
KESEDIHAN LINTANG karya IRA WIDANA (DUMAI POS)
FOTO PILIHAN peraih Rida Award 20011
Kamis, 29 September 2011
Kesedihan Lintang
Cewek-cewek Panggilan di Penjara Tj. Gusta
Cewek-cewek Panggilan di Penjara Tj. Gusta (1)
Spesial Dipasok untuk Kalangan Napi Berduit
Pelacuran memang setua peradaban manusia. Begitu juga di rumah-rumah penjara Tanjung Gusta, Medan. Meski lokalisasi pelacuran tidak ada, tapi bagi Napi atau tahanan yang butuh layanan seks komersil, 'banyak jalan' guna menghadirkan cewek pemuas birahi. Tentu, secara ilegal. Nah, lewat investigasi 2 pekan terakhir, POSMETRO menemukan mucikari yang rutin memasok pelacur-pelacur muda ke 'hotel prodeo' itu. Inilah laporan berserinya.
Oleh: Ahmad Faisal
Adalah Rani (25) penguak temuan yang lama teryakini ini. Demikian sosok menggairahkan itu mengenalkan nama komersilnya. Meski perkenalan digaransi seorang tahanan teman POSMETRO, janda bertubuh montok itu berpuluh kali menolak diwawancarai. Ia merasa (wawancara) itu bisa menghancurkan praktiknya. Beruntung pendekatan tak kenal nyerah dari wartawan Anda, membuat Rani akhirnya 'mengangkat bendera putih'.
"Tapi janji, (wawancaranya) tak ada main-main rekam, apalagi difoto-foto, identitas saya juga tolong dirahasiakan, bisa mampus aku kalau orang penjara tahu," Rani mengajukan syarat mutlak. Dan tanpa tedeng aling-aling, "Aku diboking berapa?" Dia menodong tarif waktunya yang dibajak guna wawancara. "Ok, nanti malam kita jumpa," sambungnya via SMS, Selasa (8/3) sore, usai tarif boking disepakati.
Pemuas Nafsu Merangkap Mucikari
Bisnis 'lendir' dalam bui yang disetir Rani rupanya buntut kehancuran rumah tangganya. Dia ditinggal suami. Itu terjadi setahun lalu. "Tak perlu tahu sebabnya," vonisnya ketika POSMETRO coba mengusut sebab perceraiannya. Karena itu, tak diketahui keberadaan mantan suaminya. Cewek berdada dan pinggul besar ini rupanya selalu sakit hati jika dipancing mengenang masa lalunya. Karena itulah dia selalu berupaya meredam dan melupakan noktah hitam perkawinannya.
Sejak menjanda, wanita berdarah Aceh ini hidup bersama putra semata wayangnya, berumur 10 tahun. Mereka tinggal ngontrak di kawasan Pasar VI Medan Marelan. Di rumahnya, beberapa cewek muda dilaporkan acap terlihat. Cewek-cewek itu dipastikan tak punya hubungan ikatan darah dengan Rani. Bukan saudara, bukan pula family.
"Itu teman-temanku," jawab Rani, ketika sosok-sosok menggoda yang diduga kuat 'anak-anak didiknya' itu diusut. “Bentar ya,” tutupnya sambil berlalu ke kamar, ketika disambangi, Selasa (8/3) malam itu. Rani berganti busana.
Di rumahnya yang kecil, tak banyak terlihat perabot. Bahkan idealnya rumah, tak terlihat kursi dan meja tamu di ruang utama. Hanya karpet plastik, alas duduk setiap tamu yang datang. Selain ranjang, di rumahnya hanya ada sebuah pesawat tivi Samsung 21 Inchi, kulkas 1 pintu, lemari pakaian 3 pintu, 1 kipas angin, buffet mini berdebu berisi 8 gelas hias, serta 3 hiasan dinding bermotif religi.
Meski itu semua bernilai 'tak seberapa', awalnya Rani bahkan sama sekali tak punya harta saat memulai hidup sebagai single parent atau sebelum dia menjadi produsen pemuas nafsu syahwat merangkap mucikari. Ya, tak disangkal: hasil dari bisnis syur di balik jeruji perlahan mengangkat derajat ekonomi Rani. "Yuk," ajaknya, usai mengganti baju tidur tipisnya yang tadi jelas membayang ditimpa sinar lampu.
Komisi Rp200 Ribu/PSK
Begitulah. Di sebuah lokasi, mucikari muda itu pun mulai cerita. "Rumah (sewa) itulah awalnya," Rani menyiratkan 'lounching' praktiknya menyetir bisnis memuaskan syahwat para tahanan. "Setahun lalu rumahku itu digrebek polisi," Rani membuka tabir awal memasok PSK ke penjara.
"Dua temanku (1 cewek, 1 bencong, red)," sambungnya, "ditangkap pakai sabu. Aku pun jadi ikut berurusan (dengan polisi) walau akhirnya aku tak ditangkap (kabarnya hasil tes urine Rani saat itu negatif, red)." Pun lolos jerat bui, Rani mengaku bukanlah sosok bersih dari Narkoba. Ceritanya, sejak ditinggal suami lalu bergaul dengan bencong dan cewek-cewek nakal, hingga kemudian mulai sesekali jual diri, Rani sadar tak hanya mendapatkan uang dari hasil dagang kemaluannya. Di dunia 'kotor' itu dia juga menemukan hobi baru yang tak kalah membahayakan, ya... mengonsumsi Narkoba. Hampir semua cewek yang terjun dalam praktik prostitusi juga menikmat itu.
Bagi Rani, dengan memakai Narkoba, pikirannya hanya berkutat pada kesenangan semata. Itu artinya benaknya bersih dari bayang-bayang kelam perkawinannya. "Tapi sabu aku kurang mau, karena rasaku menyiksa, tak bisa tidur. Kalau on (pesta ekstasi di diskotik, red) aku suka. Apalagi kalau (on) di Super (Diskotik), enak obatnya (ekstasi, red)," akunya. Adakah narkoba punya benang merah dengan awal terciptanya bisnis syahwatnya di penjara Tanjung Gusta? Ya. Begini tali penyambungnya.
Pasca 2 temannya ditangkap akibat nyabu, Rani kemudian ketiban mendapat job menyuplai cewek-cewek PSK (pekerjai seks komersil) ke penjara Tanjung Gusta. Janda ngaku suka berbagai adegan seks ini langsung tertarik karena duit hasil kerja gampang itu lumayan menggiurkan. Dari setiap 1 PSK yang diantarnya untuk teman tidur Om Napi, Rani bisa mendapat komisi Rp200 ribu. Bayangkan jika dia mengantar 10 PSK. Itu belum lagi uang tip dari Napi atau tahanan yang senang tak kepalang terhadap cewek suguhan Rani. Dan intinya, tugas Rani hanya menyiapkan para PSK lalu mengantarnya sampai ke dalam penjara. Itu saja.
Nah, bisnis yang akhirnya nyaris rutin membuatnya dapat order saban pekan itu rupanya berkat pergaulan si bencong (teman Rani yang tertangkap, red) dengan sejumlah tahanan berduit, saat 'wanita jadi-jadian' itu menjalani masa hukuman di Tanjung Gusta. Jadi sesungguhnya, bencong itulah awal perantara terciptanya bisnis prostitusi dalam penjara ini. Pada Rani, Waria itu menyerahkan segala urusan penyediaan PSK. Rani dan si bencong memang berteman akrab.
So, bagaimanakah modus operandi Rani saat memasok PSK-PSK koleksinya ke dalam penjara sesak penghuni itu? Sudah berapa lama dia menjalankan bisnis itu? Adakah tahanan kere keciprat rezeki praktik itu?
Seperti apa pula bentuk keterlibatan oknum sipir? (bersambung)
Cewek-cewek Panggilan Penjara Tj. Gusta (2)
Tanpa Ranjang & Bantal Tarif Kamar Rp300 Ribu
Tanjung Gusta terkadang disebut miniatur Alcatraz, penjara seram paling kesohor di Amerika. Itu karena 2 penjara tersebut sama-sama banyak dihuni penjahat yang gol untuk kali kedua atau ketiga. Bedanya, Alcatraz dihuni banyak pembunuh -seperti Al Capone, raja kejahatan dari Chicago, sementara Tanjung Gusta (kayaknya) diisi banyak bandit sabu-sabu. Nah, napi kasus ‘si putih’ itulah yang sering memboking pelacur-pelacur pasokan Rani (25).
