Senin, 02 Juni 2008

Tips Haji 6


Fisik Bugar, Ibadah Haji Lancar

IBADAH
haji memang tidak berlebihan disebut ibadah fisik. Sebuah rangkaian pelaksanaan ibadah yang memerlukan fisik bugar agar hasil yang lebih maksimal dapat dicapai.

Apalagi kita berada di sana dalam waktu yang cukup lama, sekitar 40 hari pulang-pergi. Tentu memerlukan pula kepandaian mengatur waktu dan tenaga sedemikian rupa sehingga keduanya terpakai secara efektif. Ibadah utama tetap terikuti, ibadah dan kegiatan lainnya juga mampu diikuti dan dilaksanakan dengan maksimal.

Itu pula barangkali yang menjadi salah satu alasan sehingga muncul ajakan yang sering kita dengar, berhajilah selagi muda, sehat dan fisik kuat.


Kendati begitu, jangan pula cepat mengeluh, apalagi menyerah, jika fisik tidak lagi sekokoh dulu. Di sana nanti Anda akan melihat sendiri bahwa mereka yang bahkan sudah harus berjalan dengan terbungkuk-bungkuk pun, akan tampil dengan semangat tinggi untuk menunaikan rangkaian ibadah di Tanah Suci. Seakan ada tenaga ekstra, terasa ada yang membantu! Percayalah itu!

Dari pengalaman terdahulu, barangkali catatan berikut dapat membantu para jamaah calon haji untuk mendapatkan kebugaran fisik atau bagaimana dapat mengatur waktu dan tenaga di sana, agar tidak terbuang percuma:

(1) Selagi masih di tanah air, sempatkan berjalan kaki sedikitnya 15 menit setiap pagi, misalnya usai melaksanakan salat subuh, dengan kecepatan dua kali berjalan biasa.

(2) Kalau bisa, sertakan olahraga ringan atau bersepeda, itu akan lebih baik.

(3) Membiasakan berjalan kaki akan terasa manfaatnya saat berada di tanah suci nanti, karena keseharian di sana akan lebih banyak ditempuh dengan berjalan kaki, mulai dari berangkat pulang-pergi ke Masjidil Haram atau Nabawi (terutama yang pemondokannya tidak terlalu jauh), bahkan aktifitas ibadahnya sendiri, seperti tawaf dan sa'i. Ditambah lagi dorongan kuat untuk menelusuri kawasan sekitar Masjidil Haram jika ada waktu luang, sangat terbantu jika kebugaran fisik mendukung.

(*) Yang menderita sakit maag, jangan mengonsumsi yang asam-asam atau cabe. Untuk mengonsumsi obat-obatan guna menurunkan gejala sakit maag, mintalah petunjuk dokter untuk mendapatkan tindakan yang benar.

(*) Konsumsilah secara teratur multivitamin, setidaknya sejak dua pekan sebelum berangkat, setiap hari, sampai dengan kepulangan ke tanah air. Penulis menerapkan hal ini, mengonsumsi multivitamin yang selama ini familiar dan cocok dikonsumsi, ditambah multivitamin lain yang disarankan seorang teman yang biasa menjualnya melalui jalur ala MLM. Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah karena sejak berangkat sampai kembali lagi ke rumah, 40 hari penuh aktifitas fisik tersebut, tidak ada gangguan kesehatan yang berarti. Kalau batuk atau pilek, itu sangat wajar. Sebab anekdot yang lazim dilontarkan setiap jamaah haji adalah, hanya unta saja yang tidak mengalami batuk dan pilek di tanah suci selama musim haji! Anda kelak akan terbiasa mendengar ''konser'' batuk saat mengikuti salat berjamaah di Masjidil Haram nanti!

(*) Siapkan juga obat-obatan luar yang dapat mengurangi rasa pegal dan pelemas otot. Tentu, sekali lagi, yang sudah biasa dipakai dan familiar dengan kita. Biasanya, dua-tiga hari pertama aktifitas pulang-pergi dan beribadah di Masjidil Haram, otot-otot terutama di sekitar paha dan betis akan bereaksi dan memerlukan pelemasan. Mungkin ''kaget'' saja. Setelah itu, rasa pegal dan penat-penat itu akan hilang dengan sendirinya. Kita akan kaget sendiri dengan kemampuan fisik yang kalau dalam aktifitas keseharian di tanah air, mungkin tak sanggup dijalani. Namun di sana, akan dijalani dengan nikmat. Percayalah. Itulah nikmatnya beribadah di Tanah Suci.

(*) Untuk kenyamanan, sebaiknya apapun obat-obatan yang dibawa, diingat dan ditunjukkan sewaktu ada pemeriksaan kesehatan dan pencatatan oleh petugas di embarkasi Batam. Ini dimaksud agar dalam perjalanan berikutnya, terutama di Arab Saudi, kita bisa terhindar dari kemungkinan ada masalah sewaktu dilakukan pengecekan barang bawaan, termasuk obat-obatan.

(*) Selain kesiapan fisik dan obat-obatan dari tanah air, efisiensi kegiatan fisik selama di tanah suci juga perlu dijaga ritmenya. Kalau memang anda termasuk yang diberangkatkan pada gelombang pertama, tentu terlebih dahulu akan ke Madinah. Nah, disarankan agar jaga betul kondisi fisik. Memang cuaca dikabarkan dingin saat musim haji nanti, sama seperti tahun lalu. Namun, bukan berarti tidak ada panasnya. Kalau siang hari, cahaya matahari tetap menyengat. Makanya, kalau memang tidak perlu, ngapain keluyuran, apalagi diperturutkan pula keinginan bersafari dari mal ke mal yang memang amat mengundang karena amat banyaknya di sekitar Masjid Nabawi. Ingat, tujuan utama adalah beribadah haji dan keberadaan di Madinah baru masuk dalam hitungan ziarah, sementara ibadah puncaknya nanti setelah di Makkah, Arafah dan Mina. Jangan sampai tenaga dan stamina habis sebelum waktunya!

(*) Begitu pula jamaah haji gelombang kedua, yang akan langsung ke Makkah melalui Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Kondisi fisik juga harus dipertimbangkan. Memang akan ada penjadwalan ziarah ke tempat-tempat bersejarah seperti Jabal Nur dengan Gua Hira'-nya, Jabal Rahmah di Arafah, dan sebagainya, serta banyak tempat menarik lainnya di sekitar Makkah, seperti Pekuburan Ma'ala.

Bahkan yang sangat kencang godaannya adalah bertaburannya pusat belanja dan jajanan di seputaran Masjidil Haram, mulai dari kelas super VVIP, sampai kaki lima, semua serba ada, serba menggoda. Kembali kita harus ingat niat utama ke sana untuk ibadah haji.

Pertimbangkan betul, misalnya kalau tidak perlu betul jangan memaksakan diri mendaki ke Jabal Rahmah atau Gua Hira. Karena lazimnya jadwal ziarah ke sana sebelum memasuki di antara puncak ritual haji di Arafah dan Mina.

Artinya, sedapat-dapatnya kita mengurangi resiko yang mungkin timbul sehingga ibadah yang utama dapat kita laksanakan dalam kondisi fisik yang masih prima. Masih tersedia cukup waktu setelah rangkaian ibadah utama dilalui, jika memang masih ingin berziarah, atau memuaskan rasa ingin tahu terhadap objek-objek bersejarah di sana.(amzar)

Trik Memakai Ihram

Jangan sepelekan masalah ini. Tidak susah-susah amat, memang. Namun jika tidak diperhatikan secara benar bagaimana cara mengenakan kain ihram, tentu akan merepotkan dan mengganggu kekhusyukan pelaksanaan ibadah nantinya. Kain ihram biasanya mulai dipakai ketika akan memasuki Makkah untuk melaksanakan umrah, sejak dari bandara King Abdul Aziz Jeddah, atau tempat lain yang ditentukan sebagai miqat bagi yang lebih dulu ke Madinah, sampai nanti melaksanakan tawaf dan sa’i. Juga nanti mulai saat akan berangkat wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah dab bermalam di Mina, kita akan mengenakan ihram.

Ada banyak petunjuk tentang ini, termasuk juga di buku saku yang diberikan Departemen Agama. Terserah mana yang menurut Anda paling gampang, paling aman dan nyaman, dan praktis. Atau trik seperti berikut mungkin juga bisa membantu:

* Untuk kain ihram bagian bawah. Pertemukan kedua ujung kain ihram di tangan kanan, yang diposisikan seperti kita memakai kain sarung. Lantas salah satu ujungnya tadi dikepit. Sisanya direntang dengan ujung yang tengah, lantas dilipat seperti memakai sarung. Biasanya untuk lebih menguatkan, dibantu lagi dengan ikat pinggang

* Untuk kain ihram bagian atas, dilipat sedikit, lalu dibentangkan seperti kita biasa menyampirkan handuk dari arah punggung-pundak, agak lebihkan yang sebelah kanan, agar nanti dapat disampirkan di pundak dengan nyaman.

Tidak ada komentar: