Kamis, 12 Juni 2008

Tips Haji 7



Arafah dan Mina

Puncak Haji, Fisik dan Disiplin Diuji

HAJI
adalah Arafah. Inilah puncak ritual ibadah haji, wukuf di Arafah. Karenanya, pada waktunya, setiap jamaah haji akan ke Arafah dengan cara apapun dan dalam kondisi  bagaimana pun, untuk dapat melaksanakan wukuf.

Bagi kita yang sudah diatur perjalanannya, akan berangkat ke Arafah sehari menjelang wukuf, dengan memakai pakaian Ihram. Sama seperti jutaan jamaah lainnya, semua ingin hadir di Arafah, tidak ingin terlambat. Tak peduli, bertengger di atas mobil, atau berjalan kaki pun, jadi!

Di sini memang fisik harus tetap prima dan disiplin serta sabar, tetap dijaga. Bagaimana kita harus disiplin sejak dari pemondokan, naik bus, di atas bus yang terkadang harus beringsut-ingsut jalannya karena ratusan ribu kendaraan bergerak dalam waktu bersamaan, menuju lokasi yang sama.


Di kemah Arafah, disiplin dan kesabaran serta sifat saling menolong lebih mengemuka. Karena kita akan berkumpul dalam jumlah yang banyak di bawah satu tenda besar per rombongan, harus ekstra sabar saat berurusan dengan kamar kecil dan tempat berwuduk. Apalagi kita sedang berpakaian Ihram, banyak pantang-larangnya.

Saat puncak haji tiba, ibadah wukuf memasuki masa-masa yang mengaduk-aduk perasaan setiap jamaah. Sejak azan berkumandang, ketika kutbah wukuf disampaikan, ketika usai salat berjamaah zuhur dan asar yang diqasar dan jamak taqdim, setiap jamaah akan menundukkan kepala, bercermin pada diri sendiri, tentang apa saja yang telah dilakukan selama ini, terhadap sesama umat, dan juga terhadap Allah. Inilah semacam perjalanan kilas balik, karena semua perbuatan dosa dan juga amal baik, kini terbayang di depan mata. Ritual selama wukuf akan khusyuk terjalani dan air mata akan bercucuran membasahi padang pasir Arafah yang mashur itu.

Ketika matahari agak condong di langit sebelah barat, saat panasnya tidak lagi menyengat, upayakanlah keluar dari tenda, atau di dalam tenda pun tak apa. Berdoalah dengan sungguh-sungguh, karena Arafah adalah salah satu tempat mustajab untuk berdoa, memohon dan berhajat, bahkan boleh dengan bahasa yang anda kuasai. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi mengabulkan setiap permintaan hambaNya, terlebih lagi saat Wukuf.

Selesai Wukuf, satu lagi ritual yang mensyaratkan ketahanan fisik dan disiplin yang tinggi menanti. Mabit di Muzdalifah. Disiplin sudah dituntut sejak menunggu angkutan dari Arafah,
berada di padang luas Muzdalifah dengan serangkaian ibadah plus memungut kerikil untuk melontar jumrah. Satu saja tidak disiplin, ribuan jamaah akan merasakan dampaknya, baik
saat antrian naik bus, di atas bus, saat perjalanan menuju Mina.

Ya, malam itu Mina didatangi jutaan jamaah, termasuk Anda. Bayangkan ruwetnya sekiranya ada yang ingin semaunya saja. Di sini kembali kita ingatkan diri, bahwa kehadiran di tanah suci ini adalah untuk beribadah. Lakukanlah semua rangkaiannya dengan sungguh-sungguh, ikhlas dan dengan ilmu.

Ritual melontar Jumrah adalah salah satu yang kerap diberi perhatian lebih mengingat selalu ada insiden mengingat jutaan umat berbilang bangsa melaksanakannya dalam waktu yang nyaris bersamaan. Karenanya, setiap jamaah wajib mengindahkan apa yang sudah diatur oleh panitia di sana. Kapan waktu yang baik dan aman untuk melontar jumrah, patuhi itu dan tetaplah selalu dalam rombongan yang utuh.

Memang, saat ini lokasi melontar jumrah sudah diperluas dan dibangun bertingkat, terowongan menuju ke lokasi jamarat juga sudah tersedia dalam dua jalur, dan kesiagaan serta kesigapan aparat keamanan Saudi Arabia bakal menambah jaminan akan kelancaran semua proses ritual ini. Namun, kedisiplinan tiap individu jamaah, jauh lebih utama, agar ibadah lancar. Keluarga yang menanti di rumah pun, tidak lagi berdebar-debar.(amzar)



''Khamsa Riyal..Khamsa Riyal..!''

