Senin, 26 Mei 2008

Ke Cina 4

Bersilaturrahmi dengan Kaum Muslim China
''Assalamualaikum, Kami dari Indonesia...''

Mengunjungi masjid, memang tidak tercantum dalam jadwal yang disenaraikan saat lawatan ke Cina belum lama ini. Namun, saya dan rekan-rekan serombongan dari Jawa Pos Grup menyepakatinya sebagai jadwal tak tertulis. Bersilaturahmi dengan sesama muslim nun jauh di sana, memang pengalaman rohani yang berkesan.

Laporan AMZAR, Beijing, Cina

SALAM diucap, tangan diulur. Bibir tersenyum tulus, membuat wajahnya tambah berseri, tanpa sakwasangka sedikit pun. Itulah kesan yang nyaris seragam ketika kami bersilaturahmi dengan kaum muslim China, baik di Guangzhou, Shanghai, maupun Beijing.

''Assalamualaikum, kami dari Indonesia.'' Sengaja disebutkan begitu karena sewaktu di Guangzhou, ihwan di sana sempat menerka-nerka bahwa kami rombongan dari Malaysia, yang mungkin lebih mereka kenal.


Salah seorang pengurus Masjid Niujie di pusat kota Beijing, dengan hangat membalas salam kami satu per satu. Tubuhnya sudah agak sedikit membungkuk, tapi masih cukup cekatan menunjukkan kepada kami di mana tempat bersuci dan mengambil wuduk. Kopiah putihnya nyaris sewarna dengan rambutnya. Ia memelihara janggut, yang juga memutih. Nama muslimnya Haji Ayus.

Siang itu, jamaah salat Zuhur sudah berdatangan ke tempat berwuduk. Cukup luas karena puluhan jamaah bisa sekaligus bersuci di sana. Tersedia sederet ceret plastik yang digunakan untuk mengambil air suam-suam kuku dari kran, di bawa ke tempat duduk khusus untuk berwuduk. Setiap orang mendapat satu kran yang mengalirkan air sejuk. Air hangat tadi digunakan untuk membersihkan tangan dan kaki sebelum berwuduk.

Haji Ayus menunjukkan arah pintu masuk ke masjid. Kalau dari luar, bentuknya memang berbeda dengan masjid umumnya di Indonesia. Di sana, tentulah dengan sentuhan arsitektur khas China. Namun di dalamnya, tidak berbeda jauh. Yang pasti, tetap membuat hati merasa teduh saat beribadah dan bertafakur di dalamnya.

Hiasan kaligrafi mewarnai tembok melengkung di bagian atas, juga di samping. Warna merah, memang mendominasi. Yang agak beda adalah pada sajadah. Berjejer rapi, khusus tempat duduk dan bersujud, dialas sebentuk matras berlapis kain putih. Empuk dan sejuk, persis selimut sutra yang kami kunjungi pabriknya di Shanghai dan juga Beijing sebelumnya. Di sisi kiri dan kanan, disediakan kursi khusus untuk jamaah yang karena kondisi fisiknya, harus menunaikan salat dengan posisi duduk.

Waktu Zuhur tiba. Muazin mengumandangkan azan, dengan irama dan intonasi agak berbeda dibanding yang lazim didengar di negeri kita. Ini juga khas. Tempat muazin mengumandangkan ajakan melaksanakan salat itu, persis di depan pintu masuk masjid, satu tarikan garis lurus dengan posisi imam.

Imam masjid, masuk berikut empat ulama lain, yang sama-sama mengenakan baju dan jubah khusus, dengan kopiah putih berbalut sorban. Alhamdulillah, Allahu akbar, kami dapat melaksanakan salat zuhur secara berjamaah dengan saudara sesama muslim di masjid Niujie, Beijing. Saat bersalaman, kental sekali suasana persaudaraan, padahal baru saja saling kenal.

Imam Masjid Niujie sedikit ''surprise'' ketika tahu tamunya datang dari negeri jauh, Indonesia. "Sekali-kali saya ingin ke sana, saya tahu negeri tuan sebagian besar penduduknya beragama Islam," katanya bersemangat. Tentu setelah diterjemahkan.

Masjid Niujie, berada di pusat kota Beijing, terletak di jalan Niujie, yang artinya Jalan Lembu. Bentuk bangunannya bisa mengindikasikan bahwa Islam di sana sudah ada sejak beratus tahun silam. Menariknya, sejak 13 Januari 1988, pemerintah RRC menyatakan masjid ini sebagai warisan sejarah nasional China.

Masjid ini sendiri, berdiri pada masa kekuasaan Tonghe, kaisar dari Dinasti Liao pada tahun 996 Masehi, dibangun oleh Nasurutan, seorang sarjana Arab. Saat itu merupakan tahun kedua Zhidao berkuasa di Dinasti Song Utara.

Pada tahun kesepuluh kekuasaan Chenghua dari Dinasti Ming (1474), kaisar menyebut nama masjid tersebut sebagai "Libaisi". Di zaman Yuan, masjid ini diperbesar dan direnovasi. Di era Qing dan Ming bentuknya dibangun simetris dan padu sedemikian rupa. Sejumlah ruangan baru dibangun. Dengan luas 6.000 meter persegi, selain ruang induk untuk salat, juga terdapat minaret (menara), ruang kuliah, ruang prasasti, ruang pertemuan, dan tempat wudu.

Masjid Niujie menghadap ke barat, seperti masjid di seluruh dunia, yaitu menghadap ke kiblat (Makkah) dan dibangun dengan menggabungkan keindahan istana klasik China dengan arsitektur Arab yang simetris.

Masjid Niujie adalah warisan berharga sejarah China. Di masjid ini juga terdapat makam Shaihai yang pertama kali menyebarkan Islam di zaman Dinasti Yuan. Pada nisannya tertulis kaligrafi yang menunjukkan ketinggian seni dan menandakan kehadiran Islam yang mantap.

Di masjid ini juga dapat ditemukan peninggalan sejarah yang lain berasal dari tahun ke-33 kekuasaan Kaisar Kangxi (1694) yaitu sebuah papan titah kaisar, porselen dari Dinasti Ming, dan sejumlah prasasti, termasuk sebuah Alquran tulisan tangan yang berusia lebih dari 300 tahun. Masih ada lagi dari benda-benda perunggu dan besi dari zaman Dinasti Qing.

Tahun 1979, Masjid Niujie selesai direnovasi sehingga tampak lebih cemerlang. Hingga sekarang masjid ini tetap berfungsi sebagai tempat ibadah. Selain itu ia menjadi tempat wisata yang ramai dikunjungi kaum muslimin dari pelbagai penjuru dunia.

Wilayah Niujie sendiri, dihuni komunitas muslim. Pusat pertokoan yang berderet, menyediakan berbagai keperluan bagi kaum muslim, termasuk restorannya.

Masjid Niujie, memang lebih khas dibanding masjid Hu Xie di Shanghai, yang sebelumnya juga kami masuki. Kesamaannya, keduanya terletak di tengah kota. Masjid Hu Xie didominasi warna putih,lengkap dengan mihrab, dengan kondisi lebih ''baru'' ketimbang yang sebelumnya kami kunjungi di Guangzhou yang komunitas muslimnya berjumlah sekitar 300.000 jiwa.

Sedangkan di Guangzhou sendiri, kami sempat salat di Masjid Khuangta Tse yang artinya Pagoda Putih, diambil dari simbol yang sampai kini masih ada yakni sebuah menara suar berwarna putih yang sudah berusia 900 tahun dan fisiknya terlihat miring. Nama lainnya Huaisan Tse, Sang Pelindung.

Masjid yang diperkirakan berusia 1.600 tahun ini lokasinya agak jauh dari keramaian lalu lintas. Di sini, yang khas adalah kopiahnya, yang dibuat khusus dari anyaman pandan, warna putih. Disediakan khusus bagi setiap jamaah yang berkesempatan salat di sana, seperti yang kami lakukan secara berjamaah siang itu, bersama warga muslim tempatan, yang relatif masih muda-muda ketimbang yang kami temui di masjid Niujie, Beijing.

***

Komunitas muslim China memang termasuk kelompok minoritas dari populasi penduduk negeri Tirai Bambu itu yang berjumlah lebih dari 1,3 miliar jiwa. Namun mereka punya akar sejarah yang �panjang dan hingga kini tetap terpelihara dan tetap mendapatkan kebebasan melaksanakan ajaran agamanya. Di kota Kunming yang kental nuansa Islaminya, tercatat 40 ribu orang beragama Islam, umumnya dari suku Hui.

Statistik China menyebutkan, populasi suku Hui ini sekitar 8.612.000 jiwa, tersebar di sejumlah provinsi dan kota seperti Ningxia, Gansu, Henan, Hebei, Qinghai, Shandong, Yunnan, Xinjiang, Anhui, Liaoning, Heilongjiang, Jilin, Shanxi, Beijing dan Tianjin. Seluruhnya beragama Islam. Sejumlah suku lainnya juga memiliki komunitas muslim, termasuk di perbatasan negara-negara bekas pecahan Rusia.

Di Kunming, bertebaran toko-toko yang memajang lukisan kaligrafi petikan ayat-ayat Alquran. Di sini kita akan kerap berpapasan dengan beberapa lelaki berkopiah haji, di antaranya ada juga yang memelihara janggut lebat. Beberapa wanita juga tampak berjilbab putih. Tempat tinggal mereka dikenal sebagai kawasan Sun Chen Chie, tapi mereka lebih senang menyebutnya Jamaatul Islamiyah Madinatul Kunming. Dalam bahasa Arab? Tentu saja, karena cukup banyak kaum muda di sini pernah mengenyam pendidikan di Makkah atau Madinah, dua kota suci umat Islam di Arab Saudi.(amzar)

Selengkapnya..

Ke Cina 3

Catatan Perjalanan ke China (3-Habis)
Jadi Hero di Dua Keajaiban Dunia

Akhirnya berangkat juga ke Beijing setelah hampir satu setengah jam keberangkatan dari Shanghai tertunda. Tapi ada hikmahnya, karena sempat baca-baca referensi tentang Beijing dengan lapangan Tiananmen-nya, Forbidden City-nya, Tembok Besar-nya, apa lagi ya?
--------------------
AMZAR, Beijing-China
--------------------
BEIJING sudah gelap saat pesawat yang kami tumpangi mendarat. Bandaranya memang tidak semegah Pudong Shanghai International Airport. Tapi dalam satu-dua tahun ke depan, mungkin sudah lain ceritanya. Karena sedang ada kerja besar mempercantik sekaligus memperluas gerbang udara di ibukota China ini.

''Beijing memang sedang mempersiapkan banyak hal karena akan menjadi tuan rumah Olimpiade pada tahun 2008 nanti,'' kata Halim, pemandu yang menjemput kami. Gemanya sendiri sudah terasa, karena di banyak lokasi strategis, sudah terpasang billboard bertuliskan Olympic Projects.


Untuk even yang juga bakal menjadi arena promosi sekaligus mengangkat gengsi ini, China menyiapkan fasilitas fisik dengan nilai investasi sebesar 1,5 triliun Yuan atau sekitar Rp1.500 Triliun. Untuk arena saja, bakal dibangun 26 stadion, termasuk infrastruktur pendukungnya, serta merenovasi yang sudah ada.

Berarti, akan bertambah lagi kebanggaan warga Beijing yang selama ini dikenal sebagai ibukota negara, pusat pemerintahan, pusat sejarah serta kebudayaan dan nanti sebagai kota dengan fasilitas olahraga yang lengkap dan modern. Padahal, dengan yang ada sekarang saja, sudah menjadi ''jualan'' yang sangat laku bagi mengalirnya jutaan pelancong asing dan domestik ke Beijing .

Saya lihat sendiri ketika paginya rombongan kami sampai di Lapangan Tiananmen, yang menurut Halim merupakan alun-alun terbesar di dunia. Terkenal tidak hanya karena di sekitar inilah lokasi pusat pemerintahan China, tempo dulu dan masa kini, tetapi juga dunia menyaksikan apa yang disebut Tragedi Tiananmen beberapa tahun lalu.

Pagi itu, lapangan yang luasnya sekitar 800 x 600 meter ini masih tersungkup kabut tipis pada suhu udara paling tinggi 11 derajat Celsius. Namun, pengunjung sudah berbondong-bondong memasukinya. Hampir semua ada pemandunya, yang berjalan di depan dengan bendera kecil warna tertentu di tangan.

Lokasi di padang datar itu yang paling banyak dipakai untuk berfoto adalah sekitar Tugu Peringatan Pahlawan Rakyat di tengah-tengah lapangan, atau dengan latar belakang gerbang besar menuju ke arah Forbidden City, yang kesohor ke mana-mana dengan simbol khas gambar pemimpin besar Cina Maozedong di atas bentangan tembok berwarna merah. Satu lagi gambar yang ada di dekat tugu, adalah potret besar wajah Dr Sun Yat Sen (1866-1925), tokoh dan pemimpin gerakan nasionalisme di China.

Jubelan pengunjung dari bermacam kebangsaan ini, harus melewati terowongan bawah tanah dari lapangan Tiananmen menuju kawasan Forbidden City, yang dulunya adalah kota terlarang dan menyimpan sejarah China Kuno, tapi kini setiap hari tidak pernah sepi dikunjungi.

***

KOTA Beijing luasnya hampir tiga kali Shanghai, namun penduduknya hanya 14 juta, tidak sepadat Shanghai yang dihuni sekitar 20 juta jiwa. Lalu lintasnya pun tidak seramai di Shanghai. Apalagi di sini, tidak diperbolehkan bersepeda motor, sementara pengguna sepeda tetap banyak, seperti juga kota lain di China. Implikasinya, udara di sini tidak terlalu dikotori oleh polusi kendaraan dan berjalan kaki pun terasa nyaman.

Kendati begitu, lumayan pegal juga berjalan dari Lapangan Tiananmen terus menelusuri Forbidden City yang luasnya 72 hektare. Ini sudah diperhitungkan oleh pemandu, karena trayek berikutnya adalah ke tempat pemijatan. Panti pijat? Oo, bukan!

''Ini pijat kesehatan. Apalagi kita besok akan ke Great Wall, biar Anda semua bisa jadi hero di sana,''kata Halim, sang pemandu. Pijat kaki atau pijat refleksi, dalam pengobatan China memang sudah terkenal. Karena dari kaki berkumpul semua titik yang ada kaitannya dengan penyakit dalam tubuh.

Kita diminta duduk di atas kursi khusus, dengan posisi kedua kaki direndamkan sebatas mata kaki di dalam wadah berisi air suam-suam kuku bercampur ramuan rempah khas. Setelah itu baru dipijat. Namun, usai dipijat, tidak berarti kita sudah bisa beranjak. Reaksi-reaksi gerakan yang muncul ketika dipijat, membuat shinshe, yang mereka sebut sebagai profesor datang melakukan pemeriksaan.
Dimulai dengan mengukur denyut nadi dengan ujung jarinya, lantas memeriksa lidah, juga kondisi penampilan dan keceriaan wajah. Akhirnya keluarlah resep untuk membeli obat. Wah, kalau seperti ini, sama seperti yang di Guangzhou beberapa hari lalu. Periksa-periksa begini juga, lalu disarankan beli obat ini-itu. Makanya, ada yang tidak bersedia lagi, hanya minta dipijat saja. ''Sudah beli di Guangzhou kemarin,''kilahnya.

Memang ada rekan sepertinya tidak bisa mengelak lagi, karena cara pembayarannya juga ada kompromi. Bisa bayar dengan yuan, bisa dengan dolar atau dengan kartu kredit. Rupiah tidak bisa.

Rumah pengobatan tradisional China ini memang dibuat untuk keperluan pelancong. Sebelum dan setelah kami saja, ada rombongan bule yang dibawa ke sana. Mereka juga menyiapkan juru bahasa berbagai bangsa. Tenaga pijatnya yang terlatih ada 45 orang. Seragamnya putih-putih, muda dengan penampilan lumayan. Klinik pengobatan tradisional ini mempromosikan obat kuno dengan penanganan yang modern. Pabriknya memproduksi obat tradisionil Mongolia Tian Tjiao yang dikemas tidak kalah dengan obat-obat farmasi, dibungkus lagi layaknya seperti kemasan perhiasan.

Rekan yang di sebelah mengakui sebenarnya senang dengan pelayanan pengobatan tradisional China. ''Tapi rasanya terpaksa karena ditakut-takuti dengan penyakit yang bakal datang,'' ujarnya. Padahal ia sudah menjelaskan bahwa sebulan sebelum ke sini telah melakukan general chek up. Semua tidak ada masalah. Namun shinshe mengatakan ia akan menghadapi penyakit di bagian lambung kalau tidak berobat.

''Yah, kalau berbicara tentang penyakit yang akan datang, menyerahlah saya, dan kredit card pun digesek lagi. Resepnya saya tebus senilai 2000 yuan atau sekitar Rp 2 juta,- untuk pengobatan 3 bulan,''paparnya. Tak apalah, katanya, demi kesehatan.

***

Dipijat kemarin, tubuh terasa lebih segar saat bertolak menuju Great Wall, tembok besar yang sudah menjadi simbol China itu. Untuk menuju ke sana, memerlukan waktu sekitar 100 menit dengan bus melintasi jalan tol yang mulus.

Arah ke luar kota, bangunan komplek-komplek industri lebih mendominasi, juga rumah-rumah pemukiman. Memang, menurut Halim, warga Beijing yang ingin membangun rumah, hanya boleh di luar kota. Di dalam kota, untuk tempat tinggal, pilihan yang memungkinkan adalah flat dan apartemen.

Setengah perjalanan ke Great Wall, masih ada persinggahan komersial lagi yang ditawarkan, yakni pusat kerajinan batu Giok, yang dikemas menjadi berbagai bentuk perhiasan, berwarna hijau, aslinya berasal dari pegunungan Mongolia yang tinggi.

Pengelola sentra kerajinan Giok pun bercerita bahwa batu giok, memiliki kualitas yang keras dan tak mudah pecah. Tapi yang palsu, banyak juga dijual di China. Karena itu, batu Giok asli bagi pembuatnya disertai sertifikat bergaransi. Di tempat penjualan, pengunjung diperlihatkan bagaimana mengetes batu giok asli dan palsu. Sebuah kaca berwarna merah, apabila didekatkan ke batu giok palsu, warna hijaunya menjadi merah.

Sedang batu giok asli, kendatipun kacanya warna merah, batu gioknya tetap kelihatan berwarna hijau. Batu giok asli, memang bervariasi harganya. Warna yang hijau muda dihargai lebih mahal. Sebuah batu permata untuk cincin ada 600 yuan atau Rp600.000,-. Bahkan ada yang sampai 2.000 yuan (Rp2 juta). Tapi ada juga yang sedikit murah seharga 100 yuan. Terserah, mau beli atau tidak.

Dari sini, hanya sekitar 30 menit, kami telah tiba di Tembok Besar. Lazim juga disebut Tembok Cina, yang panjangnya 6750 kilometer, melintasi pegunungan di delapan provinsi. Usianya lebih dari 2300 tahun.

''Sebagian memang sudah direnovasi, sampai ke tingkat tujuh dan pengunjung hanya dimungkinkan naik sampai ke tingkat tujuh itu. Tapi, Anda boleh bangga karena dengan telah menginjakkan kaki di Great Wall ini, kepalkan tangan ke atas, karena Anda telah menjadi hero,'' kata Halim, saat kami berada di ujung terbawah tembok yang termasuk satu dari Tujuh Keajaiban Dunia itu.

Cuaca di sini cukup dingin. Silih berganti ribuan pengunjung turun-naik mencoba setinggi mungkin menapakkan kaki. Tingkat satu-dua memang tidak terlalu menanjak. Tapi menjelang tingkat tiga yang sudah nyaris tegak lurus, sudah banyak yang ngos-ngosan, ngaso sejenak, atau berfoto-ria sambil menyandarkan tangan di pegangan besi yang dijadikan alat bantu untuk turun nanti. Menoleh ke belakang arah bawah, terasa gamang.

Kebanyakan pengunjung, hanya bisa sampai ke tingkat ke tiga lalu turun lagi. Ada juga yang memang sampai ke tingkat empat sampai tujuh, tapi memang benar-benar fit lah. Katanya, di atas medannya lebih datar. Ada yang coba memaksa diri, eh ternyata semaput. Ya, terpaksa digotong ke bawah dengan tandu oleh sekuriti khusus yang ditugaskan di sana. ''Jangan dipaksa, di sini pun, Tembok Cina juga namanya. Tolong foto satu lah,''ujar teman dari Pekanbaru, sambil tersandar ngos-ngosan, di pertengahan tingkat tiga.

Tiba-tiba saya teringat, persis sebelum ke China ini, saya bersama dua rekan dari Pekanbaru sempat-sempatnya ke Yogyakarta, sekalian ke Candi Borobudur. Sebenarnya tidak direncanakan, kebetulan saja ketika itu keberangkatan rombongan kami dari Jakarta ke China tertunda dari jadwal semula, dan disuruh tunggu dua-tiga hari. Di saat menunggu itulah kami melancong ke Borobudur, kebanggaan sejarah kita, yang juga termasuk di antara apa yang diistilahkan sebagai Tujuh Keajaiban Dunia.

Kendati itu bukan kunjungan yang pertama ke Borobudur, tetapi ternyata kesannya beda. Sebab, beberapa hari kemudian, kami sampai juga di Keajaiban Dunia satunya lagi, yakni Tembok Cina. Tak disangka memang, sekali melancong, dua Keajaiban Dunia tersinggahi.***

Selengkapnya..

Ke Cina 2

Catatan Perjalanan ke China (2)

Shanghai, Dikebut tapi Tetap Aduhai



Sejak menginjakkan kaki di Pudong Internasional Airport, penasaran rasanya untuk membuktikan kejutan serta pesona apa yang akan dijumpai di Shanghai, yang gencar dipromosikan pemandu sejak dari Guangzhou. Yang pasti, koran hari itu menulis suhu udara di Shanghai 11-17 derajat Celsius, cukup dingin, hujan lagi.



---------------------

AMZAR, Shanghai-China

---------------------

KEBANYAKAN penumpang terlihat bergegas keluar dari perut pesawat Boeing 777-700 yang baru tiba dari Guangzhou, tergesa-gesa menyalip penumpang lain yang jalannya rada lambat. Mungkin ada yang dikejar. Maklum, jarak ke terminal kedatangan cukup jauh, belum lagi ke pusat kota yang jaraknya lebih 30 km.


Tak aneh memang, kesibukan seperti itu di kota bisnis ini. Penampilan mereka yang necis dan sibuk berhalo-ria lewat ponsel, juga bukan barang baru. Tapi, hei, apa itu? Ada perangkat lain di dekat deretan mesin anjungan tunai mandiri (ATM). Persis seperti terlihat pada gambar di lembaran majalah di atas pesawat tadi. Sekilas seperti telepon umum biasa. Tapi ini ada layarnya, dengan posisi persis sejajar dengan kepala si penelepon.


Saat ada yang memakainya, terbukti apa yang tadi saya duga. Ya, itulah perangkat videophone, yang diinformasikan di majalah dalam pesawat tadi. Sesuai dengan informasinya, melalui perangkat ini lawan bicara terlihat parasnya di layar monitor. Ehm, boleh jadi belum banyak kawasan maju lain yang sudah mengoperasionalkannya. Keterkejutan sudah dimulai di Shanghai.



Suryani, gadis Shanghai yang menjadi pemandu, banyak bercerita sejak bus tadi meninggalkan bandara yang terkesan asri dengan taman terawat di sana-sini, serta bentangan telaga buatan yang memantulkan kemilau.


Melintas di jalan tol yang mulus, ke arah kanan, pandangan mata tersergap pada tiang-tiang beton yang kokoh menopang bentangan beton plus metal, seakan ikut berlari bersama bus yang membawa kami. ''Kalau di Jepang ada kereta api super-cepat Shinkanzen, kami di sini juga punya, itu relnya,''kata Suryani.


Yang dia maksud, tentu kereta api magnet, Maglev, singkatan dari Magnetic Levitation. Kalau yang ini, saya sudah tahu karena memang sebelumnya sudah diberitakan di koran ini tentang pengoperasiannya yang belum lama berselang. Betul kata Suryani, bahwa Maglev ini hanya dimiliki sedikit negara, tak sampai bilangan jari sebelah tangan: China sendiri, Jepang, Jerman dan Prancis.


Perjalanan belum sampai ke pusat kota, hujan sudah turun dengan derasnya dan terus begitu saat mengitari pusat kota menuju Oriental Pearl Radio and Television Tower, bangunan tertinggi di Shanghai (468 meter). Cuaca begini memang bukan waktu yang bagus untuk melihat bagaimana cantiknya penataan kota yang dilihat dari
ketinggian tower.


Namun hembusan angin yang sesekali menyingkirkan kabut, sudah memberi ruang pandang yang cukup untuk memaksa mulut berdecak kagum dengan penataan kawasan baru, Pudong serta eloknya kedua sisi sungai Huang Pu yang melengkung membelah Shanghai, di mana nun bagian lainnya dari sungai ini bergabung dengan Sungai Yang Tse, yang sudah tersohor dengan panggilan Sungai Kuning itu.


Juga rapinya kawasan The Bund, terlihat jelas dari ketinggian tower. Nampak sekali, bangunan-bangunan lama dan modern yang berjejer menggapai langit, menjadi lebih manis dipadu dengan kawasan di seberangnya yang dibiarkan sebagai area terbuka yang ditata menjadi taman-taman asri.


''Ya, di sisi kanan umumnya dibebaskan dari bangunan dan dijadikan ruang terbuka plus taman. Sudah begitu aturannya,'' kata Suryani, si gadis pemandu.


Petang begitu cepat datang, sementara kami terjebak macet di bawah renyai gerimis. Maklum, saat itu jam pulang kerja di kota berpenduduk hampir 20 juta dengan luas 6.000 km persegi itu. Cukup lama kendaraan harus beringsut persis di depan Jinmao Tower (420 meter), gedung tertinggi di Shanghai yang kerap dibanggakan sebagai gedung tertinggi nomor tiga di dunia.


***


Hari kedua di Shanghai, barulah bisa terlihat kota ini memang aduhai. Udara begitu cerahnya. Masih dalam balutan cuaca pagi, kami sudah menginjakkan kaki di kawasan The Bund. ''Ini tempat yang tepat untuk melihat kemegahan kota,'' kata Benny, pemuda Shanghai yang menjadi pemandu menggantikan Suryani kemarin.


Seperti ketika terlihat dari menara televisi, kawasan ini membentang persis di sisi sungai Huangpu. Sepagi itu, kawasan taman dan pedestrian yang dirancang khusus tersebut sudah ramai oleh pengunjung berbilang bangsa, ras Mongolid terutama. Hampir semua anggota rombongan memanfaatkan tempat ini untuk berfoto-ria persis di tepi sungai Huangpu dengan latar belakang gedung-gedung modern yang berlomba menggapai langit dengan Oriental Pearl Radio and Television Tower sebagai ''komandannya.'' Huangpu sendiri,
terus saja disibukkan dengan aktifitas pelayaran kapal-kapal dagang mancanegara, juga kapal yang dijejali wisatawan.


Sisi satunya lagi, berjejer bangunan megah dengan sentuhan arsitektur Eropa. Seperti kata Benny, Shanghai tempo dulu begitu menggiurkan bagi Eropa untuk masuk ke sini, yang hingga kini menyisakan warisan kolonialisme mereka, terutama dari Prancis dan Jerman, termasuk AS.


''Yang dibelakang itu, yang nampak puncaknya, itu gedung yang baru, selebihnya bangunan lama, yang berdiri sejak abad ke 18 dan 19,'' kata Benny, mengarahkan telunjuknya ke arah deretan bangunan eksotis tersebut. Umumnya kini dijadikan kantor oleh bank-bank kenamaan dunia, konsulat, perusahaan multinasional, dan sebagainya. Semua terawat baik dan siapa pun tidak boleh mengubah bentuk bangunan itu, seperti juga di kawasan Nanjing Road.


Kesemua ini menjadi objek yang menarik bagi pengunjung asing dan domestik. Bermacam gaya mereka mengabadikan kehadiran diri di salah satu wilayah nadi bisnis Shanghai ini. Kenyamanan pengunjung memang dijaga betul, sehingga ketika ada penjaja mainan yang mencoba menggelar dagangannya, langsung disemprit oleh penjaga taman yang rajin mengontrol dengan sepedanya. Ya, seperti biasa lah, sering main kucing-kucingan. Juga penjual asongan, mulai dari cendera mata hingga jam tangan, yang gigih menjajakan ''Rolex'' sampai ke harga di bawah 100 Yuan.


Penduduk Shanghai, paling tidak itu diwakili oleh pemandu kami, begitu antusias bercerita tentang cepatnya geliat pertumbuhan megapolitan yang terus bersaing dengan kota niaga kesohor lainnya di dunia. Belum sekelas New York memang, tapi tak kalah dengan Tokyo, Frankfurt atau Amsterdam.


Pudong, nama ini yang kerap mereka sebut dengan rasa bangga. Hanya dalam tempo 14 tahun, sudah disulap menjadi kawasan megapolis yang dirancang dan dibangun dengan semangat tinggi, penuh kesungguhan. Sudah ditata kawasan mana yang diperuntukkan bagi area pusat bisnis dengan gedung jangkungnya dan wilayah mana yang dikhususkan bagi kawasan permukiman dan perbelanjaan. Buktinya, ya itu tadi, segala simbol kemoderenan terdapat di sini, termasuk tower dan gedung pencakar langit tadi. Ada juga
pusat kesenian, arena balap F1 pun ada. Dipadu dengan bangunan lama yang terawat baik, menambah elok dan ramahnya kota berstandar dunia ini.


Kemajuan tidak hanya tergambar dalam ukuran fisik saja. Sisi lain yang secara positif mengikuti kemajuan gesit yang dicapai Shanghai bisa diukur dari kontribusinya terhadap perekonomian warganya. Pemandu kami sudah begitu hapal untuk menyampaikan bahwa pendapatan per kapita di Shanghai di atas 6.000 dolar AS, Terpaut jauh dengan rata-rata nasional China yang hanya seperenamnya. UMK atau upah minimum di sini adalah 650 Yuan (sekitar Rp650.000).




Nanjing Road, Tak Ada Matinya


Jika ke Shanghai, tak ke Nanjing Road, bisa kepunan. Pernah ke Orchard Road di Singapura, pernah baca atau melihat langsung sibuknya kawasan Fifth Avenue New York. Kira-kira begitulah suasananya di Nanjing Road ini.


Sebenarnya dari The Bund tadi, lokasinya tidak terlalu jauh. Menyeberang lewat terowongan, berjalan kaki sekitar 300 meter, belok kanan, sebenarnya kita sudah berada di mulut jalan Nanjing. Tapi, akan melelahkan kalau dimulai dari mulut jalan itu. Makanya, kami naik ke bus dulu, di antar ke tengah Nanjing Road.


''Dari sini, mau ke timur atau ke barat, jaraknya sama-sama tiga kilometer,'' kata Benny, saat kami turun. Di sini, sudah tidak boleh lagi ada kendaraan umum yang seliweran. Inilah ciri
khas pusat bisnis paling terkenal dan termahal di Shanghai ini, wilayah pedestriannya, surga bagi pejalan kaki.


Kawasan ini dikunjungi bukan saja karena masih merawat gedung-gedung lama bersejarah, tetapi juga karena di sinilah berdiri pusat perbelanjaan, hotel dan sentra bisnis terkemuka lainnya. Kendati puncak ramainya pengunjung biasanya hari Sabtu dan Ahad, namun Selasa siang itu, kami yang ikut meramaikan kawasan ini, terus saja berpapasan dengan jubelan manusia, ribuan jumlahnya, beraneka suku-bangsanya. Sejuknya cuaca membuat pejalan kaki seakan betah mengukur jalan. Tersedia banyak tempat mengaso bagi yang keletihan. Atau naik trem khusus dengan tiket seharga satu Yuan, yang menyapa dengan klakson khasnya.


Reputasi kawasan ini tentu berimbang dengan barang-barang yang dijual di sini. Sebut saja merek terkenal untuk busana, parfum, tas, jam tangan, dan sebagainya, semua ada. Jam tangan, misalnya, salah satu yang saya dan rekan dari Pekanbaru coba telusuri. Satu toko, dibagi beberapa stand untuk tampilan merek berbeda. Mulai dari Rado, Sincere, Cartier, Frank Muller, Gucci, Tag Heuer, Longines, Chopard, sampai Rolex dan seabreg merek kenamaan lainnya, nongkrong dengan anggun, berjejer di balik etalase. Berminat memindahkannya ke pergelangan tangan atau menambah koleksi? Boleh saja, asal punya segepok fulus. Satu jam Rolex berlapis emas 24 karat, bisa ditebus dengan harga 278
ribu Yuan. Dengan uang kita, yah ''cuma'' Rp278 juta. Pasti, beda sangat-sangat jauh dengan yang dijajakan di pedestrian The Bund tadi.(bersambung).

Selengkapnya..

Ke Cina 1

Catatan Perjalanan ke China (1)
Masuk Canton Fair, Berlagak Jadi Buyer

Banyak sudah yang menulis tentang China, namun tetap tersisa sisi lain yang menarik, apalagi setelah melawat ke sana. Jadi beban rasanya jika tidak berbagi cerita, karena memang banyak perubahan memesona di Negeri Tirai Bambu ini yang berguna untuk ''tidak sekadar hanya diketahui.''

-----------------------
AMZAR, Guangzhou, China
-----------------------
MALAM baru saja menapak, ketika bus yang membawa kami memasuki gemerlapnya kota Guangzhou. Kondisi tubuh masih belum selesa karena baru awal petang tadi sampai di Hongkong setelah hampir lima jam penerbangan dari Jakarta, dilanjutkan perjalanan ke Shenzhen. Di sini perut harus diganjal dulu karena untuk terus ke Guangzhou, perlu waktu 2,5 jam lewat jalan tol.

''Selamat datang di Guangzhou,'' kata A Wen, pemandu kami di sana, yang bernama lengkap Wang Jian Wen. Cuaca di Canton, -nama lain Guangzhou- di pekan ketiga April itu, cukup bersahabat karena sudah berada di musim semi. Menjadi lebih gemerlap karena di sini tengah berlangsung Canton Fair, pameran industri dan perdagangan internasional. Istilah kerennya Chinese Export Commodities Fair (CECF).


Tanda-tanda adanya pameran mencuat di mana-mana, lewat aneka lampion, billboard, juga di semua hotel yang membentang spanduk besar berwarna merah, dengan aksara Cina dan bahasa Inggris. Hotel-hotel pada penuh, termasuk hotel Dong Fang yang berlokasi persis di seberang gedung pameran, yang semula dijadwalkan tempat kami menginap, sebelum dialihkan ke New Century Hotel.

Pagi hari, kesan promosi pameran makin kental. Gadis-gadis terpilih dengan busana khas China, berdiri di pinggir jalan membagikan aneka brosur terkait pameran. Sama memang dengan suasana di arena pameran di banyak tempat. Tapi jangan harap siapa saja bisa leluasa masuk ke lokasi Canton Fair, kalau tidak menggantungkan ID Card di dada.

Pameran ini memang lebih dikhususkan untuk para pebisnis mancanegara. Itu terlihat saat mengurusan ID Card sebagai tanda masuk. Dengan sabar, ratusan pengunjung berbilang bangsa mengambil posisi antre di lobby hotel Dong Fang, memegang paspor, formulir isian dan pasfoto plus kartu nama, untuk diproses menjadi ID Card.

Dari pakaian dan penampilannya sudah tergambar siapa mereka sebenarnya. Busana formal dilapisi jas plus dasi dan sepatu mengkilap, lebih mendominasi. Ada yang berkulit putih, gelap, rambut pirang, hitam, lurus, keriting. Wah, pokoknya berbilang bangsa lah, termasuk rombongan kami dari Jawa Pos Grup, yang berkulit sawo matang.

Mau tak mau, kendati bukan pebisnis, kami pun ikut antrean itu tadi dan dengan pede menggantungkan ID Card tersebut, yang didominasi tulisan aksara China dengan satu tulisan besar berbahasa Inggris: BUYER. Inilah entry card ke Canton Fair, dan kami yang sebagian besar wartawan, bolehlah kali ini berlagak sebagai ''Buyer''seperti para pebisnis lain.

Dari hotel Dong Fang, pengunjung jalan kaki melintasi penyeberangan bawah tanah dan harus melewati pemeriksaan ketat serta antrean panjang memasuki halaman gedung lokasi pameran. Saat itu, merupakan hari pertama dari fase kedua pelaksanaan Canton Fair, yang ditandai dengan pertunjukan barongsai serta peragaan konfigurasi aneka gerakan silat China secara kolosal. Fase pertama, yang dikunjungi rombongan Jawa Pos Grup terdahulu, berlangsung sepekan sebelumnya, dengan komoditas yang berbeda.

Gedung pameran berlantai empat yang terletak di Liuhua Complex itu memang penuh sesak. Lobby arenanya sangat luas dan didesain mewah, tidak kalah dengan suasana di lobi hotel berbintang lima. Di banyak pojok strategis, berjejer komputer intranet yang siap digunakan bagi memudahkan pengunjung memilih stand. Ada layar monitor raksasa menayangkan kesibukan para pebisnis di lobi.

Setiap pengunjung dapat dengan mudah memperoleh brosur lengkap, CD-room dan peta lokasi stand. Sebab, kalau tak dipedomani petunjuk-petunjuk tersebut, tidak akan cukup waktu sehari mengelilingi seluruh stand. Bayangkan saja, luas arena pameran mencapai 540.000 meter persegi, di mana 247.500 meter persegi di antaranya adalah ruang pamer dengan 27.000 stand berstandar internasional. Rinciannya, 7.500 stand pada masing-masing fase di kompleks CECF Pazhou dan 5.000 stand pada tiap fase pelaksanaan di kompleks CECF Liuhua Road, dengan 100 ribu macam komoditas yang dipamerkan peserta lebih dari 10 ribu perusahaan. Semuanya dioperasikan dengan standar tinggi guna memberi kemudahan dan layanan maksimal bagi peserta dan calon pembeli.

Masuk akal komoditi sebanyak itu yang dipamerkan karena memang yang ditampilkan di sini hanya sampel produksi dan itulah ciri khas pameran ini. Menariknya, nyaris di tiap stand terlihat keseriusan para buyer dan exhibitor menjalin transaksi. Meja kecil di tiap stand pun dipenuhi buku indeks komoditi, kalkulator, laptop yang dibawa buyer dan telah terhubungkan dengan sistem komunikasi telepon.

Seorang pebisnis yang bergerak di bidang pengadaan peralatan rumah tangga dan mengaku berkantor di Hongkong, berterus terang bahwa dari seluruh produk yang dikelola perusahaannya, sekitar 2000 jenis di antaranya dibeli di Canton Fair ini.

Menurutnya, sebelum datang ke sini, pihaknya terlebih dahulu melakukan perjanjian secara on-line dengan sejumlah pemasok, di mana telah ada kesepakatan untuk produk yang mereka tawarkan serta berapa kapasitas yang bisa dipasok. ''Jadi, kami hadir langsung ke sini dapat lebih berkonsentrasi untuk negosiasi secara lebih spesifik sesuai kepentingan kami. Ini jelas sangat efisien dan saya puas dengan hasil yang dicapai,'' jelasnya.

Saat kami berkunjung, komoditas yang dipamerkan antara lain kelengkapan dan pernak-pernik dekorasi, aneka anyaman serta kerajinan, produk jam dan kacamata, peralatan kantor dan sekolah, kelengkapan wisata, alat-alat olahraga, pakaian, berbagai perhiasan permata dan berlian, sepatu, tas, alat-alat dapur, bahkan juga mainan anak-anak. Kesemuanya produk China dari 31 provinsi dan daerah khusus. Bule-bule yang datang terlihat serius bernegosiasi seperti di stand pameran aneka bentuk jam, perlengkapan olahraga seperti stik golf dan alat peselancar serta fasilitas fitnes, keperluan bagi penjelajah alam mulai dari tenda sampai kantong tidur dan sebagainya. Nyaris semua ada dan sepertinya jenis tersebut sebenarnya juga diproduksi di negaranya sang bule. Agaknya, harga dan kualitas komoditi yang tak jauh berbeda, membuat mereka tertarik bernegosiasi lebih intensif. Bisa saja nanti merek diakali dan kemasan diganti.

Harganya relatif murah, mungkin itu salah satu daya penariknya, selain kualitas komoditi. Seperti dikatakan Boonsong Srifuengfung, dari Kadin China yang dikutip media pameran, bahwa produk buatan China bersaing dengan harga yang rendah namun tetap berkualitas tinggi. ''Terbukti, banyak rekanan pembeli dari mancanegara menjatuhkan pilihannya di sini. Para peserta pameran pun memperoleh pengalaman berharga dan belajar banyak dari ajang ini,'' katanya

Namun kita akan kecele jika berharap dapat membeli langsung. Tidak ada penjualan retail di sini. Pesanan sudah dalam hitungan kontainer.

Semula kami sempat terkecoh. Saya jadi terheran-heran melihat harga barang pameran yang begitu murah. Ada teman yang menanyakan harga sebuah jaket yang cukup bagus. Harganya cuma 15 dolar AS. Diingat-ingat, di Jakarta, jaket seperti ini di atas Rp500.000,- . Ketika rekan itu coba mau membelinya, ternyata pembelian minimal 500 lembar. ''Semua ini hanya sampel,'' kata penjaga stand dalam bahasa Inggris yang fasih. Ia benar, karena yang terpajang di semua stand hanya satu buah untuk setiap model.

***

Dilaksanakan dua kali setahun dan tiap pelaksanaan digelar dalam dua fase, Canton Fair kali ini adalah yang ke-95 kalinya sejak pertama kali tahun 1957. Nanti, pada musim gugur (Oktober) even ke-96 digelar kembali. Inilah ajang paling bergengsi dari banyak pameran dagang terbesar di Cina, paling banyak dihadiri pebisnis mancanegara dan tentu saja ajang terjadinya transaksi dagang yang intensif, bahkan setelah pameran usai.

Pameran ini memang mencatat nilai transaksi yang relatif besar. Hu Chusheng, Vice Director & Secretary General of Chinese Export Commodities Fair yang juga direktur Pusat Perdagangan Luar Negeri China sendiri mengakui, even ini sudah tercatat sebagai pameran ekspor yang paling komprehensif dan pantas disebut sebagai pameran nomor wahid di China, baik itu karena sejarah panjangnya, ketinggian levelnya, skala besarnya serta tercatat sebagai arena transaksi bisnis terbesar di China.

Dengan mengurus tanda masuk bagi pengunjung, panitia pameran mencatat lebih dari 201 ribu pembeli asing yang datang dari lebih 200 negara dan dalam negeri China sendiri dan tercatat transaksi dagang mencapai lebih dari 20 miliar dolar AS.

Ajang CECF ini sepertinya menjadi arena pembuktian oleh China bahwa negara tersebut ingin menunjukkan kepada dunia betapa ekonomi secara nasional serta perdagangan luar negeri mereka sudah sangat berkembang. Juga sekaligus ingin menyampaikan pesan bahwa mereka sukses membuka jendela China ke arah modernisasi, mengembangkan ekonomi dan perdagangannya, melakukan diversifikasi pasar, unggul dalam kualitas produk serta, bagaimana perdagangan di sana sudah digerakkan dengan paduan penerapan sains dan teknologi yang saling menunjang, baik fasilitas, layanan maupun pada semua pengoperasian, seperti pada pameran itu sendiri.

Dengan itu semua, layak saja mereka optimis, ke depan ajang ini akan terus berkembang menuju era baru, di mana Canton Fair akan menjadi arena pameran yang layak diperhitungkan sebagai ajang pameran internasional, sekaligus memberikan kontribusi yang besar dalam menggairahkan jalinan ekonomi yang erat antara China dengan seluruh dunia.

Kekaguman terus terbangun selama menapak tangga terowongan bawah tanah saat meninggalkan lokasi Canton Fair. Ratusan manusia hilir-mudik dari dan menuju ke sana. Menjelang akhir terowongan, kami disapa seseorang yang menenteng tas berisi laptop. Ada juga yang menenteng jam tangan, katanya merek Rolex. Terus bercuap-cuap menawarkan dengan harga sangat miring. ''1.500 Yuan Pak, laptop bagus,'' begitu kira-kira promosinya.

Kalau yang begini, jelas tanpa diingatkan pemandu pun, kita sudah awas karena jika tergiur juga, pasti menyesal kelak. ''No, no. Yang seperti ini di tempat kami mah, banyak...,''celetuk rekan dari Kaltim, menepis tawaran si pedagang laptop jalanan.(bersambung)

Selengkapnya..

Minggu, 25 Mei 2008

Thai, Sin, M'sia

Tur Wisata Melintas Tiga Negara Bersama Patria Batam
Katanya Tiger Show, Harimaunya Mana?

Oleh A M Z A R

Perjalanan wisata selama sepekan ke Thailand dan Malaysia serta melintasi Singapura bersama Patria Tour & Travel Batam, memberi kesan yang membekas lama. Terutama ke negara Siam, negeri serantau namun agak berlainan rumpunnya dibanding Malaysia yang tak jauh beda dengan kita. Di balik kesan kunjungan, sebenarnya banyak pelajaran yang dapat dipetik dari bagaimana kedua tetangga kita ini mengelola pariwisatanya secara serius dan karenanya mampu meraup kunjungan jutaan wisatawan. Berikut catatan AMZAR yang ikut dalam lawatan ini.

THAILAND, negeri merdeka dengan latar belakang sejarah berbilang abad, semakin dekat. Pada peta elektronik yang terpampang di layar besar pada kabin penumpang Boeing 747-400 Singapore Airlines, tergambar rute penerbangan membentuk garis yang terus mendekat ke arah kota Bangkok, setelah hampir dua jam meninggalkan Changi, bandara Singapura.


''Selamat datang di Bangkok,'' sapa Somchai Chokchaimongkolkij, lelaki separuh baya yang cukup fasih berbahasa Indonesia. Senang juga ditemani pemandu wisata ini. Sebab, bagi yang pertama kali ke Thailand --rata-rata memang semua anggota rombongan, inilah kunjungan perdana ke negeri Siam-- akan sangat rumit untuk memahami berbagai hal di sana. Sudahlah aksaranya tak bisa dibaca, pun tidak banyak orang tempatan yang dijumpai, paham dengan bahasa selain bahasa ibunya.

Somchai lah yang menjadi jembatan penghubung untuk meminta penjelasan apa yang terlihat dan ingin diketahui selama tur ke Thailand ini, sampai ke hal-hal kecil tetapi penting. Contohnya saja ketika memasuki persinggahan pertama di Bangkok, yakni di restoran D'jit Potchana, yang pertama dicari adalah toilet. ''Orang di sini menyebutnya Hong Nam,'' itu kata Somchai, tadi.

Beberapa teman sibuk menghafal kata-kata ''penting'' yang diajarkan Somchai agar tidak keliru menyebutkannya, sebab ada kata lain yang juga disertai kata Nam, seperti Nam Yen (air minum dingin) dan Nam Ron (air hangat). Apalagi ini di restoran, ''bisa-bisa kita maunya air hangat untuk minum, tapi yang diminta Hong Nam, kan bingung tu pelayannya,''kata seorang teman.

Memang ada beberapa anggota rombongan yang perutnya kurang menerima masakan khas Thailand. Tom Yum misalnya. Sup khas ini sudah terhidang di D'jit Potchana. Banyak mungkin yang tidak terbiasa dengan aroma yang terhirup dari bumbu asam khas Thailand yang mengandung kaffir lime ini. ''Selera makan saya langsung hilang,''celetuk teman dari Padang. Padahal, menurut Somchai, asam tersebut dipercaya berkhasiat sebagai bahan obat awet muda dan dipakai dalam tradisi pengobatan tradisional Thailand.

Tapi bukan berarti masakan yang dihidangkan tidak menyelera. Buktinya, hampir semua menyantap dengan lahap, apalagi bila yang hadir itu adalah telur dadar, selalu jadi favorit. Apalagi baru saja menempuh penerbangan dan perjalanan jauh sejak dari Singapura tadi. Jadinya, semua seakan melupakan aroma Tom Yum tadi. Yang terdengar adalah suara sendok yang beradu dengan piring atau mangkuk, sesekali menyodorkan gelas kosong ke pelayan. ''Mas, Nam Yen nya satu.'' ''Nam Ron ciek, Uda.'' Terisilah gelas dengan air minum sejuk atau air hangat, disertai senyum si pelayan yang mau saja disapa Mas, Uda, Aa dan panggilan lainnya. Si pelayan tersenyum kecut, rombongan lainnya tergelak ngakak mendengar bahasa gado-gado dan asal bunyi itu.

Malam tiba, Bangkok pun gemerlap. Beda jauh dengan siang tadi yang panas menyengat, nyaris sama dengan di Indonesia yang beriklim tropis. Tapi ademnya udara malam di Bangkok, itu bagi yang berjalan-jalan menghirup udara bebas. Di tempat-tempat tertentu, udara di Bangkok justru lebih ''panas'' oleh beragam sajian hiburan malam, sesuatu yang selalu ada di banyak kota Metropolis yang ramai dikunjungi turis.

Kata Somchai, sang pemandu wisata, gemerlapnya kehidupan malam di Bangkok, Pattaya dan kota wisata lainnya di Thailand memang sudah terlanjur menyebar dari mulut ke mulut. ''Ada bagusnya juga, karena yang sudah sampai ke sini akan penasaran dan ingin membuktikannya,''kata Somchai. Ia pun menyebut beberapa atraksi yang bikin penasaran itu, seperti Kabaret Show, Russian Show, keduanya di Pattaya dan yang Bangkok di antaranya adalah Thai Girl Show. Tapi, di telinga kami, lebih terdengar sebagai Tiger Show. Makanya muncul pertanyaan.

''Ada harimau tu, Pak Somchai?'' Yang ditanya malah tertawa karena menganggap si penanya itu ''kura-kura dalam perahu.'' Dalam pemaparan di bus tadi, Somchai ada menyinggung tentang Tiger , eh Thai Girl Show tersebut, yang bisa dipersepsikan sebenarnya lebih kepada upaya mengeksploitir sedemikian rupa ''potensi alami '' yang dimiliki beberapa gadis Thailand untuk menyajikan sejumlah atraksi khusus ke publik yang menonton dengan bayaran sekitar 500 Baht (sekitar Rp100 ribu). Unik memang, namanya ‘’Tiger Show’’, tapi tak ada kerangkeng yang membatasi penampil dengan penonton. Bahkan tak ada seekorpun harimau pun yang tampil!

Ini, pertunjukan dengan mengeksploitasi para gadis ini, bagi sebagian orang mungkin dianggap sebagai hal yang biasa sebagai ekses dari perkembangan sebuah metropolis sekelas Bangkok ini. Tapi, tetap saja ada sudut lain di ruang hati yang menyisakan emosi yang lain, ''Ah, kasihan si gadis Thai...'' Namun tetap saja, malam ini, esok, dan esoknya lagi, dia tetap saja beraksi dan tetap saja ada yang menonton. Macam mana lagi? Ya sudah, lupakan saja...


Pagi Pertama, Dari Istana ke Sungai Chao Phraya

Pagi itu hari Senin. Bagi kota metropolis Bangkok yang berpenduduk 10 juta jiwa, tak ubahnya seperti Jakarta, macet di mana-mana, karena hari kerja. Beruntung, sebagai rombongan wisatawan, bus yang membawa kami diperkenankan melewati sejumlah kawasan jalan protokol. Sibuklah Somchai menjawab pertanyaan dari rombongan dari apa yang dilihat pada sepanjang jalan.

Maklum saja, tidak ada hal lain yang dapat menjelaskan kepada kami bangunan apa itu karena hampir semuanya menggunakan aksara Thailand. Hanya tempat-tempat tertentu saja dan itu yang berkaitan dengan predikat yang disandang bangunan itu, yang menggunakan juga keterangan dalam bahasa Inggris, seperti misalnya gedung perwakilan PBB (United Nations). Selebihnya, berhiaskan huruf keriting, bikin pusing.