Oleh : Ahmad Faisal
Tak disangkal: eksisnya bisnis prostitusi di balik bui Tanjung Gusta adalah buntut pengawasan yang lemah. Juga akibat penegakan standart moral yang longgar. Itulah yang membuat ‘muntahan’ kafe-kafe remang kawasan Marelan mudah masuk ke sana. Ya, cewek-cewek pasokan Rani sebelumnya primadona sejumlah kafe esek-esek.
Pun ‘kelas’ kafe remang, bukan berarti para pelacur itu berparas tak menggairahkan. Soal wajah, apalagi body, Rani mengaku selalu ketat melakukan ‘editing’. Demi kesenangan para konsumen, seleksi fisik yang ketat dilakukannya sejak kali pertama mendapatkan bisnis ‘lendir’ ini. Bahkan selain 2 syarat kasat mata itu, Rani juga melakukan seleksi non fisik bagi para calon ‘anak didiknya’. Seperti apa?
“Mereka harus punya naluri seks yang menggebu-gebu dalam waktu yang singkat,” jawab Rani, mucikari bohay itu. “Itu harus karena mereka bukan ‘main’ di (kamar-kamar) hotel yang dingin ber-AC dan ranjangnya empuk. Bukan. Tapi (mereka ‘main’) di dalam kamar-kamar penjara, yang tentu panas,” terangnya.
Kamar-kamar ‘eksekusi’ itu, imbuhnya, “Ya ruang-ruang untuk berhubungan intim para tahanan. Tapi kadang bisa juga ruang-ruang lain. Yang jelas, tak ada tempat tidur, bantal juga tak ada. Ya ‘mainnya’ di atas karpet. Tapi pernah juga (cewek) bawaanku diajak (‘ho-oh’) ke kantor (ruangan kantor penjara, red).”
Meski kamarnya kecil bahkan tanpa ranjang, jangan kira tarif sewanya murah. Tarif kamar hotel mewah pun bisa kalah. Berapa? Rp.300 ribu/3 jam.
“Mulai setahun lalu. Bulan berapa ya... tak ingatlah,” Rani menyebut awal kali pertama dia memasok cewek-cewek PSK ke penjara Tanjung Gusta. “Tapi aku masih ingat siapa aja 6 cewek yang kubawa pertama kali itu. Mala (23), Shanty (20), Tina (18), Rika (20), Ema (21), Dina (18). O, Dina belum, Vina (22) yang (mulai sejak) pertama,” sambungnya, sedikit meralat.
Tak ada modus spesial saat Rani meloloskan cewek-cewek koleksinya ke rumah penjara yang dijaga berlapis-lapis itu. Semua berlangsung biasa, lazimnya para pengunjung tahanan. “Biasa aja,” bebernya, “ya (kami) daftar dulu di loket depan, nyerahkan KTP, trus di pintu pertama barang-barang (kami) diperiksa. Paling ya karena peraturan (soal jumlah tamu) maksimal 3 orang (per kelompok), ya tinggal atur kami terpisah-pisah saja. Gampang aja.”
Ya, prostitusi itu berlangsung siang hari. Bukan malam. Dan Sabtu adalah hari paling sering bagi Rani memasok cewek-cewek pemuas birahi itu. Lalu apa sebab hingga proses masuk para pelacur itu bisa terlihat bak pengunjung biasa? Pada siapa duit sewa kamar, juga biaya boking pelacur, disetor? Adakah bisnis syur ini juga bisa mengalami stagnasi? (bersambung)
Cewek-cewek Panggilan Penjara Tj. Gusta (3)
Pasokan PSK Terhenti
Gara-gara Khatibul
Bisnis syur ini kadang kala juga mengalami stagnasi. Seperti terjadi selama Februari kemarin. Tapi eits, terhenti bukan karena 'dagangan' retail ‘anak-anak didik’ Rani mulai jarang pembeli.
Laporan: Ahmad Faisal
“Om itu nafasnya sudah seperti kereta api,” Rani lalu masuk pada sesi cerita ‘terpanas’ dari bisnis ‘lendir’nya, saat kali pertama -dari tak terhitung berapa kali memasok cewek-cewek ke penjara Tanjung Gusta- dia pun turut diboking seorang tahanan berdarah Tionghoa. Ya, saat memasok 8 PSK di buritan Januari 2011, mucikari bohay berumur 25 tahun itu juga ditaksir.
Begitulah. Di kamar pengab tanpa ranjang, sambungnya, “Tangannya memegang bahuku yang sudah terbuka. Ia lama mengusapku lembut. Aku menutup mata. Naluri kewanitaanku bangkit. Jantungku dag dig dug. Tapi aku diam tak bereaksi. Bukan munafik. Sebelum menjadi penyuplai cewek-cewek ke penjara, sudah sering aku (berhubungan intim) dengan banyak cowok. Tapi untuk ‘main’ dengan tahanan di kamar penjara, sumpah... itulah pengalamanku pertama kali.”
Rani tak bereaksi walau jantungnya berdegup kencang karena ia yakin: para tahanan yang memboking cewek-cewek bawaannya adalah tipe pria kasar dalam bercinta. Dugaannya dilatari jarangnya para lelaki terkurung itu menyalurkan hasrat seksnya, juga suasana penjara yang penuh dengan nuansa kekerasan.
Rupanya Rani salah duga. “Om (yang membokingku) itu ternyata romantis. Dia tak langsung grasa-grusu, seperti banyak cowok yang sudah lama tak menyentuh wanita. Om yang katanya dipenjara karena kasus sabu-sabu itu main slow karena ingin menunjukkan kematangannya sebagai lelaki,” lanjut janda bertubuh proporsional ini. Inilah ringkasan adegan purba di kamar penjara itu, usai bahasa oral Rani yang vulgar disemir di sana sini.
“Setelah bermain di bahuku, dipegangnya daguku. Lalu pelan-pelan aku didekatkannya ke wajahnya. Ya, aku dilumatnya. Sampai di sini, aku masih berlagak seperti anak lugu ‘yang tak pernah gituan’. Tapi saat kemudian dia mulai bermain-main di seputar wilayah sensitifku, di situlah aku mulai tak tahan. Aku sudah tak tertahankan. Aku bereaksi. Selanjutnya giliranku yang melakukan permainan di wilayah sensitifnya. Dan saat aku makin tak tertahankan lagi, aku naik ke tubuhnya. Kupegang kendali sampai permainan itu tuntas tas tas... Kami mandi keringat.”
Meski (mengaku) hanya kali itu diboking tahanan, tapi Rani jujur tak bisa melupakan aksi lawan mainnya di kamar penjara itu. Apalagi sejak memasok ‘barang-barang koleksinya’ di siang ujung Januari itu, bisnis prostitusinya mendadak berhenti. Sebuah peristiwa heboh di penjara jadi pemicunya. Ingatkah Anda dengan aksi kabur seorang tahanan yang berhasil mengelabui para sipir dengan modus menumbalkan teman penjenguknya -menjadi penggantinya di penjara, pada Selasa siang 8 Februari (2011) lalu?
Ya, gara-gara aksi kabur tahanan bernama Khatibul –bahkan hingga sekarang belum ditemukan- itu order memasok cewek-cewek ke rumah penjara itu pun terhenti. Akibat kasus yang ‘menampar’ institusi rumah penjara itu, POSMETRO memang menemukan pengawasan –mendadak- super ketat pada semua pengunjung dan ribuan tahanan di situ.
Pengawasan ketat berlapis-lapis bahkan nyaris membongkar misi investigasi membongkar praktik prostitusi terselubung ini saat wartawan Anda mengunjungi rumah penjara itu pada Jumat siang 25 Februari 2011. Tapi penjagaan super ketat itu hanya sesaat. “Ya ada sekitar 5 minggulah tak ada panggilan (ke penjara), sekarang baru mulai (bisa memasok) lagi,” kata Rani terlihat sumringah. Bagaimana aktivitas Rani dan ‘anak-anak didiknya’ saat ‘libur kerja’ selama 5 pekan itu? (bersambung)
Cewek-cewek Panggilan Penjara Tj. Gusta (4)
Selain Rani, Sedikitnya Ada 2 Mucikari Lain
Desain bangunan yang berkelok-kelok pada 9 blok rumah penjara Tanjung Gusta menjadi pemulus geliat prostitusi terselubung di sana. Ini bukan top secret. Semua (penghuni) sudah tahu sama tahu.
Laporan: Ahmad Faisal
Pasca heboh aksi kabur Khatibul, terhitung 3 kali wartawan Anda bolak-balik menembus 6 lapis pemeriksaan super ketat guna masuk rumah penjara Tanjung Gusta. Kunjungan pertama terjadi pada Jumat siang 25 Februari 2011. Di sini, karena wartawan Anda lupa membawa KTP, pemeriksaan identitas (oleh petugas) terpaksa dicatat lewat kartu pers koran ini. Itu pula yang nyaris membongkar misi investigasi membongkar praktik pelacuran di balik terali besi ini.
“Apa tujuan kunjungan ke sini, Pak,” tanya petugas di loket 1, dengan wajah tampak tak bersahabat, sebelum meminta identitas awak koran ini.
“Mau mengendus jejak (pelarian) Khatibul,” sigap POSMETRO sambil menyurungkan id.card harian ini, dan jawaban singkat itu kontan menyetop ‘lika-liku birokrasi njelimet’, seperti dialami banyak pengunjung lain.
“Kenal dengan Johasman (di POSMETRO MEDAN), Pak?” tanyanya lagi, kali ini dengan nada dan wajah tak lagi menakutkan.
“Kenal.” Bak jalan tol, wartawan Anda pun melenggang masuk tanpa lagi ‘dihambat’ birokrasi pemeriksaan yang njelimet.
Kunjungan kedua, dengan tampilan sedikit diubah dan memakai topi pet, terjadi besoknya (Sabtu siang 26 Februari). Kali itu tentu membawa KTP dan menanggalkan identitas kewartawanan. Tapi masuk dengan ‘cara biasa’ itu rupanya mengingatkan koran ini pada sosok-sosok tersangka saat menjalani proses introgasi yang tak jarang berbuntut kekerasan.
“Mau menemui siapa?!” introgasi dimulai.
“Iwan, Pak, tahanan di blok 3.”
“Siapa Anda (Iwan) itu?!”
“Family, Pak.”
“Family bagaimana!?” pertanyaan bernada mencurigai.
“Eee... gimana ya, agak jauh juga sih (hubungan kami secara saudara).”
“Anda jangan bohong!” gebrak petugas di loket itu.
“Lho buat apa bohong. Gini, ringkasnya, kakek kami itu sepupuan. Kalau tak percaya, tanya aja dulu sama dia (Iwan, red) di dalam.”
“Urusan apa nemui dia?” introgasi makin mendalam.
“Saya mau nanya soal (mesin) shinsaw punya dia yang tak lagi terpakai, apakah dijualnya, karena saya mau membeli shinsaw dia itu, Pak.” Beruntung jurus (dalih) ‘shinsaw’ itu berhasil membuat si petugas yakin hingga dia tak lagi bertanya ini itu.
Nah, di kunjungan kali kedua pas week-end (akhir pekan, red) itulah, pandangan mata banyak orang (tahanan dan tamu) yang tumplek di ruang kunjung mendadak tertuju pada kemunculan 3 cewek muda bercelana jins dan t-shirt ketat. Sambutan terhadap trio menggairahkan itu tampak beda dibanding para tamu yang diarahkan menuju ruang bertemu para tahanan.
Tiga cewek itu, usai lolos di pintu pemeriksaan kedua, terlihat berjalan menuju sebuah bangunan berkelok di sisi kanan bagian dalam dari rumah penjara itu. Langkah 3 sosok menggoda itu dipandu seorang tamping (tahanan yang dipekerjakan, red).
“Alamak jang... tahan selera woi, ‘bajing-bajing’ kali ah,” celetuk nakal seorang tamu, blak-blakan menyebut 3 cewek itu adalah PSK yang sudah diboking tahanan tertentu. Saat dicros-check, pengakuannya itu diamini sejumlah tahanan, termasuk Iwan, sosok yang ditemui koran ini.
“Alah, semua yang di sini sudah tahu sama tahulah soal itu, hampir tiap Sabtu mereka didatangkan,” sambung lelaki diketahui bernama Ramadhan (26), warga Jl. Mayor, Pulo Brayan, Medan, dan diakui sudah sering ke rumah penjara itu guna menjenguk seorang saudaranya yang ditahan. Nah, temuan ini terjadi sebelum POSMETRO mengenal Rani (25), mucikari yang saat itu –gara-gara heboh aksi kabur Khatibul- malah (sementara) tak bisa memasok cewek-cewek PSK koleksinya ke dalam penjara.
Ternyata tak hanya Rani mucikari di rumah penjara itu. “Ya sih, yang kudengar ada 2 (mucikari) yang lain yang juga sering memasukkan cewek-cewek ke dalam penjara. Tapi aku tak kenal mereka,” aku Rani, yang baru dikenal pada kunjungan kali ketiga koran ini ke rumah penjara sesak penghuni itu. (bersambung)
Cewek-cewek Panggilan Penjara Tj. Gusta (5)
Lokalisasi Aja tak Otomatis Membuat Prostitusi jadi Legal
Laporan : Ahmad Faisal
Prostitusi itu sejatinya ilegal. Apalagi yang terselubung, seperti yang lama menjadi rahasia umum di kalangan penghuni rumah-rumah penjara di Tanjung Gusta.
Meski terkesan teori, setidaknya demikianlah mahzab hukum pelacuran di negeri ini. Pun (prostitusi) itu (ilegal) sepakat dianut, pro dan kontra tetap terjadi. Praktisi hukum Matjon Sinaga, SH yang kemarin (17/3) ditemui POSMETRO, kontan mengaku akan bereaksi bersama sejumlah teman seprofesinya, jika dalam perkembangan zaman yang semakin kapitalistis ini ada mendengar upaya kampanye terselubung guna melegalkan prostitusi. “(prostitusi jadi legal) Itu mungkin saja terjadi di zaman yang semakin gila ini.
Apalagi sekarang, tak hanya wanita yang jadi pelaku pelacuran, lelaki juga diam-diam sudah banyak. Bahkan (pelacuran) itu (banyak terjadi) di daerah-daerah (pedesaan) yang katanya pemahaman masyarakatnya soal agama lebih kuat daripada masyarakat kota,” beber Matjon di kantornya, Jl. Ahmad Yani VII, Medan.
Karena ilegal, dapatkah semua yang terlibat dalam praktik prostitusi, seperti kasus di penjara Tanjung Gusta, diancam dengan pidana? Jawabnya “Tentu saja sangat bisa,” jawab Matjon.
Apa pendukung yuridis untuk upaya pidana itu? Dia membeberkan beberapa langkah hukum terkait upaya pidana terhadap praktik prostitusi.
Upaya pidana, menurutnya, bisa dilakukan jika Pemerintahan Daerah di wilayah tempat lokalisasi atau pelacuran terselubung itu ditemukan, ada kebijakan soal Perda (Peraturan Daerah) Pelarangan Pendirian Lokalisasi.
Pun jika Perda soal itu tak ada, pendukung yuridis yang lain bisa dicari lewat beberapa pasal di Kitab Undang Undang Hukum Pidana. Bisa juga dengan menggunakan kekuatan UU No. 7 Tahun 1984 tentang Ratifikasi Konvensi Penghapusan Diskriminasi Terhadap Perempuan (Convention for the Suppresion of the Traffic to Persons of the Prostitution of Others, 1949), perdagangan perempuan, dan prostitusi paksa.
Atau juga memakai UU Pariwisata No. 9 Tahun 1990. Atau, Konvensi ILO No. 182, serta peraturan lain yang mengatur pelarangan praktik seks komersil.
Pada undang-undang atau aturan itu disebutkan, pengelolaan atau pengadaan praktik seks komersil -baik bersifat pribadi maupun yang dipersiapkan secara profesional, dikategorikan sebagai tindak pidana.
“Karena itu,” jelasnya, “jadi jika sebagian daerah di negeri ini masih mengijinkan pendirian lokalisasi, sebenarnya itu bukan otomatis membuat kegiatan prostitusi menjadi legal. Pada prinsipnya, lokalisasi itu adalah tindakan preventif
(pencegahan, red) untuk mengurangi kegiatan prostitusi itu semaksimal mungkin.”
Karena itu, jelasnya lagi, “Pengenaan sanksi pidana terhadap seseorang atau pihak-pihak yang ditemukan terlibat dalam pengelolaan praktik seks komersial, dapat dijatuhi pidana sesuai dengan tingkatannya. Adakah orang itu, misalnya, terbukti sebagai pelaku yang mengambil inisiatif (prostitusi), atau pengelola, atau dia sebenarnya pesuruh, atau pelanggan, hingga si pekerja seks itu sendiri.”
Kapankah penegakan hukum pelacuran mulai marak dilakukan di setiap sudut negeri dengan warganya yang banyak ditemukan bertabiat porno ini? Tak usah muluk menjawab sesuatu yang masih jadi impian. Soalnya, kini, besok, lusa, dan entah sampai kapan: praktik prostitusi di negeri ini selalu eksis –meski ilegal. (bersambung)
Cewek-cewek Panggilan Penjara Tj. Gusta (6/tamat)
Diboking TahananSulit ‘Berkokok’
Laporan : Ahmad Faisal
Mendatangkan pelacur ke penjara guna memuaskan hasrat seks,
bisa dilakukan kapan saja, yang penting uang ada. Ya, kuncinya: duit! Inilah buntut pameo: segala sesuatu yang bisa dipersulit tak akan dipermudah.
Setidaknya, begitulah asumsi hasil investigasi POSMETRO terhadap temuan lemahnya upaya penegakan hak-hak tahanan di rumah-rumah penjara Tanjung Gusta, terutama hak menyalurkan hasrat biologis. Soal ini tentu tak dialami para napi atau tahanan yang terlibat kasus ilegal logging, narkoba partai besar, apalagi korupsi.
Bahkan menurut Rani (25), seorang pelanggannya yang notabene tahanan berduit, saban pekan tak pernah absen memboking cewek kirimannya, meski lelaki berdarah Tionghoa itu diketahui mengidap diabetes. Secara teoritis, lelaki penderita diabetes tentu tak lagi nyaring ‘berkokok’ di ranjang.
Tapi itulah adanya. Bagi para tahanan 3 tipe kasus itu, duit seolah tak berseri. Karena itulah, para penikmat cewek-cewek pasokan Rani, adalah napi atau tahanan 3 jenis kasus itu. Ya, menu syur seharga minimal Rp.1.500.000/paket 3 jam itu tentu tak akan mungkin bisa dikompromikan guna dinikmati para tahanan kasus maling ayam, apalagi pencopet kelas pasar yang masuk bui usai bonyok digebuk massa.
Alih-alih menyalurkan hasrat seks yang lama terpendam, sebagian dari tahanan kelas kere itu malah ditemukan acap ‘dibon’ petugas untuk dipermak, guna kemudian diminta menyerahkan uang sogokan agar kasusnya ‘tak berkembang ke sana ke sini’. Syukur bagi mereka yang selama meringkuk di ‘hotel prodeo’ itu tak membuat orientasi seksnya jadi menyimpang.
Begitulah. Gelombang praktik prostitusi serta free sex diketahui semakin menggemuruh setelah internet membumi pada pertengahan dekade 90-an. Pengaruhnya dibuntuti kemajuan teknologi telepon seluler yang kian canggih. Dua temuan di zaman millenium itu kini menjadi alat baru dalam pergaulan seks bebas dan ‘tak bersekat’, seperti yang sekarang terus terjadi di balik sel-sel pengab penjara Tanjung Gusta, Medan. (tamat)
Horeee Lulus

HOREEE LULUS, karya FARAH NADYA UMAINA (Tanjungpinang Pos)
Nomine Rida Award 2011 kategori Foto Jurnalistik
Korban ALS

KORBAN ALS karya Amran Pohan (Metro Siantar)
Nomine Rida Award 2011 kategori Foto Jurnalistik
Salsabila

SALSABILA karya SAID MUFTI (RIAU POS)
Nomine Rida Award 2011 kategori Foto Jurnalistik
Menunggu Jatah Makanan

MENUNGGU JATAH MAKANAN karya YUSUF HIDAYAT (BATAM POS)
Nomine Rida Award 2011 untuk Foto Jurnalistik
Abadikan Baku Tembak dari Balik Pohon Sawit
Menyusuri Jejak Gerombolan Bersenpi di Dolok Masihul, Kabupaten Sergai (1)
Hardono Purba, Silou Kahean
Tegang, waswas, dan lelah menjadi satu saat kru METRO turut bersama polisi berburu gerombolan bersenjata api (senpi) yang bersembunyi di perkebunan sawit di Kecamatan Dolok Masihul, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) beberapa hari lalu. Bagaimana kisahnya? Ikuti mulai edisi hari ini.
Jumat pagi, (1/10) METRO meluncur menuju Dusun II Desa Dolok Manampang, Kecamatan Dolok Masihul, lokasi di mana mobil Kapolsek Dolok Masihul ditembak kawanan bersenpi. Menyusuri jalan pintas yang becek dan berlumpur di kawasan perkebunan PTPN III Silou Dunia, beberapa kali sepedamotor yang dikendarai terpeleset di kubangan lumpur.
Di lokasi kejadian, ratusan warga berkumpul. Satu unit truk Samapta dan mobil patroli disiagakan di sana . Sementara puluhan personel polisi berpakaian dinas dan sipil berjaga–jaga. Sebagian tampak mengatur lalu-lintas yang macet. Kebetulan ruas jalan tersebut memang jalan utama dari Dolok Masihul menuju Medan via Galang dan Lubuk Pakam, Kabupaten Deliserdang.
Setelah memarkirkan sepedamotor, METRO menemui Wakapolres Sergai, Kompol Syahril Yusuf yang sedang beristirahat di sebuah warung. Di warung tersebut, perwira menengah ini menceritakan kronologi kontak senjata. Ternyata Wakapolres berada di dalam mobil saat kawanan bersenpi menembaki mobil Kijang milik Kapolres.
“Saya, Kapolsek Dolok Masihul, dan seorang anggota sedang melakukan penyisiran dari arah Galang menuju Dolok Masihul. Di TKP, mereka menembaki mobil yang langsung kami balas dengan tembakan juga. Dua orang meninggalkan sepedamotor dan lari ke arah perladangan, sementara empat sepedamotor lainnya dibawa kabur ke arah Dolok Masihul,” tuturnya.
Usai berbincang dengan Wakapolres, METRO menemui warga di sekitar tempat kejadian perkara (TKP). Namun beberapa warga enggan memberikan informasi.
“Takut,” ujar salah seorang dari mereka.
Namun setelah diajak berkenalan dan martutur (menyebutkan hubungan marga), warga mau diajak cerita.
“Suasana saat itu mencekam. Terdengar beberapa kali letusan senjata, juga teriakan aparat meminta kami tiarap dan mematikan lampu. Kami juga mendengar derap langkah berlari dari samping rumah menuju perladangan sawit dan karet di belakang rumah,” ujar Eli br Barus, warga setempat. Di depan rumah Eli, kawanan meninggalkan satu unit sepedamotor Yamaha Vega R.
Hanya itu yang diketahuinya. Sebab saat kejadian ia berada di dalam rumah, dan tidak berani keluar.
Dari situ, METRO menuju desa Pekan Kamis, TKP kontak senjata kedua, sekitar lima kilometer dari lokasi kontak senjata pertama, k earah Tebing Tinggi. Di Dolok Masihul, METRO berpapasan dengan iring-iringan kendaraan Wakapoldasu Brigjen Pol Syafruddin yang ingin meninjau TKP. METRO langsung balik kanan mengikuti iring-iringan kendaraan tersebut. Di sebuah lokasi penimbangan kelapa sawit di sekitar TKP, Wakapoldasu memberikan keterangan pers.
“Empat pleton pasukan sedang melakukan penyisiran sampai batas waktu tidak ditentukan, aparat TNI juga turut membantu pengejaran,” jelasnya.
Selanjutnya METRO meneruskan perjalanan ke Pekan Kamis dan singgah di Mapolsek Dolok Masihul. Tempat ini dijaga ketat, beberapa aparat bersenjata lengkap berjaga-jaga di depan Mapolsek. Di tempat ini, METRO bertemu Kapolres Sergai AKBP Drs Fery Sahari. Namun ia tidak bersedia diwawancarai.
“Maaf saya buru-buru,” katanya menuju mobil hitam yang sudah stand by di depan Mapolsek. Di Pekan Kamis, warga masih berkerumun. Salah seorang warga bercerita, saat dini hari sempat terjadi kontak senjata. “Terdengar letusan, namun kami pikir trafo PLN yang meledak,” ujar br Silitonga.
Salah seorang warga juga melihat enam anggota kawanan bersenpi melarikan diri menuju persawahan, d isamping gereja HKBP.
Menjelang sore, METRO meneruskan perjalanan ke Pertapaan, tempat petugas melakukan penyisiran. Masuk dari belakang rumah warga, melewati perladangan ubi, karet, dan kelapa sawit, serta jalan yang becek dan berlumpur, METRO tiba di Pertapaan. Di tempat ini, puluhan aparat bersenjata berjaga-jaga.
“Kawan-kawan masih menyisir ke perladangan, kami berjaga-jaga di sini untuk mengantisipasi mana tahu mereka (gerombolan bersenpi, red) terdesak dan lari ke sini,” ujar seorang petugas yang menyandang senjata laras panjang.
Terlibat Kontak Senjata
Keesokan harinya, Sabtu (2/10) sekitar pukul 10.00 WIB, METRO bermaksud menuju Mapolsek Dolok Masihul. Namun di Pos Polisi Silou Dunia, bertemu Kapolsek Silou Kahean, AKP Lamin. Kepada METRO, Kapolsek menyampaikan informasi jika pasukan BKO Brimob di Silou Kahean sedang melakukan penyisiran di wilayah Bandar Nagori. Saat bermaksud turut dalam penyisiran, seorang rekan yang bermalam di Mapolsek Dolok Masihul menginformasikan kawanan bersenpi terlihat di kawasan Dolok Sagala, Kecamatan Dolok Masihul.
“Informasinya A1 (pasti, red), kami menuju ke sana ,” katanya melalui pesan singkat.
Agar cepat tiba di TKP, METRO mengambil jalan pintas melalui perkebunan kepala sawit PT Socfindo Bandar Pamah. Kondisi jalan yang tidak diaspal, sangat licin karena hujan yang turun di malam sebelumnya. Alhasil, METRO beberapa kali terpeleset, dan bagian bawah celana penuh lumpur, sementara alas kaki terasa berat karena dipenuhi lumpur. Parahnya, METRO kehabisan bensin sepedamotor di tengah perkebunan kelapa sawit.
Sendirian di tengah perkebunan kelapa sawit yang luas dan sepi, sempat membuat hati waswas. Beruntung, seorang karyawan perkebunan berpakaian dinas biru tua mengendarai sepedamotor Mega Pro hitam melintas. Saat itu, ia berboncengan dengan seorang temannya.
Awalnya, pria berkumis yang membawa parang panjang di pinggangnya itu menolak ketika METRO meminta tolong diantarkan ke warung terdekat. Setelah METRO menunjukkan identitas, karyawan tersebut menghubungi rekannya agar mengantarkan bensin ke lokasi kami, bahkan memberikan petunjuk jalan pintas yang paling dekat. “Terus terang kami khawatir kalau ada orang yang tidak dikenal,” sebut pria itu.
Setelah membayar uang bensin dan mengucapkan terima kasih, METRO meneruskan perjalanan menuju Dusun 3 Saranpuah, Desa Dolok Sagala, Kecamatan Dolok Masihul. Di setiap persimpangan jalan menuju desa itu, dijaga personel Brimob bersenjata laras panjang. Warga juga tampak duduk-duduk di depan rumah masing-masing
Sekitar pukul 13.00 WIB, saat sedang berbicara dengan warga, dari arah perkebunan kelapa sawit terdengar letusan senjata yang kemudian diikuti rentetan letusan senjata. Mudah ditebak, sedang terjadi kontak senjata.
Beberapa personel Brimob terlihat mengokang senjata laras panjang dan berlari menuju barisan pohon kelapa sawit. Petugas berpakaian sipil juga mengeluarkan senpi dan mencari perlindungan di pohon kelapa sawit sambil mencari arah letusan senpi. Sementara warga masuk ke rumah, meskipun ada juga yang tidak takut, bahkan turut menuju lokasi perkebunan.
Suasana saai itu sangat mencekam. Hanya ada suara senjata yang bersahut-sahutan diikuti teriakan-teriakan petugas. Beberapa aparat menyuruh warga masuk ke rumah. Sedangkan METRO berlindung di balik pohon kelapa sawit, dan mencoba mengabadikan petugas yang sedang menembak.
Suara tembakan terdengar semakin jauh. Kemungkinan pasukan Brimob berhasil mendesak kawanan tersebut ke tengah perkebunan. METRO mengikuti polisi yang bergerak maju.
“Hati-hati, Bang, peluru nyasar,” serang polisi mengingatkan METRO. Ia berlindung sekitar tujuh meter dari METRO. Sementara kontak senjata berlangsung sekitar dua jam.
Dalam kontak senjata ini, seorang petugas, Bripka Sugeng, komandan regu Brimob Tebing Tinggi, terkena tembakan di bahu kanan. Ia langsung dievakuasi ke rumah sakit. Saat itu, petugas menembak kawanan bersenpi berbaju kotak-kotak yang diketahui bernama Robin Simanjuntak, warga Tanjung Morawa Gang Keluarga, Deliserdang. Dengan tangan dinorgol, Robin dibawa dari perkebunan sawit menuju perkampungan. Beberapa saat kemudian, satu unit mobil ambulans abu-abu milik polisi tiba dan membawa Robin ke Mapolsek Dolok Masihul. (bersambung)
Menyusuri Jejak Gerombolan Bersenpi di Dolok Masihul, Kabupaten Sergai (2)
Menyeberang Sungai, Sebotol Air Mineral Dibagi-bagi
Hardono Purba, Silou Kahean
Di dusun III Saranpua Desa Dolok Sagala, polisi melumpuhkan seorang anggota kawanan perampok. Perampok yang belakangan diketahui bernama Robin Simanjuntak itu ditembak dua kali di paha. Polisi juga menyita puluhan peluru aktif dari tangan tersangka.
Setelah suara tembakan berhenti, atas anjuran seorang petugas, kru METRO keluar dari lokasi kontak senjata.
“Tak usah ikut melakukan penyisiran, sangat berbahaya, apalagi abang tidak bersenjata,” katanya.
Dengan bercanda kru menjawab, “bawa senjata, tapi pistol air.”
Petugas itu hanya tersenyum, selingan ringan yang membuat suasana cair usai kontak senjata yang menegangkan.
Meskipun tak sempat tiarap karena berlindung di balik pohon kelapa sawit, bagian bawah celana kru yang berwarna hitam sudah berubah menjadi kecoklat-coklatan, tersiram lumpur.
Pasukan Brimob yang membawa senjata laras panjang dan berseragam masih melakukan penyisiran hingga ke tengah kebun kelapa sawit dan ubi. Sementara beberapa personel berpakaian preman dan bersenjata pistol mulai keluar dari kebun. Raut ketegangan masih tersirat di wajah mereka.
“Kita jaga di pinggiran pemukiman, mana tau mereka lari ke sana ,” ujar seorang di antara mereka.
Usai kontak senjata, situasi mulai tenang. Warga juga sudah berani keluar rumah dan berkerumun menceritakan pengalaman masing-masing. Kadang terdengar suara tawa. Beberapa warga juga terlihat mengeluarkan ponsel, mencoba mengabadikan situasi.
METRO bersama rekan sesama jurnalis beristirahat di rumah warung milik warga. Dari rumah permanen bercat hijau inilah pelarian kawanan rampok diketahui. Salah seorang perampok dengan diantar seorang warga, sekitar pukul 09.30 WIB ternyata sempat berbelanja 4 botol air mineral, 4 bungkus roti, dan 4 pasang sandal jepit.
“Dia membayar menggunakan uang pecahan seratus ribu (rupiah),” tutur Ana, istri Gimin Purba, pemilik warung.
Warga yang curiga kemudian melapor kepada kepala desa, yang kemudian menghubungi polisi. Saat menikmati air mineral, dua aparat berpakaian preman yang menenteng pistol memberi informasi ada kawanan perampok yang dilumpuhkan.
“Ayo, di Kampung Lalang ada yang ditembak,” ujar seorang polisi bercelana puntung. Mendengar informasi berharga, METRO berboncengan dengan seorang rekan yang juga grup Jawa Pos. Si rekan bergegas memacu sepedamotor mengikuti polisi yang memberi informasi.
Sekitar 1 kilometer dari warung tempat beristrahat, anggota Brimob yang berjaga di sepanjang jalan memerintahkan kru minggir. Ternyata rombongan Kapolda Sumut Irjen Pol Oegrosono dan Kasat Brimob Kombes Ferdianto Iskandar Biticaca akan melintas. Kru langsung balik kanan dan mengikuti rombongan Kapolda. Kondisi jalan menuju TKP sangat buruk. Beberapa kali mobil yang turut dalam rombongan harus didorong agar bisa lolos dari genangan air.
Di ujung kampung jalan buntu, mobil berhenti, cuaca mulai mendung. Perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki. Kapolda yang mengenakan celana loreng hitam, baju kaus, dan topi hitam serta rompi anti peluru hitam bertuliskan Polisi di bagian belakang, turun dari mobil. Sebuah pistol hitam terselip di pinggang kanan. Di lokasi, beberapa personel Brimob berpakaian seragam hitam dan bersenjata laras panjang sudah menanti.
Ada sekitar 20 petugas yang keseluruhannya bersenjata mengikuti rombongan Kapolda, sebagian besar berpakaian preman. Selain Kasat Brimob yang juga mengenakan rompi anti peluru, terlihat juga Kasat Lantas Polres Deliserdang AKP Saleh, juga berseragam lengkap. Beberapa warga juga ikut dalam rombongan, sementara jurnalis ada 7 orang, 2 dari media elektronik dan sisanya media cetak.
Personel Brimob yang berjaga langsung memberi hormat.
“Siap Jenderal! Jalannya lewat sini!” katanya.
Dengan berjalan kaki, rombongan menyusuri TKP melintasi jalan setapak yang licin. Sekitar 500 meter dari rumah terakhir di ujung kampung, rombongan melintasi perkebunan kelapa sawit, karet, dan ubi milik warga. Beberapa petugas menyiagakan senjata dan dengan sigap mengambil posisi di sisi kiri dan kanan rombongan. Mata mereka liar mengawasi sekitar. Memasuki perkebunan kelapa sawit milik sebuah perusahaan swasta, situasi mulai sepi.
Sesekali terdengar suara pelepah kelapa sawit terinjak petugas yang berada di sisi jalan membuat jantung berdegub lebih kencang. Di depan, petugas Brimob yang turut dalam kontak senjata bercerita.
“Jendral, di sana anggota tertembak di bahu,” ujarnya sambil menunjuk ke arah lokasi yang berbatasan dengan kebun ubi milik warga.
Di sepanjang jalan, Kapolda mendapat penjelasan dari Kasat Brimob. Sesekali Kasat Brimob memberi perintah kepada petugas. Beberapa petugas juga menghubungi rekannya menggunakan ponsel, memberitahu situasi terbaru.
Seorang rekan memuji fisik Kapolda yang prima, tak terlihat kelelahan meskipun sudah berjalan sejauh 2 kilometer dengan topografi tanah yang berbukit, ditambah jalan licin. “Wah fisiknya cukup kuat. Kita aja yang muda sudah ngos-ngosan,” ujar salah satu wartawan sambil melap keringat di wajahnya.
Seorang rekan menjawab, “Iyalah pula, orang kerja kita begadang setiap malam, ya loyolah.”
Sekitar 40 menit perjalanan, setelah melintasi jalan menurun, rombongan tiba di pinggiran sungai yang lebarnya sekitar tujuh meter. Airnya keruh berwarna kekuning-kuningan. Seorang warga mengatakan air tersebut meluap karena hujan deras di malam sebelumnya.
Gerimis mulai turun. Seorang warga yang turut dalam rombongan berinisiatif mencari tempat yang bagus untuk menyeberang. Kesempatan ini digunakan kru untuk beristirahat, mengendurkan otot kaki yang mulai kaku. Keringat mengucur deras, haus mulai terasa. Beberapa rekan membuka sepatu, mengikat, dan menentengnya. Sebagian lagi, termasuk METRO, mengeluarkan ponsel dan dompet agar jangan basah
Seorang petugas Brimob masuk ke sungai menyusuri sungai menuju ke bagian tengah. Lima meter di belakangnya, dua petugas mengikuti. Lalu Kapolda bersama Kasat Brimob turun dikelilingi petugas yang waspada melihat situasi. Kedalaman sungai fluaktif. Kadang sebatas lutut, namun tiba-tiba bisa sebatas pinggang. Dasarnya pasir bercampur lumpur sangat terasa di telapak kaki yang telanjang.
Tiba di seberang sungai, hujan mulai turun. Sesekali kilat menyambar seperti lampu blitz kamera, diikuti petir. Jalan mulai menanjak curam. Kapolda sempat tergelincir, namun dengan sigap Kasat dan ajudan menolong.
Hujan semakin deras, airnya terasa asin karena bercampur keringat. Namun perjalanan tetap diteruskan.
Di sebuah pekuburan Muslim, seorang petugas menawarkan rombongan beristirahat di pondok beratap seng. Namun Kapolda menolak.
“Kita terus aja,” ujarnya.
Sekitar 10 menit kemudian, rombongan tiba di dusun III Pondok Lalang, Mariah Bandar. Di sebuah rumah penduduk, rombongan berteduh. Namun beberapa personel Brimob berjaga-jaga di depan rumah, di tengah hujan yang sangat deras.
Sepuluh menit kemudian, lima orang pasukan Gegana bersenjata laras panjang menggunakan penutup wajah, tiba dan bergabung dengan rombongan. Selang beberapa menit, Kapolres Serdang Bedagai (Sergai) AKBP Drs Eri Safari dengan kondisi basah kuyup juga bergabung. Seorang petugas membawa beberapa botol air mineral. Jumlahnya terbatas, sehingga meskipun sangat haus, satu botol harus dibagi bersama. (bersambung)
Menyusuri Jejak Gerombolan Bersenpi di Dolok Masihul, Kabupaten Sergai (3)
Turuni Jurang Licin dan Semobil dengan Dua Anjing Pelacak
Hardono Purba, Dolok Masihul
Sekitar dua jam rombongan Kapoldasu Irjen Pol Oegrosono dan Kasat Brimob Kombes Ferdianto Iskandar Biticaca berada di tengah perkebunan sawit. Cuaca yang buruk tidak menyurutkan langkah menuju Dusun III Pondok Lalang, Mariah Bandar, lokasi empat kawanan bersenjata api (senpi) tewas ditembak petugas.
Sabtu (2/10) pukul 15.20 WIB, setelah beristirahat sekitar 30 menit, perjalanan diteruskan. Kapoldasu dan Kasat Brimob dibonceng dua sepedamotor Honda Supra menuju lokasi. Anggota rombongan yang lain meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. Wanita pemilik rumah sibuk membagikan plastik kresek beraneka warna kepada rombongan. Plastik ini sebagai wadah untuk melindungi barang-barang agar tidak basah terkena air hujan yang masih turun deras.
Perjalanan dilanjutkan menyusuri pemukiman warga yang berjejer rapi. Kali ini dipandu seorang warga, yang juga aparat pemerintahan desa di sana . Saat itu, air di jalanan setinggi mata kaki. Sekitar satu kilometer dari rumah tempat beristirahat, di belakang rumah warga bercat oranye, rombongan mengambil jalan pintas melintasi jurang sedalam tiga meter. Jurang itu ditanami tanaman karet sebesar lengan orang dewasa. Pohon karet ini dijadikan tempat berpegangan di saat menuruni jurang. Banyak yang terjatuh karena jalan licin dan berlumpur.
Setelah berhasil melewati jurang, perjalanan dilanjutkan menyusuri perkebunan kelapa sawit. Sekitar tujuh menit berjalan, rombongan tiba di lokasi. Puluhan personel Brimob membuat pagar betis mengelilingi empat mayat yang tergeletak di tanah. Tubuh mayat-mayat itu ditutupi pelepah daun kelapa sawit. Beberapa petugas Brimob tetap siaga mengokang senjata.
Kapoldasu terlihat memeriksa barang bukti. Wartawan dan warga yang mulai berdatangan dilarang mendekat. METRO yang mencoba mendekat untuk mengambil foto mayat dihalau seorang personel Brimob.
“Maaf, Pak,” ujarnya.
Beberapa menit kemudian, Kapoldasu mempersilahkan wartawan mengambil foto.
“Tapi jangang terlalu dekat ya,” imbaunya.
Kapoldasu lalu memberikan keterangan pers. Menurut Kapoldasu, empat kawanan berhasil dilumpuhkan. Keempatnya tewas ditembak karena memberikan perlawanan dengan menembaki petugas. Turut juga disita dua pucuk senjata, magazin, peluru aktif, dua dompet, dan kartu pengenal.
Kapoldasu juga menjelaskan, barang bukti senjata laras panjang M16 yang ditemukan identik dengan senjata milik almarhum Manuel Simanjuntak, petugas Brimob yang meninggal ditembak saat perampokan Bank CIMB Niaga Medan, Agustus lalu. “Kemungkinan ada keterkaitan kawanan ini dengan perampokan itu,” lanjutnya. Selanjutnya, wartawan memberikan ucapan selamat kepada Kapoldasu. Pasukan Brimob juga saling memberikan salam komando sesama mereka, dan beberapa orang terlihat saling berpelukan.
Sekitar 20 menit berselang, satu unit mobil polisi jenis Ford double cabin nomor polisi 4218- II, warna ungu mendekat. Beberapa aparat terlihat turun membawa kantung mayat warna oranye bertuliskan Bid Dokkes Polda. Aparat yang lain membantu dengan menyingkirkan pelepah daun kelapa sawit dari mayat. Masing-masing kantung diisi dua mayat..
Keempat mayat tidak menggunakan alas kaki. Terlihat luka bekas tembakan di dada seorang pelaku berbaju abu-abu dan berambut pendek. Ceceran darah tak terlihat di tubuhnya, mungkin ‘dibersihkan’ air hujan yang masih turun. Kedua kantung mayat dimasukkan ke bagian belakang mobil. Beberapa petugas naik ke mobil dan mengelilingi mayat. Dengan mobil ini, Kapoldasu kembali ke Mapolsek Dolok Masihul.
Lokasi mulai ramai karena warga terus berdatangan. Beberapa anggota Brimob masih tinggal di lokasi. Beberapa dari mereka terlihat mengosongkan senjata. Senjata dikokang, lalu muncung senjata diarahkan ke bagian bawah pohon kelapa sawit, lalu terdengar suara ‘klik’ beberapa kali. Setelah itu senjata disandang di bahu.
“Puas, Bang, meskipun sudah dua hari mengendap di sini, disiram hujan, tapi operasi sukses. Pelaku berhasil dilumpuhkan,” tutur salah seorang dari mereka.
Wajahnya terlihat lelah, baju dan celananya dipenuhi lumpur. Ketika diminta menceritakan jalan cerita perburuan, ia menolak. “Janganlah, Bang. Ditandai teroris itu pula aku nanti,” ujarnya.
METRO dan beberapa rekan jurnalis kembali ke pemukiman warga. Sepedamotor masih ditinggal di Dusun III Saranpua, sekitar lima kilometer dari lokasi. METRO dan dua rekan jurnalis menumpang mobil bak terbuka. Di dinding mobil tertulis K-9, sementara di dalamnya terdapat dua kandang anjing pelacak berjerajak besi. Masing-masing kandang berisi seekor anjing hitam. Dengan ramah, empat personel Brimob mengizinkan METRO dan rekan menumpang. Kebetulan, salah seorang dari mereka bermarga sama dengan METRO.
“Ayo, Bang, naik, tapi sempit-sempitanlah,” ajaknya.
Mereka mengaku dari Mabes Polri. “Tadi pagi kami sampai di sini, membantu pengejaran dengan menggunakan anjing pelacak,” kata seorang dari mereka.
Anjing pelacak tersebut diberi nama Hard dan Dre.
“Jenis Herder, anjing pelacak terbaik, yang khusus didatangkan dari Amerika. Makanannya juga khusus, makanan kaleng,” lanjutnya.
Sayangnya mobil tidak bisa ke Saranpua karena jalan menuju ke sana terhalang satu unit mobil truk yang terperosok. Seorang warga memberitahu jalan menuju Mapolsek Dolok Masihul di Martebing. Artinya perjalanan METRO menjemput sepedamotor bertambah jauh sekitar tiga kilometer.
Pukul 17.20 WIB, mobil tiba di Mapolsek Dolok Masihul, saat itu situasi sangat ramai. Jalanan pun macet. Ratusan warga berkerumun di depan Mapolsek, ingin melihat mayat gerombolan bersenpi. Beberapa aparat terlihat mengatur lalu-lintas, sebagian lagi meminta warga mundur. Garis polisi yang mengelilingi Mapolsek sudah rusak. Di halaman depan terlihat dua unit mobil Baracudda siap siaga, juga dua mobil ambulans sudah stand by.
METRO bermaksud menjemput sepedamotor yang ditingalkan di Saranpua. Seorang pengendara ojek mengantar METRO. Dengan mengendarai sepedamotor Honda Supra Fit, menyusuri perkebunan kelapa sawit, tempat kontak senjata terjadi, membuat METRO waswas, apalagi hari mulai gelap. Beberapa kali METRO turun dari sepedamotor karena jalan licin.
“Kita ambil jalan pintas saja, biar cepat sampai, saya pulang juga nggak terlalu gelap nanti,” katanya. (bersambung)
Menyusuri Jejak Gerombolan Bersenpi di Dolok Masihul, Kabupaten Sergai (4/Habis)
Berdiri 40 Meter dari Lokasi Baku Tembak
Hardono Purba, Silou Kahean
Hujan sudah berhenti saat METRO tiba di Dusun III Saranpua, Dolok Sagala, Kecamatan Dolok Masihul, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) untuk menjemput sepedamotor yang ditinggalkan di sana. Langit semakin gelap, dan sesekali kilatan cahaya membelah langit. Personel Brimob masih berjaga-jaga. Tiga mobil patroli polisi juga masih disiagakan.
Sabtu (2/10), pukul 18.00 WIB, dengan kondisi basah kuyup, METRO kembali ke Dolok Masihul mencari warung internet (warnet) untuk menulis berita. Sepanjang jalan, personel Brimob masih melakukan sweeping. Kendaraan yang melintas, khususnya mobil diperiksa. Di sebuah warnet yang dipenuhi wartawan yang ingin melaporkan liputannya, METRO bertemu Tonggo Sibarani, reporter METRO dari Pematangsiantar.
Keesokan harinya, Minggu (3/10), pukul 09.30 WIB, METRO tiba di Mapolsek Dolok Masihol. Suasana sepi. Di pos penjagaan beberapa petugas menonton televisi, menyaksikan liputan tentang perburuan kawanan bersenpi. Dalam berita tersebut. seorang kawanan menyerahkan diri pagi itu.