PEDAGANG
kaki lima bukan hanya ada di negeri kita. Di tanah suci, malah lebih banyak. Ada yang lokasinya permanen, sementara, bahkan yang diuber-uber petugas juga ada. Yang terakhir ini tentu mereka yang bandel, menggelar dagangan di tempat yang dilarang.

Terlebih di musim haji, seantero Makkah, terkhusus di sekitaran kompleks Masjidil Haram, nyaris sepenuhnya mereka kuasai. Bagai di kawasan Tanah Abang Jakarta, atau Pasar Pagi Arengka Pekanbaru, teriakan-teriakan khas pedagang akan akrab ditelinga, saat kita melintas areal ini ketika akan menuju Masjidil Haram. Paling ramai dekat Pasar Seng yang tersohor itu.

''Khamsa Riyal..Khamsa Riyal! Bagus tuan, murah tuan..!''ucap mereka, seakan ingin berakrab-akrab karena tahu yang ada di depannya adalah jamaah dari Indonesia. Ya, meski banyak bilangan lain dalam bahasa Arab, kata-kata Khamsa paling kerap diteriakkan. Khamsa Riyal maksudnya Lima Riyal.

Kadang itu sekadar pengucapannya saja. Tidak semua yang diacungkannya seharga lima Riyal. Bisa lebih, ada juga yang kurang, dengan harga terendah satu Riyal, tergantung jenis benda yang dijual. Kalau jam tangan ala kaki lima, memang ada yang lima riyal dan berserak yang menjualnya.

Ada beragam memang yang digelar di kaki lima ini, mulai dari makanan, kelengkapan mandi, alat rumah tangga, tepung inai pun ada. Terbanyak, memang yang menjual kelengkapan ibadah seperti kopiah, sajadah, baju ghamis, sorban, juga aneka jenis tasbih.

Saat puncak haji masih jauh, rata-rata mereka tidak akan melayani pembeli yang getol menawar. Biasalah, sedikit jual mahal. Lagi pula patroli petugas penertiban belum lagi gencar.
Lain halnya bila puncak musim haji sudah dekat, di mana jamaah sudah sangat ramai, yang jualan pun bertambah-tambah, mereka akan banting harga, sementara kesiagaan semakin ditingkatkan, melihat dengan mata awas kemungkinan ada tim penertiban.

Terlebih setelah puncak musim haji berlalu, di mana banyak jamaah akan meninggalkan Makkah, musim banting harga akan mengusik jamaah untuk tergiur memborong, tidak hanya di kaki lima, tapi juga di banyak toserba. Kalau biasanya mereka marah jika kita getol menawar, kali ini prosesnya tak akan alot lagi.

Aktifitas pedagang musiman ini juga jeli melihat situasi. Jika konsentrasi jamaah sudah di Arafah dan Mina, mereka akan ikut. Tapi memang lebih banyak di Mina karena di Arafah memang tidak dibolehkan dan memang tidak ada yang berjualan di area Wukuf.

Di Mina, begitu keluar dari tenda pemondokan, sepanjang sisi jalan menuju Jamarat --tempat melontar Jumrah-- sudah dipenuhi pedagang kaki lima. Sama seperti di Makkah, kebanyakan mereka adalah pendatang dari kawasan miskin Afrika. Ini bisa dilihat dari penampilan dan tongkrongannya.

Di Madinah juga begitu. Hanya saja di sini memang tidak terlalu banyak. Mereka lebih terkonsentrasi pada lokasi-lokasi yang jauh dari Masjid Nabawi, karena memang begitu aturannya. Itu pun lebih banyak yang mobil sifatnya, menggunakan gerobak dorong sehingga kerap berpindah-pindah.

Kalau pun ada yang berjualan tak jauh dari gerbang Masjid Nabawi, umumnya adalah anak-anak muda tempatan, yang menjual aneka suvenir, compact disc tilawah Quran, kopiah dan mainan sepasang magnet yang berbunyi khas saat dimainkan dengan cara dilempar berbarengan ke udara, lalu ditangkap. Harganya? ''Khamsya Riyal, tuan. Murah Tuan..!''(amzar)


Tanah Paling Suci,
Jaga Kebersihannya


''Saudara Jamaah Haji. Anda Saat ini berada di Tanah Allah yang paling suci, maka rawatlah kebersihannya!''

ITULAH sebaris kalimat bernada pengumuman. Ditulis dalam bahasa Indonesia, dicetak di atas besi plat berwarna kuning dengan tiang kokoh. Di sudutnya ada gambar tong sampah yang dibuka dan ada tangan yang memasukkan potongan sampah ke dalamnya. Plat pengumuman ini diletakkan di tempat strategis, di trotoar Jalan Masjidil Haram. Posisinya hanyasekitar 300 meter menjelang persimpangan menuju gerbang masuk areal Masjidil Haram, jika berjalan kaki dari arah Syieb Amir menuju Masjidil Haram.

Ya, pengumuman berbahasa Indonesia, terpampang di tempat strategis yang setiap saat dilintasi ribuan umat. Lho, kok berbahasa Indonesia? Memang ya, dan banggalah kita sebagai bangsa Indonesia karena dalam banyak pengumuman di tempat-tempat tertentu di tanah suci, selalu disertakan dalam bahasa Indonesia, selain Arab dan Inggris, Prancis serta Turki. Maklum, setiap tahun, dan bahkan sepanjang tahun, sangat banyak jamaah dari Indonesia dan dari rumpun melayu lainnya seperti sejumlah negara ASEAN yang berada di tanah suci. Karenanya, wajar kalau bahasa Indonesia, terkadang bercampur Melayu, dipakai untuk menjelaskan sesuatu yang mustahak untuk diketahui khalayak.

Khusus pengumuman tadi, simpatik memang imbauannya, mengajak bersama-sama menjaga kebersihan. Memang, soal yang satu ini sangat diperhatikan oleh pemerintahan setempat. Terutama sekali di Masjidil Haram (Makkah) dan Masjidil Nabawi (Madinah).

Di Masjidil Haram, misalnya, setiap selesai pelaksanaan salat berjamaah, ribuan tim kebersihan dengan seragam khusus dengan logo dan tulisan nama perusahaannya: Bin Ladin Group, turun dengan peralatan kebersihan lengkap.

Mereka menyebar di segenap penjuru Masjidil Haram, mulai dari lantai paling atas, lantai dua, lantai dasar, pelataran sekitar Kakbah, bahkan di plaza jalan sekeliling Masjidil Haram, sigap dan cepat mereka bersihkan. Dalam hitungan menit, lantai sudah kembali kinclong dan harum.

Kerjanya memang diatur rapi dan cepat karena setiap saat jamaah datang dan pergi ke Masjidil Haram. Tak akan ada sepinya. Mereka akan sigap membentang garis pembatas semacam police line, lalu berurutan upaya pembersihan dilakukan, mulai dari penyiraman dengan cairan khusus, lalu pasukan dengan kain pel beraksi, diakhiri dengan pengeringan dan finishing oleh tim dengan kendaraan khusus Raptor menyapu seluruh areal. Maka tak sampai seperempat jam, pekerjaan mereka rampung, areal sudah lebih bersih lagi. Mereka pindah lokasi, dan areal yang dibersihkan tadi, kembali penuh diisi jamaah. Begitu terus sepanjang waktu, setiap selesai pelaksanaan salat berjamaah.

Pasukan Bin Ladin Group ini, yang berasal dari berbilang bangsa, termasuk pekerja dari Indonesia, juga sigap membersihkan toilet dan tempat bersuci yang menyebar luas di sekitar
Masjidil Haram, juga di Masjid Nabawi. Kalau tidak begitu, bayangkan betapa aroma tak sedap akan tercium karena jutaan jamaah dari berbilang bangsa menggunakannya setiap saat.

Pokoknya, tanpa kompromi, mereka akan melokalisir areal yang akan dibersihkan, lantas pasukan diterjunkan dengan masing-masing kelompok punya tugas sendiri, menyiram, mengelap, merapikan dan sebagainya. Tak heran, di kedua masjid ini, area toilet dan tempat berwuduk yang emmang dibangun agak berjauhan dari masjid, selalu dalam keadaan bersih dan nyaman.

Begitu juga di Masjidil Nabawi. Hanya pekerjanya memang tidak seramai di Masjidil Haram, karena di Masjid Rasulullah ini, beda dengan lantai Masjidil Haram yang tidak dilapisi karpet, lantai dalamnya dialasi karpet, sehingga yang banyak terlihat kesigapannya adalah pekerja yang menggulung dan membersihkan karpet, memasang tirai khusus menjelang atau sesudah salat berjamaah, untuk memberi laluan jamaah wanita berziarah ke Raudah. Tirai juga kerap dipasang untuk membatasi area dekat Raudah dengan saf-saf di belakangnya, agar jamaah lebih mudah diatur untuk ziarah dan bermunajat di sekitar Raudah.

Untuk pelataran luar Masjid Nabawi, memang sudah ada tim kebersihan khusus, seperti di Masjidil Haram. Untuk membersihkan bagian-bagian sulit dari masjid ini, pekerjanya juga
dilengkapi peralatan canggih yang memungkinkan mereka menjangkau ceruk-ceruk yang sulit di ketinggian bangunan masjid yang luas ini.

Kesigapan dan kecekatan tim kebersihan ini bekerja, memungkinkan dua masjid paling agung ini selalu dalam kondisi bersih dan indah, kendati ratusan ribu bahkan jutaan umat
setiap saat meramaikannya, silih berganti, tanpa henti.(amzar)

Tidak ada komentar: