirmasi mengenai kebenaran cerita tersebut melalui telepon selulernya belum sempat menjelaskan karena pembicaraan terganggu akibat sinyal jelek. Untuk kedua kalinya, Prof Harun tidak lagi mengangkat telepon dan ketika disampaikan melalui pesan singkat Prof belum memberikan jawaban.

***
Gagal mengonfirmasi melalui telepon seluler, wartawan koran ini mendatangi tempat praktik Prof Harun, Klinik Rasyida di Jalan DI Panjaitan Nomor 7. Namun tempat praktik dokter ahli ginjal tersebut tutup, karena kemarin memang hari libur memperingati Maulid Nabi SAW. Sementara penjaga malam yang bertugas di klinik Prof Harun, saat ditanya mengenai tempat tinggal sang Profesor, mengaku tidak mengetahui sama sekali. “Maaf ya bang, saya gak tau dimana tempat tinggalnya, lagian ini kan hari libur Prof Harun gak masuk karena sedang tutup,” sebutnya.

Sejumlah informasi mengatakan, kediaman Prof Harun berada tak jauh dari prakteknya atau di kawasan Jalan Sei Batang Serangan, tapi tak juga ditemukan wartawan koran ini. Warga sekitar tak bersedia menjawab, malah balik melotot dengan rasa curiga.

Melalui sejumlah rekan Prof Harun, wartawan koran ini mendapat data sejumlah rumah sakit tempatnya menjalankan tugas, antara lain salah satu rumah sakit di Jalan Hayam Wuruk dan Jalan Pasar Sambas. Namun di kedua rumah sakit tersebut Prof Harun sedang tidak bertugas. Wartawan koran ini kemudian kembali menelepon Prof Harun pada pukul 21.00 WIB. Nomor ponselnya aktif, namun meski telah ditelepon berkali-kali, sama sekali tak ada jawaban. SMS wartawan koran inipun tak dibalas.

Tak putus asa, wartawan koran ini kemudian bertanya pada saudara kandung Prof Harun, namun pertanyaan tentang keberadaan profesor itu, benar atau tidaknya ada anak kembar yang diadopsinya, tidak terjawab. Saudara kandung Prof Harun malah meminta wartawan koran ini tak menyebut identitasnya. Berkali-kali dia mewanti-wanti hal itu.

“Meskipun saya keluarga dekatnya, tapi mengenai ada atau tidaknya dia mengadopsi anak kembar, memang saya tidak tahu. Bahkan saya tidak tahu bagaimana cara yang bagus untuk menanyakan hal itu kepadanya (Prof Harun, Red). Mengingat itu adalah masalah keluarganya dan sangat privasi mungkin bagi dia,” sebutnya. (mag-7/uma)


Tumino: Mak, Adik Wis Kepethuk...

”Lega, akhirnya lapang dada ini. Beban berat itu akhirnya dapat terselesaikan dengan baik. Aku sudah punya jawaban kalau mamak bertanya soal tugas yang diberikan ke pundakku sebagai anak lelaki yang paling besar.”

Ucapan itu berkali-kali diungkapkan Tumino, abang kandung Supriadi dan Supriono kepada wartawan koran ini, Rabu (16/2), usai bertemu Prof Dr Harun Al Rasyid yang selama ini merawat dan membesarkan adik kandungnya sejak 34 tahun lalu. ”Mak, adek wis kepethuk (Mak, adek udah ketemu, Red),” ujarnya berkaca-kaca sambil menyebut ibunya (Sugiyem, Red) yang kini terbaring sakit karena usia senja di Aceh Tamiang.
Tumino juga berkali-kali mengucapkan terimakasih kepada wartawan Sumut Pos yang telah bersusah payah membantunya mencari dan menemukan adik kandungnya yang terpisah sejak bayi. ”Untuk adik-adik dari Sumut Pos, saya mewakili keluarga mengucapkan rasa terima kasih yang mendalam,” katanya.

Usai bertemu dengan Prof Dr Harun Al Rasyid, wartawan koran ini mengajaknya menikmati makan siang di warung depan RSUP Adam Malik. Di tempat itu, Tumino pun mengisahkan pencariannya terhadap sang adik kembarnya yang telah dilakukan intensif sejak tahun 2004 lalu.

”Sebenarnya sejak bapak (almmarhum Gimin, Red) wafat 1996 lalu, pencarian adik sudah dimulai, karena memang ada pesan bapak sebelum meninggal untuk mencarinya. Bukan untuk meminta kembali adik kami, pencarian dilakukan untuk mengetahui kondisi adik kami sekarang, juga agar pertalian darah tidak hilang,” katanya.

Namun pencarian dilakukan intensif sejak tahun 2004, setelah seorang bidan RSU Tembakau Deli bernama Dede Hartati datang ke rumahnya. Kedatangan bidan tersebut memberitahukan kedua adik kembarnya ingin bertemu keluarganya.

”Aku pun langsung ke Aceh, menemui mamak yang sejak tahun 1978 pindah ke sana. Mamak kemudian memberikan surat bertahun 1977 yang menerangkan bahwa adik kami diserahkan agar dirawat dengan baik. Karena saat itu mamak masih dirawat di RSU Tembakau Deli karena baru operasi rahim, kondisi ekonomi bapak yang hanya buruh kebun tembakau juga bisa dibilang jauh dari sederhana. Mamak bilang sangat berat berpisah dengan adik, namun karena ada dokter RSU Tembakau Deli yang berkali-kali menyatakan ingin merawatnya, mamak pun merelakannya. Apalagi saat itu, Supriono, yang paling kecil menderita sesak napas,” kisahnya.

Harapan ibunya yang sangat merindukan adik kembarnya itu luar biasa besar. Makanya ibunya langsung sering jatuh sakit saat informasi tentang keberadaan adik kembarnya tiba-tiba saja hilang. ”Bu Dede Hartati setelah mendapat fotokopian surat itu terus menghilang, tak ada kabar lagi hingga sekarang,” katanya.

Pencarianpun intensif kemudian dilakukan. Penelusuran dilakukan mulai dari keluarga kepala kampung yang ikut menyaksikan penyerahan adik kembarnya hingga ke RSU Tembakau Deli. Dari buku telepon lama, Tumino kemudian menemukan beberapa nama dan alamat yang diprediksi sebagai orang yang merawat adiknya. Namun meski telah menemukan alamat tersebut, dia tak pernah berhasil masuk ke dalam rumah apalagi bertemu pemiliknya yang ia duga merawat adik kembarnya.

”Sejak 2004 aku berusaha menemukan adik, namun tak pernah berhasil. Bebanku semakin berat, karena mamak hampir setiap waktu selalu bertanya. Tumino, adikmu wis kepetuk? Sebelum dipanggil yang Kuasa, mamak yang kini berusia 76 tahun, ingin bertemu dengan adik, meski hanya sekali. Setiap mamak bertanya aku merasa terpukul, karena sebagai anak yang paling besar, aku belum berhasil menunaikan tugas itu. Akhirnya ada jalan yang ditunjukkan Tuhan, adik-adik dari Sumut Pos akhirnya membantu saya dari beratnya beban ini,” katanya. (her/uma/dan)


Sugiyem: Alhamdulilliah Anakku Selamat…

BINJAI-Setelah menemukan titik terang keberadaan kembar Supriadi dan Supriono yang terpisah selama 34 tahun dengan ibunya, Sugiyem, selama 34 tahun, membuat perasaan keluarga ini senang dan seakan tak percaya akan hal ini terjadi. Untuk melihat lebih jauh seperti apa kegembiraan di keluarga Sugiyem, wartawan koran ini kembali menyambangi rumah Tumino, di Km 19, keluarahan Tungg Rono, Kecamatan Binjai Timur, kamis (17/2).

Namun, Tumino saat itu tak berada di rumah, ternyata, Tumino saat itu berada di sebuah warung yang tak jauh dari rumahnya. Untuk itu, wartawan koran ini menyambangi warung yang diamksud dan terlihat Tumino lagi santai menikmati segelas kopi hangat, seakan tak ada lagi beban pikiran yang melilitnya.

Begitu berjabat tangan dengan Tumino sebagai tanda salam, tampak keceriaan yang terpancar dari raut wajahnya. Bahkan, Tumino langsung menawarkan wartawan koran ini secangkir kopi. Selanjutnya, Tumino memperlihatkan media cetak Sumut Pos, yang telah berhasil menjumpakan Tumino dengan Prof Harun Al Rasyid, yang selama 34 tahun telah mengasuh dan membesarkan adik kembarnya itu sampai menjadi seorang dokter spesialis.

Sambil menikmati segelas kopi hangat, Tumino kembali bercerita, kalau ibunya, Sugiyem, yang saat ini berada di Aceh, di Simpang Kiri, Seumedoem, sangat senang dan bersyukur telah mendapatkan titik terang akan dipertemukan dengan anak kembarnya itu. “Syukur Alhamdulliah, anakku selamat, dimana dia sekarang, apa sudah bisa bertemu dengan adik kembar kamu itu,” ujar Tumino menirukan ucapan ibunya yang sangat senang saat dihubunginya via telepon.

