
Suasana pembangunan di Makkah. (Foto : Anas Sadaruwan/jpnn.com)
Mengunjungi Makkah dengan Wajah Baru (1)
Ada Menara Jam, Arah Kiblat Berubah
Pada musim haji tahun ini, megaproyek perluasan Masjidilharam dan modernisasi transportasi Arafah–Mina memasuki tahap penyelesaian. Sebagian bahkan sudah bisa dinikmati jamaah. Apa saja layanan terbaru dari megaproyek tersebut? Berikut laporan Anas Sadaruwan dari Makkah. (tulisan dan foto diambil dari JPNN.COM)
==========================
SAYA tiba di Makkah sekitar akhir September 2010. Saat itu calon jamaah haji (CJH) Indonesia belum datang. Mereka baru masuk Makkah pada 22 Oktober, setelah menunaikan salat Arbain selama delapan hari di Madinah.
Suasana Masjidilharam pun tak begitu padat. Terutama waktu duhur, orang tawaf bisa dihitung dengan jari. Artinya, setiap putaran, kalau mau, orang itu bisa mengecup Hajar Aswad. Padahal, pada waktu ramai, orang harus berebut dan saling sikut untuk bisa mengecup batu hitam itu.
Setelah Ramadan, pemerintah Arab Saudi memang sudah tidak mengeluarkan visa umrah lagi. Sebab, Syawal sudah masuk musim haji (miqat zamani). Dengan demikian, yang bisa masuk ke Makkah adalah pemegang visa haji atau visa ziarah.
Saya bisa masuk karena mengurus dokumen haji khusus. Semua wakil perusahaan travel penyelenggara haji khusus memang diberi kesempatan masuk Arab Saudi dengan visa ziarah untuk mengurus barcode haji khusus. Barcode adalah stiker yang harus ditempelkan di paspor jamaah haji khusus sebagai persyaratan. Sebab, barcode itu baru bisa diperoleh kalau penyelengara haji khusus tersebut sudah bisa menunjukkan kontrak hotel di Makkah, Madinah, dan rumah transit.
Sambil menunggu selesainya barcode, saya mencari hal-hal yang berubah di Masjidilharam. Saya memang akhirnya menemukan sesuatu yang baru. Tapi, bukan pemindahan makam Ibrahim yang cukup diberi tanda di lantai atau ditanam dengan ditutup kaca tebal agar orang yang tawaf lebih leluasa. Sebab, kenyataannya, makam Ibrahim masih ada seperti semula. Sesuatu yang baru itu memang sepele. Yakni, di setiap pintu masuk Masjidilharam saat ini ada segelondong plastik tipis, mirip dengan pembungkus buah di supermarket. Plastik tersebut disediakan untuk membungkus sandal sehingga praktis dan memudahkan jamaah.
Selain itu, sekarang jamaah bisa melihat lokasi sai yang baru dan megah, yang berkapasitas tiga kali lipat. Saya lantas keluar dari masjid melalui Babul Umrah. Dulu, kalau saya keluar dari Babul Umrah, kemudian naik trap agak tinggi, pasti di hadapan saya ada Makkah Hotel yang terkenal dekat itu. Bangunan tersebut kini sudah dikeruk sedalam 20 meter. Bahkan, gunung di belakangnya sudah rata. Artinya, kawasan tersebut sekarang lebih rendah daripada Masjidilharam.
Ratusan crane berdiri gagah. Di bawahnya, ribuan pekerja menempati pos masing-masing di kawasan itu. Di situlah sekarang dibangun perluasan Masjidilharam ke arah barat. Pilar-pilar berotot besi besar mulai terpancang. Tentu bentuk bangunannya akan disamakan dengan Masjidilharam sekarang. Ada basement serta lantai satu dan dua. Juga ada lantai paling atas tanpa atap.
Saya melihat, dua menara mulai dibangun dan sudah meninggi. Dua menara itu tidak jauh dengan tempat yang dulu merupakan lokasi Hotel Al Safa, yang berjarak sekitar 600 meter dari Masjidilharam. ”Saya menduga, pintu dua menara itu akan dinamakan Bab Malik Abdullah,” kata Amiruddin, seorang mukimin yang menemani saya berkeliling. Sebab, perluasan Masjidilharam era Raja Fahd dinamakan Bab Malik Fahd.
Saya lantas berusaha mengingat-ingat hotel apa saja yang dulu berada di sana, di kawasan Makkah Hotel. Ada Hotel Zahret, Qurtuba, Talal Palace, Anwar Makkah, White Palace, dan Grand Tala. Sedangkan di Syamiah, ada hotel New Safa, Asia, Al Safa, Al Waled Palace, Elaf Tower, dan ratusan hotel lain yang sekarang tinggal nama. Saya masih ingat betul karena dulu sering tukar uang dolar di dekat New Safa. Di sana, rate-nya bagus.
Hotel Sofitel yang berlokasi agak tinggi –menanjak tajam kalau kita jalan kaki dari Masjidilharam– juga dikeruk habis. Kedalamannya sekitar 20 meter. Sulit rasanya mengingat-ingat dengan tepat hotel A dulu di sini atau hotel B dulu di sini. Sebab, proyek itu adalah proyek raksasa. Apalagi, mencari Pasar Seng. Di mana, ya" Hal itu terjadi karena bangunan dan hotel-hotel besar di sekitarnya, seperti Hotel Sheraton, Riyadh, Reem, Najd, Soraya, dan Rowasi, sudah rata dengan tanah sampai Masjid Kucing. Banyak orang punya kenangan di hotel-hotel tersebut.
Saya tidak tahu, sekarang pemondokan jamaah haji kita yang terdekat di mana. Tapi, yang jelas, mereka bakal melewati hamparan luas sebelum sampai di Masjidilharam. Proyek perluasan Masjidilharam akan menjadi tontonan menarik bagi jamaah. Sebab, mereka pasti melewati dan melihatnya. Ketika jamaah haji rombongan pertama masuk ke Makkah akhir Oktober lalu, para pekerja perluasan Masjidilharam itu masih bekerja.
Perluasan tersebut bertujuan menambah kapasitas hingga 35 persen, yakni bertambah sekitar 500.000 orang. Dengan demikian, daya tampung Masjidilharam menjadi 1,2 juta orang. Masjid itu mempunyai 135 pintu masuk yang dibuka 24 jam. Di setiap pintu besar, ada sinyal lampu hijau atau merah. Kalau sinyal hijau menyala, dalam masjid masih ada tempat. Tapi, kalau sinyal merah menyala, tempat sudah penuh.
Tahun ini jamaah akan melihat pemandangan yang menarik. Yaitu, berdirinya jam raksasa di kota suci Makkah. Meski belum rampung seluruhnya (baru tiga sisi yang sudah dipasangi jam), jam terbesar di dunia itu sudah berdetak dan berfungsi sejak 12 Agustus 2010 atau awal Ramadan lalu. Saya jadi penasaran dan ingin naik untuk melihat dari dekat. Tapi, dari mana" Begitu saya mendekati kawasan hotel yang memiliki akses ke atas jam raksasa itu, seorang petugas sekuriti menegur dengan bahasa Arab,” Mamnuk, mamnuk.” Maksudnya, dilarang masuk.
Dari bawah, saya melihat para bekerja menyelesaikan pembangunan puncak menara yang tingginya nanti 1.970 kaki atau 600,46 meter. Di puncak menara itu, akan dipasang ornamen bulan sabit yang bergaris tengah 23 meter. Konon, nanti dipasang juga 15 lampu sorot di puncak menara tersebut, yang akan menembus langit. Di bawah menara, ada tulisan besar Allahu Akbar dalam huruf Arab.
Tulisan tersebut akan berada di bawah jam raksasa dengan ukuran garis tengah 151 kaki atau 46,02 meter. Di kanan-kirinya, ada menara pendukung. Di tiap-tiap menara tersebut, juga ada tulisan Allahu Akbar dalam huruf Arab, tapi agak lebih kecil. Demikian juga sisi lain. Sebab, menara jam raksasa tersebut mempunyai empat sisi yang sama.
Di bawah jam, ada tulisan Arab berbunyi, ”Waqful Malik Abdul Azis Lilharamain Asysyarifain.” Artinya, wakaf Raja Abdul Azis untuk dua Tanah Suci. Lambang Kerajaan Arab Saudi tetap ada. Yaitu, sepasang pedang bersilang dan pohon palem di tengah jam tersebut. Persis di bawah jam raksasa itu, akan disediakan teras atau balkon agar pengunjung bisa berdiri dan melihat pemandangan kota. Akan disediakan pula elevator bagi pengunjung yang ingin masuk balkon.
Kompleks perhotelan di bawah jam raksasa itu memang jadi sasaran penyelenggara haji khusus untuk menginapkan jamaah. Saya juga memilih salah satu hotel di kompleks tersebut untuk jamaah saya. Kompleks itu dinamakan Abraj Al Bait Tower. Tempat tersebut memiliki tujuh menara. Satu di antaranya merupakan menara tertinggi, yaitu Mecca Royal Clock Tower Hotel. Di puncaknya, ada jam raksasa tersebut.
Ada tiga hotel yang sejak tahun lalu sudah dioperasikan, yaitu Grand Zamzam, Marwa Arryhaan, dan Movenpick. Segera dioperasikan juga hotel papan atas, yaitu Fairmont, Raffles, dan Swiss Hotel, ditambah lagi Royal Mecca Clock Tower. Menurut salah seorang manajer hotel, kompleks perhotelan tersebut bisa menyiapkan 3.000 lebih kamar dan apartemen yang dilengkapi dengan lima gedung pusat perbelanjaan dan 1,5 juta meter lobi.
Saya melihat, di atas pintu gerbang masuk kompleks Abraj Al Bait itu juga ada tulisan ”Waqful Malik Abdul Azis Lilharamain Asysyarifain” dengan huruf Arab. Artinya, wakaf Raja Abdul Azis untuk dua Tanah Suci. Sama dengan yang ditulis di jam raksasa di atasnya.
Salah seorang sopir taksi di Makkah berkata, ”Arah kiblat salat kita akan berubah.” Lho, kenapa berubah? Sebab, kita tidak perlu susah-susah cari arah kiblat. Kan jam raksasa itu dari kejauhan sudah tampak, hadapkan saja salat kita ke sana. Toh, Kakbah berada di bawahnya. Tentu sopir taksi Arab tersebut bercanda. Sebab, orang Islam kalau salat tetap wajib menghadap ke Kakbah. Warga Arab Saudi, terutama penduduk Makkah, pasti bangga, begitu juga dunia Islam.
Mengunjungi Makkah dengan Wajah Baru (2-habis)
Untuk Haji, di Arafah Ada Tiga Stasiun Monorail
Musim haji tahun ini, monorail yang menghubungkan Arafah ke Mina, sudah dioperasikan. Tapi, tak semua jamaah bisa terangkut. Mengapa? Berikut lanjutan laporan ANAS SADARUWAN dari Makkah.
--------------------
Dari kejauhan saya melihat jam raksasa itu memang cantik. Kalau malam berwarna hijau dan jarum jamnya putih. Hal itu karena sekitar 21.000 lampu berwarna hijau dan putih menyala, terutama ketika waktu salat tiba. Kalau siang warnanya menjadi putih, sedangkan jarum jamnya menjadi hitam. Cahayanya terlihat hingga 18 mil atau 25 kilometer. Setiap sisi jam itu ditutupi dengan 98 juta lembar kaca mozaik yang terbuat dari karbon fiber yang sangat kuat yang biasa digunakan pesawat ruang angkasa. Beberapa bagian dilapisi emas. Keempat sisi jam itu akan disorot oleh dua juta lampu LED (light-emitting diode). Jam akan berjalan berdasarkan standar waktu Arabia, tiga jam mendahului GMT.
Dengan berdirinya jam raksasa di Tanah Suci itu, tampaknya, pemerintah Saudi berambisi memindahkan pusat waktu dunia ke Makkah. Sebelumnya, selama 125 tahun, pusat waktu dunia adalah GMT (Greenwich Mean Time), yang terletak di sebuah titik di atas bukit di London. Jam raksasa di Makkah ini diperkirakan bisa menjadi pedoman waktu bagi seluruh umat Islam di dunia. Keinginan pemerintah Saudi memindahkan pusat waktu dunia ke Makkah mendapatkan reaksi positif dunia Islam. Bahkan, dukungan itu muncul juga di jejaring Facebook.
Dengan demikian, Royal Mecca Clock Tower bakal menjadi menara tertinggi kedua di dunia (600 meter) setelah Burj Al Khalifa di Dubai (828 meter). Dan, menjadi menara jam tertinggi sekaligus terbesar di dunia. Big Ben yang bertengger di Menara St Stephen London yang selama ini dianggap tertinggi (96 meter), garis tengah jamnya hanya 23 kaki (7 meter). Sedangkan menara jam Makkah, bergaris tengah 151 kaki atau 46 meter, yang juga mengalahkan jam di Mall Cevahir Istanbul, Turki yang berdiameter 36 meter. "Saya bangga, kalau tahun depan - untuk umrah atau haji" bisa menempatkan jamaah kita di hotel yang punya jam terbesar di dunia ini. Tapi, berapa ya tarifnya?" kata Amiruddin.
Karena hotel ini diklaim sebagai hotel berbintang tujuh, tentu tarifnya lebih mahal. "Yang penting jamaah yang mempunyai keinginan. Kita kan hanya melaksanakan pesanan," tambah Amiruddin, mukimin asal Madura ini, lantas tertawa.
Sementara itu, rencana jamaah haji diangkut dengan monorail dari Arafah ke Muzdalifah kemudian ke Mina, tampaknya, tahun ini bisa dibuktikan. Saya meluncur ke Arafah untuk melihat dari dekat proyek yang memakan biaya SR 6,5 miliar itu. Di Arafah terdapat tiga stasiun. Setiap stasiun besarnya hampir sama dengan Stasiun Gambir, tapi lobinya lebih luas. Stasiunnya berada di atas. Tentu, nanti dilengkapi tangga dan eskalator.
Saat saya ke sana, suasana di bawah stasiun masih hiruk pikuk. Banyak alat bangunan yang masih bertengger. Begitu juga di stasiun lain. Masih tampak gundukan tanah dan pasir serta alat-alat kerja. Para pekerjanya yang berasal dari Tiongkok, Mesir, Bangladesh, dan Pakistan berseliweran untuk menyelesaikan berbagai sarana seperti tangga dan lain lain.
Saya lantas naik ke stasiun. Saya sempat ragu apakah saya bisa naik, karena stasiun ini belum rampung secara keseluruhan. Namun, ternyata tidak ada yang menegur. Di atas banyak pekerja dari Tiongkok membenahi kabel-kabel lampu, mengecat, dan pekerjaan finishing lainnya.
Dalam bayangan saya, relnya hanya tunggal seperti yang dimuat dalam gambar contoh selama ini. Ternyata, relnya ganda, seperti yang ada di Indonesia. Keretanya digerakkan oleh tenaga listrik seperti KRL Jabotabek. Tidak lama kemudian, dari jauh tampak lampu menyorot. Ternyata, ada kereta yang meluncur dari arah stasiun pertama di Arafah menuju Stasiun Mina. Wah, saya harus memotret. Kereta ini berwarna hijau muda. Ada dua garis vertikal warna hijau tua di kanan kiri moncong kereta. Ternyata moncongnya tidak seperti kereta monorail yang sudah ada.
Menurut pekerja dari Pakistan dan Bangladesh, setiap hari kereta diuji coba dari Stasiun Arafah ke Mina. Musim haji ini pasti dioperasikan. Namun, tidak penuh, hanya 35 persen dan penggunanya sebatas jamaah Saudi dan Timur Tengah, yang berjumlah 150.000 hingga 200.000 jamaah. Kereta ini akan bergerak secara shuttle (bolak-balik).
Kalau wukuf tahun ini jatuh pada Senin 9 Zulhijah atau 15 November, berarti dua minggu lagi harus dioperasikan. Melihat para pekerja Tiongkok yang ngebut mengerjakan finishing di stasiun, tampaknya, mereka memburu target tanggal pengoperasian itu.
Dari atas stasiun saya melihat permukiman sementara berbentuk kontainer untuk menampung pekerja dari Tiongkok yang konon berjumlah ribuan orang. Pada musim haji tahun ini ratusan pekerja Tiongkok pulang ke tanah airnya. Saya melihat mereka naik pesawat Garuda. Ini berarti mereka ke Jakarta dulu baru ke Beijing. Kebanyakan tidak bisa berbahasa Inggris, tapi wajah-wajah mereka tampak cerah. Pekerja dari Tiongkok itu masih akan menetap di Saudi sampai proyek perkeretaapian tersebut selesai. Konon di antara mereka ada yang telah masuk Islam.
Di Arafah ada tiga stasiun. Jamaah harus berjalan kaki 300 meter untuk mencapai stasiun. Begitu juga di Muzdalifah ada tiga stasiun. Stasiun terakhir di Mina akan berlokasi di lantai empat jamarat. Nanti memang ada rencana menyambung kereta ini dengan stasiun KA di Makkah yang akan menghubungkan kota suci Makkah dan Madinah. Kereta yang menghabiskan biaya miliaran real ini mungkin hanya digunakan pada musim haji, yakni sekitar 3 sampai 5 hari.
Namun, di luar musim haji, bisa saja jamaah umrah yang setiap tahun meningkat jumlahnya akan menggunakannya untuk city tour, terutama yang belum melihat Arafah maupun Mina.Dengan demikian, jamaah Indonesia harus bersabar dulu. Sebab, kereta ini baru beroperasi penuh pada musim haji 2011. Proyek kereta ini tidak akan mengganggu kemah-kemah jamaah karena dibangun sejajar dengan jalan dan ditopang dengan jembatan layang yang tingginya 6-10 meter.
Kalau kereta sudah beroperasi penuh, sembilan jalan yang menghubungkan Arafah dan Mina itu akan berubah total. Selama ini jarak 8,5 km itu ditempuh ribuan bus dengan tiga juta jamaah haji dari seluruh dunia dalam waktu empat hingga lima jam. Kemacetan fatal yang terjadi di jalur itu tentu segera teratasi. Namun, pada awal pengoperasian kereta akan muncul problem peralihan sistem yang membuat jamaah haji gagap.(*/c2/agm/jpnn.com)
Rabu, 03 November 2010
Wajah Baru Makkah
Sabtu, 30 Oktober 2010
Bencana Tgl 26
Bencana Tahun 1500-2000,
Ada Apa dengan Tanggal 26?
> 26 Jan 1531 gempa bumi di Lisbon, Portugal, 30.000 orang tewas
> 26 Jan 1700 gempa di Laut Pasifik, dari Vancouver Island, Southwest Canada off British Columbia hingga Northern California, Pacific Northwest,USA. Dikenal sebagai megathrust earthquake.
> 26 Jul 1805 gempa bumi di Naples, Calabria, Italy, 26.000 orang tewas
> 26 Agt 1883 Gunung Krakatau meletus, 36.000 orang diperkirakan tewas
> 26 Des 1861 gempa bumi di Egion, Yunani
> 26 Mar 1872 gempa bumi di Owens Valley, USA
> 26 Agt 1896 gempa bumi di Skeid, Land, Islandia
> 26 Nop 1902 gempa bumi di Bohemia, sekarang Czech Republic
> 26 Nop 1930 gempa bumi di Izu
> 26 Sep 1932 gempa bumi di Ierissos, Yunani
> 26 Des 1932 gempa bumi di Kansu, Cina, 70.000 orang tewas
> 26 Okt 1935 gempa bumi di Colombia
> 26 Des 1939 gempa bumi di Erzincan, Turki, 41.000 orang tewas
> 26 Nov 1943 gempa di Tosya Ladik, Turki
> 26 Des 1949 gempa bumi di Imaichi, Jepang
> 26 Mei 1957 gempa di Bolu Abant, Turki
> 26 Mar 1963, gempa bumi di Wakasa Bay, Jepang
> 26 Jul 1963 gempa bumi di Skopje, Yugoslavia, 1.000 orang tewas
> 26 Mei 1964 gempa bumi di S. Sandwich Island
> 26 Jul 1967 gempa bumi di Pulumur, Turki
> 26 Sep 1970 gempa bumi di Bahia Solano, Colombia
> 26 Jul 1971 gempa bumi di Solomon Island
> 26 Apr 1972 gempa bumi di Ezine, Turki
> 26 Mei 1975 gempa bumi di N. Atlantic
> 26 Mar 1977 gempa bumi di Palu, Turki
> 26 Des 1979 gempa bumi di Carlisle, Inggris
> 26 Apr 1981 gempa bumi di Westmorland, USA
> 26 Mei 1983 gempa bumi di Nihonkai, Chubu, Jepang
> 26 Jan 1985 gempa bumi di Mendoza, Argentina
> 26 Jan 1986 gempa bumi di Tres Pinos, USA
> 26 Apr 1992 gempa bumi di Cape Mendocino, California, USA
> 26 Okt 1997 gempa bumi di Italia
> Tsunami Aceh 26 Des 2004
> Gempa Jogja 26 Mei 2006
> Gempa Tasik 26 Juni 2010
> Tsunami Mentawai 26 Okt 2010
> Merapi Meletus 26 Okt 2010
> Ada apa dengan tgl 26???
Rabu, 08 September 2010
Senin, 06 September 2010
Berita Foto

Pekan Terakhir Ramadan di Masjidilharam
Dipadati Puluhan Ribu Jamaah
MENJELANG berakhirnya bulan suci ramadan, suasana di Masjidilharam, Mekah hampir sama dengan ketika musim haji. Tempat suci itu dipadati puluhan ribu jamaah dari berbagai penjuru dunia yang sedang menjalankan ibadah umroh. Mereka berlomba-lomba untuk beribadah, di antaranya tawaf mengelilingi kakbah. Seperti terlihat pada gambar yang diambil dari atas ini pada Sabtu malam lalu (4/9). Ramadan tahun ini, areal Masjidilharam sudah diperluas, terutama di sebelah timur. Sehingga, tempat itu bisa menampung jamaah lebih banyak lagi daripada tahun sebelumnya. Perluasan akan terus dilakukan untuk menyambut ibadah haji tahun ini. (teks dan foto: jawapos.com)
Senin, 23 Agustus 2010
E-mail Ramadhan

Roh di Bulan Ramadhan
PAGI, sempena hari Jumat bulan Ramadhan yang mulia ini, aku menghadiri majelis ilmu yang membincangkan tentang amalan di bulan Ramadhan. Satu perkara yang menarik perhatian aku tadi, ustad penceramah bercerita tentang keadaan roh di bulan Ramadhan. Menurut satu hadits Rasulullah.. (maaf aku tak sempat catat perawi hadits ini).. menceritakan apabila tiba bulan Ramadhan, semua roh berkumpul di Luh Mahfuz memohon kepada Allah S.W.T untuk kembali ke bumi.
Ada roh yang dibolehkan pulang ke bumi dan ada yang tidak diizinkan. Roh yang dibolehkan pulang adalah karena amalan baik mereka semasa hayat mereka ataupun ada penjamin-penjamin yang mendoakan mereka. Manakala roh-roh yang tidak diizinkan pulang disebabkan kesalahan mereka semasa hayat mereka akan terus di penjara di Luh Mahfuz.
Apabila roh diizinkan pulang, perkara pertama yang mereka lakukan adalah
pergi ke tanah perkuburan untuk melihat jasad mereka. Kemudian mereka akan
pergi ke rumah anak-anak mereka, orang yang mendapat harta pusaka mereka dan ke rumah orang yang mendoakan mereka dengan harapan orang yang mereka lawati itu memberi hadiah untuk bekal mereka.Perkara ini akan berlarutan sehingga tibanya Hari Raya Idulfitri. Pada saat ini mereka akan mengucapkan selamat tinggal kepada jasad dan pulang semula ke Luh Mahfuz dengan bekal yang diberikan oleh mereka-mereka yang masih hidup.
Di sini ustad memberitahu hikmah adanya alam kubur. Alam kubur membuktikan bahwa Allah itu Maha Penyayang. Orang yang melakukan kesalahan semasa hayatnya bisa dibantu dengan doa orang-orang yang masih hidup. Alangkah bahagianya jika seseorang yang telah meninggal dunia masih mendapat bekalan dari orang-orang yang masih hidup.
Oleh itu wahai sahabatku, jangan biarkan orang-orang yang kita sayangi, yang menghadap Allah terlebih dulu dari kita sepi tanpa doa dan sedekah dari kita. Sesungguhnya apabila mati seseorang anak Adam itu, terputus semua hal kecuali 3 perkara yaitu doa anak yang saleh, ilmu yang bermanfaat dan sedekah amal jariah.***
sesama lah kita bersedekah... pada roh roh tu
" Walau setinggi mana kasih sayangku, sesungguhnya Allah lebih berhak menyayangimu, Damai lah engkau disana di bawah limpahan rahmat dan kasih sayang-Nya, Sesungguhnya kami semua akan menyusulmu di kemudian hari...
Al-Fatihah buat semua muslimin dan muslimat yang telah pergi mendahului kita"
Sebarkan materi dakwah ini kepada seberapa ramai orang terdekat anda, dan mintalah mereka untuk melakukan hal yang sama. Ini bukanlah ancaman surat berantai.
Yang jelas jika anda tidak meneruskan e-mail ini, maka anda telah melepaskan kesempatan untuk saling menasihati dalam kebenaran dan beramal soleh. Jika anda melakukan dengan ikhlas insya Allah anda akan mendapat ganjaran pahala kebaikan dari Allah. Mari berlumba dalam kebaikan. (terimakasih Pak Amen atas kiriman emailnya, saya ubahsuai sikit untuk disajikan di sini)
Rabu, 11 Agustus 2010
Jam Raksasa Makkah

Jam Raksasa di Makkah,
Acuan Penunjuk Waktu
SUPREMASI Greenwich Mean Time atau lebih dikenal sengan singkatan GMT sedang ditantang oleh sebuah jam raksasa baru yang dibangun di Makkah Almukaramah, yang diperkirakan akan menjadi acuan waktu bagi sekitar 1,5 miliar warga Muslim dunia dengan menyesuaikan jam tangan mereka segera. Jam itu mulai berdetak Kamis (12/8), saat umat Islam mengawali puasa selama bulan Ramadhan.
Telegraph, Rabu (11/8) melaporkan jam tersebut ditempatkan di atas Makkah Royal Clock Tower yang mendominasi kota suci Islam itu. Ini adalah jantung dari sebuah kompleks luas yang didanai pemerintah Saudi, di dalamnya terdapat hotel, pusat perbelanjaan, dan ruang konferensi.
Penampilan menara jam raksasa itu sangat mirip dengan dua Menara St Stephen (St Stephen's Tower), yang merupakan tempat untuk lonceng Big Ben dan Empire State Building. Menara jam Saudi itu memang bertujuan untuk mengalahkan saingannya di Inggris tersebut dalam segala segi.
Jam empat wajah itu berdiameter 151 kaki dan akan diterangi dua juta lampu LED serta dilengkapi tulisan berhuruf Arab ukuran besar yang berbunyi, "Dalam nama Allah". Jam akan berjalan berdasarkan Standar Waktu Arabia (AST), yang tiga jam mendahului GMT. Begitu sebuah puncak berkilauan ditambahkan, berupa bulan sabit untuk melambangkan Islam, tinggi bangunan tersebut akan menjadi hampir 2.000 kaki, yang menjadikannya sebagai bangunan tertinggi kedua di dunia.
Jam Big Ben, sebagai perbandingan, hanya berdiameter 23 kaki, tinggi menaranya hanya 316 kaki.
Warga Makkah juga akan diingatkan bahwa sudah masuk waktu untuk shalat ketika 21.000 lampu hijau dan putih, dapat terlihat dari jarak 18 mil, menyala lima kali sehari.
Namun para ulama Islam berharap, pengaruh jam bisa menjangkau wilayah yang lebih luas, melampau gurun pasir Arab Saudi, sebagai bagian dari sebuah rencana agar Makkah dapat meruntuhkan Observatorium Greenwich sebagai "pusat bumi".
Selama 125 tahun terakhir, masyarakat internasional telah menerima bahwa awal setiap hari harus diukur dari meridian utama, yang mewakili bujur 0 derajat, yang melewati Observatorium Greenwich.
Sebuah standar waktu di mana jam-jam lainnya menyesuaikan untuk kebutuhan mengatur perjalanan dan komunikasi global, tetapi dalam dunia Islam gagasan bahwa itu harus berpusat di London dilihat sebagai anakronisme kolonial.
Seperti Mohammed al-Arkubi, manajer salah satu hotel di kompleks itu, tegaskan, "Menempatkan waktu Makkah di hadapan Greenwich Mean Time. Itulah tujuannya."
Menurut Yusuf al-Qaradawi, seorang ulama Mesir yang dikenal di seluruh dunia Islam karena acara televisinya yang populer, "Syariah dan Kehidupan", Mekah memiliki klaim yang lebih besar untuk menjadi meridian utama karena berada "dalam keselarasan sempurna dengan (garis) magnet utara."
Klaim yang menyatakan bahwa kota suci itu merupakan "noza magnet nol" telah meraih dukungan dari sejumlah ilmuwan Arab, seperti Abdel-Baset al-Sayyed dari Pusat Penelitian Nasional Mesir yang mengatakan tidak ada gaya magnet di Mekah. "Itulah sebabnya jika seseorang melakukan perjalanan ke Mekah atau tinggal di sana, dia hidup lebih lama, lebih sehat dan kurang dipengaruhi oleh gravitasi bumi," katanya. "Anda mendapatkan energi."
MENARA TERTINGGI KEDUA
Tinggi menara akan mencapai 601 meter (1.983 kaki), kata SPA. Itu akan membuat nya menjadi menara kedua tertinggi di dunia – disbanding 509 meter di Taiwan (menara Taipei 101), tapi kalah tinggidibanding Burj Khalifa, 828 meter (2.717 kaki) pencakar langit di Dubai yang diresmikan pada bulan Januari.
Sekitar 250 "pekerja muslim berkualitas tinggi" menyelesaikan pekerjaan las pada frame jam itu, kata SPA.
Lebih dari enam kali lebih besar dari diameter jam terkenal di London Big Ben, jam yang dihiasi dengan kata-kata Arab "Dalam nama Allah" dalam huruf besar di bawahnya, akan dinyalakan dengan dua juta lampu LED.
"Setiap orang akan tertarik untuk melihat jam itu, meskipun kurangnya informasi yang cukup tentang hal itu, dan mekanismenya," kata penduduk Makkah Hani al-Wajeeh.
"Kami di Makkah berharap ini menjadi zona waktu sentral di dunia, dan tidak hanya memiliki jam untuk melihat, untuk sekadar pamer," katanya.
Proyek ini, sebagai bagian dari proyek besar lainnya di sekitran Msjidil Haram, merupakan bagian dari rencana pemerintah Saudi untuk mengembangkan Makkah untuk dapat menerima sebanyak 10.000.000 peziarah haji setiap tahun, naik dari kapasitas tiga juta saat ini.
"Pembangunan jam terbesar di dunia di tempat yang paling suci di bumi adalah mimpi yang menjadi kenyataan bagi umat Islam," kata Atif Felmban, yang tinggal di kota.
"Sebelumnya, kami mendengar dan melihat jam terkenal di Barat Tapi hari ini kita sebagai muslim bisa bangga dari proyek raksasa ini.," Kata Ahmed Halim, seorang Mesir yang hidup di kota suci umat Islam itu.
"Aku akan meninggalkan Makkah sebelum upacara pembukaan jam Tapi saya akan tertarik untuk mengikutinya. Dan mengatur jam tanganku untuk menyesuaikannya bekerja," kata Halim.
"Ini berarti suatu kehormatan bagi suatu tempat, dan waktu bagi saya," katanya.(kcm/yahoo)***
Kamis, 06 Mei 2010
Keajaiban di Kubah Nabawi

SUBHANALLAH, ini adalah sebuah keajaiban yang terjadi sekitar 90 tahun yang lalu.
Diriwayatkan oleh Sheikh Al-Zubaidi:
Ada seseorang mencoba untuk menghancurkan Kubah Nabi Muhammad SAW-- kubah warna hijau di Masjid Al Nabawi (Gumbad-e-Khizra) Madinah, yang juga menjadi tanda tepat di bawahnya terdapat makam Rasulullah SAW--. Namun, ketika sang pelaku mencoba memanjat kubah tersebut untuk memulai menghancurkannya, tiba-tiba petir kilat datang menghantamnya. Pendaki yang berniat jahat tersebut pun tewas di tempat. Anehnya tidak ada seorang pun yang mampu menghilangkan tubuhnya dari atas Kubah tersebut!
Ia juga mengatakan bahwa seorang yang saleh dari Madinah mendengar suara dalam mimpinya, bahwa tidak ada yang dapat mengambil mayat dari atas kubah itu dan bahwa ia harus dikuburkan di sana sebagai peringatan dan pelajaran bagi orang-orang yang mungkin memikirkan berusaha untuk menghancurkan kubah itu di masa depan!
Akhirnya, mereka memutuskan untuk menguburkan orang itu di sana, di atas kubah dan menutupi tubuhnya dengan kotak hijau sehingga tidak akan terlihat oleh orang.