Namun polisi tidak mengizinkan wartawan mewawancarai dan mengambil foto tersangka. Pintu dan jendela ruangan Sat Reskim ditutup, seorang anggota Provost berjaga di pintu depan. Pintu hanya terbuka ketika ada aparat yang ingin masuk atau keluar, dan itu dimanfaatkan METRO untuk mengambil foto.
Di samping ruangan Sat Reskim, puluhan pasukan Gegana beristirahat. Mereka membaringkan tubuh di lantai berlapiskan tikar. Beberapa bungkus roti dan botol air mineral terlihat berserakan di lantai. Usia mereka masih muda. Terlihat kelelahan di wajah mereka. Aementara pakaian mereka kotor dan lusuh.
“Tadi malam kami patroli di tengah kebun sawit,” ujar seorang anggota Gegana yang meminta namanya dirahasiakan.
Sekitar 30 menit kemudian, METRO tiba di Dusun III Pondok Seberang, Desa Martebing, tempat salah seorang kawanan menyerahkan diri. Dusun ini hanya sekitar 800 meter dari Mapolsek Dolok Masihul. Dusun ini mayoritas dihuni karyawan PT Socfindo. Sepanjang jalan, barisan rumah kopel berwarna sama berjejer rapi. Di lokasi kejadian, suasana sangat ramai, ratusan warga berkerumun, dan puluhan sepedamotor parkir sembarangan sehingga membuat macet. Beberapa truk polisi juga parkir di sana .
Setelah memarkirkan sepedamotor di samping sebuah rumah warga, METRO menuju bantaran sungai, sekitar 200 meter dari pemukiman. Jalanan licin dan berlumpur. Di tempat itu, terlihat beberapa WC darurat milik warga hanya ditutupi karung. Sungai yang airnya berwarna kekuning-kuningan itu membelah perkebunan kelapa sawit. Pinggiran sungai dipenuhi tumbuhan gelaga dan di beberapa tempat di pinggir sungai terlihat kandang lembu milik warga.
Sementara suasana di bawah pohon kelapa sawit ibarat pasar. Ratusan warga dan aparat bercampur-baur. Pasukan TNI juga ada di sana . Beberapa aparat bersenjata tampak menyusuri sungai mencari kawanan bersenpi yang diduga bersembunyi di tempat itu. Raut wajah mereka tegang.
Tiba-tiba terdengar letusan senjata yang diikuti teriakan-teriakan petugas. METRO langsung bersembunyi di balik pohon kelapa sawit. Kontak senjata terjadi sekitar 40 meter di depan METRO.
Warga yang mendengar suara senjata bukannya menghindar. Malah mereka mendekat ke lokasi. Petugas terpaksa membuat pagar betis agar warga menjauh.
“Mundur, mundur, nanti terkena peluru, repot akhirnya nanti!” ujar seorang aparat Brimob. Namun warga bertahan, sebagian malah mengeluarkan ponsel, mencoba mengabadikan situasi.
Lima belas menit sejak letusan pertama, terdengar suara ledakan kuat. Ternyata ledakan itu bersumber dari granat nenas seorang pelaku. Menurut aparat TNI yang turut menyergap, pelaku mencoba melemparkan granat ke arah petugas, namun kalah cepat dengan petugas, sehingga granat tersebut meledak di tangannya. Kontak senjata berlangsung sekitar 30 menit
Setelah suara letusan senjata mulai sepi, petugas menyisir pinggir sungai untuk mencari mayat kawanan bersenpi. Di lokasi ini, dua orang kawanan ditemukan tewas tertembak. Salah seorang yang mencoba meledakkan granat, tubuhnya hancur. Bagian-bagian tubuhnya tercecer. Mayatnya diangkat ke darat dan ditutup karung bekas.
Seorang orang lagi ditemukan sekitar 40 meter ke arah hulu sungai. Pistol jenis FN yang sempat ditembakkan salah seorang pelaku ke arah aparat gabungan, tidak ditemukan.
Mayat kedua kawanan tersebut dibawa menggunakan mobil ambulans setelah terlebih dahulu dimasukkan ke kantung mayat. Mobil ambulans sempat terhalang masuk ke lokasi karena jalan dipenuhi sepedamotor. METRO tetap bertahan di lokasi menyaksikan penyisiran yang dilakukan personel Brimob. Beberapa warga turun ke sungai untuk mencari senpi kawanan yang diduga jatuh ke sungai.
Di lokasi, seorang perwira Brimob dari Pematangsiantar, AKP H menuturkan penyergapan dilakukan setelah mendengar informasi dari rekan kawanan yang menyerahkan diri. Saat melakukan penyisiran, aparat melihat dua orang kawanan bersenpi bersembunyi di balik tumbuhan gelaga. Awalnya aparat meminta mereka menyerah.
“Tiga kali saya sempat meminta mereka untuk menyerah, namun mereka tidak menggubris, malah menembaki petugas,” tutur perwira berambut ikal ini.
Jarak antara petugas dengan salah seorang kawanan ini hanya sekita empat meter. Karena anggota kawanan melawan dengan menembakkan senjata ke arah petugas, akhirnya petugas menembaknya hingga tewas.
Perwira Brimob ini juga mengakui dia dan pasukannya sudah tiga hari berada di perkebunan sawit.
“Istilahnya, mengendap di perkebunan sawit, menahan dingin dan hujan. Namun itu bukan masalah demi tugas dan negara ini,” ujarnya.
Di saat sedang berbincang-bincang, ada informasi seorang kawanan berambut gondrong, mengenakan jaket, dan membawa senjata laras panjang berhasil melarikan diri ke arah perkebunan sawit di seberang sungai.
Perwira tersebut langsung memerintahkan pasukannya untuk bergerak.
“Ayo kalau mau ikut!” ajaknya.
METRO bersama dua rekan dari SUMUT POS dan media lainnya memutuskan turut dalam penyisiran, namun mengambil jalan memutar agar jangan ikut menyeberangi sungai.
Bersama seorang anggota Polisi Masyarakat (Polmas), METRO dan rekan memutar arah dari Dusun 4 Desa Martebing. Setelah melewati pemukiman penduduk, METRO tiba di lokasi di mana seorang kawanan diduga bersembunyi. Di tempat itu, lima orang polisi berpakaian sepil dan menenteng pistol mengawasi situasi.
Selang beberapa menit, lima unit sepedamotor yang dikendarai 10 personel Brimob bersenjata laras panjang tiba di lokasi. Dengan sigap, mereka langsung menuju ke tengah perkebunan sawit melewati taman pemakaman umum (TPU). METRO dan rekan mengikut dari belakang. Di pinggir perkebunan kelapa sawit, mereka mengokang senjata berpencar di balik rimbunnya pohon kelapa sawit. Sementara petugas berpakaian sipil berjaga-jaga di pemakaman.
Kebun kelapa sawit tersebut dipenuhi semak-belukar sehingga menyulitkan pandangan. Sementara onggokan kotoran sapi berceceran di beberapa tempat. Terkadang tanpa sengaja, anggota Brimob menginjak kotoran itu dan menimbulkan bau tidak sedap. METRO dan rekan mengikuti penyisiran hingga jarak 800 meter ke tengah perkebunan kelapa sawit. Suasana sangat sepi, sesekali terdengar suara siulan pasukan memberikan tanda untuk bergerak.
Sekitar satu jam penyisiran, karena tidak menemukan hal-hal yang mencurigakan, pasukan kembali ke tempat semula. Salah seorang personel Brimob berkulit hitam menuturkan jika pasukannya merupakan unit reaksi cepat yang bergerak jika mendengar informasi tentang keberadaan kawanan.
“Sejak Jumat kami di sini meninggalkan keluarga, pakaian pun hanya berganti sekali, CD (pakaian dalam) pun sudah side A dan side B,” tuturnya.
Personel Brimob ini juga mengatakan, masyarakat di sekitar lokasi penyisiran sangat kooperatif.
“Warga di sini sangat terbuka, mau memberikan informasi, juga mau turut sebagai penunjuk sehingga perburuan kawanan bersenpi lebih ringan,” ujarnya. (tamat)