Jalan protokol yang dilalui, banyak dihiasi foto besar Raja Bhumibol Adulyadej, baik sendirian, bersama Ratu Sirikit, pada sebuah acara dan berbagai pose lainnya. Ada juga foto tamu kerajaan dari Eropa yang bisa diartikan bakal atau telah ada kunjungan tamu kerajaan dalam waktu yang tidak berjauhan dari kedatangan kami.

Beberapa tempat penting memang sempat kami lintasi karena memang diperkenankan bagi bus wisata. Ada Monas-nya Bangkok (Victory Monument), Istana Suan Phakkad, Villa Chitralada sebagai tempat kediaman Raja, gedung Parlemen yang bercorak bangunan gothik, monumen King Rama V sebagai raja kebanggaan Thailand, sekolah kerajaan, Monumen Demokrasi yang kerap dijadikan ajang tempat unjuk rasa, dan sebagainya. Terbanyak berada di sisi jalan empat jalur yang berpapasan dengan gedung parlemen.

''Bila kendaraan yang membawa Raja lewat, yang lain tak ada yang melintas. Juga kalau ada tamu negara atau tamu kerajaan, juga lewat jalan ini,'' kata Somchai. Memang, dari berbagai monumen dan penampilan gambar Raja di berbagai sudut kota, menyiratkan betapa Raja Thailand menempati posisi istimewa bagi merata rakyat Thailand.

Menurut Somchai, tradisi ini sudah berjalan berabad-abad silam, jauh sebelum berkuasanya Raja Chulalongkorn yang bergelar Rama V (1869-1910), Raja Vajiravudh atau Rama VI (1910-1925), Raja Prajadhiphok (1925-1935), saat Thailand berubah dari sistem Monarki Absolut ke Monarki Konstitusional. Pada masa Raja Ananda Mahidol (1935-1946) nama negara ini berganti dari Siam menjadi Thailand sekaligus membentuk pemerintahan demokratis tahun 1939.

Raja Bhumibol Adulyadej yang berkuasa sekarang, bergelar Rama IX, dari dinasti Chakry, merupakan keturunan dari Raja Chulalongkorn. Ia memang unik karena raja sebelumnya (Rama VIII) adalah abang kandungnya sendiri. Raja Bhumibol lahir pada Desember tahun 1927 di Cambridge, Massachusetts (AS), tempat ayahnya Pangeran Mahidol dari Songkhla yang ketika itu sedang menuntut ilmu kesehatan di Harvard University.

Raja Bhumibol Adulyadej termasuk yang lama bertahta, sejak dinobatkan tahun 1946. Menurut Somchai, sang raja yang didampingi permaisuri Ratu Sirikit, sangat merakyat dan dicintai masyarakatnya. Ada saat-saat tertentu wakil-wakil dari seluruh wilayah negeri dipanggil untuk bertemu guna mengetahui permasalahan yang dihadapi. Tak jarang juga pelaksana pemerintahan melakukan hal serupa dengan Raja.

Begitulah, selama perjalanan melihat-lihat berbagai tempat bersejarah tersebut, sejarah singkat yang disampaikan Somchai tadi sedikit membantu untuk memahami kenapa begitu tingginya penghargaan diberikan terhadap raja dari simbol-simbol yang terlihat jelas sepanjang perjalanan lebih satu jam itu, sebelum sampai di pinggir sungai Chao Phraya.

Menyusuri Sungai
Selain masalah bahasa dan beberapa makanan, sepertinya tak ada yang menjadi kendala selama di Thailand. Sebab, apa yang terpampang dan dipampangkan, bisa dinikmati tanpa harus menerima penjelasan panjang lebar. Di sungai Chao Phraya misalnya. Pengelola pariwisata Thailand memang menempatkan sungai ini sebagai salah satu tempat wajib untuk ditelusuri. Buktinya, siang itu, selain rombongan yang dibawa Patria Tour dari Batam, banyak turis asing, baik bule, kulit sawo matang atau yang bermata sipit, sibuk hilir-mudik dengan perahu mesin. Suara pemandu pun terdengar ganti-berganti bahasa, dari tiap pengeras suara pada masing-masing perahu yang menyusuri Chao Phraya.

Sungai yang membelah kota Bangkok dan panjangnya ratusan kilometer ini, airnya memang rada keruh, tetapi tidak kotor. Kedua sisi sungai nyaris sudah dipagar beton dan dipenuhi banyak tempat bersejarah dan diagungkan. Kalau di Eropa yang terkenal adalah Venesia sebagai kawasan wisata sungai yang ditelusuri dengan Gondola, maka di Bangkok, mereka dengan percaya diri menyebut Chao Phraya ini sebagai Venesia dari Timur. ''Ketika Bangkok menjadi ibukota negara tahun 1782, para turis dari Eropa sudah menjulukinya seperti itu,'' kata Somchai.

Mungkin kalau dibilang sama dengan Venesia, itu terlalu berlebihan. Tapi, upaya memaksimalkan potensi sungai Chao Phraya ini oleh Tourism Authority of Thailand memang patut diacungi jempol.Sejarah kejayaan yang diukir sejak masa lampau dan menyisakan bukti yang tersebar di sepanjang sisi Chao Phraya, itu menjadi kebanggaan bagi setiap orang Thailand untuk membeberkannya ke publik mancanegara yang wajib dibawa singgah ke sana oleh setiap pemandu wisata.

Itulah yang dilakukan Somchai, sang pemandu kami. Ia dengan bangganya menceritakan sejumlah kelebihan potensi di sepanjang sungai ini, serta peninggalan sejarah yang telah menjadi monumen atau yang masih berfungsi sampai saat ini.
Sebentar saja menyusuri sungai ini ke arah utara dari dermaga dekat kawasan Sanam Luang, sudah terlihat beberapa bangunan bersejarah seperti dokyard milik Angkatan Laut Kerajaan Thailand, the Thai Maritime Navigation Company, the Old Customs House, the First Presbyterian Church dan sebagainya.

Satu yang khas di Thailand adalah banyaknya dijumpai kuil dan pagoda, sehingga ada yang menggambarkannya dengan istilah Negara Seribu Pagoda. Khusus di sungai Chao Phraya ini, ada yang istimewa. Pada pinggiran sungai yang ada kuilnya, muncul ratusan atau mungkin ribuan ekor ikan yang umumnya jenis Patin, ke atas permukaan sungai. Akan lebih keras suara kecipak air bila disebarkan potongan roti ke arah populasi ikan ini.

Lho, tak ada yang menangkap? Kata Somchai, ini semacam ikan larangan dan sudah diyakini sejak turun temurun, bahwa jika melanggar pantangan itu, bisa kualat. Kita bisa saja tidak percaya, tetapi masyarakat Thailand masih mematuhi ketentuan tersebut.

Pagoda dan candi memang banyak tersebar di sepanjang pinggiran Chao Phraya. Ada yang namanya Wat Prayunrawong, Wat Rakhang Khositaram, Wat Phra Kaeo Grand Palace sebagai salah satu istana raja, the Royal Boat House, tempat tambatnya perahu kerajaan dan Wat Arun.

Kami sempat singgah di kawasan Wat Arun ini, setelah beberapa kali berpapasan dengan para pedagang cenderamata yang menggunakan perahu dayung atau perahu mesin menjajakan aneka souvenir. Di dermaga Wat Arun, silih berganti perahu wisata tambat. Ratusan turis turun dan naik. Ada yang mendaulat untuk foto bersama dengan latar belakang candi Wat Arun. Tukang fotonya pun pakai rebahan segala untuk mengambil gambar terbaik.

Nama lengkap candi ini Wat Arun Rajwararam (The Temple of Dawn). Sepintas mirip Candi Prambanan di Pulau Jawa sana. Pengunjung hanya dapat menaiki beberapa jenjang di pelatarannya saja, karena untuk ke puncaknya yang berketinggian sekitar 100 meter, sangat beresiko karena susunan tangganya sangat rapat dan curam. Itu sebabnya tangga untuk naik ini diberi pagar dan ada papan peringatan. Pengunjung pun tidak boleh sembarangan duduk pada pelataran stupa di sudut candi. Ada yang mencoba untuk mengambil foto, tetapi langsung saja bunyi peluit dari penjaga pertanda hal itu dilarang.

Kata Somchai, konon candi Wat Arun ini diambil dari nama salah satu dewa India bernama Aruna, yang dibangun dengan berbagai ornamen yang umumnya terbuat dari susunan pecahan porselen dari kapal asal Cina yang karam di kawasan tersebut tempo doeloe.

Cerdiknya pengelola pariwisata Thailand, semua perjalanan turis selalu diarahkan ke tempat-tempat pasar wisata. Di sekitar Wat Arun misalnya, beragam souvenir tersedia, dari baju sampai patung Budha. Eh, penjualnya pun bisa berbahasa Indonesia. Maka, miriplah suasananya seperti di Pasar Nagoya, Batam.

Mau tak mau, kita tetap tertarik ingin membeli sesuatu untuk jadi tanda mata. Kalau ada yang belum sempat menukarkan duitnya dengan mata uang Baht, maka di sini sang pemandu wisata, bung Somchai pun berubah fungsi menjadi ''money changer berjalan.'' Maka ketika naik ke perahu lagi, hampir semua anggota rombongan menenteng tas kresek berisi bungkusan belanjaan. Bahkan itu masih dikejutkan dengan disodorkannya piring porselen yang sudah berisi foto kita sendiri secara close-up. Lho kapan ngambilnya. Ternyata sewaktu foto bersama saat datang tadi, yang tukang fotonya pakai acara rebahan segala. Berminat dengan foto ini, bisa ditebus seharga 150 baht (sekitar Rp30 ribu). Rata-rata semua pun mengambil!

Siangnya, pemandu membawa rombongan ke kawasan Dusit, masih di dalam kota Bangkok. Kali ini yang dikunjungi adalah Dusit Leather Company Limited di Rachasima Road. Inilah pusat pengolahan sekaligus galeri beragam produk yang terbuat dari kulit. Ada tas, ikat pinggang, dompet dan perlengkapan lainnya yang terbuat dari kulit buaya, kulit ikan pari, kulit gajah, dan sebagainya.

Wah, pintar sekali mereka menguras isi saku turis. Buktinya, banyak anggota rombongan yang kembali menenteng tas belanjaan ketika keluar dari galery tersebut. Sebelum berangkat ke Pattaya, masih ada satu tempat yang disinggahi, yakni pusat penangkaran King Cobra. Di sini selain melihat beragam jenis ular termasuk King Cobra yang paling ganas, juga sempat dibawa satu tempat khusus, masih di kompleks tersebut.

Di sini, ada beberapa ruangan mirip kelas. Beberapa ruang sudah terisi oleh pengunjung dari negara lain seperti Korea, Cina dan Malaysia. Rupanya, di kelas-kelas yang tersedia inilah, para ahli dari pusat penangkaran ular ini mempresentasikan bagaimana ular-ular itu diperlakukan sedemikian rupa sampai menjadi kemasan obat dan suplemen untuk beberapa tindakan. Ada yang berupa ekstrak, kapsul, tonik, tepung dan minyak ular. Tentunya dengan beragam khasiat dan manfaat, yang kesemuanya diterangkan dalam bahasa Indonesia, dari untuk pegal linu sampai obat kuat. Ujung-ujungnya, ya jualan lagi. Tapi, di sini, tak banyak yang merogoh saku. Entah tak berminat, entah malu-malu.

Ke Pattaya Lewat Tol

Sebenarnya, sebelum berangkat, sudah banyak yang mengetahui serba ringkas tentang Pattaya. Lewat jalan tol, kota yang berjarak147 km arah tenggara Bangkok ini ditempuh dalam waktu dua jam.

Pukul 16.00 saat tiba di sana, suasananya biasa-biasa saja. ''Seperti di Bangkinang saja,'' celetuk rekan dari Pekanbaru, membandingkan suasana yang tidak terlalu ramai kota ini saat sore itu dengan yang pernah dilihatnya di Bangkinang, Kampar. ''Beginilah suasananya kalau siang. Nanti malam lah lihat, baru hidup kota ini,'' terang Somchai.

Benar saja. Kegelapan yang semestinya menyergap, berubah menjadi semarak oleh gemerlapnya lampu aneka warna. Dari buklet yang gampang didapat di Pattaya, nyaris yang banyak dijelaskan adalah dunia hiburan malamnya, sesuatu yang memang menjadi andalan Pattaya, selain pantainya.

Ada bar dan kafe di udara terbuka yang dipenuhi bule, ada klab malam, diskotik dan tempat hiburan dengan aneka pertunjukan. Di sini, satu paket yang sejak awal digembar-gemborkan sang pemandu adalah Cabaret Show. ''Apa bendanya ni, Somchai?'' Dia bilang, nyesal kalau tak nonton. Sebuah garansi yang bikin penasaran.

Dengan membayar uang masuk 500 Baht, penonton sudah antre jauh sebelum waktu pertunjukan dimulai. Tempat pementasannya pun berkelas, sebuah bangunan eksotik mirip gedung opera yang diberi nama Alcazar. Jadwal pertunjukannya tepat waktu, sehingga ketika kami sampai beberapa menit sebelum show digelar, semua kursi baik di lantai pertama maupun di balkon nyaris tak ada yang tersisa. Tapi memang, kalau sudah pegang tiket, pasti dapat tempat duduk.

Gemuruh suara sound sistem disambut oleh tepukan gemuruh dari pengunjung ketika show dimulai. Layar terangkat secara bergelombang dan di pentas yang melengkung muncul sederet penari dengan aneka kostum yang terkesan kolosal. Maka, satu persatu pertunjukan pun dimulai, apakah itu tarian kolosal, nyanyian tunggal baik lip sync maupun live, opera singkat dan sebagainya, yang bergulir lancar dengan bentuk serta ornamen pentas yang berubah dalam sekejap, disesuaikan dengan setting dari apa yang dipertunjukkan.

Para penari, penyanyi, pemain drama dan umumnya penampil di kabaret show ini, dalam tatawarna pentas yang gemerlap, tampak glamor dibalut kostum yang dirancang memberikan kesah mewah. Dari tempat duduk penonton, terlihat cantik-cantik, seksi dan aduhai. Siapa sangka, mereka semua ini adalah waria! Ini yang bikin kagum, di mana mereka bisa diarahkan sedemikian rupa sehingga bisa menampilkan sesuatu yang malah membanggakan Pattaya.

Waktu satu jam untuk pertunjukkan Cabaret Show ini terasa cepat berlalu. Penonton yang penasaran, di luar gedung dapat melihat dari dekat para penampil masih dengan pakaian show mereka. Ada yang berkostum mirip merak, ada yang mengenakan rajutan yang hanya menutupi beberapa bagian tubuh saja. Nyaris tak percaya mereka ini semua adalah waria. Mau pose dengan mereka? Memang, inilah yang ditawarkan, asal bersedia merogoh saku untuk imbalan 150-200 Baht. Wah, Baht lagi, Baht lagi, semuanya mereka jadikan duit!

Ini adalah satu dari bagian hiburan yang terkelola secara baik oleh kalangan pengelola pariwisata di Pattaya. Belum lagi tempat hiburan lain, baik yang umum maupun eksklusif, baik yang diisi oleh penampil lokal, pribumi maupun oleh orang asing, seperti Russian Show. Malam terasa sangat panjang di Pattaya!


Pagi, sebelum menuju ke kawasan Segitiga Emas, masih sempat menelusuri pantai Pattaya sepanjang 4 kilometer yang sebenarnya harus diakui tidak terlalu istimewa dibanding apa yang dimiliki Indonesia. Di sini pengunjungnya tetap ramai.

Hanya dalam hitungan menit, rombongan sampai di kawasan Segitiga Emas, mengunjungi Golden Triangle Park. Banyak yang tahu, kawasan segitiga emas adalah suatu tempat yang subur di antara tiga negara: Laos, Myanmar dan Thailand, yang cocok untuk tanaman candu.

Namun pada taman seluas 40 acre yang terletak di Chiang Rai ini, pengelolaan ladang candu ini sepenuhnya dibawah pengawasan kerajaan dan dimanfaatkan untuk kepentingan medis. Yang kami tinjau adalah bagaimana mereka memanfaatkan tanaman candu untuk menjadi tempat lebah mendapatkan sari untuk diambil madunya, royal jelinya, dan sebagainya. Ujung-ujungnya, ya jualan lagi, lengkap dengan berbagai penjelasan serta brosur tentang khasiat dari produk madu lebah yang mengkonsumsi tanaman candu tersebut.

Setelah di sini, objek berikut yang dituju adalah sebuah kawasan Taman Safari dan cagar alam yang diberi nama Nong Nooch Garden. Ada taman anggrek dan beraneka tanaman tropis lainnya, ada aneka satwa yang untuk berfoto dengannya pun juga harus bayar, serta show gajah. Di tengah taman ini juga terdapat gedung pertunjukkan dan setiap hari menggelar aneka seni khas Thailand, termasuk Thai Boxing. Semuanya dipadu dalam satu paket pementasan dan selalu dijubeli penonton yang umumnya turis asing.

Dari gedung pertunjukkan ini, penonton digiring ke lapangan khusus tempat pertunjukan aneka atraksi gajah, apakah gajah berhitung, gajah main bola, naik sepeda, main basket, sampai ada gajah yang bisa mengurut pengunjung yang bersedia rebahan di lapangan. Untuk memberi makan si gajah, pengunjung pun harus rela merogoh saku untuk membeli pisang yang dijajakan di pinggir lapangan.

Pertunjukan gajah ini sebenarnya hampir ada di semerata tempat di Thailand, karena hewan raksasa tersebut sudah terlanjur akrab dengan orang Thailand. Bahkan, mereka mempunyai Hari Gajah (Elephant Day) yang diperingati 13 Maret lalu.

Dalam perjalanan kembali ke Bangkok, masih ada dua tempat yang masuk dalam paket persinggahan, yakni di Gems Galery, sebuah pusat pengolahan batu permata yang dikembangkan secara modern dengan ruang pamer yang sangat luas. Sebelum ke galeri, pengunjung dibawa berpetualang ke dalam lorong khusus yang dimanfaatkan untuk secara ringkas memberi penjelasan melalui beberapa adegan, gambar, relief dan gambar virtual serta diorama tentang bagaimana permata itu tercipta di alam, ditambang dan dimanfaatkan.

Di galery inilah, pengunjung benar-benar diperlakukan sedemikian rupa, dikuntit terus, diberikan penjelasan terus, dipromosikan terus tentang aneka perhiasan yang dilengkapi permata. Wah, mangkus juga cara orang Thailand ini. Entah berapa ribu Baht yang terbelanjakan di sini, yang jelas tentengan belanjaan bertambah lagi.

Tempat terakhir yang disinggahi adalah Tiger Zoo di Sriracha, satu lagi taman yang menyediakan aneka satwa, terutama harimau dan buaya. Di sini ada pertunjukan buaya dengan sepasang pawang yang sempat menyorongkan kepalanya ke dalam rongga mulut buaya yang disuruh menganga.

Banyak sebenarnya pertunjukan lain yang bisa dinikmati di sini, namun agenda yang padat dan kondisi fisik yang lelah membuat rombongan enggan berlama-lama di sini. Rombongan kembali ke Bangkok setelah melihat museum buaya dan macan yang menggambarkan bagaimana buaya diternakkan. Di sini ada slide besar yang mengabadikan Putri Raja, Mahachakri Sirindorn saat berkunjung ke sana melihat dan berfoto bersama anak buaya yang diternakkan. Bagi yang juga punya minat berfoto dengan sang buaya, harus bayar lagi.

Paginya, sebelum meninggalkan Thailand, khususnya Bangkok, masih ada satu tempat yang ditawarkan untuk dikunjungi yakni Dream World, yang lokasinya searah untuk perjalanan ke Bandara Don Muang. Seperti di Dunia Fantasi, aneka permainan dan hiburan juga tersedia di sini. Pengelolaannya yang bagus menyebabkan lokasi ini pun selalu ramai dikunjungi. Sama saat memasuki Wat Arun, di sini pun kita diincar pemotret amatir yang juga menawarkan foto kita yang sudah tercetak di atas piring porselen, saat akan meninggalkan lokasi itu.

Waktu setengah hari dihabiskan di sini. Lepas tengah hari, kami berangkat menuju bandara Don Muang untuk berangkat menuju Singapura. Apa yang terkesan dan seperti yang disampaikan oleh Somchai adalah bahwa Thailand tidak memiliki alam seindah dan seluas Indonesia. Namun, potensi yang tidak terlalu banyak itu sepenuhnya dikelola secara terpadu dan profesional. Buktinya, Thailand yang berpenduduk 60 juta jiwa itu, setiap tahunnya dikunjungi rata-rata 10,8 juta wisatawan mancanegara. Ada banyak hal yang kita mesti belajar dari mereka tentang bagaimana wisata itu dikelola secara terpadu dan profesional.(amzar)




Malaysia, dari Genting Hingga Melaka

PESAWAT Singapore Airlines yang menerbangkan rombongan yang dibawa Patria Tour & Travel terlambat dua jam dari jadwal penerbangan semula pukul 16.00. Jadinya, kami tiba di Singapura ketika hari sudah gelap.

Seperti sudah dimaklumi, di sini pemeriksaan selalu saja ketat. Rombongan baru meninggalkan bandara Changi pukul 20.35, dengan bus meneruskan perjalanan ke Malaysia melalui Johor. Tak sampai dua jam, kami sudah memasuki Johor setelah melewati perbatasan dan diperiksa oleh petugas imigrasi Malaysia.

Karena sudah malam, selepas makan, rombongan langsung ke salah satu hotel untuk beristirahat. Sejak di sempadan tadi, kami sudah mendapat pemandu baru, yakni Encik M Syafei, yang kental logat Melayunya, khas Malaysia.

Esok paginya, sehabis sarapan, perjalanan dilanjutkan lagi. Kawasan yang dituju adalah Genting Highland, melintasi jalan tol yang mulus dengan pengaturan kecepatan memandu kendaraan oleh pemerintah Malaysia, sehingga perjalanan terasa selesa. Apalagi, di negeri serumpun ini, perut kembali mau menerima maakanan yang masuk, karena tidak terlalu asing seperti di Thailand.

Banyak hal diceritakan Encik Pi'i, sapaan M Syafe'i selama dalam perjalanan. Sesekali, ada tempat yang khusus dibangun untuk tempat beristirahat bagi pengemudi dan penumpang, atau hanya sekadar ''tandas'' tempat buang air kecil dan cuci muka. Pokoknya, kalau ada rombongan yang merasa ingin buang air kecil, lapor ke Encik Pi'i. ''Kejap lagi ye Pak Profesor, paling seperempat jam lagi kat depan ade tandas,'' gurau Pi'i kepada salah seorang anggota rombongan yang sebagian kepalanya gagal ditumbuhi rambut.

Menjelang sore, setelah melintasi beberapa kota termasuk sebagian wilayah Kuala Lumpur, rombongan sudah memasuki kawasan Genting Highland. Sesuai namanya, kawasan ini berada di atas ketinggian, sehingga udaranya sejuk, mirip di kawasan Puncak.

Perjalanan diteruskan dengan Sky Way, yang menurut penuturan Syafe'i merupakan kereta kabel terpanjang di kawasan Asia Tenggara. Bayangan yang selalu ada selama ini, bahwa Genting Highland adalah semata kawasan untuk berjudi, perlahan sirna manakala melihat para pengunjung yang kebanyakan juga datang bersama keluarga.

Memang, sesampai di kawasan tersebut, yang terlihat adalah sebuah tempat yang mengundang decak kagum. Sebuah kawasan yang berada di ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut, dipenuhi oleh berbagai bangunan megah, aneka permainan, pusat perbelanjaan dan beragam hiburan lainnya. Termasuk juga beberapa hotel megah dan sejumlah pusat perbelanjaan.

Ada memang tempat berjudi kasino di kompleks ini. Namun tempatnya sangat eksklusif dan menerapkan aturan serta seleksi yang ketat bagi pengunjungnya. Kata Pi'i, warga muslim Malaysia tidak dibenarkan masuk ke arena kasino. Warga negara lain yang ingin masuk, harus berpakaian rapi, bersepatu dan membawa paspor.

Malam di Genting Highland yang gemerlap, memang berkesan. Di sini memang tak ada jadwal acara berombongan. Makanya, ada yang memilih jalan-jalan, belanja, melihat bagaimana pengunjung memanfaatkan aneka permainan, dan ada juga yang ingin tahu bagaimana sebenarnya di dalam kasino Monte Carlo, yang suasananya mirip seperti apa yang kita lihat pada film Hongkong, Taiwan atau Hollywood yang berlatarbelakang kegiatan di kasino.

Lebih dari itu, Genting Highland sebenarnya adalah ''kota ajaib'' di puncak bukit yang berjarak 50 kilometer dari Kuala Lumpur. Suhu udara di sini berkisar 16 hingga 25 derajat Celsius, sehingga tidak terlalu memerlukan pendingin udara, cukup dari alam. Semua fasilitas yang dibangun di sini memang berstandar internasional, baik itu yang berada di dalam ruangan maupun di alam terbuka. Semua tersedia, tinggal bagaimana kita bisa mengatur rencana, tentu sesuai dengan keperluan dan ketersediaan anggaran.

Setelah semalam di Genting Highland, perjalanan diteruskan ke Kuala Lumpur. Namun, sama seperti di Thailand, di Malaysia pun, pemandu wisata punya kewajiban untuk membawa singgah rombongannya ke tempat tempat tertentu. Contohnya, beberapa jam dari kaawasan Genting Highland, bus harus berhenti untuk sedikit pemulihan setelah dipaksa merayap menuruni bukit.

Tempat berhentinya bus pun ternyata adalah di sebuah kedai serba ada. Rombongan lain sudah terlebih dahulu singgah di sini dan di belakang kami pun ada rombongan lain yang singgah di sini. Adaa bermacam makanan kering khas tempatan yang dijual di sini. Juga beberapa jenis obat tradisional, seperti Tongkat Ali, baik dalam bentuk asli dari serutan kayu, maupun yang telah mengalami pengolahan berbentuk kapsul, dan aneka obat serta penganan tradisional lainnya. Di sini, ringgit pun tertinggal sebagai pengganti belanjaan yang dibawa ke atas bus.