Tumino yang ditugaskan untuk mencari adik kembarnya itu, juga mengaku, kalau ibunya sudah bersemangat kembali, setelah mendengar kabar akan ditemukannya adik kembarnya itu kepada ibu mereka. “Ibu kami sekarang lagi sakit-sakitan, tetapi masih bisa berjalan. Namun, begitu mendengar kabar akan dipertemukan kepada anak kembarnya, ibu kami sangat senang dan bersemangat,” ungkap Tumino sambil meminum kopinya.

Dengan kabar ini lanjut Tumino, semua terasa sangat menyenangkan. Dimana, tanggung jawabnya sebagai seorang anak sudah lepas, dan saya sudah tenang tidur, dan sudah dapat bersantai di kala ingin beristirahat. “Baru ini saya rasakan kepuasan dalam hidup setelah bertahun-tahun saya mencari adik kembar kami. Sekarang ini, saya sudah bisa bekerja, makan, dan istirahat dengan tenang,” ucapnya.

Tumino juga sangat bersyukur dapat bertemu dengan kru Sumut Pos yang telah ikut membantunya dalam pencarian adik kembarnya itu. “Saya rasa ya, kalau tidak ada Sumut Pos, pencarian saya ini belum berakhir. Maka dari itu, saya sangat bersyukur dengan diketemukannya dengan media Sumut Pos ini,”puji Tumino.

Bayangkan saja kata Tumino, dari tahun 2004, ia sudah mulai aktif mencari adik kembarnya. Bahkan dia sempat bersemangat setelah ada Bidan RS Tembakau Deli yang bernama Dede Hartati mencari keberadaan ibunya. Namun setelah itu bidan tersebut tak pernah muncul lagi. Hilang begitu saja yang membuat harapan untuk menemukan Supriadi dan Supriono menjadi sirna kembali.

Tumino yang saat itu sudah berjanji kepada ibunya, akhirnya menjadi bingung, kemana lagi ia harus mencari adik kembarnya itu. Sementara, hubungan dengan orang terdekat yang mengadopsi adik kembarnya itu sudah hilang. Dengan rasa penuh tanggung jawab, Tumino terus mencari, mulai dari mendatangi sejumlah alamat dr Chairuddin, hingga mencari tahu alamat baru rumah dr Charuddin. Namun, selama 7 tahun melakukan pencarian, membuat Tumino lelah dan berfikir sejenak guna mencari cara lain.

“Tahun 2010 lalu, saya terpikir kembali untuk mencari adik kembar saya, dan di dalam pikiran saya bagai mana caranya agar pencarian saya ini bisa dibantu oleh media cetak atau elektronik. Tetapi, bagai mana saya menemukan orang-orang media cetak dan media elektronik itu,” ungkap Tumino bertanya-tanya mengenang pencariannya.
Selam satu tahun, Tumino terus berpikir, hingga akhirnya, Tumino bertemu dengan temannya yang sempat bertemu dengan wartawan Sumut Pos. Untuk selanjutnya, teman Tumino menjumapkan wartawan Sumut Pos dengan Tumino. Sehingga, media Sumut Pos membuat pemebritaan dan akhirnya ditemukan orang tua yang mengasuh adik kembarnya itu.

“Kalau tidak seperti itu, saya rasa tidak akan ketemu-ketemu. Saya sendiri saja sudah lelah mencari kemana-kemana. Mungkin inilah jalan yang diberikan Tuhan, kebetulan saya bercerita dengan teman saya dan kebetulan teman saya itu kenal dengan Sumut Pos, ya alhamdulilliah, hanya dengan menunggu waktu lagi, ibu kami dapat bertemu dengan anak kembarnya,”ujar Tumino bersyukur.

Untuk mempertemukan ibu dan anak kembarnya kata Tumino, terlebih dahulu akan menelpon pihak Prof dr Harun, yang sebelumnya sudah berjanji akan mempertemukan keduanya, “Insya Allah, besok (hari ini, Red) akan saya telepon pihak dr Harun, agar ibu saya dibawa ke RS Adam Malik. Kapan ibu saya akan dibawa, tentunya akan saya kabari,”terang Tumino.

Tumino juga mengakui, jika sudah bertemu nanti, maka pihak keluarganya tentunya akan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besanya kepada Sumut Pos, yang telah ikut bekerja sama membantu mempertemukan anak dan ibu yang telah terpisah selama 34 tahun lamanya. “Kami akan terus bawa Sumut Pos, sampai ibu dan anak kembarnya bertemu,” kata Tumino.(hamdani)


Nomine Rida Award 2011

Selengkapnya..

Laskar Pelangi dari Sadan

Menyusuri Pedalaman Hutan Bukit Tigapuluh


Pernahkan terbayangkan, anak umur tujuh tahun menempuh perjalanan menuju sekolahnya dengan tantangan alam yang luar biasa? Sepuluh orang anak Melayu Belitong pernah mengalaminya tiga puluh tahun lalu. Mereka terkenal lewat novel Laskar Pelangi. Di Riau, tepatnya di pedalaman hutan Bukit Tigapuluh hal serupa terjadi. Bukan tigapuluh tahun lalu tetapi hingga hari ini.


Laporan HELFIZON ASSYAFEI, Rantau Langsat
helfizon@riaupos.com

MALAM baru saja menanggalkan jubah hitamnya. Fajar menyingsing menimbulkan safak merah dan kuning di ufuk Timur. Suatu pagi yang asri dan segar di pedalaman hutan Bukit Tigapuluh, Rabu (16/3). Embun pagi masih menetes di dedaunan. Angin bertiup pelan membawa hawa dingin yang menerpa kulit. Jejak hujan tertinggal pada ceruk-ceruk jalan setapak yang tergenang air. Suara satwa hutan terdengar saling bersahutan.

Ketika itu kami (tim liputan khusus Riau Pos, red) sedang berada di pedalaman hutan. Tepatnya di kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT). Kawasan ini terletak pada ketinggian 60 - 843 meter di atas permukaan laut dengan puncak tertinggi terdapat pada Bukit Supin.

Daerah perbukitan ini terpisah dengan rangkaian pegunungan Bukit Barisan yang memanjang dari Selatan ke Utara Pulau Sumatera. Secara administratif kawasan hutan Bukit Tigapuluh ini terletak di dua provinsi yaitu Provinsi Riau pada Kabupaten Indragiri Hulu (81. 223 ha) dan Indragiri Hilir (30.000 ha) serta Provinsi Jambi pada Kabupaten Tanjung Jabung Barat (10.000 ha) dan Tebo ( 23.000 ha).

Jalan setapak di dalam hutan itu tidak rata, basah, licin dan dipenuhi akar pepohonan yang bermunculan di permukaan tanah. Bunyi ranting patah dipijak orang sesekali terdengar dikesunyian hutan pagi itu. Bunyi itu berasal dari kaki-kaki kecil tak beralas yang melangkah selincah kijang hutan. Berjalan seperti orang yang memiliki ilmu meringankan tubuh dalam cerita silat. Kami ikut rombongan kecil yang sedang melintas hutan. Rombongan kecil itu terdiri anak-anak berseragam sekolah yang sedang berjalan paling depan.

Di belakang mereka ada Suwandi penduduk lokal, Andi Moenandar seorang staf dari Kantor Balai TNBT dan Riau Pos mengikuti. Kami ingin tahu rute yang ditempuh anak-anak di sana untuk mencapai sebuah sekolah marjinal di Dusun Sadan, sebuah dusun kecil di tepi Sungai Gangsal di kaki Bukit Tigapuluh. Rute yang dilewati cukup menantang. Jalan setapak dalam hutan itu tidak seperti jalan setapak umumnya. Tidak mudah dikenali karena sebagian besar nyaris tidak kelihatan ditutupi rimbun semak belukar dan akar yang menjuntai dari pepohonan. Meski demikian anak-anak itu tahu caranya. Hanya dengan melihat semak yang rebah lebih rendah dari yang lain mereka tahu itu kode jalan setapak dalam hutan.

Mereka terus berjalan. Sementara kami tercecer di belakang dengan badan yang basah oleh keringat. Medan yang dilalui memang tidak mudah bagi yang tidak biasa. Sesekali harus melintasi lereng bukit dengan kelandaian 45 derajat dengan kondisi licin. Apalagi malam sebelumnya turun hujan lebat. Lereng bertanah liat kuning itu makin licin. Ketiga siswa SD yakni Yuna (7), Anggi (7) dan Kurnia (8) itu sembari memegang sepatu di tangan, enteng saja melewati lereng tersebut. Sedangkan kami harus berpegangan pada akar pepohonan yang keluar dari tanah. Upaya ini untuk menahan tubuh agar tak merosot ke bawah karena pijakan di tanah liat membuat kaki mudah tergelincir.

Nafas kami tersengal-sengal mengimbangi kecepatan kaki-kaki kecil tersebut. Sejurus kemudian sebuah tantangan lain menunggu: melintasi anak sungai lewat batu-batu pegunungan yang menonjol keluar perut sungai. Batu tersebut berlumut dan licin karena dilalui aliran air terjun bertingkat hanya satu meter di belakang batu-batu itu. Air terjun bertingkat itu bernama air terjun Tembulun Kuning. Dinamakan seperti itu menurut penduduk lokal setempat, Suwandi, karena dulunya wilayah itu ada dusun yang didirikan oleh tetua kampung setempat bernama Datuk Tembulun Kuning.

Sekarang dusun itu tidak ada lagi. Hanya tinggal nama. Sedangkan wilayah itu telah jadi hutan dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi.

Melintasi batu licin karena lumut dan derasnya air cukup memicu adrenalin. Sedikit saja silap dan tergelincir batu cadas lainnya menunggu di bawah. Sebuah tantangan yang cukup berbahaya melintasinya. Lagi-lagi kami melihat ketiga bocah itu tak menemui kesulitan berarti melewati anak sungai berbatu yang dihiasi air terjun tersebut. Sementara kami merangkak memegangi ujung batu yang pecah agar tak tergelincir, anak-anak itu telah sampai di seberang. Mereka tak dapat menahan tawa melihat cara kami melintasi anak sungai berbatu tersebut.

Perjalanan dilanjutkan dan kembali masuk hutan. Sejenak suasana agak gelap karena pohon-pohon tinggi saling bertautan menghalangi sinar mentari mencapai tanah. Kami berhenti sejenak di sebuah gundukan tanah yang diberi batu di bagian depannya yang menghadap ke Utara.

”Ini makam Datuk Tembulun Kuning,” ujar Suwandi menjelaskan. Di sekitar pusaranya masih terdapat dua batang bambu yang terpacak bekas tempat lampu colok yang masih menyisakan abu di sumbunya. ”Orang-orang yang pernah tinggal di kampung ini masih kerap kemari ziarah,” ujar Suwandi lagi.

Kaki-kaki kecil tanpa alas itu kembali melangkah. Sejurus kemudian kami kembali menemukan anak sungai yang jernih dan dangkal. Dasar sungai itu penuh dengan pecahan kecil-kecil bebatuan pegunungan. Airnya yang dingin dan segar langsung menyergap kaki saat masuk ke dalamnya. Hanya selutut orang dewasa. Setelah itu perjalanan napak tilas itu berlanjut. Setelah sebuah turunan tajam kami berhadapan dengan rawa yang terkesan agak liar. Namun tidak bagi ketiga bocah itu.

Sembari berlari kecil rawa berlumpur itu sukses mereka lalui. Akan halnya dengan kami yang mengikuti tak semudah itu. Ketika kaki terbenam selutut ditarik untuk melangkah, alas kaki berupa sandal jepit langsung tertinggal di lumpur. Tak ada waktu mencari sendal itu lagi karena ketiga bocah kecil itu telah sampai di bibir Sungai Gangsal. Hujan yang turun semalam membuat sungai banjir dan arus deras. Sangat berisiko untuk direnangi menyeberang. Untunglah ada sampan.

Di dalam sampan barulah fotografer Riau Pos menyadari sejumlah pacet (lintah, red) telah menempel di kaki hingga ke pahanya. Satunya lagi menempel di pergelangan tangan kanan yang saat ditarik menimbulkan lubang kecil yang mengalirkan darah cukup banyak. Sejurus kemudian sampan kami merapat ke tepian Dusun Sadan. Di sana kami bertemu Anwardi (50). Anwardi adalah warga Dusun Nunusan sekitar 13 km di hilir Dusun Sadan. Ia ada keperluan ke Sadan.

Ketika mendengar Riau Pos melakukan napak tilas rute anak sekolah dari Tembulun Kuning menuju Sadan, ia tersenyum. ”Itu baru jarak sepelemparan batu. Belum lagi tu,” ujar nya terkekeh. Dari penuturan Anwardi, rute yang dinapaktilasi Riau Pos itu belum apa-apa diban ding jarak yang harus ditempuh anak-aak dari Dusun Tanjung Lintang tak jauh dari Dusun Nunusan tempatnya tinggal.

Dengan jarak tempuh sekitar 10 km lewat Sungai Gangsal yang penuh liku jelas tidak memungkinkan bagi anak-anak di Tanjung Lintang sampai ke sekolah pada waktunya. Maka sebuah pilihan penuh tantangan dilalui anak-anak itu. Mereka harus menempuh jalan darat memotong dengan keluar masuk hutan lebat dan naik turun bukit.

Lebih dahsyat lagi mereka tidak kurang dari lima kali menyeberangi Batang Gangsal yang lebar dan berarus deras tersebut. Tujuannya memotong jalan agar le bih dekat dari pada bersampan mengikuti alur sungai yang penuh liku.

Penuturan Anwardi dibenarkan oleh staf TNBT, Andi Moenandar. Dalam tugas rutinnya turun ke hutan pedalaman Bukit Tigapuluh menggunakan perahu tempel, ia kerap melihat rombongan anak-anak umur tujuh hingga dua belas tahun tahun berenang melintasi Batang Gangsal untuk mencari jalan pintas menuju Sadan. ”Sambil berenang dengan satu tangan, tangan lainnya mengangkat tinggi-tinggi pakaian sekolah mereka agar tidak basah,” ujar Andi. Artinya jika dihitung pulang pergi tidak kurang dari 10 kali berenang menyeberang ditambah keluar masuk hutan.

Dari penuturan Anwardi tergambar semangat besar anak-anak pedalaman tersebut. ”Apapun cuacanya mereka tak mau dilarang dan bersikeras ingin sekolah,” ujar Anwardi. Kecuali bila hujan lebat dan arus sungai makin ganas maka anak-anak kelas I tidak akan dilepas orangtuanya berangkat ke Sadan. Sedangkan kelas III ke atas sulit mela¬rangnya. Terkadang alasan ke kebun, lanjutnya, ternyata diam-diam telah ikut konvoi teman sebaya melintas hutan dan sungai menuju Sadan untuk belajar.

Padahal, lanjutnya, pada musim hujan lebat, medan menuju Sadan makin ganas. Hujan lebat bisa me ngubah jalan setapak jadi sungai yang bisa menggenangi daratan hingga setinggi dada orang dewasa. Belum lagi guruh dan halilintar yang dapat membuat pohon kelapa dan pohon hutan lainnya bergelimpangan terbelah dua menutup jalan-jalan setapak yang ada.

”Tolong sampaikan suara kami ini pada bapak-bapak pejabat di kota sana, kalau bisa tolonglah sekolah itu juga dibuat di Dusun Nunusan agar anak-anak tak terlalu jauh berjalan hingga ke Dusun Sadan untuk sekolah,” ujarnya. Ia juga mengundang Riau Pos nanti pada saat pulang ke hilir agar singgah sebentar di Dusun Nunusan. ”Lihatlah kampung kami cukup ramai. Ada sekitar 35 kepala keluarga. Jadi sudah layak memiliki sekolah sendiri,” ujarnya berharap.

Sanggar Belajar Sadan
Menginjakkan kaki di halaman sanggar belajar Sadan mata kami langsung disambut pemandangan dua rumah papan dicat kapur putih kontras dengan pepohonan hutan hijau ranau di belakangnya. Pekarangan sekolah yang cukup luas itu serasi dengan rumput halus yang tumbuh di depannya bak permadani sutera hijau yang indah. Di depan satu rumah papan itu berdiri sebuah plang nama berwarna dasar hijau dengan deretan huruf berwarna kuning. Di sana tertulis: Sanggar Belajar Sadan. Juga tertulis di atasnya Penyelamatan dan Konservasi Harimau Sumatera (PKHS).

Di teras depan kelas berlantai tanah itu sebatang tiang bendera tersandar membentuk sudut landai 45 derajat. Bendera Merah-Putihnya belum dilepas dan bersama tiang atasnya terselip di atap pojok kanan teras. Sedangkan tiangnya melintang hingga ke depan pintu kelas yang terkunci rapat. Tidak ada aktivitas apa-apa. Sekolah itu hanya memiliki satu kelas tak sampai seluas sebuah lapangan bulutangkis. Berdinding papan dengan cat kapur putih tanpa jendela. Hanya ruang ventilasi udara di bagian atas kelas setinggi 0,5 meter yang dipasangi kayu biasa. Kursi dan meja yang terbuat dari ranting kayu hutan tertancap ke lantai tanah ruang kelas itu. Kami dikerubuti agas (nyamuk hutan, red) begitu melangkah ke dalam kelas. Tiap sebentar harus memukuli kaki dan tangan menghalau serangan agas itu.

Di dinding kelas depan ada sebuah papan tulis hitam dengan sejumlah tulisan kapur soal angka-angka pertambahan dan pengurangan yang belum dihapus. Di atasnya lagi terpampang gambar Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono. Di sebelahnya lagi Wakil Presiden Boediono yang gambarnya melengkung ke depan akibat tak dibingkai.
Mata Yana tampak berbinar. Juga Anggi dan Kurnia. Mereka tak dapat menyembuyikan ke gembiraan mereka saat masuk ke kelas itu. Begitu juga kehebohan sejumlah teman-teman mereka di Dusun Sadan yang ramai-ramai datang ke sanggar. Pasalnya sudah tiga bulan tidak ada aktivitas di sanggar itu. Dan mereka tak tahu kenapa.

Ompol (45) seorang warga setempat yang hendak ke anak sungai di belakang sekolah berhenti melihat ada rombongan di depan sanggar itu. Ia mendekat. Dari penuturannya kepada Riau Pos ia sedih setiap melihat sanggar itu. “Anak-anak saya selalu ber tanya mengapa sekolah tidak buka yah?” ujarnya. Ompol berharap agar sanggar itu secepatnya kembali aktif. Kegundahan serupa juga dialami oleh Suwandi Ketua RT Sadan. “Saya risau juga karena sebagian anak warga sudah ada yang ke Lemang untuk bisa sekolah di sana,” ujarnya.

Sedangkan mereka masih menunggu kemungkinan sanggar belajar ini diaktifkan lagi karena ke Dusun Lemang jelas perlu biaya. Sebagian besar siswa sanggar itu tak memakai alas kaki dan juga tak memiliki seragam. Hanya tiga bocah yang kami ikuti tadi yang punya seragam bekas hasil sumbangan dari PKHS. Kelas sederhana itu dipakai bergantian. Pagi untuk kelas satu, dua dan tiga. Jelang siang dipakai untuk kelas empat, lima dan enam.

Sekolah itu tidak pernah dikunjungi penjual kain, penilik sekolah apalagi anggota dewan. Satu-sa tunya yang rajin berkunjung a dalah seorang pria sederhana bernama Lancar. Ia kepala sekolah merangkap jadi guru di sanggar belajar itu. Lancar sejatinya bukan guru. Ia staf TNBT rekrutan lokal yang dikontrak PKHS mengajar di Sadan. Meski nilai kontrak tidak seberapa, Lancar terpanggil jiwanya. Apalagi tidak banyak yang mau dan mampu bertahan di dalam hutan untuk mengajar anak-anak itu. Masuk ke sana berarti komunikasi terputus dari dunia luar. Tidak ada sinyal telepon genggam apalagi listrik.

”Sekali masuk ke dalam saya bertugas hingga 15 hari. Sisanya teman saya lainnya,” ujar Lancar yang sempat bertemu Riau Pos sehari sebelum kami turun ke Dusun Sadan.
“Pernah ada keluarga yang meninggal saya tak bisa dihubu ngi dan baru tahun 15 hari kemudian setelah keluar dari Sadan,” kenangnya. Untuk mengetahui kemampuan para murid, lanjutnya, se tiap enam bulan dilakukan evaluasi (ujian semester). Beberapa mata pelajaran yang diajarkan dan diujikan yakni Bahasa Indonesia, Matematika, Sains (IPA), Ilmu Pengatahuan Sosial (IPS), Seni dan Keterampilan. Sampai akhir tahun 2008, jumlah murid yang telah memiliki kemampuan membaca, menulis dan berhitung dengan baik dan lancar berjumlah 27 murid.

Untuk memperkaya materi yang diberikan, Lancar menjalin kerja sama dengan SDN 026. Ia kerap memberikan soal-soal yang diujikan dalam berbagai ujian resmi dan ternyata mereka cukup mampu untuk memahami dan mengerjakan soal-soal itu. ”Hasilnya tujuh orang di antara mereka yang kelas enam dipersiapkan untuk mengikuti ujian nasional tahun ini,” ujarnya lagi. Lalu mengapa sudah tiga bulan vakum?

Kordinator PKHS Bukit Tigapuluh, Santoso saat dihubungi Riau Pos mengatakan bahwa kevakuman itu disebabkan masalah klasik yakni dana. Dana funding PKHS dari Inggris yang biasanya diterima per tiga bulan, macet di akhir Desember 2010. Dampaknya operasional PKHS untuk Januari-Maret 2011 juga ikut macet. ”Anggaran tidak turun se hingga kita tidak bisa menurun kan guru ke Sadan,” ujar Santoso.

Untuk bisa sampai ke Sadan tidak ada transportasi reguler. Oleh karena itu mereka melakukan kontrak per tiga bulan dengan warga lokal pemilik perahu mesin boat tempel. Satu kali berangkat ke dalam menuju Sadan sewa pe rahu Rp750.000. Pulang-pergi Rp1.500.00. Belum lagi biaya makan yang dianggarkan Rp30.000 per hari.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah mengapa PKHS malah tertarik membangun sekolah sedangkan bidangnya pelestarian harimau Sumatera? Santoso menjelaskan awalnya tidak terpikir bangun sekolah. Se telah sebuah kasus penangkapan harimau oleh pemburu dengan memperalat masyarakat lokal PKHS sadar bahwa pelestarian harimau tidak bisa secara parsial. “Kami ingin sejak dini mereka mendapatkan pendidikan agar tak mudah diperalat kelak oleh orang-orang yang punya itikad buruk,” ujarnya. Lewat mengajari anak-anak, tambahnya, pesan pelestarian lingkungan juga sampai ke orangtua mereka.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa program pendidikan bagi anak–anak pedalaman TNBT pertama kali didirikan dan dilaksa nakan oleh PKHS tahun 2003. Lokasi kegiatan pendidikan berada di dusun Datai. PKHS mendirikan dan mengelola sebuah tempat belajar yang sangat sederhana dan diberi nama Sanggar Belajar Datai. Sanggar belajar ini sempat jalan dua tahun dan berakhir pada Desember 2005 karena tidak ada biaya.
Pada akhir operasional sanggar belajar ini, jumlah murid yang pernah belajar adalah 82 orang. Selama kurun waktu 2 tahun, sebanyak 33 orang murid telah memiliki kemampuan membaca, menulis dan berhitung atau sekitar 40 persen dari keseluruhan murid. Kemudian pada pertengahan 2007, sanggar ini diteruskan pengelolaannya oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Indragiri Hulu lewat UPTD Pendidikan Batang Gangsal.
Pada awal 2007 PKHS mengembangkan sanggar belajar berikutnya lebih ke hilir. Lalu dipilihlah Dusun Sadan untuk merintis sekolah marjinal berikutnya.

Dusun Sadan dipilih karena secara geografis berada di tengah-tengah. Terdapat tujuh dusun dalam wilayah Desa Rantau Langsat di sepanjang Sungai Gangsal dari hulu ke hilir, Dusun Datai, Suit, Air Bomban, Sadan, Tanjung Lintang, Nunusan dan Lemang, yang ditempati oleh masyarakat Talang Mamak dan Melayu Tua. Masyarakat tersebut tinggal tersebar di 15 pemukiman, di mana pemukiman Datai Tua, Suit, Air Bomban, Nunusan dan Lemang sebagai pusat dusun.

Lebih lanjut Santoso menjelaskan bahwa sanggar belajar itu resmi dibuka PKHS Pada tanggal 15 Mei 2007. Pada tahap awal terdaftar 56 murid. Mereka berasal dari Dusun Suwit (39,1 persen), Sadan (30,7 persen), Air Bomban (21,3 persen) dan Tanjung Lintang (8,9 persen). Selanjutnya jumlah murid mengalami fluktuasi dengan ada nya murid yang keluar dan yang masuk menjadi murid baru. Jumlah murid pernah mencapai 72 orang pada Desember 2007.

Alasan murid keluar atau berhenti adalah karena menikah atau ikut orang tua pindah. Di samping itu sering terjadi murid yang telah keluar atau lama berhenti tetapi kemudian masuk dan belajar kembali. Biasanya hal ini karena mereka harus membantu orang tua bekerja terutama pada musim membuka ladang dan menanam padi serta waktu musim panen

Mencapai Sadan
Sadan hanya sebuah dusun kecil di bawah kaki bukit tigapuluh. Terletak di bibir Batang Gangsal dan dikelilingi hutan. Ia adalah bagian dari Desa Rantau Langsat, Kecamatan Batang Gangsal, Kabupaten Indragiri Hulu Riau. Dari Kota Pekanbaru kita harus menuju Pematang Reba-Rengat melewati Jalan Lintas Timur berjarak tempuh 196 Km. Dari Pematang Reba menuju pintu masuk melalui simpang Siberida jarak tempuh mencapai Rp50 km.

Untuk mencapai akses Sungai Gangsal di Dusun Lemang jarak tempuh dari simpang Siberida mencapai 13 Km ke dalam melewati beberapa dusun yakni Dusun Usul, Siambul, Siamang dan Lemang. Menjelang Dusun Siambul yang ada hanya jalan tanah dengan pasir dan batu (sirtu). Mobil kami hanya bisa sampai di Dusun Siambul karena rute berikutnya jalan tanah liat yang licin dan penuh lubang sebesar kubangan kerbau.
Mulai dari Siambul kami harus menggunakan ojek dengan tarif Rp25.000 per orang. Melewati deretan kebun karet dan dusun-dusun kecil. Makin ke dalam kondisi jalan makin menantang. Jalan berlubang, licin dan penuh tanjakan curam dan turunan yang tajam. Gas di putar habis oleh pengendara ojek membuat mesin meraung-raung dan tubuh terguncang-guncang dengan jantung berdegup. Di beberapa tempat kami terpaksa turun karena tanjakan penuh lubang besar berlumpur.

Kami sempat melihat sebuah mobil pick-up terjebak dalam kubangan lumpur di tengah jalan dan sedang didorong ramai-ramai oleh penumpangnya. ”Mereka mau mengambil/membeli karet ke dalam bang,” ujar Astar sang pengojek. Untuk mencapai Dusun Lemang kami melewati dua dusun lagi masing-masing Rantau Langsat dan Siamang. Setelah mencapai Dusun Lemang barulah kami melihat satu SDN 004. Ojek kami terus melaju. Pada pukul 13.30 WIB akhirnya kami mencapai Dusun Lemang. Personil TNBT, Andi Munandar kemudian menghubungi pemilik perahu tempel. Mereka bersedia mengantar ke dalam dengan biaya sewa perahu tempel Rp800.000. Tak bisa dinego lagi dan tak ada pilihan.

Kami bergerak dari Dusun Siamang ke hulu melawan arus menggunakan perahu bermesin tempel merk Yamaha berkekuatan 15 PK. Panas menyengat kulit saat sampan tempel kami bergerak meninggalkan Dusun Siamang pukul 14.30 WIB. Namun angin dingin yang menerpa kulit jadi penawar sengatan mentari. Baru beberapa menit perahu tempel berjalan, keindahan Sungai Gangsal mulai terpampang di depan mata. Alur sungai yang berkelok-kelok dengan kiri kanan perbukitan yang hijau ranau menampilkan sebuah landscap alam yang memukau. Tak jarang kami menemui pohon-pohon besar saling bertautan dari masing-masing pinggir sungai dan kami lewat di bawahnya. Sinar mentari yang terik menerpa sungai dan memantul ke pepohonan rimbun yang akarnya menjuntai ke bawah menimbulkan siluet jingga yang eksotis.

Tipikal Sungai Gangsal adalah khas sungai pegunungan. Meski lebar tetapi tidak semuanya dalam. Sebentar dalam sebentar dangkal. Tarji si juru mudi dan Tarjo pengendali depan dengan menggunakan galah harus berjibaku mengendalikan perahu tempelnya mencari tempat yang dalam agar kipas mesin tidak menyangkut atau membentur bebatuan yang banyak di dasar sungai. Tak jarang batu-batu besar mencuat di permukaan sungai seperti dam raksasa yang harus dilewati. Melewatinya kita merasakan sensasi arung jeram yang memicu adrenalin.

Di sepanjang tepian Sungai Gangsal terdiri dari dusun-dusun kecil yang terpisah-pisah oleh hutan. Bagi yang ada dusun biasanya hutan di sana telah berubah jadi kebun karet. Meski demikian masih terdapat sejumlah hutan di tepi hutan yang lestari. Menurut keterangan staf TNBT, Andi Munandar, masyarakat lokal memiliki kepercayaan terhadap hutan larangan yang lazim mereka sebut hutan fuake. Hutan fuake ini tidak boleh ditebang karena diyakini mereka sebagai tempat bersemayan roh-roh pendahulu mereka. Bila ditebang juga maka malapetaka akan menimpa orang yang melanggarnya.
Dampak positifnya hutan-hutan dengan pepohonan bernilai ekonomi tinggi masih terjaga hingga kini. Di sepanjang Sungai Gangsal khususnya lagi di hutan fuake kita masih bertemu dengan aneka pohon langka seperti kulim, seminai, kerving, kempas, gaharu dan mersawa. Dari tengah sungai kita masih dapat menyaksikan pohon langka lainnya seperti Balau, Meranti, Kayu Batu, Jelutung, Pulai, Resak, Bidara dan Keranji. Tak ketinggalan pohon durian dan petai yang sedang musim.

Aneka fauna di alam liar seperti burung pemakan ikan (king fisher), kupu-kupu bersayap hijau, siamang dan beruk berayun-ayun. Lutung dan simpai sesekali turun dari dahan-dahan pohon ke batu-batu besar di pinggir sungai untuk minum dan bermain-main air. Tak terasa kami terus melaju melewati sejumlah dusun antara lain Dusun Air Buluh, Air Tabu, Nunusan dan Nyasih. Begitu melewati Dusun Tanjung Lintang awan mulai gelap. Gerimis pun berjatuhan.

Sayangnya hanya ada satu terpal yang bisa menutupi barang bawaan dan maksimal dua orang. Selebihnya penumpang perahu tempel diterpa gerimis. Mendekati Dusun Tanjung Lintang (10 km dari Sadan) gerimis tadi berubah jadi hujan lebat disertai kilatan petir dan guruh yang membahana. Arus deras Sungai Gangsal membuat perahu tempel menjadi berat. Tarji dan Tarjo terus berjuang keras mengendalikan sampan yang makin berat melawan arus. Hujan tak berhenti hingga hampir satu jam lebih. Kami semua basah kuyup. Terpal kecil tak berdaya menghadang curah hujan yang bak ditumpahkan dari langit.

Jelang Magrib di tengah hujan deras yang mengguyur akhirnya perahu tempel kami memasuki Dusun Sadan. Tak berapa lama kami merapat ke tepian Dusun Sadan. Sebuah pelantaran dari rakit yang tertambat jadi pijakan setelah keluar dari perahu tempel. Kami sampai di rumah Ketua RT Dusun Sadan, Suwandi, dalam keadaan basah kuyup. Kami lega telah mencapai Sadan. Di luar malam semakin pekat diiringi rintik hujan. Kami tak sabar menunggu besok karena ingin segera bertemu dengan Laskar Pelangi dari Sadan.***

• Nomine Rida Award 2011

Selengkapnya..

Rabu, 21 September 2011

Kartini Itu, Lahir dari Negeri Tetangga

Nessa Kartika, TKW Singapura yang juga Penulis Buku

Laporan Sultan Yohana, Batam

HARI MINGGU, bagi sebagian pembantu wanita di Singapura adalah hari kebebasan. Pergilah ke tempat-tempat kongkow seperti Marina, Orchird Park, City Hall, atau Bugis, di sana ribuan buruh migran, terutama dari Indonesia, menghibur diri, bercengkrama bersama rekan-rekan sedaerah sembari berekreasi. Tapi tidak bagi Nessa Kartika. SMS saya untuk mengajaknya bertemu dalam sebuah wawancara, awalnya dibalas dengan sebuah penolakan kecil. "Saya hanya punya waktu satu jam kalau hari ini (Minggu, 17 April). Saya baru libur tanggal 24 minggu depan," tulis Nessa dalam pesan singkatnya kepada saya.

Tapi, satu jam, bagi saya sudah cukup untuk sebuah wawancara awal kepada pembantu rumahtangga asal Wonosobo, Jawa Tengah tersebut. Saya berpikir, pertanyaan-pertanyaan yang belum sempat terjawab dalam pertemuan nanti, bisa dilanjutkan lewat pesan di Facebook atau e-mail. Nessa pun kemudian setuju. Janji bertemu pada Minggu (17/4) siang di Tech Whye Avenue Blok 8, Choa Chu Kang, tempat tinggal majikan Nessa, berlangsung dengan sangat tergesa. "Kita bertemu di blok antara 10-12 ya, di playground," jawab Nessa membalas pesan saya. 'Bukankah tempat tinggal dia di blok 8?' pikir saya ketika itu.

Pertanyaan itu baru bisa saya jawab sendiri - tentunya dengan sejumlah kira-kira - ketika saya harus menunggu sekitar 15 menit dari perjanjian awal. Ia datang, bert-shirt warna pink yang sudah pudar plus span berbahan jeans yang tak bermerek. Sendal jepitnya tipis sedikit kusam, tapi kuku-kuku kakinya bersih terawat dengan cat kuku sewarna dengan t-shirt yang ia kenakan siang itu. Mendorong kereta bayi yang ada balita berusia dua tahun di atasnya, Nessa sepertinya belum bisa melepaskan "statusnya" sebagai pembantu rumahtangga: tidak percaya diri menghadapi orang baru dikenal.

Padahal Nessa adalah pembantu yang spesial. 22 Februari lalu, pertama kali informasi tentag spesialnya Nessa saya baca lewat feature yang diterbitkan hampir setengah halaman oleh The Strait Times, suratkabar terbesar terbitan Singapura. "Maid Pens Stories with Drama, Spice, and Real Life", begitulah Straits Times memberi judul feature yang mengisahkan kehidupan wanita kelahiran 27 Mei 1983 itu. Nessa seorang pembantu rumahtangga. Namun dari tangannya, sudah berbuah kisah-kisah yang kini telah dibukukan dan diedarkan. Tulisan-tulisannya menghadir dalam buku Luka Tanah Priok, 30 hari Dalam Cinta-Nya, Karenina Singa Bauhinia, Tiga Biru Segi, Lamunan Bidadari, Bicaralah Perempuan, Be Strong Indonesia, Ibuku Adalah..., Kisah Kasih di Masa Lampau, dan Kisah Pelangi.

Buku Karenina Singa Bauhinia dilaunching pada 20 Februari lalu di Chinese Garden, Singapura. Peluncuran berlangsung meriah, atas prakarsa Indonesia Family Network (IFN) dan Buruh Migran Indonesia (BMI) di Singapura. "Launching itu sekaligus dibarengi dengan ulangtahun IFN kelima," tambah Nessa.

Dihadiri oleh rekan-rekan sesama pembantu rumahtangga di Singapura, Nessa mengaku, sebagian besar cerita-cerita yang dibukukan adalah persoalan para buruh migran. "Kadang-kadang datang dari curhat teman-teman, Kalau ndak ada, saya justru minta pada teman-teman ide, 'ayo ceritakan apa idenya," jawab Nessa ketika saya tanya dari mana ide menulis datang.

Lahir dengan nama Anisa Hanifa, Nessa remaja menyelesaikan sekolah terakhirnya di SMK Negeri 1 Wonosobo pada tahun 2002. Kesulitan ekonomi karena kedua orangtuanya, Siti Maria dan Moch Hatru bercerai, memaksa Nessa untuk memilih menjadi buruh pabrik di Bandung seusai lulus sekolah. Maklum, ia adalah putri sulung dari sembilan bersaudara (lima sekandung). Jadi, tanggungjawab besar untuk membantu perekonomian keluarga ada di pundaknya.

Setahun bekerja di Bandung, pada Mei 2003 Nessa memutuskan untuk menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di Hongkong. Di Desa Lipursari, Wonosobo, tempat di mana Nessa lahir dan besar, profesi TKW memang menjadi pilihan utama warganya selain bertani. Ibu Nessa sendiri, Siti Maria, adalah TKI. "Di desa saya banyak yang jadi TKI. Laki-lakinya banyak juga yang jadi TKI di Taiwan," imbuh Nessa. "Sekarang banyak (TKI) yang sudah pulang sukses ngajar di SD, jadi PNS, buka rumah makan. Ibuku buka Rumah Baca."

Pekerjaan pertama Nessa sebagai TKW di Hongkong adalah menjaga anak balita. Tapi ketika itu, belum terbersit sedikitpun di benak Nessa keinginan untuk menulis. Genap 15 bulan bekerja di Hongkong, ibu satu anak ini kemudian memutuskan pulang kampung. Di tahun itu juga, Nessa menikah dengan pria sekampung pilihannya, Wahidin. Setahun kemudian, ia dikarunia seorang putra yang diberi nama Axl Satriaji yang kini berusia 6 tahun.

Wahidin, menurut Nessa, adalah petani seumumnya lelaki di desanya. Selama menikah mereka menumpang di rumah orangtua mereka. Hingga akhirnya, keinginan untuk membuat rumah sendiri datang namun kondisi ekonomi kembali tak memungkinkan untuk membuat rumah. Nessa kemudian berunding dengan suaminya, dan memutuskan untuk kembali menjadi tenaga kerja wanita. Kali ini, negeri Singapura menjadi tujuan berikutnya. "Ini (bekerja di Singapura) adalah pilihan saya sendiri. Saya pingin membikin rumah," tegas Nessa.

Tahun 2007, Nessa berangkat ke Singapura. Di sana, tepatnya di majikannya yang tinggal di daerah Sengkang, Nessa dibebani tugas menjaga orangtua lanjut usia. Di sela-sela waktu kosong menjaga orang lansia itulah Nessa gemar berselancar di internet, terutama membuka situs-situs penulisan. Lewat mailing list (milis) "Kosokata" di Yahoo.com, Nessa kemudian mengenal dunia tulis menulis. "Di milis itu, ada penyair-penyair Jawa Timur seperti Pak Bonari," ungkap Nessa.

Di milis Kosokata itu juga, Nessa kerap memamerkan tulisan-tulisannya, terutama puisi yang ketika itu dibuat sebagai bentuk dari curahan hatinya sendiri bekerja di negeri orang. Respon kemudian muncul. Ada diskusi menarik antaranggota milis untuk membahas satu per satu tulisan yang dipamerkan. Di situlah Nessa mengaku belajar bagiamana menulis yang baik. "Saya juga publish di Facebook. Datang banyak kritik untuk tulisan saya, 'eh ini salah, ini harusnya begitu'. Saya jadi mulai tertarik dan tahu bagaimana menulis yang betul," tambahnya.

Sejak perkenalannya dengan milis Kosokata, karya-karya Nessa bak air bah yang deras mengucur kapan saja. Dari semula menulis hanya untuk mencurahkan emosinya saja, sejak saat itu menulis sudah menjadi kewajiban tersendiri bagi wanita berambut lurus tersebut. "Beruntung majikan saya mengizinkan aktivitas menulis. Mereka mengizinkan saya pakai komputer mereka. Tapi mereka berpesan, 'menulis boleh, asal anaku harus diperhatikan ya'," kata Nessa sembari terkekeh.

Majikan yang sekarang, menurut Nessa adalah majikan keduanya di Singapura. Kontrak pertama ia ditugaskan menjaga lansia. Setelah dua tahun kontrak selesai, Nessa pulang namun kembali ke Singapura pada 2009 untuk menjaga balita hingga sekarang. "Majikan lama dengan majikan yang sekarang sebetulnya bersaudara. Target saya pulang setelah bisa buat rumah dan beli motor," ungkap Nessa.

Proyek Buku I
Ketrampilan menulis Nessa kian lama kian terasah. Hingga kemudian, kesempatan membuat buku muncul saat diajak proyek membuat buku puisi oleh seorang rekan sesama TKW yang dikenalnya di Hongkong, Mega Vristian. Mereka kemudian sama-sama menerbitkan buku kumpulan puisi berjudul Luka Tanah Priok (2010). Kelar dengan buku pertama, bersama rekan-rekannya sesama TKI di Singapura, Nessa kemudian membuat buku tentang pengalaman mereka berpuasa Ramadan di Singapura. Buku 30 hari Dalam Cinta-Nya, serta menerbitkan Karenina Singa Bauhinia yang Februari lalu dilauncing. "Sebetulnya Karenina Singa Bauhinia sudah dilaunching tahun lalu (2010) di Hongkong. Di Singapura adalah launching ulang buku versi Indonesia," ungkap Nessa.

Kepada saya, Nessa mengaku tengah berusaha merampungkan novel karyanya sendiri yang ia rahasiakan judulnya. Wanita yang membentuk Komunitas Buruh Migran Indonesia di Singapura ini, mengaku belum bisa "tidur" sebelum menyelesaikan buku karyanya sendiri. "Saya belum punya buku sendiri. Semua rombongan," tegasnya sembari mengambil HP dari saku spannya yang bergetar.

Nessa kemudian lekat-lekat mengamati HP tersebut, dan raut mukanya tiba-tiba berubah setelah memastikan nomor siapa yang menghubunginya. "Majikan saya sudah minta saya pulang," katanya sembari meletakkan Kelwin, balita yang diasuhnya ke atas kereta bayi. Secepat yang ia bisa, Nessa kemudian buru-buru meninggalkan saya untuk kemudian tubuhnya menghilang di antara gedung-gedung tinggi flat di daerah Tech Whye Avenue Blok 8. Berikutnya, lewat pesan di SMS dia pesan untuk dibawakan novel-novel religius karya Habiburrahman El Shirazy, Helvy Tiana Rosa, atau Asma Nadia. "Saya ingin menulis novel-novel religi," begitu isi pesan berikutnya.

Sembari melepas pandang ke sosok Nessa yang kemudian menghilang, saya kemudian membathin, wanita-wanita seperti Nessa, yang perkasa dengan segenap kekurangan dan situasi yang tidak bersahabat, adalah Kartini-kartini Indonesia masa kini yang mampu memberi kontribusi besar pada Indonesia, terutama kaumnya. Ironis sekaligus membanggakan. Kartini itu, lahir dari negeri jiran.***


400 Dolar yang Begitu Berharga
Menjadi buruh migran tentu saja bukan pilihan yang bagus bagi Annisa Hanifa setelah lulus dari SMKN 1 Wonosobo, Jawa Tengah. Keadaan ekonomi lah yang kemudian memaksa wanita yang punya nama beken Nessa Kartika ini bekerja sebagai pembantu rumahtangga di Hongkong pada 2003. Begitu juga ketika ia terpaksa harus kembali menjadi TKW pada 2007, meski statusnya ketika itu adalah istri dan ibu satu anak. "Suami saya petani. Mas tahulah keadaan petani kecil di desa. Jika saya tak seperti ini (jadi TKI) saya tak bisa buat rumah," bebernya.

Nessa mengaku, dari pekerjaannya sebagai pengasuh anak balita, sebulan ia memperoleh penghasilan sebesar 400 dolar Singapura. Atau jika dirupiahkan dengan kurs Rp7 ribu, kira-kira Nessa mengantongi uang sekitar Rp2,8 juta. Dari jumlah itu, 300 dolar langsung dikirimkannya ke kampung halaman. Pembaca pasti tahu, uang dari keringat pembantu seperti Nessa ini adalah devisa atau penerimaan terbesar Indonesia. Tahun 2010 lalu, Bank Dunia menaksir, para buruh migran seperti Nessa, telah menyumbang devisa negara sekitar 7,1 miliar dolar Amerika Serikat. Jumlah yang hanya bisa dikalahkan oleh pendapatan dari sektor minyak dan gas alam.

Nessa menambahkan, sisa penghasilan 100 dolar sebulan ia anggap cukup untuk hidup di Singapura. Itu mengingat segala kebutuhan akan makan, tempat tinggal, dll, sudah dipenuhi oleh majikannya. "Saya jarang libur, jadi tak sering keluarkan uang untuk belanja," ungkapnya.

Nessa memang mengaku tidak punya waktu libur yang pasti. Kadang sebulan bisa sekali, atau bahkan tidak ada sama sekali. Jika ia memaksa off, Nessa harus rela gajinya dipotong 20 dolar setiap kali libur. Ini berbeda dengan pembantu-pembantu rumahtangga dari negara lain seperti Filipina maupun Thailand. Di Filipina misalnya, pemerintah mereka berani "memaksakan" aturan kepada pemerintah Singapura, agar pembantu mereka diberi hak libur minimal satu hari dalam seminggu. Pemerintah Indonesia sebetulnya sudah menerapkan demikian. Tapi dalam kenyataannya, praktiknya tidak jalan. Agen penyalur TKW lebih berkuasa, hingga kemudian si pembantu dibebani aturan yang berat, seperti ketiadaan hak libur setiap minggu.

Namun Nessa mengaku tidak mempermasalahkan soal libur tersebut. Justru dengan beban berat yang membelit para TKW, mereka bisa jauh lebih perkasa. "Saya berpendapat, di sini mereka semua hebat-hebat. Perkasa semua. Kalau mereka punya masalah dengan majikan, mereka bisa sabar. Mereka bahkan biasa menasihati aku. Padahal nasib mereka tak lebih baik dari aku. 'Jangan menyerah jadi TKI, jangan malu-maluin,'" tegas Nessa.

Yang kemudian menjadi ironis adalah dukungan pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) terhadap wanita-wanita kreatif seperti Nessa. Dalam launching buku Karenina Singa Bauhinia misalnya, bantuan yang diharapkan KBRI tak kunjung datang hingga akhirnya rekan-rekan Nessa di Indonesia Family Network dan Migran Voice yang membantu melaunching buku tersebut. "Sekali saya pernah berurusan dengan KBRI, waktu pemilu kemarin. Sudah datang ke sana, tapi nama saya justru tak ada. Akhirnya tak jadi milih. Sekarang kalau ke sana cuma untuk urusan paspor saja," ungkap Nessa.(sultan yohana)

Posmetro Batam, 25 April 2011

* Nomine Rida Award 2011

Selengkapnya..

Kami Laskar Pendayung dari Melebung

Seperti manusia perahu dalam film perang Vietnam, begitulah lima pelajar Melebung menembus kabut pagi. Tangan mungil mereka tak henti merengkuh dayung di perahu kecil, sesekali menerabas rawa rumbai.

Laporan SAIDUL TOMBANG, Melebung

RABU, 15 Juni 2011, pukul 05.20 WIB. Kampung tua ini masih mati. Pagi masih terlalu buta di sini. Purnama me¬rah saga baru saja tenggelam. Kampung Melayu ini masih diam dalam temaram. Deretan puluhan rumah di kiri-kanan jalan berbatu maupun yang berjuntai di bibir Sungai Siak kini tampak muram. Tak ada pendar cahaya yang berarti, sebab listrik tak hidup di sini. Satu-satunya sumber energi listrik hanyalah mesin diesel milik masjid. Itupun hanya dihidupkan bila hari mulai kelam dan dimatikan menjelang tengah malam.

Ketika cahaya masih terang-terang tanah, satu-dua penduduk Melebung mulai turun ke sungai. Meniti pelantar yang basah, berlumut, dan dibungkus kabut. Di sungai inilah mereka menyandarkan kehidupannya. Selain tempat mandi, cuci, dan kakus, Sungai Siak selama ini juga menjadi tempat mencari penghidupan. Ikan hasil tangkapan warga Melebung memang cukup dikenal. Mulai baung, pantau, selais, hingga patin. Sayangnya, penghasilan dari mencari ikan saat ini sudah tidak menggiurkan. Mendapatkan satu kilogram ikan saja dalam satu hari sudah sangat sulit. Abrasi, gelombang kapal, dan pencemaran Sungai Siak yang tidak terkendali dianggap sebagai penyebab mimpi buruk itu.

Kampung Melebung adalah sisi lain kepingan potret miris Kota Pekanbaru. Secara administratif, Melebung berada di RW 13 Kelurahan Sail Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru. Namun secara geografis mereka terasa sangat jauh dari keramaian kota. Pekanbaru Pos yang hunting ke Melebung, harus berangkat pukul 03.15 WIB dari Pekanbaru. Sebenarnya, untuk mencapai Melebung bisa melalui dua ruas jalur darat; lewat Simpang Badak Hangtuah atau lewat Simpang Beringin arah Maredan. Namun bagi yang tak pernah ke Melebung, apalagi kalau perjalanan dilakukan malam hari, biasanya akan tersesat karena harus melalui bentangan perkebunan kelapa sawit.

Melebung adalah kampung tua. Umur kampung ini sebenarnya hanya beda telur itik dengan Senapelan, muasal Kota Pekanbaru. Menurut Ketua RW 13 Kelurahan Sail Muhammad Nasir, Melebung sudah berumur lebih dari 200 tahun. Kalau Pekanbaru merayakan Hari UlangTahun (HUT) Ke-227 pada 23 Juni 2011, itu artinya umur Melebung dan Senapelan masih beradik-kakak.

’’Tapi Senapelan dan Melebung adalah dua kawasan yang nasibnya bertolak belakang. Senapelan sudah jadi kota metropolis, sedangkan kami adalah anak angkat yang kurang perhatian. Selama kampung ini ada, baru dua kali wali kota datang ke sini,’’ kata Nasir.
***

Pagi itu, di saat sebagian penduduk Melebung turun mandi, sesosok perempuan kecil nampak menunggu di bibir sungai. Namanya Yuli. Dia memakai seragam pramuka dengan tas hitam bercorak batik di pangkuannya. Di atas tumpukan kayu bakar yang akan dijual ke pengusaha batu bata di kawasan Badak, Tenayan Raya, dia sempatkan juga membuka buku. Entah dia bisa membaca di tengah temaram ini atau tidak, tapi yang jelas, Yuli sedang berusaha mengulang pelajaran karena pagi itu dia akan mengikuti ujian semester dua untuk kenaikan kelas. Yuli saat ini duduk di kelas 2 SMPN 28 Okura Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Rumbai Pesisir.

Gadis kecil itu sedang menunggu temannya, Siti Rapiah, yang tinggal di kampung seberang. Saat itu sang teman masih terlihat di tengah sungai; di atas sampan kecil, mengayuh dayung kembar. Yuli dan Siti adalah dwi srikandi dari total 8 pelajar Melebung yang sekolah di Okura. Selain dwi srikandi ini, juga ada Rio, Ridho, dan Rizaldi yang hari itu akan mengikuti ujian kenaikan kelas. Sedangkan tiga pelajar lainnya, M Syafii, M Syahdan, dan M Fikri, baru saja menyelesaikan Ujian Nasional (UN). Trio M ini dinyatakan lulus.

Sambil duduk di bangku sampan, Yuli masih membuka buku. Sedangkan Siti aktif mendayung di belakang. Mereka menembus Sungai Siak yang berkabut lebih duluan dari tiga rekannya. Rizaldi sendiri menyusul kemudian. Karena dia sendirian, seorang fotografer Pekanbaru Pos menumpang di sampannya. Sedangkan Ridho dan Rio menggunakan sampan lain. Dua wartawan Pekanbaru Pos lainnya, menyewa sebuah sampan milik penduduk. Pak Basri (52), sang pemilik sampan, kebetulan pula bersedia menjadi juru kemudi.

Pagi itu, empat sampan kecil dikayuh membelah sungai, menyusuri tebing su¬ngai terdalam di Indonesia ini. Parade ini harus melawan arus sungai. Jadi tenaga pendayung harus berlipat. Inilah sisi lain pertarungan pelajar berperahu dari Melebung. Bila pagi, mereka harus melawan arus karena faktor pasang surut yang menyebabkan arus air Sungai Siak ke hilir. Sedangkan kalau pulang, mereka juga harus melawan arus karena proses pasang naik yang menyebabkan arus Sungai Siak ke hulu.

Sungai Siak memang mengalami proses pasang sebagaimana yang terjadi pada laut.
Bagi Pekanbaru Pos, sungai yang dalam, pepohonan di bibir tebing, serta kabut tipis di permukaan air, cukup sudah memberi kesan horor. Apalagi kiambang, potongan kayu, dan batang tenggelam bisa berfungsi sebagai ranjau yang bisa menenggelamkan perahu. Tapi, rasa horor ini tentunya tidak berlaku bagi lima pelajar SMP ini. Karena mereka memang sangat akrab dengan medan ini.

’’Untuk apa takut? Sudah dua tahun seperti ini. Kami ini laskar pendayung dari Melebung. Kami tak boleh putus sekolah,’’ kata Rizaldi dengan nafas terengah-engah sambil berhenti mendayung sejenak untuk menghela nafas.

Ya, untuk apa takut? Toh sungai ini adalah sungai mereka. Seperti kata Rizaldi, sudah belasan tahun mereka dihidupi sungai ini. Lagi pula, selama dua tahun terakhir, aktivitas melayari Sungai Siak adalah kegiatan rutin. Berangkat sangat pagi, pulang jelang petang. Tak ada jalan lain untuk mencapai sekolah mereka tanpa melalui sungai ini.

’’Kalau orang yang tak biasa memang takut lewat sungai ini. Apalagi kalau hanya menggunakan sampan kecil. Kedalamannya ada yang mencapai 50 meter. Kapal tangker saja tidak kandas,’’ kata Pak Basri, sang juru kemudi Pekanbaru Pos.

Perjalanan dari dermaga Melebung ke destinasi di Okura ditempuh dalam waktu sekitar satu jam. Pagi itu, karena arus cukup deras, perjalanan memakan waktu 1 jam 15 menit. Ketika berangkat, matahari masih belum muncul. Namun baru setengah perjalanan, matahari sudah mulai menyengat. Karena perjalanan ini panjang, beragam aktivitas pun bisa dilakukan pelajar berperahu ini. Selain bercanda, tentu saja aktivitas wajib mereka pagi ini adalah mengulang pelajaran. Maklum, ini adalah hari kedua ujian kenaikan kelas mereka.

Di tengah perjalanan, terjadi pergantian shift. Mereka berganti juru dayung. Ini memang harus dilakukan untuk menjaga tenaga dan sportivitas. Biasanya, kalau tiga orang dalam satu sampan, panjang perjalanan akan dibagi tiga pula. Tapi kadang kala, bagi yang berbadan besar mengambil jatah mendayung lebih jauh. Pelajar berperahu ini, walau berbadan mungil tapi pangkal lengannya keras dan kekar.

Suasana mencekam sebenarnya lebih terasa saat menyeberang sungai. Kampung Okura memang berada di seberang. Saat menyeberang, apapun bisa terjadi. Risiko juga lebih besar. Apalagi bila banjir, arusnya sangat deras. Pagi itu, sampan yang ditumpangi Pekanbaru Pos sempat oleng. Seperti menabrak sesuatu. Kata sang juru mudi, ternyata sampan baru saja melanggar potongan kayu yang hanyut. Hmmm… untung tidak tenggelam.

Suasana Vietnam kembali terasa begitu memasuki muara Sungai Ukai. Empat perahu satu persatu memasuki sungai yang diyakini berbuaya itu. Rerimbunan daun pohon bakau menutup hampir setengah bagian sungai. Di tepi sungai terdapat rawa rumbai. Banyak biawak di sini. Bahkan, sebagian orang percaya di sana juga ada buaya muara.

Pelajar berperahu ini memang harus memasuki Sungai Ukai untuk bisa sampai pada shelter pertama, tempat penyimpanan sepeda. Di sana, memang ada sepeda yang ditinggalkan di belakang rumah penduduk. Begitu menambatkan perahu di pelantar sungai milik penduduk, mereka harus bertukar kendaraan dari perahu menjadi sepeda. Dari dermaga ini, perjalanan masih sejauh tiga kilometer lagi.

Untungnya, jalan yang mereka lalui sudah beraspal hotmix. Jadi perjalanan jadi sedikit lebih mudah.

Pelajar berperahu dari Melebung sebenarnya adalah cerita lama. Potret ini sudah berlangsung sejak tahun 1980-an lalu. Bagi anak-anak Melebung yang ingin melanjutkan sekolah ke Okura, pastilah akan menaiki perahu bertahun-tahun sampai tamat. Di tahun 1985, pemerintah sudah mendirikan SD kelas jauh di Melebung. Tapi selama bertahun-tahun, SD di Melebung hanya menjalani proses pendidikan hingga kelas 4. Begitu naik kelas 5, harus sudah pindah ke Okura. Pada tahun 2011, SDN 045 Melebung baru menamatkan lima angkatan kelas enam. Itu artinya, lebih dari 15 tahun SD Melebung hanya menjalani proses belajar-mengajar hingga kelas 4.

Setelah tamat SD di Melebung, memang tidak semuanya yang menyambung pendidikan SMPN 28 Okura. Ada juga yang pindah ke Kampung Tengah di Maredan, Kabupaten Siak, yang berjarak sekitar 45 menit bersepeda motor. Beberapa keluarga yang memiliki rumah atau sanak keluarga di Pekanbaru, akan me¬nyekolahkan anaknya di kota. Tapi yang jelas, dari tujuh orang yang tamat SDN 045 Melebung tahun 2010, lima orang di antaranya memilih SMP di Okura.

SMP Okura sudah menamatkan puluhan anak dari Melebung. Salah satunya adalah Jondri. Pria lajang ini adalah warga asli Melebung yang kini mengabdikan diri sebagai guru di SDN 045. Jondri mengaku sangat senang bisa mengajar di SD tempatnya belajar dari kelas 1 sampai kelas 4. Walau sudah tujuh tahun sebagai guru honor dan belum diangkat jadi pegawai negeri sipil (PNS), Jondri tidak terlalu mengeluh. Bahkan menurut rekan gurunya, Nur Aisyah, Jondri dianggap guru paling rajin dan tak banyak tingkah.

Jondri adalah pelaku manusia berperahu di tahun 1990-an. Ketika tubuhnya masih ringkih di tahun 1994, dia harus menjadi pelajar berperahu. Dia adalah salah satu murid SD Melebung yang harus melanjutkan kelas 5 hingga tamat di SD Okura. Selanjutnya SMP juga di Okura. Selama lima tahun dia mendayung, bersepeda, dan mendayung lagi. Begitulah saban hari masa lalu Jondri.
’’Waktu itu jalan di Okura belum di aspal. Jalan sungai dan jalan darat sama buruknya,’’ kenang Jondri.
***

Jauhnya rentang kendali Melebung-Okura dan Melebung-kota memang sudah menjadi cerita miris sejak lama. Mereka sangat ingin terlepas dari ma¬salah itu. Berbagai upaya sudah mereka lakukan. Salah satu upaya terakhir yang mereka lakukan adalah menganggarkan pengadaan perahu bermesin tempel kepada pemerintah melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri tahun 2011. Namun sayangnya, sampai hari ini perahu bermesin tempel yang ditunggu tak kunjung tiba.

’’Waktu kami tanya kepada konsultan PNPM mereka bilang perahunya sudah selesai, tapi mesin tempelnya belum. Entah kapan barang tu sampai ke kampung kami,’’ kata Nasir, sang Ketua RW.

Perahu bermesin tempel ini, kata Nasir, adalah obat sementara yang bisa mengobati duka warga Melebung, terutama pelajarnya. Karena, perahu ini nantinya akan bisa mengantar-jemput pelajar setiap hari. Selain itu, juga bisa digunakan untuk keperluan masyarakat, terutama yang terkait dengan kejadian mendadak.

’’Kalau ada orang yang sakit, meninggal, atau ada keperluan mendadak, bisa menggunakan perahu bermesin tempel ini. Kalau ke Pekanbaru, Rumbai atau Tanjung Rhu sebenarnya tak sampai setengah jam dari Melebung,’’ kata Nasir lagi.

Sampai hari ini, Wali Kota Pekanbaru memang baru dua kali datang ke Melebung. Kedua-duanya dilakukan Wako Pekanbaru Drs H Herman Abdullah MM pada tahun 2009. Pertama saat Safari Ramadan, yang kedua bersama Tentara Manunggal Masuk Desa (TMMD). Perhatian Herman ternyata sangat berarti bagi masyarakat Melebung. Saat itu, Herman membangun banyak fasilitas. Ada masjid permanen yang dulunya hanya berfungsi sebagai musalla, ada puskesmas pembantu berikut rumah dokternya, pembangunan SDN 045 permanen berikut rumah gurunya, serta pembuatan badan dan pengerasan jalan sepanjang 3,5 kilometer. Selain itu ada juga proyek air bersih, meskipun sampai hari ini air bersih itu tidak bisa dinikmati masyarakat.

’’Kita sangat peduli dengan Melebung ini. Makanya, miliaran rupiah kita guyurkan untuk melepas Melebung dari ketertinggalannya,’’ kata Herman Abdullah.
Sementara soal perahu bermesin tempel, Lurah Sail Abdul Rahman mengaku akan terealisasi pada tahun 2011 ini juga. Saat ini perahu atau pompong yang berkapasitas 40 orang itu sedang dalam tahap penyelesaian.

’’Insya Allah pompong untuk warga Melebung itu akan selesai tahun ini juga. Pengadaannya sudah dianggarkan pada PNPM Mandiri tahun 2011,’’ kata Abdul Rahman.
***

Beginilah Melebung, negeri duka yang masih berkutat dengan segala nasib tragisnya. Di tengah kepungan kebun kelapa sawit milik investor yang jadi ’’orang lain’’, warga Kampung Melebung tetap menggantungkan hidupnya kepada Sungai Siak, tempat para pelajar berperahu mengejar cita-citanya. Semoga saja bisa cepat berubah.***

* Nomine/Karya Tulis Jurnalistik Pilihan Rida Award 2011

Selengkapnya..