Menjelang siang, kami sudah memasuki Kuala Lumpur (KL). Dari kejauhan sudah terlihat menara kembar Petronas dan menara KL. Namun sebelum menuju ke pusat kota, rupanya ada dua tempat wajib singgah, yakni tempat yang disucikan umat Hindu di Batu Caves, Selangor, yang mempunyai ratusan susunan anak tangga menuju ke ruang khusus di dalam gua di atas bukit cadas, serta beberapa tempat prosesi keagamaan yang bagi wisatawan cukup menarik untuk dijadikan latar belakang pengambilan gambar. Apalagi ratusan burung merpati yang nampak jinak, selalu berada di dekat pengunjung.

Di sini hanya sebentar, lalu rombongan dibawa ke suatu galeri yang khusus menjual aneka jenis jam asli dari Swiss yang dengan kerja sama resmi dapat dijual dengan harga yang pantas. Letaknya di kawasan Taman Sri Batu Caves. Nama galerinya, Geneve Timepiece. Sudah ada rombongan lain yang telah lebih dulu diboyong ke sini, dan seperti mereka, tidak sedikit anggota rombongan kami yang keluar dengan menenteng tas berlogo Geneve Timepiece. Yah, beli jam lah tu, yang ketika dicoba memang anti gores dan waterproof.

Memasuki pusat kota KL, rombongan berhenti sebentar di Dataran Merdeka, sebuah alun-alun di pusat kota yang kerap menjadi sentral berhimpunnya massa untuk satu kegiatan kolosal. Di bawahnya, ada ruang bawah tanah yang berisi toko dan restoran.

Sebelum menuju menara kembar Petronas, singgah dulu di depan Istana Raja di kawasan Shah Alam. Kebetulan sampai di sana, rombongan raja dan kerabat istana baru saja tiba dan akan memasuki gerbang istana. Di sini, pengunjung diperkenankan berfoto sepuasnnya, baik sendiri, bersama-sama, atau malah dengan pasukan kerajaan yang mengawal istana dengan pakaian khasnya. Ada juga pasukan berkuda.

Menara Kembar Petronas, adalah tujuan berikutnya. Inilah salah satu kebanggaan Malaysia karena termasuk sebagai salah satu bangunan tertinggi di dunia. Sayangnya, rombongan tidak naik sampai ke tingkat tertinggi yang diperkenankan untuk melihat ke segala penjuru Kuala Lumpur. Pasalnya, untuk ke situ harus mendaftar jauh-jauh hari. Jadinya, hanya mengunjungi pusat bisnis yang ada di lantai satu sampai enam yang bernuansa modern dan sangat luas, sehingga Encik Pi'i berulang-ulang menjelaskan tentang tempat di mana nanti harus kumpul lagi. Sebenarnya, ada juga dirancang untuk menaiki KL Tower, tapi dibatalkan karena sebagian rombongan merasa letih.

Setelah istirahat sejenak di hotel yang berada tak jauh dari kawasan Chow Kit, rombongan berkesempatan melihat suasana malam di Kuala Lumpur. Ya, kalau seperti ini, paling-paling yang dilihat dan dikunjungi adalah pusat perbelanjaan. Tidak pun berbelanja, ada kesempatan melihat beragam komoditi dan bagaimana mereka melakukan berbagai cara untuk menarik minat pembeli.

Esok paginya, hari terakhir tur, perjalanan dilanjutkan ke Melaka, Bandaraya Bersejarah. Beberapa tempat yang punya kaitan dengan sejarah Melayu, menjadi objek kunjungan di kawasan ini. Ada Perigi Hangtuah, yang diyakini sebagai sumur yang dulu digali Laksamana Hangtuah saat menjejakkan kakinya ke Malaka. Di sini juga ada lukisan imaji yang menggambarkan bagaimana dua bersaudara Hangtuah dan Hangjebat saling bertarung habis-habisan.

Satu tempat lagi yang juga ramai dikunjungi di sini adalah Perigi Raja, yang letaknya di kawasan kuburan Cina, yang konon kuburan kuno terluas di luar negara Cina. Ada yang istimewa dari air sumur ini, yakni ketika dituangkan ke cangkir sampai penuh, permukaannya akan cembung. Ditambah dengan memasukkan beberapa potong koin, permukaan air akan makin jelas cembungnya, jauh di atas permukaan cangkir. Mau diminum? ''Silakan saja, dan biasanya mereka yang meminumnya, satu saat nanti akan datang lagi ke Melaka ini,''kata Encik Syafe'i

Ada banyak lagi tempat bersejarah di sini, termasuk museum bahari, museum sejarah dan bangunan tua seperti gereja Christ Church Melaka yang dibangun pada tahun 1753. Beberapa bangunan tua yang masih mencirikan arsitektur Inggris, Belanda dan Portugis, masih banyak bertebaran di bandar yang mempunyai trayek pelayaran langsung ke Dumai, Riau ini.

Inilah kota terakhir yang disinggahi rombongan tur yang dibawa oleh Patria Tour & Travel dari Batam ini. Masih ada satu pusat perbelanjaan yang disinggahi sebelum bertolak menuju Johor, selanjutnya memasuki Singapura kembali, untuk kemudian naik fery yang akan mengantarkan rombongan kembali ke Batam. Sepanjang perjalanan pulang sejak meninggalkan Melaka, hingga menginjakkan kaki ke Batam kembali, hujan terus saja mengguyur. Butiran air terlihat menghapus jejak debu yang sedikit menempel di kaca bus. Namun, jejak perjalanan ini masih kuat membekas di hati, belum akan terhapus seperti debu di kaca tadi.(amzar)

Selengkapnya..

Ziarah Tanah Suci 1

Ke Makkah dan Madinah, Ya Ibadah, Ya Ziarah

Oleh A m z a r

INILAH kesempatan yang sangat menguntungkan bagi yang berkesempatan melaksanakannya. Beribadah sambil juga berziarah. Ya, siapa yang tidak bergetar hatinya saat berada di kota suci Makkah Almukaramah dan Madinah Almunawwarah, dua tanah haram yang merupakan tempat idaman bagi setiap umat Islam.

Dua kota penting ini dan kawasan sekitarnya sarat dengan tempat-tempat suci dan bersejarah. Rugi rasanya kalau sudah berada di sana, untuk beribadah haji atau umrah, tapi tidak meluangkan waktu melihat dari dekat tempat-tempat bersejarah, menyaksikan secara nyata tempat-tempat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan agama Islam. Lain rasanya bila sudah berada langsung di sana. Pengalaman jelas bertambah, plus juga dapat mempertebal iman, jika itu memang diniatkan dengan baik.


Berada di Makkah, tentu tempat utama yang bikin hati bergetar dan tenteram adalah Masjidil Haram, yang di dalamnya terdapat Kakbah, kiblat bagi setiap muslim dalam melaksanakan ibadah salat. Tak hanya di musim haji, sepanjang waktu masjid yang paling agung ini senantiasa ramai. Tentu suasana lebih menggetarkan saat musim haji, karena jutaan umat dari seantero dunia mengunjunginya.

Upayakanlah agar ada waktu untuk mengenal lebih dekat Masjidil Haram ini. Pintu masuknya yang hampir seratus buah, dengan pintu utama bernomor 1 bernama King Abdul Aziz Gate, berdekatan dengan Istana Raja di bukit Qubays, yang ditandai dinding beton hampir tegak lurus di sisi timur laut Masjidil Haram. Bukit tempat istana raja ini juga bersejarah, karena di sinilah dulu junjungan alam Nabi Muhammad SAW dibersihkan hatinya oleh malaikat Jibril sebelum di-Isra’ Mi’raj-kan.

Strategisnya pintu ini, karena baru saja beberapa langkah menyusurinya, Kakbah yang agung sudah kelihatan. Pintu lainnya tersedia di sekeliling masjid. Jadi kita dapat masuk dari arah mana pun. Mau ke lantai atas, atau ke lantai puncak masjid, ada tangga biasa, juga ada elevator. Bahkan disediakan lift khusus bagi penderita cacat dan mereka yang sakit atau uzur.

Mau air zam-zam, akan dengan gampang mendapatkannya mulai dari pintu masuk ke pelataran masjid, di sejumlah titik dan sudut di tiap lantai juga tersedia sangat banyak. Tinggal putar atau tekan kran saja, karena sudah tersedia cangkir plastik dalam jumlah banyak. Boleh juga jika kita sengaja bawa botol plastik. Di sekeliling masjid pun tersedia banyak tempat untuk makan dan belanja. Pokoknya, inilah senyaman-nyaman tempat untuk beribadah.

Dekat masjid ini, satu tarikan garis lurus dari Babus Salam, hanya beberapa meter dari pintu pagar menjelang masuk pelataran masjid, terdapat Rumah Maulid, tempat di mana dulu Rasulullah SAW dilahirkan. Bangunannya sangat sederhana, namun selalu dijaga askar Saudi, untuk mencegah perilaku berlebihan dari jamaah yang berziarah.

Kalau mau ziarah ke tempat-tempat bersejarah lainnya di Makkah, tempatnya tidak terlalu jauh dari Masjidil Haram. Jabal Nur misalnya, terletak sekitar enam kilometer sebelah utara Masjidil Haram. Gunung atau bukit ini begitu termashur karena di sinilah terdapat Gua Hira. Dua nama ini, Jabal Nur dan Gua Hira tercatat dalam bagian penting sejarah Islam karena di gua inilah Nabi Muhammad SAW menerima wahyu yang pertama, Surat Al ‘Alaq dari ayat 1 sampai 5.

Sayang, pada waktu berhaji kemarin, Saya yang semula memang berencana naik ke sana, batal karena tak cukup waktu. Jadi, hanya melihat dari kejauhan bagaimana sejumlah orang sedang mendaki ke atas sana. Diperlukan waktu sekitar satu jam untuk sampai ke puncaknya. Agak menurun sedikit dari puncak itulah, terdapat Gua Hira, yang cukup untuk duduk empat orang. Ruangan gua, kira-kira setinggi orang berdiri.

Kami juga sempat singgah di kaki Jabal Tsur, yang posisinya kira-kira enam kilometer sebelah selatan Masjidil Haram. Tempat ini juga terkenal karena dulunya menjadi tempat persembunyian Rasulullah SAW bersama Abu Bakar Assiddiq, sewaktu akan berhijrah ke Madinah. Ketua kloter kami, Drs H Muchtaruddin SH mengisahkan sedikit sejarahnya, ketika Rasulullah SAW selamat dari kepungan kafir Quraisy di rumahnya, kemudian bersama sahabatnya Abu Bakkar Assiddiq mendaki Jabal Tsur ini, bersembunyi dari kejaran musuh.

Di dalam gua di Jabal Tsur inilah terjadi kisah yang sangat terkenal, di mana kaum kafir Quraisy yang sudah sampai di mulut gua tempat Rasulullah dan sahabatnya itu bersembunyi, mendapati pintu gua sudah tertutup sarang laba-laba. Juga burung merpati yang sedang bertelur di sarangnya. Kenyataan yang menggiring mereka kepada satu kesimpulan, tak mungkin Nabi Muhammad SAW bersembunyi di sana. Rasulullah pun selamat dan meneruskan perjalanannya ke Madinah. Padahal sahabatnya sempat cemas saat para kafir Quraisy sudah sampai di mulut gua.

Melihat posisi Jabal Tsur di atas bebukitan berbatu yang untuk kondisi kini memerlukan waktu selama satu setengah jam untuk mendakinya, bisa dibayangkan bagaimana sulitnya ketika itu posisi Rasulullah dan sahabatnya, apalagi dalam kondisi dikejar-kejar musuh. Untuk masuk ke gua pun, harus dengan posisi tiarap, dan di dalamnya hanya dapat untuk duduk saja.

Satu lagi tempat ziarah yang terkenal tak jauh dari Makkah, adalah Jabal Rahmah, yang terletak di Padang Arafah. Ada tugu putih di atasnya, sebagai penanda di situlah tempat terjadinya pertemuan antara Nabi Adam as dengan istrinya Siti Hawa setelah satu abad terpisah sejak terusir dari surga. Ini adalah salah satu lokasi yang diyakini sebagai tempat yang makbul untuk berdoa. Banyak memang jamaah yang berdoa di sana, terutama yang belum menemukan jodoh, baik dirinya maupun keluarganya. Makanya, pembimbing ziarah di awal-awal sudah mewanti-wanti jamaah untuk tidak ‘’salah’’ berdoa di sini, jangan pula berniat untuk ‘’tambah’’ bini!

Masjid Jin. Ini juga salah satu tempat terkenal. Letaknya sangat dekat dengan Masjidil Haram. Saya kerap melintasinya karena letak masjid yang tidak terlalu besar ini persis di pinggir jalan menuju ke Masjidil Haram. Dari arah Shaib Amir tempat pemondokan saat itu, jalan kaki sekitar sepuluh menit, dua kali menyeberang jalan, belok kiri, sudah berpapassan dengan masjid yang sering terlihat tertutup ini. Dari arah Masjidil Haram, masjid ini letaknya di ujung Pasar Seng, beberapa ratus meter dari Rumah Maulid.

Dinamakan Masjid Jin karena ada sekelompok jin bersepakat (berbai’at) mengakui Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah. Masjid Jin ini ada kaitannya dengan asbabunnuzul Alquran surat Jin ayat 1-2.

Dari masjid ini, berjalan lurus ke arah utara, tak sampai setengah jam, kita akan sampai ke satu kompleks pemakaman yang sangat terkenal, Ma’ala. Hanya kaum pria yang diperkenankan masuk sampai ke areal dalam pemakaman. Peziarah wanita, hanya sampai di gerbang. Ada juga yang hanya menyaksikan dari atas jembatan layang.

Lazimnya pemakaman di tempat lain di Arab Saudi, di sini pekuburan hanya ditandai dengan beberapa potong batu sedikit lebih besar dari kepalan tangan orang dewasa, di atas tanah yang rata. Tidak ada gundukan atau hunjaman batu nisan. Di sinilah umumnya jamaah haji yang wafat di Makkah, dimakamkan.

Di sini jamaah dapat melakukan ziarah ke makam salah satu keluarga terdekat Rasulullah SAW, yakni istri Beliau Siti Khadijah. Untuk ke makamnya, harus berjalan beberapa ratus meter ke dalam komplek Ma’ala, sampai menemukan satu kawasan yang berpagar tembok dengan pintu besar berwarna hijau. Ada beberapa celah mirip jendela yang diberi jeruji, juga berwarna hijau, tempat di mana peziarah dapat menjenguk ke arah makam salah satu istri Rasulullah SAW itu.(amzar))

Selengkapnya..

Catatan Haji 5


Catatan Perjalanan Ibadah Haji 1427 H (5-Habis)
Madinah, Puasnya Ziarah, Serunya ke Raudhah

Madinah sarat dengan tempat yang bersejarah, yang berkaitan langsung dengan Rasulullah SAW. Tak putus-putus dikunjungi jamaah, ya beribadah, ya berziarah. Sayang, hanya sebentar di sini, padahal belum puas rasanya menumpahkan asa atau kesah yang membungkah, di Raudhah.

Laporan AMZAR, Madinah
amzartpi62@gmail.com

TRAAAP…! Tirai dari terpal putih itu pun rebah dan sigap digulung oleh puluhan petugas berseragam biru. Jamaah pun serempak bergerak, cepat mengisi tempat yang tadi tertutup tirai terpal itu. Sedikit bergegas, sebab tempatnya tak begitu luas. Sementara beribu-ribu jamaah yang meluru ke situ.

Tak lama, azan menandakan masuknya waktu salat fardu Asar berkumandang merdu. Posisi muazinnya persis di atas balkon persegi sedikit lebih tinggi di atas tempat yang tadi ‘’diperebutkan’’ jamaah. Itulah di antara suasana serunya memburu tempat Raudhah di Masjidil Nabawi, Madinah Almunawwarah.


Sudah dimaklumi, Raudhah adalah di antara tempat yang diyakini paling mustajabah dan sangat mulia di Masjid Nabawi. Istimewanya tempat ini, seperti digambarkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: ‘’Di antara rumah dan mimbarku, adalah satu taman di antara taman-taman surga, dan mimbarku terletak di atas telagaku.’’ Referensi yang ada juga menjelaskan bahwa di Raudhah inilah dulunya kerap menjadi tempat Rasulullah SAW dan para sahabat beribadah dan tempat turunnya wahyu.

Jika direntang, jarak antara rumah Rasulullah SAW dengan mimbarnya adalah 26 meter.
Tapi kini hanya tinggal 22 meter karena disekat oleh pagar makam Rasul. Lebarnya sekitar 15 meter, diukur dari mihrab Rasulullah SAW hingga ke garis sejajar rumah tersebut. Tempat ini juga ditandai dengan karpet yang didominasi warna putih.

Jelas, betapa serunya ketika ribuan jamaah ‘’berburu’’ tempat yang tak luas itu. Soal tirai terpal putih tadi, sengaja dipasang untuk juga memberi tempat bagi jamaah wanita untuk dapat ke tempat tersebut. Lazimnya, waktu untuk itu disediakan pada pagi hari seusai salat subuh, sampai waktu Zuhur.

Bagi peziarah, sebenarnya disediakan pintu masuk ke sini, namanya Bab As-Salam, pintu bernomor 1 di Masjid Nabawi. Atau di sebelahnya, pintu Abu Bakkar Siddiq, yang dijaga super ketat dengan sistem tutup-buka berdasarkan kondisi ramainya jamaah di dalam. Namun, dari mana pun, tak ada yang lempang. Jadi, ya harus berjuang. Bahkan, ada yang setiap waktu salat sering mendapat tempat di sini. Caranya, datang beberapa jam sebelum waktu salat masuk.

Kendati begitu, sepertinya tetap ada peluang untuk mendapat tempat di Raudhah, untuk salat sunat dan berdoa. Tak perlu cemas kendati tubuh kita kecil, dibanding rata-rata jamaah lain yang tinggi besar dan tegap. Riau Pos membuktikannya, beberapa kali dapat bermunajat di sana. Bahkan ada satu kali seperti mendapat keistimewakan, sangat lama karena pas sudah berada dekat Mimbar, disuruh duduk dan kepada kami masing-masing diberikan Alquran. Itulah satu kesempatan yang tak terlupakan, sampai kita sendiri yang memutuskan untuk beranjak, karena banyak jamaah lain di belakang yang juga berharap dapat tempat di sana.

Di kesempatan lain, pernah pula Riau Pos terpental karena secara tak sengaja terdorong jamaah lain, sementara posisi berdiri belum seimbang. Ya, sama seperti di Kakbah, bergelayut saja ke jamaah terdekat yang memang tubuhnya besar. Kita selamat, tempat bergayut pun masih sudi menghadiahkan senyum. Saat keluar dari Raudhah, kita akan melintas di depan pagar berdinding tinggi, tempat makam Rasulullah SAW yang diapit makam dua sahabat Beliau, Abu Bakkar Shiddiq dan dan Umar bin Khattab.

Banyak sisi menarik lainnya di masjid Rasulullah SAW ini. Beda dengan Masjidil Haram, di sini lantainya dilapisi karpet. Di antara Raudhah dan bentangan memanjang ke arah pintu utama di utara, terdapat dua ruang yang terbuka, hanya ditutpi masing-masingnya empat payung besar yang dapat dibuka-tutup secara otomatis.

Beda dengan Masjidil Haram, di Masjid Nabawi ini secara khusus tempat salat wanita disediakan di dua kawasan utara masjid, satu arah ke timur, satunya lagi arah ke barat masjid. Bagian ini ditutup panel kayu berukir, sedemikian rupa sehingga sama sekali tidak terlihat oleh jamaah pria. Satu hal yang sama dengan di Masjidil Haram adalah pelaksanaan salat jenazah, hampir selalu ada di setiap selesai melaksanakan salat fardu, termasuk di antaranya jenazah salah seorang rekan kami di kloter 9, H Soekarno, usai salat subuh pada Senin, 15 Januari 2007.

Jangan heran pula jika selesai salat asar dan akan ke luar masjid, tiba tiba kubah besar bersepuh emas di atas kita akan bergeser, bergerak otomatis dan dalam sekejap lenyap dari pandangan, menjadi ventilasi besar dan tempat masuknya penyinaran secara alami. Ada 27 kubah yang bisa’’berjalan’’ seperti itu. Kubah seluas 324 meterpersegi dan beratnya masing-masing 80 ton itu dengan sepuhan emas seberat 2,5 kg dan bagian luar berlapis keramik Jerman itu, hanya memerlukan waktu satu menit untuk bergeser, atau nanti menutup kembali menjelang magrib. Tentu dengan sistem komputerisasi yang apik.

Coba pula menapak ke lantai atas, terlihat marmer mengkilap terhampar luas. Sebagiannya juga berlapiskan karpet merah, sewarna dengan di lantai bawah. Marmer yang memantulkan cahaya matahari itu juga terpasang di halaman masjid yang luasnya 235 ribu meterpersegi itu.

Kesemua bagian masjid ini senantiasa bersih, mengkilap rapi karena kecekatan ribuan pekerja didalamnya, yang sigap dengan peralatan canggih merawat masjid ini, setiap selesai salat fardu. Untuk mengganti lampu di tiang tinggi, hanya perlu seorang pekerja. Sekali tekan knop, tangga hidrolik berkaki empat otomatis bergerak nun ke ketinggian. Mereka selalu siaga, termasuk di ruang bawah tanah yang luasnya 82 ribu meterpersegi. Di sini tersedia ruang parkir mobil dua lantai ke bawah. Toilet dan tempat berwuduk juga begitu, luas dan dua lantai ke bawah tanah. Ada yang pakai eskalator, atau dengan tangga manual.

Di sekitaran masjid, banyak tempat ziarah yang mashur, seperti pemakaman Baqi’ di baratdaya masjid. Di sini, tempat dimakamkannya jamaah haji yang wafat di Madinah, juga terdapat makam para syuhada, pahlawan Islam dan sedikitnya sepuluhribu orang sahabat Nabi. Bahkan para istri nabi (kecuali Siti Khadijah, di Ma’ala, Makkah), anak-anak perempuan Beliau, termasuk khalifah ketiga Usman bin Affan, dimakamkan di sini.

Jejak rumah dan masjid para sahabat Rasulullah, juga sempat diziarahi. Kalau makam Rasulullah SAW dari luar masjid Nabawi ditandai dengan kubah besar berwarna hijau, maka rumah dan masjid para sahabat masih berupaya dipertahankan menurut bentuk aslinya, seperti masjid Abu Bakar Shiddiq, Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khattab, di tenggara Masjid Nabawi.

Kalau mau berziarah ke tempat lainnya, sangat banyak penawar jasa yang selalu siap di utara Masjid Nabawi. ‘’Ziarah…ziarah,’’ajaknya ke setiap yang lewat. Ada banyak tempat kita bisa dibawa, seperti Jabal Uhud plus makam para syuhada di sana, atau masjid-masjid bersejarah lainnya seperti Masjid Quba’ dan masjid Qiblatain, termasuk pabrik pengolahan di tengah perkebunan Kurma, yang terkenal dengan Kurma Al Jahwa atau Kurma Nabi, karena, kata guide, tangan mulia Beliau lah yang dulu menanam kurma yang diyakini berkhasiat menawarkan racun itu.

Banyak sebenarnya tempat ziarah di Madinah, tetapi cuma di tempat-tempat itu saja Riau Pos sempat singgah, mencari waktu di sela melaksanakan salat fardu berjamaah selama 40 waktu (arbain). Kalau tempat belanja, mal supermodern berserak di seputar masjid Nabawi. Mau sekelas Pasar Seng, pergi agak menjauh di utara masjid Nabawi. Kalau mau menyediakan waktu usai salat subuh, dapat berjalan-jalan dengan leluasa, karena udara musim dingin terbantu oleh pancaran sinar mentari pagi. Toh, tetap saja sejuk, apalagi bila disertai tiupan angin dingin.

Kami tak ada pilihan lain ketika bilangan salat arbain sudah terpenuhi, --malah ada bonus lima waktu salat berjamaah di Masjid Nabawi--. Jadwal sudah habis. Rangkaian ziarah pasca menunaikan haji ini harus diakhiri. Dan di sinilah baru terasa repotnya. Jamaah yang keranjingan belanja, bakal kewalahan mengemas dan membawanya.

Saat di bandara Madinah, ketika sudah dinihari, jamaah di kloter kami sempat kena sport jantung. Bagasi yang diizinkan pihak Saudi Arabian Airlines hanya tas tentengan berlogo penerbangan tersebut, plus tas paspor dan koper besar di bagasi. Untunglah, barang-barang yang sempat terlantar di bandara itu akhirnya dibawa juga, dimasukkan ke bagasi bawah. Kecuali air zam-zam dalam kemasan jerigen 5 kg, tak diizinkan masuk bagasi. Jadi, ya banyak yang terpaksa ditinggal. Pesawat kami baru take-off pukul 07.45 pagi, molor empat jam dari jadwal semula.

Di Batam, delapan jam kemudian, tidak semua bagasi yang tadi sempat tertahan di Madinah, dapat dijumpai oleh jamaah. Entah hilang di sana, atau raibnya di Batam, entahlah. Ini jadi kenangan tersendiri bagi yang mengalaminya. Barangkali bisa berbagi pengalaman untuk rekan yang kelak juga berangkat menunaikan ibadah haji.

Saat mendarat di bandara Sultan Syarif Qasim II Pekanbaru esok paginya, hujan turun mengguyur. Usai berhujan-hujan dan mandi keringat mengurus bagasi yang sebagian sudah basah karena semrawutnya pelayanan di bandara, jamaah pun bergerak menuju kediaman masing-masing. Di kaca mobil, butiran air mengalir menghapus jejak debu yang menempel. Namun di hati, seabrek pengalaman dan kenangan selama di tanah suci, tidak bakal terhapuskan.(***)

Selengkapnya..